
"Ada apa mas? Kok nggak dilanjutin?" Tanya Fira.
"Nggak ada apa-apa kok." Jawab Adit dengan menahan kegugupannya.
"Oh iya Ra, gimana dirumah? Masih sering diledekin kak Rama?" Kata Adit sambil mencoba mengalihkan pembicaraan,
Fira yang masih dalam suasana gembira tak mengambil pusing hal yang mengganjal itu, Fira pun menyahuti pertanyaan Adit.
"Biasalah mas, bukan kak Rama kalau nggak ngledekin Fira, tiap hari pasti diledekin, ada aja bahan buat ledekin Fira, nyebeliiiinnnn banget kan mas." Cerita Fira dengan penuh antusias.
"Uluh-uluh, udah-udah jangan gitu sama kak Rama, gitu juga dia kakakmu Ra." Ucap Adit sambil mencubit hidung Fira.
Nampak kebahagiaan tiada tara diwajah Fira, Adit tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika Fira tau akan rahasia kecilnya.
Mungkin banyak diantara perempuan yang terus menerus mengoceh bahkan marah-marah jika sedang dilanda kecewa, namun banyak juga diantaranya yang memilih diam meredam emosi dikala dilanda kecewa.
Akankah Fira kecewa dengan kelakuan Adit di belakangnya? Tinggal seatap dengan perempuan lain tanpa memberi tahu kabar pada Fira, tunggulah sang waktu yang akan menjawabnya.
"Ya udah, ayo balik ke kantor, kasihan Damar nunggu sendirian di kantor." Kata Adit sambil menggandeng tangan Fira.
"Biarin aja, dia juga sering ngledekin Fira."
"Nggak boleh gitu, ayo ke kantor." Kata Adit sambil mencubit pipi Fira.
Adit dan Fira telah sampai di kantornya, mereka langsung masuk ke dalam ruangan Adit.
"Sudah selesai kencannya?" Tanya Damar dengan tatapan menyeringai, walaupun Damar adalah bawahan Adit, namun Adit dan damar tetaplah sahabat akrab yang takkan terpisahkan.
"Jomblo diem aja ya." Jawab Adit dengan gelak tawa.
"Ra disini dulu dengan Damar ya?"
"Mau kemana?"
"Ke ruangan sebelah sebentar."
Adit berlalu meninggalkan Damar dan Fira di ruangannya.
Adit mencoba menghubungi Nayla, namun usahanya sia-sia, teleponnya tidak tersambung, hanya terdengar jawaban dari sang operator.
Bersiaplah Adit, semoga badaimu tidak datang hari ini.
Setelah usahanya menghubungi Nayla gagal, Adit kembali lagi ke ruangannya.
"Sudah selesai Mar?"
"Sudah pak, pak saya lelah, apa bapak tidak memberikan saya tempat untuk beristirahat?"
__ADS_1
"Tentu saja, ayo mas kita ke apartemen mas Adit, mas Damar pasti lelah seharian bekerja."
Mereka semua beranjak keluar kantor menuju parkiran, mereka akan menumpang dengan mobil Adit untuk pulang ke apartemen Adit.
Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di apartemen Adit, Adit sebagai tuan rumah langsung membukakan pintu apartemennya itu.
"Assalamu'alaikum." Salam Fira ketika mulai menapaki bangunan apartemen milik sang kekasih.
"Wa'alaikumsalam, mas Adit udah pula......." Ucapannya terhenti, tatapannya terkunci pada dua orang yang berada di belakang Adit.
Ada sedikit gemuruh angin yang hinggap di tubuh Fira, semuanya seakan tersapu tiba-tiba, tubuhnya seakan tak memiliki daya untuk tetap bertahan berdiri kokoh bertumpu pada kedua kakinya yang mulai lemas.
Tatapannya beralih menuju kedua bola mata milik sang kekasih, menuntut jawaban akan semua ini.
"Nayla." Satu kata akhirnya terlontar dari mulut kecilnya.
Sementara Adit, jangan ditanya lagi jantungnya sudah seperti orang habis lari marathon, entah apa yang akan ia jelaskan pada kekasihnya tentang ini, akankah Fira percaya atau tidak.
Fira melangkah maju mendekati Nayla, tangannya terangkat ke atas seperti ingin melakukan sesuatu.
Adit yang tau apa yang akan Fira lakukan segera mencegahnya.
"Tunggu.."
Ucapannya terhenti ketika ia melihat Fira memeluk tubuh Nayla, apa yang dipikirkan Adit ternyata salah.
"Ba baik mbak, mbak sendiri apa kabar, duduk dulu mbak."
Hal yang tak pernah Fira sangka, kedua matanya harus melihat sesuatu yang seakan menusuk seluruh tubuhnya, kakinya lemas karena tak sanggup menerima apa yang harus ia lihat, seseorang yang paling ia sayangi tinggal satu atap dengan perempuan lain, kecewa, marah, atau putus asa. Sekarang apa bedanya, semua rasa seakan bertindih dibadannya.
"Nayla, kamu juga tinggal di sini?" Tanya Damar.
"Iya kak, Nayla ikut mas adit disini" Jawab Nayla sambil tersenyum.
Entah kenapa senyum Nayla membuat Fira semakin tak nyaman atas semua kejadian ini.
"Maaf mas Adit, kamar mandinnya disebelah mana ya?" Tanya Fira sambil tersenyum menahan semua perasaannya.
"Kamar mandi ada di sebelah..." Kata adit yang belum selesai karena dipotong oleh Nayla.
"Kamar mandi ada di sebelah dapur mbak, mau dianter kesana?" Tanya nayla sambil tersenyum.
"Nggak papa, Fira sendiri aja." Fira beranjak pergi ke kamar mandi.
"Oh iya, masuk kak." Kata Nayla pada Damar dan Adit.
"Fuuuhhh." Hela nafas Damar sambil menjatuhkan dirinya di sofa.
__ADS_1
"Capeknya..., hei Dit, Adit, woy." Panggil Damar yang melihat Adit melamun memikirkan sesuatu.
Adit yang kaget dengan panggilan Damar, segera menghamoiri Damar, ikut menjatuhkan bobot tubuhnya ke sofa disebalah Damar.
"Iya ada apa."
"Kak Damar mau minum apa, biar Nayla buatin."
"Terserah Nayla aja, tapi kalau bisa ada rasanya, warnanya coklat teh, terus dingin ya." Jawab Damar sambil melontarkan candanya.
"Kalau gitu Naayla buatin es kecap ya kak?"
"Wah bercanda kamu Nay."
"Enggak-enggak, ya udah Nayla buatin ya."
Disisi lain, Fira yang semula merasa bahagia, terbawa angin hingga terbang ke awan-awan, seakan langsung terjatuh dari tinggi nya angan karena kekecewaannya terhadap Adit.
'Kenapa kamu bisa tinggal sama Nayla mas, kenapa mas Adit nggak cerita sama Fira, apa emang ini nggak penting bagi mas, apa Fira yang udah nggak penting lagi buat mas Adit.'
Fira terus bertanya didalam hati kecilnya, sambil mengusap air mata yang menetes seakan enggan surut.
Setelah dirasa cukup lama berada didakam kaamr mandi, Fira l menghilangkan jejak kesedihannya, menghapus air matanya kasar dengan kedua tangannya dan terus berusaha agar menahan perasaannya yang sedang dilanda kesedihan dan kegundahan.
"Dit..., adit!!!!" Teriak Damar ke Adit.
"Apaan sih, brisik."
"Lagian lo dari tadi kaya ayam kena penyakit, diem aja melamun." Kata Damar.
"Sembarangan mulutmu itu, besok aku suruh lembur sampai pagi baru tau rasa." Ucap adit menahan emosinya sembari menyisihkan kegelisahannya.
"Ampun bos ampun, seharian ditinggal pacaran aja ni udah capek, apalagi lembur, lagian kamu kenapa sih Dit, dari tadi kaya lagi banyak pikiran."
Entahlah Damar yang terlalu bodoh atau memang Damar kurang peka terhadap kondisi sekitar, mungkin karena belum berpengalaman dengan perempuan makanya otaknya tidak bekerja dengan mulus ketika berada dalam kondisi seperti ini.
"Kepo aja urusan orang."
Sebenarnya Adit sudah tidak tahan lagi akan situasinya saat ini, ia tidak sanggup membayangkan bagaimana perasaan Fira padanya.
'Maafkan mas Ra, jangan terburu-buru menjudge mas yang tidak-tidak Ra, mas pasti akan jelasin semuanya.'
Disisi lain, Fira yang telah selesai menghapus air matanya keluar dari kamar mandi, dan berpapasan dengan Nayla yang sedang membuat minuman untuk Damar dan Adit.
Tak lupa Fira melontarkan senyuman, tanpa basa basi dan hanya sebatas menyapa.
"Nay." Sapa Fira sambil tersenyum dan berlalu ke ruang tamu.
__ADS_1
Nayla membalas sapaan Fira dengan ukiran senyum di bibirnya kita, namun senyum itu bukan senyum yang hangat, karena dari senyum itu Fira merasa seakan sedang dipermainkan.