Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Menjaganya


__ADS_3

Setelah berhasil meredam sedikit amarahnya, Adit berjalan ke kamar yang sudah ia tempati beberapa hari ini, ia berencana ingin pulang kerumahnya, batinnya berkecamuk jiwanya terasa panas, hatinya kecewa.


Melihat seseorang yang tengah diperjuangkan malah berduaan dengan laki-laki lain ditambah dengan pemandangan cincin di tengah-tengah mereka, siapa yang tidak akan marah, siapa yang akan tinggal diam jika itu terjadi pada dirimu, begitukah yang mungkin sedang Adit rasakan saat ini.


Adit mulai mengemasi pakaiannya ke dalam koper dengan kasar, ia terlihat seperti orang yang sedang tak fokus, tangannya mengambil baju dari lemari secara paksa namun matanya entah melihat ke arah mana, pandangannya tidak fokus, ia seperti menyimpan rasa amarah yang mendalam.


Berkali-kali ia berdecak kesal dan melampiaskan pada benda kotak yang tak lain koper, ia terus menendangi koper yang ada di depan mata kakinya itu.


Bimo yang mendengar suara berisik dari kamar yang di tempari Adit pun segera mendekat, mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Ia tidak pernah meninggalkan Adit dalam waktu yang lama, ia takut akan terjadi sesuatu pada sahabatnya itu, ia tak mau Adit berbuat yang tidak-tidak dalam apartemennya.


Bimo yang melihat Adit mengemasi pakaiannya pun merasa lega,sertdaknya tidak terjadi apa-apa pada Adit, Adit baik-baiksaja saat ini.


"Dit lo mau kemana?"


Bimo tau Adit akan pulang, namun mengapa dia terlihat seperti orang marah, batin Bimo pun bertanya-tanya.


"Pulang."Jawabnya singkat.


Adit segera menutup dan menyeret kopernya ke depan, ia sedikit sadar jika beberapa hari ini sudah menyusahkan Bimo,


"Bim, makasih atas tempat tinggalnya."


"Nggak masalah Dit, apartemen ini akan selalu terbuka jika lo mau kesini lagi."


"Gue lagi ada masalah dikit, lo tenang aja ini nggak ada hubunganya sama lo." Adit menepuk bahu Bimo sebelum berlalu masuk ke dalam mobilnya.


"Thank's sekali lagi."


Dalam situasi seperti ini Adit masih bisa sedikit berpikir dengan benar, ia tidak mau sampai temannya merasa bersalah atas sikapnya ini.


Kamu bilang, aku harus berusaha merebut hatimu kembali, tapi beginikah jawabanmu Ra. Apakah ini pembalasanmu Ra, apa kamu dendam padaku Ra.


"Arghhhh." Adit berteriak frustasi, mengacak rambutnya dengan sebelah tangan sementara tangan satunya masih menempel di putaran kemudi.


Adit mengendari mobil seperti sedang kerasukan setan, kadang ia tancap gas dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba kecepatannya berkurang drastis, seperti itulah Adit saat ini, mengendarai mobil dengan ugal-ugalan karena perasaan yang sedang tak karuan.

__ADS_1


Semoga kejadian beberapa tahun lalu tidak terulang lagi, semoga tidak ada sepercik darah yang harus keluar akibat kelakuan Adit yang tidak mematuhi peraturan atau tata tertib lalu lintas dalam berkendara.


Beberapa menit kemudian, Adit telah sampai di rumahnya, karena pintu gerbang yang tak kunjung dibuka, Adit pun dengan tidaksabarnya mengklakson terus menerus hinggak pintu gerbang terbuka.


Adit keluar dari mobilnya lalu membanting pintu mobil dengan kasar.


Satpam yang melihat perangai Adit seperti itu menjadi sedikit takut untuk bersuara, ia hanya membuka bagasi mobil, yang ia tahu Tuannya baru saja pulang dari kalimantan pasti membawa beberapa koper.


Setelah membawakan koper ke dalam kamarnya, satpam pun berlalu keluar.


Adit berjalan lesu menuju dalam rumahnya, ia hanya menyapa mamanya yang tengah duduk di sofa bersama seseorang, setelah menyalami mamanya Adit langsung pamit ke kamar ingin istirahat.


"Assalamu'alaikum ma, Adit ke kamar ya ma, mau istirahat."


Mama yang sedikit terkejut dengan kedatangan Adit pun hanya bisa menjawab salam dan mengiyakan Adit, mama tau Adit pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh.


"Wa'alaikumslaam, iya nak istirahatlah." Jawab sang mama lembut.


Adit bahkan tak menyadari jika Nayla-lah yang sedang mengobrol dengan mamanya.


Ada apa dengan anak itu, mengapa pulang-pulang dia jadi seperti itu?


Pandangan mata mama beralih menatap Nayla, Nayla yang ditatap pun hanya menaikan bahunya tanda tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Terakhir kita ketemu kayaknya Adit lagi ada masalah sama Fira tan."


"Fira ke Kalimantan?"


"Iya tan, cuma beberapa hari."


Nayla tidak menjelaskan semua yang terjadi, ia hanya menceritakan hal yang sederhana, ia juga tidak menceritakan apa penyebab Adit dan Fira salah paham, ia punya rencana tersendiri di pikirannya, sebelum rencananya berhasil, ia akan menutup rapat-rapat terlebih dahulu, ia tidak mau gegabah memberitahukan itu pada mamanya Adit, ia hanya takut jika mama Adit tidak mendukung dirinya, hanya itu yang ia takutkan.


Adit masuk ke dalam kamarnya, ia langsung menuju ke kamar mandi untuk berendam dan mensegarkan tubuhnya.


Ia butuh merilekskan tubuhnya saat ini,berendam di air dingin mungkin akan membantu dirinya untuk mendinginkan pikirannya, begitulah pikirnya.

__ADS_1


Adit yang sudah keluar dari kamar mandi, berjalan ke arah cermin, menatap dirinya yang beberapa hari ini seperti tak memiliki semangat hidup, rambut yang sedikit gondrong dan muka yang sudah tidak memancarkan ciri khas Adit.


Fira sayang mas Adit


Hati Fira milik mas Adit seorang


Mas Adit yang berhasil membuka dan mas Adit juga yang harus menjaganya


Bayang-bayang suara Fira pun mulai datang di pikiran Adit, Adit semakin frustasi dibuatnya.


"Kamu bohong Ra, kamu lebih dari seorang pembohong."


"Arghhh."


Untungnya kamar Adit dan ruang tamu tidak terlalu dekat, jadi suara Adit tidak terdengar jelas sampai ke mamanya dan tamunya.


Mas Adit kalau mau lamar Fira secara resmi tunggu Fira lulus wisuda ya


Mas Adit Fira udah wisuda, tapi tanpa mas Adit disamping Fira


"Cukup Ra, kamu semakin membuatku gila."


Kekecewaan yang dirasakan Adit saat ini sudah menusuk relung hatinya yang paling dalam, padahal ia belum tau kebenaran yang sebanarnya terjadi, ia hanya menelan berita secara mentah-mentah tanpa mencari lebih lanjut tentang itu.


Beginilah hasil dari kesalahpahaman diantara mereka, tidak Adit tidak Fira semuanya sama, mereka mudah terhasut oleh orang, mereka mudah mengambil keputusan secara sepihak, mereka terlalu buru-buru dalam menyikapi sesuatu hal.


Bagimanakah hasilnya nanti, jawabannya tetap sama, hanya semesta yang mampu menjawabnya.


Kita lihat, akankah hubungan mereka benar-benar sampai disini, ataukah jodoh akan mempertemukan mereka kembali.


"Nay, kemarin Fira ngapain aja sama Adit di Kalimantan?" Tanya mamanya Adit pada Nayla.


"Nayla juga kurang tau sih tante, tapi ada sedikit salah paham jadi ya gitu deh tante."


"Salah paham? salah paham tentang apa?"

__ADS_1


"Itu tante soal Nayla dan Mas Adit yang tinggal bareng."


__ADS_2