
Setiap pertemuan pasti berujung perpisahan, entah perpisahan untuk sementara ataupun selamanya, semoga perpisahan ini bukanlah perpisahan selamanya melainkan perpisahan sementara untuk saling menabung rindu dalam jarak.
"Hati-hati mas, jangan lupa kembali."
"Mana mungkin mas lupa Yang, jaga diri kamu, selesaikan studi kamu."
Air mata yang sedari tadi Fira tahan akhirnya lolos juga, ia tak bisa menahannya lagi.
"Mas nggak mau liat air mata."Adit menghapus air mata di pipi Fira.
Karena pesawat akan segera berangkat, Adit dan Aldo bergegas masuk meninggalkan Fira dan Nana, Adit berjalan lurus ke depan tanpa menoleh ke belakang, ia tak kuasa melihat Fira menangis seperti itu.
1
2
3
Blass
Fira memeluk erat tubuh Adit, dalam hatinya ia mohon agar Adit tidak jadi pergi, tapi mulutnya sulit untuk berucap.
"Hati-hati, Ra akan rindu mas."
Adit memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Fira, ia hapus air mata yang sedari tadi turun tak mau henti.
"Sudah ya, mas berangkat Assalamu'alaikum."
Setelah kepergian Adit dan Aldo, Nana mengajak Fira untuk pulang.
"Na kamu enggak sedih gitu ditinggal sama Abang kamu?"
"Ya Allah Ra, ngapain sedih aku bisa berkunjung kapanpun aku mau dan kamu juga bisa ikut."
"Nggak enaklah Na."
"Dienakin aja, shopping yuk "
"Nggak ah, lagi kanker."
"Apaan tu?"
"Kantong kering, hahaha."
"Aish kamu ini ada-ada aja."
Mereka keluar dari bandara dan bergegas pulang kerumah Fira, Nana mengantarkan Fira terlebih dahulu baru memutar balik mobilnya untuk pulang, sementara Adit di Kalimantan, mama dan papanya berada dirumah karena kondisi papanya Nana yang kurang sehat menjadi alasan Adit harus pergi ke Kalimantan.
Sesampainya Fira dirumah, ia mandi dan berganti pakaian karena merasa gerah.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur empuk dan lama kelamaan matanya terpejam karena kelelahan.
Tanpa Fira sadari jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.
__ADS_1
"Astaghfirullah, belum dhuhuran."
Fira bergegas menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera menunaikan sholat.
Setelah selesai sholat, Fira melipat kembali mukena dan sajadah yang ia kenakan.
"Hallo, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, lama banget jawabnya neng, mas udah sampai dari tadi."
"Maaf mas, Ra ketiduran, hehe."
"Mas ada rapat habis ini, mas tutup ya, jangan lupa makan."
"Siap."
Begitulah awal kisah LDR antara Adit dan Fira, mereka terus menjalani hubungan jarak jauh sampai beberapa bulan, Fira menghabiskan waktunya di kampus dan dirumah mengurus bayi Rasyid, kehadiran Rasyid membuat Fira tidak merasa kesepian, hari-harinya selalu bewarna dan menyenangkan ditambah kabar dari Adit yang tak pernah absen tiap harinya.
"Uhhh Rasyid udah makin gede ya, udah nggak rewel ditinggal bundanya masak. Uluh-uluh."
Saat Fira tengah asik berceloteh ria dengan Rasyid, Rama pulang dari rumah sakit.
"Assalamu'alaikum, ayah pulang."
Rama melangkah mendekat ke arah Rasyid dan Fira, ia hendak menciumi pipi gembul anaknya itu, seharian sudah menahan rindu untuk bertemu...
"Stop mas."
"Ayah itu Lo, udah bunda ingetin tiap hari, pak dokter kok pelupa, habis dari luar cuci tangan dulu jangan langsung sentuh anak."
"Hahaha, liat dek ayahmu dimarahin bundamu."
"Diem Ra."
Rama bergegas masuk ke dalam kamar untuk bersih-bersih badan sekalian, kena omel istri hampir ia dapatkan setiap hari, apalagi kalau masalah Rasyid, beuhh istrinya akan segarang macan tutul.
Kini keluarga Rama tengah menikmati makan malam bersama dengan Rasyid yang masih setia dipangkuan bundanya, Rama sebagai ayah dan suami tangguh menyuapi Dinda dengan senang hati.
Pemandangan yang sangat mengharukan bagi Fira, disaat-saat seperti ini ia merasa rindu dengan kekasihnya, Adit.
'Kak Adit sedang apa ya? Sudah makan apa belum ?'
"Kangen ya." Usapan tangan mama mengagetkan Fira, Fira yang sedari tadi memikirkan Adit menjadi tersadar dari lamunannya.
"Heheh, mama bisa aja."
"Telfon sana, biar mama yang beresin ini."
Fira beranjak bangun dari duduknya dan mencium kedua pipi sang mama kemudian berjalan ke arah keluarga bahagia untuk menciumi kedua pipi gembul anak mereka.
"Makasih ma, Daaaa bayi Rasyidku."
Sambungan telepon sudah tersambung diujung sana namun, Sang pemilik belum mengangkatnya.
__ADS_1
Sambungan kedua dan ketiga hasilnya tetep sama, nihil Adit belum menjawab telpon dari Fira.
'Mas, kenapa rasanya nggak karuan gini ya.'
Sementara disisi lain, Adit tengah frustasi karena keadaan kantor cabang semakin menurun, semua usaha dan kekuatannya sudah dikerahkan untuk mengembalikan kondisi kantor cabang, namun banyaknya masalah dan korupsi oleh pegawai membuat masalah semakin runyam.
Adit meyenderkan tubuhnya di kursi kebesarannya, mengangkat kedua tangannya untuk dijadikan tumpu di bagian kepala, memejamkan matanya, menghilangkan rasa penat dan lelah yang ia rasakan hari ini.
"Kopinya Pak." Suara Aldo mengagetkan Adit dari lamunannya.
"Makasih Al, rapat besok mundurin satu jam, saya butuh istirahat pikiran saya sudah penat."
"Baik pak, maaf pak."
"Ya."
"Fira sedari tadi menghubungi bapak."
Adit tidak menyadari jika sedari tadi Fira menghubunginya, ponselnya ia mode silent dan ia letakkan di atas meja sofa. Aldo yang sedari tadi duduk di sofa enggan beranjak dan memberi tahu atasannya itu, ia tahu atasannya sedang sangat lelah menghadapi masalah besar di perusahaan.
Adit tidak mengubungi Fira balik, ia berkemas untuk pulang ke apartemenya yang ia tinggali bersama Aldo.
"Hari ini sampai disini Al, selesaikan besok."
Aldo mengikuti langkah Adit yang berjalan keluar kantor, Aldo yang bertugas sebagai sopir siap dibelakang kemudi sedangkan Adit duduk disampingnya.
Sesampainya di apartemen, Adit bergegas untuk mandi, menyegarkan tubuhnya yang penat dan lelah agar terlihat fresh di hadapan kamera saat panggilan video bersama kekasihnya nanti.
Fira yang tengah menyibukkan diri di depan laptop terpaksa harus menghentikan pekerjaannya karena ponselnya berbunyi.
"Assalamu'alaikum bidadari surganya mas Adit "
"Wa'alaikumsalam, udah inget sama yang disini ya?"
"Uhh mukanya jutek banget si Ra, ngambek ya?"
Walaupun banyak Masalah yang tengah Adit hadapi, sekalipun Adit tak pernah menunjukan rasa lelah dan lesuhnya pada Fira, ia akan terlihat fresh dihadapan Fira seperti tidak ada masalah.
"Kamu udah makan?"
"Heheh."
"Ditanya malah nyengir, pasti belum kan, mas makan to jangan gini."
"Iya-iya ini mas makan, Janan ditutup telponnya Yang."
"Siap pak bos."
"Udah siap jadi Bu bos?"
"Masih proses belajar, udah sana ambil makan."
Adit makan malam ditemani Fira lewat vc, mereka mengobrol kesana kemari sampai tak ingat waktu, Fira menyadari gelagat Adit yang sedikit berbeda dari hari sebelumnya. Fira tau dari mata Adit yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu, Fira paham Adit sedang dirundung masalah, tapi Fira enggan menanyakan sebelum Adit yang cerita terlebih dahulu, ia lebih memilih untuk menghibur Adit lewat candaannya, setidaknya ia bisa mengurangi beban pikiran kekasihnya itu.
__ADS_1