
Setelah cerita masa lalu berakhir,
"Tante bersyukur banget waktu itu bisa ketemu sama kalian, kalau waktu itu tante nggak ketemu sama orang baik kaya kalian. Entah apa yang bakal terjadi sama tante."
"Enggak lah tante, kita kan nggak tau takdir kita gimana, mungkin emang takdir Rayhan buat ketemu tante sama Gio juga tante."
"Bagaimanapun tante tetap berhutang budi sama nak Rayhan, karena papanya nak Rayhan Gio jadi bisa kuliah tanpa memikirkan biaya pendidikannya. Tante seneng bisa liat Gio yang sekarang, tante nggak tega kalau harus ngingat-ngingat jerih payahnya buat ngumpulin uang pendidikannya. Setiap hari Gio pergi pagi pulang malam buat kerja, nggak terhitung lagi luka-luka yang dia dapat selama jerih payahnya itu." Kata omanya yang mulai diiringi air mata.
"Kok tante malah nangis, malu lo nanti malah diketawain Lisa." Goda Rayhan untuk menghibur omanya Lisa.
"Enggak, ini karena tante bahagia bisa ketemu sama orang baik seperti kalian."
"Rayhan juga sama kok tante, apalagi papa. Sekarang papa jadi tenang kalau harus kerja karena ada Gio yang selalu jagain Rayhan, papa sama Rayhan juga bersyukur banget bisa ketemu tante sama Gio, cuma kalian yang bener-bener ada buat Rayhan."
Nostalgia yang sangat berarti, namun sayang harus terhenti karena Rayhan kembali merasakan rasa yang sudah terbiasa singgah di tubuhnya.
Deg...
'Kenapa ini, kenapa harus disaat seperti ini.' Kata Rayhan di dalam hati sembari menahan rasa sakitnya .
"Nak, nak Rayhan."
"Eh iya Tan." Jawab rayhan sambil mencoba menahan rasa sakitnya.
"Nak Rayhan kenapa, kok pucet." Oma Lisa mulai panik.
"Nggak papa tante, Rayhan cuma kecapean kok." Jawab Rayhan sambil menunjukan senyumnya agar oma Lisa tidak mencemaskan dirinya.
"Nggak mungkin nggak kenapa-kenapa. Tante anter kamu ke rumah sakit ya."
"Nggak usah tante Rayhan pakai taksi online aja." Rayhan mulai beranjak berdiri untuk segera ke tempat yang tepat.
"Lagian kasihan Lisa nanti jadi sedih kalau tau kondisi Rayhan."
Oma dirundung kegelisahan dan bingung harus berbuat apa.
"Sampain ke Lisa tan, kalau Rayhan ada urusan mendadak kalau Lisa nanyain Rayhan." Setelah mengatakan itu Rayhan pergi.
Kembali ke Fira dan Lisa,
"Oh iya, nak Fira kenapa bisa ada disini?" Tanya oma.
"Tadi ada urusan sebentar tante."
'Apa aku susulin rayhan aja ya, mumpung ada Fira di sini yang nemenin lisa.'
"Nak Fira, tante bisa minta tolong sesuatu?"
"Bisa oma, Fira juga lagi senggang."
"Oma titip Lisa dulu ya, ada sesuatu yang harus oma lakuin."
Sebenarnya Fira penasaran sesuatu apa yang penting sampai Lisa harus dititipin ke Fira. Tapi karena takut tidak sopan Fira tidak menanyakan hal itu,
"Nggak papa oma, Fira seneng malahan jadi ada temen."
"Makasih ya nak Fira."
__ADS_1
"Lisa. Nanti jangan nakal ya, harus nurut sama kakaknya."
"Ok oma." Kata Lisa sambil memeluk Fira erat.
"Kalau gitu oma duluan ya. Baik-baik sama kak Fira."
Oma pun pergi meninggalkan mereka berdua .
"Ayo kita main lagi." Ajak Lisa.
"Lisa cantik mau main apa?" Tanya Fira dengan kelembutan hatinya.
"Sebenernya Lisa lagi nggak pingin main sih."
Raut wajah Lisa berubah menjadi sendiri entah apa yang membuatnya berubah seketika, hal itu membuat Fira menjadi heran.
"Kenapa, katanya tadi mau main." Fira mencubit gemas hidung Lisa.
"Lisa kasihan sama kakak ganteng." Jawab Lisa yang membuat Fira semakin terheran.
"Kakak ganteng pasti mau ke rumah sakit."
"Kok Lisa mikirnya gitu."
"Soalnya Lisa tau kalau kakak ganteng masih sakit, tapi karena Lisa kakak ganteng jadi maksain buat nemenin Liisa main."
"Kok Lisa jadi murung, nanti cantiknya ilang lo." Goda Fira untuk menghibur Lisa.
"Enggak lah, kan Lisa cantik kaya bunda dan mama cantik, nggak mungkin jadi jelek, hehehe." Lisa cengengesan menunjukkan giginya.
"Ok siap mama eh kakak cantik."
"Lisa ikut kakak pulang aja yuk, nanti bisa main sama dedek Rasyid." Karena bingung harus berbuat apa di taman, maka dari itu Fira memutusakan untuk mengajak Fira pulang.
"Asiiikk." Teriak Lisa kegirangan.
- - -
"Asalamu'alaikum." Salam Fira dan Lisa bersamaan.
"Wa'alaikumsalam." Pintu terbuka dan terlihatlah Dinda yang tengah menggendong Rasyid.
"Eh ada siapa ini yang datang." Dinda membungkukan badannya untuk mencubit pipi Lisa.
"Ini Lisa lo tan, masa lupa sih sama Lisa yang cantik ini." Jawab Lisa yang membuat Dinda dan Fira tertawa mendengarnya.
"Iya-iya Lisa cantik, tante nggak lupa kok. Ya udah ayo masuk, main sama dedek Rasyid yuk."
Mereka bertiga masuk dengan Lisa yang berada di depan
"Ra, udah selesai?" Tanya Dinda penasaran.
"Udah kok kak." Jawabnya dengan senyuman yang tak oernah absen disudut bibir manisnya.
"Kamu nggak papa Ra?"
"Nggak papa kok mbak, udah ayo masuk." Elak Fira sambil mendorong Dinda masuk dan menutup pintu.
__ADS_1
Setiap jalan memang ada persimpangan, dan perpisahan pasti takkan terelakan. Namun jika perpisahan itu terlalu menyakitkan, bisakah jalan itu disatukan.
Di tempat lain
"Halo ma, gimana Rayhan sekarang." tanya gio lewat telepon dengan nada khawatir
"Masih dirawat" kata mamanya dengan khawatir
"Gio bentar lagi kesana" kata gio sambil berlari mencari taksi
"Kamu hati-hati di jalannya" kata mamanya
"Iya ma, udah dulu ya" gio pun mematikan telepon dan meninggalkan bandara menggunakan taksi
Tak lama kemudian
"Gimana ma keadaan Rayhan?" Tanya gio dengan nada panik.
"Alhamdulillah udah mulai stabil."
"Alhamdulillah." Gio mengehla nafasnya lega, kemudian mendudukkan badannya di kursi tunggu.
"Oh iya ma, Lisa di mana?"
"Kamu tenang aja, Lisa aman sama Fira."
"Mama bisa susulin Lisa? Biar Gio yang nungguin Rayhan."
"Kamu nggak papa, kamu baru sampai lo. Belum makan juga kan."
"Gampang ma, nanti gio beli makanan." Jawab Gio santai guna meyakinkan mamanya.
"Bener, apa kamu aja yang susulin Lisa. Biar mama yang nungguin Rayhan."
"Nggak usah ma, biar Gio aja yang nungguin Rayhan." Kata Gio kekeh pada keputusannya, Gio teringat terakhir bertemu dengan Fira ia kena marah habis-habisan oleh perempuan yang lebih muda darinya.
Di rumah fira
"Lisa, udahan dulu yuk mainnya. Kita makan dulu."
"Nanti aja tan, Lisa masih kenyang, masih mau main sama dedek Rasyid."
"Ra, Lisa ini mirip kaya kamu ya. Kalau udah main sama Rasyid pasti lupa segalanya." Ucap Dinda dengan sedikit tertawa menggoda Fira.
"Biarin aja. Berarti Fira ada temennya."
"Hus, kamu itu. Udah itu Lisa diajak makan, kasihan asik main sampai lupa makan kaya kamu. Anak orang itu, kalau sakit kamu yang tanggung jawab."
"Lisa cantik, kita makan dulu yuk. Dedek Rasyidnya juga mau makan itu." Ajak fira dengan triknya.
"Ada syaratnya tapi."
"Apapun itu, makan dulu tapi yuk." Fira merentangkan tangannya siap menggendong Lisa.
"Suapin ya kak."
"Iya deh, nanti kakak suapin. Tapi makan yang banyak ya."
__ADS_1