
"Enak banget mbak, uhh pedasnya pas."
"Ya iyalah, abangmu nggak salah pilih istri kan."
"Iya-iya, percayalah."
"Sudah-sudah,kalian tu udah besar masih aja suka ribut pas makan, malu sama anak istri Ram." Mama mulai angkat suara.
"Dengerin tu kak."
"Kamu juga Ra, udah berumur gitu bentar lagi mau jadi istri masih aja kekanakan."
Terlihat Rama sedang menahan tawanya, ternyata mama tidak hanya menasehati Rama, dengan Fira pun juga.
"Mama kok marahin Fira si."
"Itu bukan marah Sayang, itu namanya menasehati, iya kan Din."
"Iya ma."
Tak lama kemudian terdengar suara pintu diketuk dari luar, malam ini keluarga Rama seperti kedatangan tamu, entah siapa orangnya.
Dinda beranjak bangun dari duduknya, berjalan menuju pintu untuk membuka dan mempersilahkan tamunya masuk kedalam.
Krekk
"Wa'alaikumsalam."
"Loh Mar,"
Dari arah belakang, Rama menghampiri Dinda dan tamunya, Rama sempat terkejut dengan kedatangan adik iparnya yang tiba-tiba,karena makan malam yang belum selesai, iapun mengajak Damar untuk makan malam bersama.
Setelah selesai makan, mereka semua berkumpul di depan tv kecuali mama yang pamit untuk istirahat duluan.
"Kesini sendirian Mar? Ibu sama bapak sehat?"
"Ada urusan kerjaan mas, alhamdulillah bapak ibu sehat."
"Oiya mas, Damar nginep disini sehari ya, besok pagi Damar ada perjalan bisnis ke luar pulau."
"Kemana Mar?" Tanya Dinda pada adeknya.
"Kalimantan mbak, Damar ditugaskan buat gantiin Adit sementara."
"Ha, maksud mas Damar?"Tanya Fira terlonjak kaget.
Setelah mendengar penjelasan dari Damar, hati Fira sedikit meringis menahan gejolak rasa sakit di hatinya, Damar menceritakan bahwa Adit tengah sakit, Damar mengetahui hal itu dari ayahnya Adit.
Kenapa kamu menutupi keadaanmu dariku mas.
Ok jika itu maumu, aku juga akan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Keesokan harinya, Fira dan Damar telah sampai di Kalimantan, setelah melalui perdebatan panjang antara Fira dan kakaknya, akhirnya Rama dengan berat hari merelakan adik semata wayangnya itu untuk perjalanan yang cukup jauh, walaupun tidak sendirian tetap saja Rama merasa sedikit keberatan.
"Ra, aku perhatiin sedari semalam kamu kok diam aja si?"
"Masa si mas?"
"Apa perasaan aku aja ya, kamu mau ikut ke kantor Adit langsung?"
Fira mengangguk tanda mengiyakan.
Setelah beberapa menit, mereka berdua telah sampai di kantor milik keluarga Adit, Damar langsung menuju ruangan dimana Adit berada, Damar sudah tau tata letak kantor disini karena sudah beberapa kali ia menginjakkan kakinya di kantor ini.
"Eh pak Damar, apa ada perlu dengan pak Adit?" Tanya sekretaris yang berada di depan ruangan pak Adit.
Damar mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Tunggu sebentar pak, biar saya hubungi pak Adit dulu."
"Hallo pak, diluar ada pak Damar yang ingin bertemu dengan bapak?
"......"
"Dengan seorang perempuan pak."
"....."
"Bilang saja calon istriku."
Fira mendelik tajam ke arah Damar, yang dilirik hanya cengengesan.
"...."
"Sikahkan masuk pak, Pak Adit sudah menunggu di dalam."
"Selamat siang bapak direktur yang terhormat." Kata Damar sambil masuk ke ruangan Adit.
Adit yang terlalu fokus pada tugasnya tidak terlalu memperhatikan kehadiran Damar beserta calon istrinya itu.
"Lain kali kalau ke kantor jangan bawa calon istri, nanti kamu jadi nggak fokus buat kerja. Bedakan urusan kantor dengan urusan pribadi." Kata Adit sambil mengotak atik laptopnya. Ya Adit berbicara dengan sangat formal karena ia sudah terlaku masuk dalam kesibukan kerjanya, sampai-sampai tak memperhatikan keadaan sekitarnya.
"Maaf pak, saya tidak dipesankan hotel sama calon suami saya, jadi saya terpaksa ikut ke sini." Kata Fira sedikit menggoda Adit,
Adit sedikit kaget mendengar suara yang mirip dengan kekasihnya, namun dirinya tidak menghiraukan karena mungkin saja hanya suaranya yang mirip.
"Ya sudah, kamu carikan dulu hotel buat calonmu itu Mar, terus kesini lagi." Kata Adit yang masih tak berpaling dari laptopnya.
"Yakin ini pak? Bapak nggak mau cariin sendiri hotel buat saya?" Kata Fira yang semakin menggoda adit.
Adit yang merasa terganggu pun marah dan menggebrak meja sambil berkata.
"Mar, itu calon istri kamu suruh sopannnn..... Dikit."
__ADS_1
Seketika mulutnya membisu, matanya terpaku, hidungnya berhenti bernafas, jantungnya berhenti berdetak, seakan tak percaya dengan apa yang matanya lihat, seorang kekasih yang sudah enam bulan lamanya tak jumpa, kini ia melihatnya di depan matanya, ia nyata bukan halusinasi, betapa kagetnya dan senangnya dirinya itu. Semuanya bercampur menjadi satu.
"Eh kok" Adit yang seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya mencoba membuatnya fokus, namun memang yang ada didepannya adalah kekasihnya.
"Sayang." Suara Adit terdengar parau,rindunya terlepaskan detik ini juga.
"Ya udah ayo mas damar, cariin Fira hotel, Fira nggak diterima disini." Kata Fira menatap ke arah Adit dengan pura-pura kesal dan sinis.
Damar hanya bisa tertawa kecil melihat kejadian ini.
"Tunggu-tunggu" kata Adit sambil beranjak dari tempatnya.
"Kenapa? Bukannya barusan nyuruh saya keluar ya pak." Kata Fira sambil memalingkan wajahnya.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Fira Adit malah mendekap tubuh Fira, menariknya, membawanya kedalam pelukannya, sungguh ia sangat merindu dengan pujaan hati.
Damar pun semakin merasa canggung berada diantara keduanya sambil tersenyum dan seakan dirinya dianggap tak ada.
"Kenapa datang tiba-tiba? Kenapa tidak mengubungi mas terlebih dahulu? Kenapa tidak meminta mas untuk menjemputmu di bandara? Kenapa...."
"Hustt." Jari telunjuk Fira sudah mendarat cantik didepan bibir Adit,menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan keluar lagi dari mulutnya itu.
"Fira hanya Rindu." Terusnya dengan tangan yang mulai membalas pelukan Adit.
Keduanya hanyut dan tenggelam dalam kehangatan masing-masing, saling melepas rindu yang sudah lama bertahta di diri masing-masing.
"Ekhem." Suara deheman Damar yang lirih namun berhasil membuat kedua insan yang tengah melepas rindu itu terganggu.
"Oh iya Mar, itu kerjaan dilanjutin ya, hari ini saya mau liat beres, kamu ditugaskan disini untuk membantu saya kan, jadi kerjakan tugasnya langsung, jangan banyak protes."
Ucap Damar sambil menarik tangan Fira keluar.
"Mau kemana?"
"Makan sayang, kamu pasti belum makan kan."
"Eh itu Mas Damar nggak diajakin sekalian?" Kata Fira pada Adit.
"Enggak usah, dia udah gede, udah bisa ngurus dirinya sendiri, bisa panggil OB juga." Kata Adit sambil membawa Fira keluar dari ruangannya.
Damar yang hanya memasang wajah tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah laku atasan sekaligus sahabatnya itu.
"Tadi marah-marah, sekarang dianya sendiri yang malah nggak fokus kerja, dasar pak bos." Gumam Damar.
Dan tiba-tiba terdengar teriakan
"Kerja yang bener jangan banyak protes sahabatku, saya kesini semuanya sudah beres." Teriak Adit membuat Damar kaget.
"Selain aneh ternyata pak bos bisa denger batin seseorang." Gumam Damar kembali.
"Jangan ngomongin saya dalam hatimu Mar. Kerjakan! Selesaikan!" Ucap Adit yang lagi-lagi membuat Damar terkejut.
__ADS_1
"Si..siap pakkkk!!!" Ucap Damar sambil bergegas mengerjakan tugasnya.
'Dasar nasib yang jomblo yang teraniaya.'