Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Firasat


__ADS_3

Sebulan sudah Fira bekerja di kantor barunya , ia sangat menikmati masa-masa kerjanya, apalagi hari ini ia gajian, ia akan mentraktir teman sedivisinya untuk makan-makan di restoran dekat kantornya, tentu saja tidak ada yang menolak, apalagi dengan kata-kata gratisan.


Namun saat istirahat tiba, Bu Kamila dipanggil oleh atasan karena ada suatu hal penting, Bu Kamila juga meminta kami tetap melanjutkan rencana makan-makan tanpanya, ya dengan berat hati jadi kami bertiga yang makan di restoran itu.


Kata orang, sebagian dari rejeki kita itu bukan hak kita maka dari itu aku mentraktir teman-temanku sekaligus untuk syukuran gaji pertama, coba saja ada mas Adit disini pasti orang pertama yang akan aku traktir adalah kekasihku itu, untuk keluargaku, mama pernah berpesan mama dan kak Rama adalah keluargamu jika mau syukuran jangan sama keluarga dulu, entah apa maksudnya aku tak begitu paham.


Kami bertiga telah tiba di restoran dekat kantor, setelah memesan makanan dan minuman kami pun berbincang-bincang mengenai hal selain urusan kantor.


Aku, Rania, dan Irsyad sangat dekat, apalagi umur kami yang hanya terpaut tidak terlalu jauh, menjadikan kami seperti teman sebaya, jika Bu Kamila itu umurnya lebih tua dari kami semua, kami juga memanggilnya dengan awalan Bu ,karena selesain umurnya, pangkatnya pun lebih tinggi dari kami bertiga.


"Ra, aku ke toilet dulu ya." Pamit Rania padaku.


"Mau ditemani mbak?" Tanyaku padanya.


"Tidak usah, kalian disini aja sebentar kok."


"Ok." Jawabku kompak dengan Irsyad.


Kini tinggallah kami berdua, aku dan iryad, tapi kondisi apa ini kenapa jadi hening, tak ada yang mulai berbicara, ya ampun aku harus memulainya.


"Syad.". "Ra."


Ucapku dan isyad bersamaan.


"Kamu dulu aja Ra."


"Mas Irsyad udah lama ya kenal sama mbak rania?"


"Hmm, lumayan semenjak dia mulai kerja di kantor kita."


"Udah lama juga ya."


"Ya begitulah."


"Apa kamu nggak ada rasa apa gitu sama mbak Rania."


"Enggak."


Ya ampun jawabnya singkat padat dan jelas, nggak ada basa-basinya gitu, aku kan jadi nggak enak sama Rania, apa yang akan kukatakan nanti.


"Tapi sepertinya mbak Rania ada sesuatu denganmu Syad."


"Enggaklah, kami cuman teman."


Tanpa mereka ketahui, kamera membidik kegiatan yang tengah mereka berdua lakukan, di foto mereka berdua keliatan akrab sekali, canda dan tawa mengiringi, setelah si pelaku pergi, Rania kembali dari toilet.


Kami menikmati makan siang dengan diselingi canda dan tawa, setelah selesai kami bergegas kembali ke kantor agar tidak terlambat.

__ADS_1


Sorepun datang dengan sinar surat yang indah menyingsing berpamitan untuk pulang dan beristirahat, sementara orang-orang berlalu lalang dengan kendaraannya dengan tujuan istana masing-masing, melepas penat setelah seharian bekerja, melepas rindu setelah seharian tak bertemu, sedangkan aku? Masih sama dengan hari-hari sebelumnya, melepas rindu yang lewat sendu.


Mobil sudah mendarat cantik di depan rumah, ya sekarang aku sudah bisa mengendarai mobil, mobil yang dibelikan kak Ramapun tak akan sia-sia.


Aku pulang bersamaan dengan kak Rama pulang dari rumah sakit.


"Baru pulang Ra?"


"Iya kak, kakak juga ya."


"Kebetulan nggak banyak pasien si, jadi bisa pulang awal, sudah rindu sama Rasyid dan bundanya."


"Hmmm, iya ngeri yang rindu bisa langsung peluk."


"Haha, makanya Adit tu suruh pulang biar cepet dihalalin."


"Tauk ah,"


Aku berjalan meninggalkan kak Rama yang masih sibuk dengan barang bawaannya, mungkin kak Rama dapat jatah belanja bulanan lagi, ih sungguh malangnya nasib seorang ayah itu.


Selepas Maghrib nanti, Nana mengajakku untuk makan malam dirumahnya, katanya si syukuran atas kenaikan jabatannya, aku tak begitu kaget, selain dengan otaknya yang pintar Nana juga perempuan karier yang sangat disiplin terhadap waktu, sekarang saja sudah jarang waktu yang kita gunakan untuk bersama, ya beginilah hidup, semakin kita mengejar kebutuhan akan diri kita terkadang kita akan jauh pada teman kita, tapi tidak semuanya seperti itu, terkadang ada juga yang malah semakin dekat dengan temannya.


Setelah selesai dengan pakaianku, aku segera beranjak kelaut rumah pamit pada mama dan kak Rama untuk meminta ijin, beruntungnya aku hari ini langsung diberi ijin tanpa harus menjalankan detailnya.


Segera kulajukan mobil ke rumah Nana, ya rumah mas Adit juga, namun berbeda kini rasanya berbeda, disana tak ada mas Adit, ya kan jadi gini kenapa coba tiba-tiba rindu, telfon aja lah.


"Wa'alaikumsalam tumben nggak vc neng?"


"Lagi nyetir mas."


"Hmm, kebiasaan kan. Eits tunggu malam-malam begini mau kemana kamu Ra? Bawa mobil sendiri? Pergi sendiri? mau kemana ini udah lepas Maghrib."


"Satu-satu atuh mas, Ra jawabnya jadi bingung."


"Mau kemana?" Tanya Adit jutek.


"Mau apel, kerumah mamah mertua."


"kerumah mas? Malam-malam?"


"Nana yang ngundang Fira."


"Kirain beneran mau apel mama sama papa mertua."


"Yah kan jadi khawatir gini denger kata mertua."


"Tenang Ra, calon mertuamu orangnya baik kok, kamu juga pernah ketemu, nggak usah grogi nggak bakalan gigit."

__ADS_1


"Mas kok ngomong gitu ke mama sama papa, kualat nanti Lo."


"Enggak Ra, mas hanya bercanda."


"Matiin dulu telfonnya ya, nggak baik nyetir sambil main hp, jika saja mas ada di dekatmu mungkin mas akan jewer telingamu itu."


"Untungnya mas nggak, aaaa astaghfirullah."


Sambungan telepon masih tersambung, tapi telepon Fira sesudah jatuh ke bawah kemudi, pemiliknya berlari keluar melihat keadaan


"Yang, ada apa?"


Tak ada jawaban, membuat Adit sedikit khawatir.


"Fira, jawab mas jangan bikin mas panik dong."


"Fira."


Adit tau pasti ada yang tidak beres, ia segera menghubungi nomer bawahannya untuk melacak keberadaan Fira.


Setelah beberapa menit Adit memutuskan teleponnya dengan orang suruhannya, ponselnya kembali berdering, dan tertera nama Fira disana.


"Hallo, Ra kenapa? Ada apa? apa kamu baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu denganmu?"


"Mas tenang dulu to, Fira nggak papa cuman tadi keasikan nelfon jadi nggak fokus nyetir dan,-


"Kamu nabrak Ra?"


"Heheh, hampir mas."


"Astaghfirullah, kan mas udah bilang jangan main hp pas nyetir, peringatan itu, belum juga mulut mas kering berucap udah kejadian."


"Maaf mas, lagian itu orang nyebrang asal nyebrang nggak tengok kanan kiri"


"Mulai, siapa yang salah nyalahin siapa."


"Iya-iya maaf, nggak gitu lagi janji."


"Tunggu disana jangan kemana-mana, orang suruhan mas akan segera kesana mengawalmu pulang, udah nggak usah kerumah mas."


"Ih nggak bisa gitu dong mas, udah janji sama Nana nggak enak tauk, nggak enak juga sama mama papamu mas."


"Kalau udah dari dasarnya ngeyel ya tetep ngeyel, ya sudahlah kamu keurumah mas tapi tunggu pengawal mas datang."


"Serasa jadi tuan putri aku ini mas."


Entahlah Ra, mas merasa akan terjadi sesuatu yang buruk padamu.

__ADS_1


Semoga saja ini hanya firasatku yang terlalu mencemaskanmu.


__ADS_2