Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Menggelar Sajadahmu Dibelakang Sajadahku


__ADS_3

Siang harinya setelah beristirahat sejenak, Adit ingin mengajak Fira ke kebun teh.


Kebun teh ini dulunya milik keluarga tante Sarah, namun karena mereka butuh uang, akhirnya mereka menjual kebun teh tersebut, kebetulan waktu itu restoran Adit lagi ramai-ramainya pengunjung dan omset yang didapatkan juga sangat besar, jadi Adit memutuskan untuk membeli kebun teh tersebut, niatnya cuman ingin mempermudah Tante Sarah, jika nanti Tante Sarah sudah memiliki uang kembali dan ingin membelinya lagi itu akan mudah daripada menjualnya ke orang lain yang bukan kerabat atau saudara.


"Mau kemana kak?"


"Adadeh, ikut aja nanti kamu tau."


"Kebiasaan deh kayak Nana."


Mereka melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, dalam pikiran Adit berjalan kaki lebih baik karena akan memakan waktu yang cukup untuk berduaan bersama orang yang ia cintai itu.


Setelah beberapa menit mereka telah sampai di tujuan,


"Wahhh bagus banget pemandangannya kak."


"Suka?"


"Banget."


Fira berkeliling-keliling menyusuri kebun teh tanpa menoleh ke arah Adit, Fira berjalan kedepan meninggalkan Adit, sebuah ide jahil Adit muncul untuk mengerjai Fira.


Saat Fira menoleh ke belakang, ia tidak menemukan sosok kak Adit, tiba-tiba saja ia menjadi takut.


"Kak, kak Adit."


Tidak ada jawaban dari Adit.


"Kak Adit, kak Adit dimana Fira takut kak."


Masih nihil, Adit belum menampakkan batang hidungnya.


"Kak Adit, jangan tinggalin Fira sendirian Fira takut. Hiks Hiks hiks."


Niat hati Adit cuman ingin mengerjai Fira malah mendapatkan bonus Fira nangis, ia menjadi tidak tega dan segera keluar dari persembunyiannya.


"Baaaa," Suara Adit mengejutkan Fira di seberang sana, mereka terpisah jarak beberapa meter.


Fira yang sudah menemukan sosok Adit langsung berlari ke pelukan Adit, menghamburkan tubuhnya ke dekapan Adit.


Blush


Hawa dingin menyeruak ke tubuh Adit, baru pertama ini Fira memeluknya, jantungnya berdetak dengan sangat kencang.


Ya Allah apa aku sakit jantung?


"Kok nangis?"


"Kak Adit sengaja ya, mau ngerjain Fira, Fira takut ditinggal sendiri."


"Maafin kak Adit Ra, nggak gitu lagi deh."

__ADS_1


Adit malah tertawa cengengesan membuat Fira makin kesal, namun yang harus kalian ketahui, Adit begitu untuk menutupi rasa gugupnya karena dipeluk Fira.


"Jahat banget si." Fira mengerucutkan bibirnya.


"Iya jahat, tapi dilepas dong meluknya itu diliatin orang lho."Bisik Adit tepat di samping telinga Fira, Fira yang mendapatkan bisikan di telinganya menajadi merinding dan langsung melepaskan pelukannya.


"Ihh kok merah gitu mukanya."


"Udah dong, hobi banget godain Fira."


Mereka melanjutkan kegiatannya berkeliling kebun teh, namun sekarang Fira tidak lagi berjalan cepat, ia berjalan pelan di belakang Adit, takut kejadian tadi terulang lagi.


Mereka mendekat ke arah ibu-ibu yang tengah memetik daun teh,


"Eh pak Adit, udah lama nggak berkunjung."


"Usah cari waktunya Bu. Semuanya lancar kan Bu."


"Alhamdulillah lancar, wah kali ini bawa calon ya pak Adit, kenalin ke kami pak."


"Oh iya sampai lupa Bu, ini Fira."


Fira mengangguk sembari menjabat tangan ibu-ibu pemetik teh itu.


"Kapan kami dapat undangan pak?"


"Kalau sudah saya cetak pasti ibu-ibu kebagian kok." Ucapan Adit sontak mendapat cubitan dari Fira.


"Minta doanya dulu aja Bu."


"Kami doain deh, supaya pak Adit sama mbaknya cepet nyebar undangan."Ucap salah satu ibu Menik


"Aamiin."Yang lainnya pun tak kalah gentar mengamini doa ibu Menik.


"Karena ibu-ibu udah mendoakan saya, bulan ini bonus saya tambahin 10%."Ucap Adit dengan senyum mengembang yang disusul oleh ucapan terimakasih para ibu-ibu pemetik teh itu.


"Kak?"


"Ya, ayo kita lanjutin lagi jalan-jalannya."


Dulu waktu kebun masih dipegang keluarga tante Sarah, para buruh jarang sekali mendapatkan bonus atau tambahan gaji, mereka hanya mendapatkan gaji pokok, itu saja terkadang molor-molor sampai beberapa hari, setelah kebun dipegang oleh Adit , kondisi ekonomi para buruh berubah drastis dari gaji yang lebih besar, setiap bulan pasti ada bon


us, ditambah jaminan kesehatan yang diberikan oleh Adit. Sungguh beruntung nasib para buruh pemetik teh.


Saat ini Adit dan Fira tengah duduk di bangku yang ada ditengah-tengah kebun teh itu, mereka kelelahan mengitari luasnya kebun teh milik Adit.


"Kak Foto yuk."


"Yah kok gini, jelek hapus kak."


"Ih itu aku belum siap kak, hapus-hapus."

__ADS_1


"Pake hp kakak aja deh, kamera hp Fira jelek."


Adit dengan senang hati menuruti semua permintaan Fira, dalam hatinya bergumam


'Dasar perempuan.'


"Kak kalau mau mengumpat jangan dibatin, Fira tau."


Padahal Fira hanya menebak tapi melihat wajah Adit yang terlihat gugup Fira jadi tau kalau Adit benar mengumpati dirinya dalam hatinya.


"Mau kemana?" Tanya Adit yang melihat Fira melangkahkan kaki menjauhinya."


"Pulang, kak Adit nggak ikhlas nemenin jalan-jalan."


"Apa karena aku terlihat gugup saat kau menanyakan hal tadi?"


"Hmm"


"Kemarilah."


"Nggak mau."


"Safira Natasya, bukan itu yang membuatku gugup tapi ini yang membuatku gugup."Ucap Adit dengan mengenggam tangan Fira yang diletakkan di depan dadanya, Fira bisa merasakan denyutan jantung Adit yang sangat cepat.


"Maksudnya?" Masih dengan suara ketus.


"Aku tau ini terlalu cepat, tapi menurutku inilah yang terbaik, Safira Natasya maukah kamu mendampingiku sampai akhir hidupku, menjadi makmumku di setiap sholatku, mengamini setiap doa yang kuucapkan, menggelar sajadahmu dibelakang sajadahku, menyodorkan tanganmu seusai sholatmu, menjadi ibu dari anak-anakku."


DEG


Fira diam seribu kata, ia tak tau harus menjawab apa, memang ini yang ia tunggu tapi bukan secepat ini ke jenjang yang lebih serius.


Adit merogoh saku celananya, mengambil sebuah benda bewarna merah berbentuk love dan membukanya tepat di depan mata Fira. Sebuah cincin dengan permata biru muda.


"Secepat inikah kak?"


"Apa kamu masih belum yakin sama kakak?"


"Bukan gitu, beri Fira waktu?"


"Jadi kamu menolakku lagi?"


"Beri Fira waktu untuk kita bersama sebelum kita ke jenjang yang lebih serius, tunggu Fira kejar cita-cita Fira, Fira mencintaimu kak."


Adit yang mendengar perkataan Fira menjadi


sangat senang, matanya berkaca-kaca, ia reflek memeluk tubuh Fira.


"Maaf." Ucap Adit setelah menyadari perbuatannya, Fira tersenyum mendengar ucapan maaf dari Adit.


"Marilah saling mengenal satu sama lain hingga hati kita sama-sama yakin menerima masa lalu masing-masing, ajari Fira, ajari Fira untuk bisa mengikhlaskan dan mengubur dalam-dalam masa lalu Fira, maafkan Fira jika kedepannya membuatmu sakit hati, bukannya Fira ada niatan untuk menyakitimu, tapi Fira hanyalah manusia biasa yang pasti tak luput dari khilaf, tegurlah aku, tegurlah aku jika aku berbuat salah."

__ADS_1


__ADS_2