
Kini sudah dua Minggu lamanya setelah Adit mengungkapkan perasaannya pada Fira.
Sikap Fira pun sedikit berubah, ia tidak lagi sedekat dulu pada kak Adit. Ya sikap itu terlihat jelas dimata Adit dan Nana. Nanapun paham akan kondisi Safira saat ini, membujuknya? Itu bukanlah haknya. Fira punya kebebasan memilih siapa yang bisa masuk dalam hatinya dan siapa yang tidak berhak masuk ke dalam hatinya.
Nana juga tak henti-hentinya memberikan motivasi dan dukungan pada kak Adit, pernah Nana meminta kak Adit untuk melupakan Safira.
Tapi memang tidak bisa dipungkiri, kalau sudah cinta ya sudah, apalagi sudah sampai ke tahap sayang.
Biarlah semuanya mengalir sesuai alurnya.
"Ra, ada titipan buat kamu." Ucap Nana pada Safira dengan memberikan sebuah kotak.
"Dari?" Jawab Safira tanpa menoleh ke arah Nana karena sedang berkutat dengan laptopnya.
"Dari dia yang sedang berusaha merebut hatimu. Hahahaha." Jawab Nana cengengesan.
"Kak Adit? Sebaiknya kamu kembalikan pada kakakmu Na, aku tak bisa terima."
"Hmm nggak baik lo nolak rejeki apalagi itu makanan, kamu juga pasti nggak akan nolak jika tau isinya apa."
Akhirnya Fira membuka kotak tersebut dan alangkah terkejutnya ia saat melihat isi di dalam kotak tersebut, matanya berbinar-binar melihat tiga donat jumbo dengan toping coklat. Jika dengan makanan yang satu ini ia tidak bisa menolak.
"Mendingan langsung dimakan deh, daripada itu iler keburu turun."
"Bilang makasih ke kak Adit ya."Ucap Fira dengan mulut penuh donat.
"Ya bilang sendiri dong, emang aku tukang pos."
Fira dengan lahapnya menghabiskan tiga donat berukuran jumbo tersebut.
"Ini enak sekali Na, kamu tidak makan?"
"Gimana aku mau makan, udah ludes sama kamu semua, diriku kenyang melihat dirimu makan begitu lahapnya."
Mereka berdua tertawa bersama.
Adit yang sedari tadi melihat dari kejauhan pun sangat senang, usahanya membuat Fira kembali tertawa tidak sia-sia, ia harus banyak berterimakasih pada Nana yang memberikan ide itu.
FLASBACK
Setelah makan siang, Adit dan Nana memutuskan untuk pergi ke resto milik Adit, ya sedari SMA Adit sudah memiliki usaha sendiri, kuliahnya pun ia biayai sendiri, sedangkan uang dari orang tuanya ia tabung untuk memperbesar usahanya.
Di tengah-tengah perjalanan mereka kejebak macet, ya begitulah kondisi kota ini.
__ADS_1
"Huh, nyesel deh ikut ke resto." Gerutu Nana kesal.
"Uang dari resto kamu nggak pernah nyesel."
"Ya itu ma beda kakakku yang tampan."
"Dasar perempuan sukanya pemborosan shopping sana sini."
"Eh eh coba aja kakak berani ngomong gitu di depan Fira."
"Enggaklah, Fira ma beda nggak kaya kamu."
"By the way Na, kamu sadar nggak si akhir-akhir ini, Fira agak beda sikapnya sama kakak."
"Sadar lah, Nana nggak buta kak Adit. Dia juga sekarang lebih sering menangis sendiri, melamun, mungkin kenangan tentang masa lalunya menggores hatinya lagi."
"Kakak jadi nyesel udah ungkapin perasaan kakak Na."
"Kenapa nyesel kak, kakak nggak salah kok, Nana juga andil disini, kita sama-sama nggak tau bagaimana masa lalunya."
"Kak aku ada ide yang bisa buat Fira senang."
Karena sangking kagetnya dengan ucapan Nana yang sangat keras, Adit menginjak pedal rem secara mendadak.
"Ih kakak hati-hati dong,Nana belum mau mati,Nana masih menunggu harapan ni kapan Nana ditembak oleh seseorang."
"Bikinin Donat aja kak, Fira suka banget sama donat."
"Hmm, beli aja ya. Kakak nggak bisa bikin donat."
"Nggak ada usahanya banget si jadi laki-laki, bikin sendiri dong biar sweet."
Dan setelah berdiskusi tentang donat, akhirnya Nana mengajak kak Adit untuk ke toko kue milik mamanya Fira, sebelum mereka kesana. Nana menelpon Fira, memastikan apakah Fira di toko atau tidak, kalau ia disana bisa gawat nggak jadi surprishe.
Setelah mendapatkan resep donat dari mamanya Fira, Adit dan Nana pergi ke supermarket untuk membeli bahan-bahan membuat donat.
"Na kita bagi tugas aja ya biar cepet selesai."
"Ok deh kak, janjinya ajak shopping ya?"
"Iya itu ma gampang."
Setelah mendapatkan semua bahan, Adit segera membayar di kasir dan segera kembali pulang.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Adit yang merasa gerah langsung mandi dan menunaikan sholat Maghrib. Tak mau menunggu lama, setelah mengucapkan doa Adit langsung berganti pakaian santai dan menuju ke dapur.
Ia mulai mengeluarkan hasil belanjaannya tadi dengan mengecek catatan yang diberikan mamanya Fira.
"Loh den, kok di dapur?"
"Mau buat donat bi, bibi kerjain yang lain aja."
Setelah mendapat perintah dari majikannya, bi Ina pergi dari dapur.
Satu jam, adonan pertama keras. Adonan kedua gosong ketika digoreng, dan saat akan membuat adonan untuk ketiga kalinya.
"Astaghfirullah kakak, kenapa dapurnya kaya kapal pecah si."
"Nanti bi Ina pasti beresin kok. Hehehe."
"Ini ni yang namanya terlalu cinta, apapun akan dilakuin."
Akhirnya adonan yang keempat barulah spesial dan sempurna, karena bahan-bahan habis dalam percobaan hanya empat donat yang berhasil Adit buat. Untuk mencicipi rasanya ia harus berbagi pada Nana.
"Ya Allah kak ini enak banget, aku mau satu kak."
"No no no ini buat Fira, kamu kalau mau beli aja sana."
"Ya Allah kakak jahat."
"Ngomong-ngomong ini beli dimana? Kok hampir mirip sama buatan mamaku." Tanya Fira setelah menghabiskan donat ketiga.
"Kak Adit sendiri yang buat, kamu tau nggak......."
Nana menceritakan semuanya pada Fira, Fira yang mendengarkan ucapan Nana panjang kali lebar hanya bisa tertegun dan kasihan pada Kak Adit. Sebegitu cintanya kak Adit pada dirinya. Sampai tak terasa air matanya menetes, ia tau bagaimana sakitnya ketika cinta kita bertepuk sebelah tangan.
Akhir-akhir ini perubahan sikap Fira juga karena kak Adit, ia tidak mau kak Adit berpikir kalau Fira memberi harapan pada Kak Adit.
Ia tidak mau kak Adit merasakan apa yang Fira rasakan, Fira yakin kak Adit pasti akan mendapatkan perempuan yang lebih baik dari pada dirinya, Kak Adit terlalu baik baginya, ia tidak pantas merasakan sakit karena cintanya yang tak terbalaskan.
"Biar aku aja yang merasakan sakitnya jatuh cinta kak, kamu jangan." Gumam Fira lirih tapi masih bisa didengar oleh Nana, karena sedari Fira melamun Nana mendekatkan wajahnya pada wajah Fira.
"Kamu bilang apa Ra?" Tanya Nana membuyarkan lamunan Fira.
"Aku? Aku nggak bilang apa-apa kok." Jawab Fira mengelak.
"Jangan boong kamu, aku bukanlah orang yang mudah untuk dibohongi."
__ADS_1
"Enggak papa kok, yuk ke kelas udah kenyang ni perut."
Terpaksa Nana tidak jadi mengintrogasi Fira lebih lanjut tentang masa lalunya, karena sebentar lagi mereka memang ada kelas.