Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Pura-Pura


__ADS_3

Berjalan menjauh dari ruang perawatan Rayhan menuju taman rumah sakit yang tidak jauh dari jangkauannya.


Menjatuhkan bobot tubuhnya pada bangku taman itu, air matanya menetes, ada rasa penyesalan di benaknya.


"Harusnya aku nolak waktu kamu membuat ide konyol ini Ray."


"Harusnya aku bujuk kamu biar nggak pisah sama Fira."


"Sahabat macam apa aku ini, ya Allah."


Tangannya mengusap wajahnya kasar, ia tak tau harus membagi masalahnya dengan siapa, sebenarnya ini bukan masalahnya namun ia ikut andil dalam maslah ini.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang."


"Di saat seperti ini kamu pasti butuh banget Fira Ray, aku juga yakin Fira pasti mau terima kamu apa adanya, kenapa malah kamu membuat ide konyol ini si Ray, kamu juga tau kan bukan hanya kamu yang sakit, sahabat aku sendiri juga pasti sakit, bahkan aku juga berkorban disini, hubungan persahabatanku dan Fira retak entah sejak kapan itu."


Setelah sedikit lega, Dewi kembali lagi ke ruang perawatan Rayhan, niat awalnya adalah menjenguk Rayhan, teman, mantan sahabatnya, sekaligus tunangan pura-puranya.


Tunangan pura-pura?


Ya, Dewi yang tak lain sahabat dari Fira adalah seseorang yang dimanfaatkan oleh Rayhan lebih tepatnya dijadikan bahan agar ide Rayhan berjalan dengan mulus.


Ide Rayhan meninggalkan Fira dengan melamar perempuan lain, bukan perempuan lain sebenarnya, melamar sahabatnya sendiri di depan mata Fira, itu adalah rencana konyol Rayhan agar Fira menjauh dari Rayhan dan melupakannya. Rayhan benar-benar menjalankan misinya secara totalitas, ia ingin terlihat jahat didepan mata Fira, hingga Fira sendirilah yang menjauh darinya.


Kamu tidak pantas bersanding dengan lelaki sepertiku Ra


Kamu berhak bahagia.


Aku tau ini mungkin sakit, tapi aku percaya perlahan tapi pasti bakalan ada seseorang yang berhasil merebut hatimu kembali


Dan mungkin jika saat itu tiba, aku sudah bahagia di alam lain Ra.


Secuat ucapan demi ucapan terngiang lagi di telinga Dewi, itu adalah detik-detik dimana Dewi diminta pertolongan oleh Rayhan untuk menjadi tunangan pura-pura, antara rasa kasihan dan tak bisa menolak akhirnya Dewi pun menyetujui dan ikut andil dalam ide konyol Rayhan.


Waktu sedang parah-parahnya penyakit itu menyakiti tubuh Rayhan, Rayhan sempat down dan bahkan menjaga jarak dari Fira, menghilang tanpa kabar, dan tidak berkomunikasi selama beberapa hari.


Dewi sudah berada di depan kamar rawat Rayhan, ia mengetok pintu terlebih dahulu.


"Masuk."

__ADS_1


"Assalamu'alaikum om."Dewi mencium tangan papanya Rayhan dan menganggukan kepalanya pada Gio.


"Wa'laikumsalam, Dewi ya?"


"Iya om."


"Wah udah lama banget nggak keliatan, sibuk banget ya kamu?"Dewi hanya menganggukan kepala seraya tersenyum.


"Yasudah om tinggal dulu ya, Gio ada sesuatu yang ingin om bicarakan sama kamu."


Seperti peka terhadap keadaan, Gio pun menuruti permintaan papanya Rayhan, mengikuti langkahnya keluar dari kamar rawat Rayhan.


Setelah kedua orang itu berlalu dan tak nampak lagi, Dewi mendekat ke arah ranjangnya Rayhan.


"Hai apa kabar." Rayhan yang menyapa Dewi terlebih dahulu.


Sebenarnya Rayhan tidak enak hati karena pernah menjadikan Dewi sebagai tunangan pura-puranya hingga menyebabkan persahabatannya dengan Fira mulai pudar.


"Seperti yang kamu liat."


"Kamu sendiri apa kabar, sudah lama nggak keliatan."


"Iya dong rindu sama tunangan pura-puraku, hahaha."


Mereka berdua tertawa bersama mengingat ide konyol yang pernah mereka lakukan, sandiwara yang disutradarai dan dimainkan oleh Rayhan Pratama sendiri, mungkin Rayhan tidak cocok menjadi dokter melainkan cocok menjadi sutradara ataupun produser tv yang mengarang sinetron.


"Masih inget aja kamu Wi Wi."


"Oh ya Wi, sebelumnya aku minta maaf ya sama kamu, benar-benar minta maaf, karena aku persahabatan kamu sama dia jadi runtuh, aku nggak kepikiran sampai kesitu Wi, maaf ya."


"Dan seandainya umurku sudah tak panjang lagi, tolong maafkan aku karena telah menyeretmu dalam masalahku, sampaikan juga maafku pada sahabatmu itu."


"Cukup Ray, aku yakin kamu pasti sembuh, kamu semangat dong jangan kaya gini." Tak bisa dipungkiri, mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Rayhan menjadikan air mata yang sudah mengering kini menetes kembali.


"Hey kok nangis?"


"Kamu itu lo, ngomongnya nggak disaring dulu. "


"Hahaha, udah-udah kan seandainya Wi, umur kita kan nggak ada yang tau."Disaat seperti ini bisa-bisanya Rayhan tertawa karena ekspresi Dewi.

__ADS_1


"Tapi Wi, bisa aja kamu yang duluan, jadi nggak ada salahnya kan minta maaf."


"Rayhan, nyebelin ihh."Dewi reflek memukul lengan Rayhan yang tidak diinfus itu.


"Aww aww sakit Wi."


"Ray, sakit ya maaf."


"Hahaha, ekspresimu itu lo Wi."


Dewi seakan sebal dengan tingkah laku Rayhan itu, ia benar-benar kesal telah dikerjai oleh Rayhan.


"Ni, jangan lupa dimakan." Ucap Dewi sambil menyodorkan parsel buah secara kasar.


"Ya Allah, cantik-cantik juteknya masyaallah.",


"Bodo amat, nggak lucu tau."


"Kupasin dong Wi, kan aku lagi sakit." menampilkan wajah seimut mungkin.


"Ya Allah, amit-amit banget si kamu, kok bisa ya Fira suka sama kamu."Dewi mulai membuka plastik pembungkus parsel itu,ia mengatakan sesuatu hal dengan reflek, ia tak memikirkan kata-kata yang terlontar dari mulutnya, hingga beberapa saat stimulus otaknya bekerja cepat, ia menoleh ke arah Rayhan yang sedang melamun itu.


"Ray."


"Eh, ya?" Rayhan terkejut karena sentuhan tangan Dewi pada lengannya.


"Maaf ya, jadi keinget sama Fira lagi, aku tau kok Ray, selama ini kamu nggak benar-benar udah move on dari Fira, aku juga tau kalau kamu Rindu, begitupun dengan aku Ray.",


"Udah nggak usah mellow gitu, aku nggak papa kok, siapa bilang aku belum move on jelas-jelas udah ada penggantinya yang cantik kaya bidadari bahkan sekarang ada di depanku."Godaan terus aja terlontar dari mulut Rayhan, membuat Dewi menatapnya jenga, Dewi perempuan yang tidak mempan jika digombali atau dirayu dengan kata-kata manis sekalipun.


"Tapi aku nggak bisa terus-terusan kaya gini Ray."


"Aku nggak nyuruh kamu buat terus jadi tunangan pura-puraku Wi, kamu bisa pacaran dan menjalin hubungan dengan lelaki lain, lagian Fira pasti juga udah lupa sama aku."


"Bukan gitu maksud aku Ray, aku hanya rindu sama sahabatku itu, entah mengapa jika ada kesempatan untuk aku menyapanya, aku selalu takut Ray, aku takut jika dia marah sama aku, aku takut jika dia menganggapku sebagai perempuan perebut pacar orang, walaupun itu udah lama, tapi aku tau kalau Fira itu dulu benar-benar sayang dan cinta sama kamu Ray. Aku tau bagaimana lerasaan dia setelah tau tentang hubungan pura-pura kita itu Ray."


"Ray, aku temuin Fira ya, aku bilang yang sebenarnya, aku tau kamu saat ini butuh Fira kan Ray."


"Jangan Wi." Sergah Rayhan cepat.

__ADS_1


__ADS_2