Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Harapan Oma


__ADS_3

"Lisa mau nambah lagi?" Tanya Fira pada Lisa.


"Em enggak, Lisa udah kenyang." Lisa menepuk-nepuk perutnya yang keliatan sedikit membuncit.


Fira pun tertawa melihat apa yang dilakukan Lisa.


Drrtttt...


Terdengar suara getaran dari ponsel Fira Fira yang mendengarnya pun langsung beranjak mengambil ponselnya dan melihat kalau oma sedang mencoba menghubunginya.


"Halo, assalamu'alaikum." Salam oma disebrang telpon.


"Wa'alaikumsalam tante,"


"Oh iya nak Fira sama Lisa lagi ada di mana ya? Tante udah selesai dari keperluan tante." Oma akan menjemput Lisa, namun sebelum ia pergi ke taman tadi ia menghubungi Fira terlebih dahulu untuk menanyakan keberadaannya dan cucunya.


"Lisa ada di rumah Fira tante lagi main disini."


"Kalau gitu tante ke rumah nak Fira ya."


"Iya tante hati-hati dijalan"


Teleponnya pun ditutup dan Fira melanjutkan bermain bersama Lisa dan keponakan tercintanya.


"Ra, kalau diliat-liat kamu ini emang udah pantes ya kalau jadi mama muda." Goda Dinda dengan diiringi tawa kecilnya.


"Ih mbak Dinda ni, Fira masih kecil tauk. Lagian Fira nggak mau cepet-cepet berkeluarga, Fira masih pingin dimanjain sama mama." Fira menjulurkan lidahnya membalas kakak ipar yang selalu menggodanya.


"Udah besar kamu tuh, cuma sifat kamu emang sebelas duabelas sama Lisa deh." Dinda tak kalah gentar, iapun meladeni sifat kekanak-kanakn Firadnegan gurauannya.


"Ya nggak papa, yang penting tetep disayang." Jawab Fira sambil tertawa, Dinda pun ikut tertawa karena percakapan mereka, sementara dua anak kecil disampingmya asik dengan mainanan mereka.


Tak lama kemudian, terdengar pintu diketuk dengan diiringi suara salam dari seorang perempuan.


"Wa'alaikumsalam" Jawab Fira dan Dinda secara bersamaan.


"Siapa ya yang bertamu?" Tanya Dinda pada Fira.


Fira menaikkan bahunya tanda tidak tahu, sampai ia ingat bahwa omanya Lisa akan datang untuk menjemput Lisa.


"Eh iya. Mungkin omanya Lisa, bentar ya mbak, Fira mau bukain pintu dulu." Firs bangun dari duduknya dan berjalan kearah pintu,menarik handle pintu dengan pelan, dan benar saja itu adalah omanya Lisa.


"Eh oma, ayo masuk oma, Lisa ada di dalam." Sambut Fira yang diangguki oleh senyuman dari oma, Fira menuntun oma untuk masuk kedalamrumahnya.


"Makasih nak Fira."


Sesampainya mereka di dalam, teriakan si kecil Lisa terdengar begitu saja.


"Wah oma." Teriak Lisa sambil berlari mendekati omanya dan memeluknya.

__ADS_1


"Kamu nggak nakal kan disini?" Tanya oma pada cucu kesayangannya sambil mencubit hidung mungil milik Lisa.


"Enggak dong, kan Lisa anak yang baik." Lisa menjawab dengan bangganya.


"Bener nih, bener nggak nih nak Fira kalau Lisa nggak nakal?" Tanya oma pada Fira untuk menggoda Lisa.


"Iya itu Lisa tadi nakal tante." Sahut Dinda menimpali ledekan sang oma.


"Ih tante Dinda, Lisa nggak nakal tauk." Lisa memonyongkan bibirnya tanda tidak terima,ia pun memasang wajah seperti pipi bakpao menandakan kalau ia sedang ngambek.


Mereka pun tertawa melihat tingkah lucu Lisa.


"Enggak kok tante, Lisa nurut kok. Enggak nakal, malah baik banget tadi aja main sama dedek Rasyid." Firs merasa gemas dengan tingkah laku Lisa, iapun tak pernah bosan untuk mencubit pipi gembil Lisa.


"Tuh kan, Lisa tu nggak nakal." Lisa memeluk Fira dengan eratnya.


Oma yang melihat kedekatan Fira dan Lisa membuatnya seakan melihat kedekatan seorang ibu dan anaknya, oma tidak pernah melihat Lisa sedekat itu dengan orang lain, bahkan kalau dipikir-pikir lagi, Fira adalah satu-satunya perempuan yang dari luar keluarga yang mampu sedekat itu dengan Lisa. Hal ini membuat oma berharap kalau Fira bisa menjadi ibu sambung bagi cucunya nanti.


"Oma, oma...." Panggil lisa membuat omanya tersadar dari angan-angannya.


"Eh iya ada apa Lisa sayang?" Tanya oma pada Lisa.


"Besok kapan-kapan main ke sini lagi ya." Pints Lisa dengan penuh semangat.


"Kalau Lisa mau main ke sini lagi, Lisa harus ijin dulu sama kak Fira. Kalau kak Fira nggak papa, nanti oma anter Lisa main ke sini. Ok?"


"Mama cantik, boleh ya Lisa main kesini lagi." Kini Lisa beralih menatap Fira, memasang wajah seimut mungkin serta tak lupa mata yang ia kedip-kedipkan layaknya boneka bayi.


Mendengar Lisa yang memanggil Fira dengan sebutan mama membuat oma semakin berharap kalau Fira bisa benar-benar menjadi ibu sambung bagi Lisa.


"Boleh kok sayang." Fira mengusap kepala Lisa dengan penuh kasih sayang.


Lisa terlihat nyaman dengan kedekatannya bersama Fira, ia juga berharap bahwa kedekatan itu kan berlangsung selamanya. Karena Lisa berharap bisa benar-benar memanggil Fira dengan panggilan mama suatu saat nanti.


Di sisi lain.


"Alhamdulillah kamu udah stabil lagi Ray." Gio merasa sedikit lega, ia masih memantau Rayhan yang masih terbaring belum sadarkan diri.


Gio mencoba menghubungi mamanya untuk memberi kabar kalau dia akan segera pulang, namun saat Gio menyalakan ponselnya dan melihat tanggal pada hari itu, yang mengingatkan Gio bahwa besok lusa adalah hari pertama Lisa memasuki taman kanak-kanak. Gio pun memutuskan mengurungkan niatnya untuk memberi kabar kepada mamanya dan pergi untuk mencari beberapa perlengkapan yang akan Lisa butuhkan di sekolahnya besok. Gio sangat teliti akan hal ini, karena Gio ingin membuat putrinya bahagia, karena kebahagiaam putrinya adalah segalanya bagi Gio. Dia sudah menyiapkan daftar apa saja yang disukai dan tidak disukai oleh putri tercintanya itu.


Gio pun meninggalkan ruang rawat Rayhan untuk membiarkannya istirahat dan sekaligus untuk pergi mencari peralatan sekolah Lisa.


- - -


"Hah, akhirnya sudah semua. Tas, sepatu, pensil, penghapus, penggaris, buku, crayon, pensil warna, busur, dan lain lagi." Akhirnya semua barang sudah terbeli semua.


Memang sedikit aneh, karena Gio membelikan Lisa barang sebanyak itu terlebih lagi Lisa masih di taman kanak-kanak, seharusnya Gio tak membeli semua itu. Tapi mau bagaimana lagi. Ini adalah kali pertamanya ia merasakan menjadi orang tua yang akan melihat anaknya melalui hari pertamanya sekolah, ditambah lagi kalau Gio sangat menyayangi putrinya.


"Waktunya pulang dan ngasih kejutan buat Lisa."

__ADS_1


Gio pun langsung menuju rumahnya, dan yang terkejut bukanlah Lisa, melainkan dirinya sendiri karena ia tidak tau Lisa ada di mana.


Gio pun langsung menelpon mamanya,


"Halo assalamu'alaikum ma, Mama sama Lisa lagi ada di mana ya, kok rumah kosong."


"Wa'alaikumsalam, ini mama sama Lisa masih di rumah Fira."


"Yah, berarti gagal dong kejutan Gio buat Lisa."


"Emang kejutan apa?"


"Gio baru aja beliin peralatan sekolahnya Lisa."


"Oh iya, mama lupa. Untung kamu inget kalau lusa hari pertamanya Lisa sekolah, kalau nggak bakal ribet."


"Nanti kalau mau pulang bilang Gio aja ma, nanti Gio jemput. Sekarang Gio mau bersih-bersih dulu."


Gio pun lalu menutup teleponnya dan berlalu membersihkan badannya.


D


"Lupa apa tante?" Tanya Fira dengan penasaran karena tadi tak sengaja mendengar percakapan antara oma dan seseorang lewat telpon.


"Oh itu, tante lupa kalau besok lusa hari pertama Lisa masuk sekolah." jelas omanya Lisa.


Lisa yang mendengar kalau besok lusa hari pertamanya sekolah langsung bersorak gembira.


"Asikkk."


"Beneran nih oma?" Tanya Lisa pada omanya.


"Bener dong sayang."


"Horeee, besok lusa mama cantik anterin Lisa ya." Lisa memeluk Fira dan mendongakkan wajahnya menunggu jawaban dari Fira.


"Kok minta anterin kak Fira, kasihan dong. Kak Fira kan juga punya keperluan yang lain, besok oma aja ya yang anterin Fira."Elak oma yang merasa tidak enak pada Fira.


"Tapi." Lisa ingin protes, namun tak diteruskan karena Lisa terlanjur murung dan enggan untuk melanjutkan pembicaraannya .


Fira yang tak tega melihatnya,


"Nggak papa tante, biar besok Fira aja yang nganterin Lisa."


"Beneran nak Fira? Nanti ngrepotin nak Fira jadinya."


"Enggak kok tante, Fira malahan seneng bisa nganterin Lisa sekolah, apalagi itu hari pertamanya."


"Asik, bisa dianterin mama cantik ke sekolah." Lisa sangat senang karena keinginannya selalalu diwujudkan oleh Fira.

__ADS_1


__ADS_2