Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Tidak mungkin


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan yang cukup padat, akhirnya mereka bertiga sampai di depan sekolah Lisa.


"Yey udah sampai." Lisa bersorak gembira.


"Lisa seneng banget ya sekolah."


"Iya dong ma, kan banyak temennya terus bisa main. Kalau di rumah cuma bisa main sama oma."


"Ayo Lisa papa anter."


"Tapi Lisa maunya sama mama cantik juga ya pa."


Gio diam mendengar permintaan Lisa, ia hanya mengalihkan pandangannya pada Fira karena tak tau harus menjawab apa. Fira yang melihat Gio memandangnya pun paham apa maksud Gio, tanpa pikir panjang dan demi menghemat waktu Fira pun mengangguk.


"Iya Lisa sayang, nanti sama kakaknya juga." Timpal Gio dengan sedikit senyum tak enak pada Fira.


"Asik, ayo pa kita turun."


"Tasnya biar papa aja yang bawain."


"Ayo pa, itu bu guru udah nunggu di gerbang." Kedua tangan Lisa menarik Gio dan Fira dengan Lisa yang berada di tengah-tengah.


"Selamat pagi Lisa cantik, wah hari ini dianter papa mama lagi ya."


"Iya bu guru." Lisa memeluk Fira dengan erat.


"Papa sama mama nganternya cukup sampai sini aja ya, Lisa masuk sama bu guru."


"Lisa, papa nganternya sampai sini ya, nanti Lisa sama bu guru. Inget harus nurut nggak boleh nakal." Gio berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Lisa yang masih memeluk kaki Fira.


"Siap papa."


"Ya udah ini tas sama bekalnya, di makan ya nanti."


"Iya papa, papa hati-hati ya."


"Wah, Lisa bener-bener beruntung ya punya papa mama yang perhatian sama Lisa."


"Iya bu guru, Lisa juga bersyukur banget punya papa mama."


"Ya udah ayo Lisa masuk sama bu guru, jangan lupa cium tangan sama papa mamanya."


Setelah Lisa mencium tangan Gio dan Fira, Lisa masuk ke dalam kelas.


Gio hanya memandangi Lisa yang perlahan masuk ke dalam, tanpa Gio sadari bahwa sedari tadi Fira memperhatikan gerak gerik Gio.


Ketika Gio berbalik, Gio sedikit terkejut karena tak sengaja bertatapan dengan Fira yang tengah memandangnya. Fira juga tak kalah kagetnya dengan Gio.


"Silahkan duluan." Gio mempersilahkan Fira untuk menunju mobilnya lebih dulu.


Dalam perjalanan ke kantor Fira, mereka tak banyak bicara dan saling terdiam.

__ADS_1


"Hayo." Teriakan Rania mengiringi kepergian mobil Gio dari halaman kantor tempat Fira bekerja.


"Ya Allah Rania, kamu tu."


Karena kaget dan gemas dengan sikap Rania, Fira pun tak segan-segan mencubit kecil lengan Rania.


"Aduh-aduh sakit ampun Ra."


"Untung aku lagi baik hati, jadi aku lepasin kamu."


"Lagi baik hati atau lagi jatuh hati."


"Mana ada, ayo buruan masuk."


Mereka berdua masuk beriringan ke dalam gedung kantor sembari berbincang-bincang.


"Oh iya Ra. Ngomong-ngomong yang barusan nganter kamu itu siapa? Kayaknya aku nggak pernah liat dia nganterin kamu sebelumnya. Apa jangan-jangan itu pacar baru kamu." Rania tertawa meledek Fira yang kebingungan harus menjawab apa.


"Bukanlah, kamu itu ada-ada aja. Masa cuma nganter langsung dibilang pacar."


"Ya kan siapa tau kalau beneran."


"Enggaklah, tadi kamu ke kantor naik apa?"


"Naik ojek."


"Tukang ojeknya laki-laki apa perempuan?"


"Kalau gitu nanti kamu traktir aku ya."


"Kok tiba-tiba minta traktir?"


"La itu kamu kan baru jadian"


"Ih Fira kamu ngledekin aku ya, ih mana ketawa lagi."


"Udah-udah ayo buruan masuk, keburu telat beneran nanti."


Fira duduk di kursinya dan mulai mengerjakan tugas yang sudah menumpuk, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.


"Ra, kamu sibuk nggak?"


"Eh mas Irsyad, enggak kok, nggak sibuk."


"Alhamdulillah berarti nggak bakal ganggu kamu."


"Emang ada perlu apa kok ngomongnya pelan kaya gitu."


"He he he, ini Ra mau minta tolong."


"Minta tolong apa?"

__ADS_1


"Gimana ya ngomongnya, nanti aja deh Ra pas jam makan siang, nanti aku tunggu di tempat biasa kita makan."


"Ya udah nanti aku kesana, sama Rania juga nggak?" Tanyanya dengan tatapan menyeringai.


"Jangan dong Ra, nanti dia tau."


"Iya-iya, aku juga cuma bercanda, ya udah nanti aku kesana duluan sebelum Rania ke sana."


"Ok, makasih ya Ra"


Rania memeperhatikan gerak gerik Irsyad yang tengah berbisik-bisik pada Fira, ada sedikit rasa sakit timbul di hatinya, mengaoa orang yang dicintainya malah dekat dan terlihat bahagia dengan orang lain, namun ia juga tak bisa apa-apa karena dirinya sendiri bukanlah siapa-siapa bagi Irsyad dan hanya sebatas teman kerja. Disisi lain dia juga merasa senang karena kedua temannya bisa akrab. Rania pun memutuskan untuk sedikit menjauh agar tak mengganggu mereka berdua.


Jam makan siang pun tiba tanpa diundang, karena kesibukan kerjaan masing-masing membuat semuanya tak terasa jika sudah masuk waktu makan siang.


Sesuai kesepakatan tadi, Fira segera pergi menuju tempat biasa mereka makan siang.


"Akhirnya kamu dateng Ra, kirain bakalan bareng Rania."


"Enggak, kamu aja yang kecepatan, Rania juga tadi kayaknya masih ada sedikit urusan jadi bakal ada waktu."


"Alhamdulillah kalau gitu. Jadi aku bisa sedikit minta saran sama kamu."


Kantor Adit


"Huh nggak mood banget sih rasanya, mending keluar. Tapi ngomong-ngomong, bukannya ini deket kantornya Fira."


Adit yang merasa jenuh di kantornya memutuskan untuk menenangkan pikirannya dan pergi. Tapi tanpa ia sadari ia malah lewat didepan kantor Fira.


Adit berhenti tepat di depan restoran tempat Fira dan Irsyad janjian, mungkin ini sebuah kebetulan, Adit melihat dengan mata kepalanya sendiri, mantan kekasihnya tengah makan siang bersama laki-laki lain, hal itu menambah rasa kesal yang sedang bertahta di hati Adit.


"Huh Fira nih, udah lama banget deh rasanya nggak ketemu, nggak ngabarin aku lagi. Mumpung jam makan siang samperin ah." Nana yang tak lain adik dari Adit pun datang ke kantor tempat Fira bekerja dalam waktu bersamaan.


"Eh bukannya itu mobilnya kak Adit ya."


Ketika keluar dari mobil, Nana seperti mengenali mobil yang tak jauh dari pandangannya, dan benar saja kakaknya tengah berjalan mendekat ke arah mobil tersebut.


"Kak Adit, kak."


Nana memanggil-manggil Adit, namun Adit yang terlanjur sakit dan lebih sakit hati pun pergi tanpa memperhatikan panggilan adiknya itu.


"Ih kok nggak berhenti sih, ya udah deh temuin Fira aja."


Nana memutuskan untuk masuk ke dalam restaurant terlebih dahulu, karena yang ia tahu disinilah tempat dimana karyawan kantor makan siang.


Langkahnya seketika terhenti, mulutnya juga sedikit menganha melihat pemandangan yang ada di depannya itu, ia sendiri tak menyangka dengan apa yang di liat.


*Jadi apakah yang ada di foto itu benar?


Tapi tidak mungkin!


Fira tidak seperti itu*.

__ADS_1


__ADS_2