Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Mamanya Rasyid


__ADS_3

Fira memasuki ruangan Kakak iparnya dengan buru-buru, ia juga meninggalkan Adit di belakang, Adit memaklumi sikap Fira itu.


Adit mengikuti Fira masuk ke ruangan, ia menyalami semua orang tua disana, ketika ia akan menyalami Damar, sontak keduanya kaget.


"Damar". "Adit"


"Ya ampun bro, udah lama banget kita nggak ketemu." Mereka berpelukan ala anak muda.


"Iya ya nggak nyangka beberapa tahun silam kita nggak pernah ketemu."


"Kalian udah saling kenal?"


"Iya buk, ini temen Damar waktu SMP."


Mereka memutuskan keluar ruangan untuk mencari udara segar, mereka menuju kantin sembari memesan kopi.


"Gimana ceritanya kamu ada disini?"


"Mbak Dinda kan mbak kandung gue."


"Jadi kamu sama Fira saudar ipar gitu ya?"


"Ya seperti itu, eits ngomong-ngomong kamu ada apa dengan Fira?"


"Haha, jangan berlaga nggak taulah, aku suaminya "


"Whatt? Kalian udah nikah?" Tanya Damar dengan sedikit mengeraskan volumenya hingga menjadi pusat perhatian mata yang tertuju pada kedua lelaki itu.


"Calon-calon, jangan teriak-teriak Mar malu woy."


"Gue kira beneran udah nikah, Gimana kuliah lo lancar?"


"Ya Alhamdulillah lancar, Lo sendiri gimana?"


"Ini semua berkat keluargamu Dit, orang tuamu yang udah nyekolahin gue sampai ke universitas."


"Itu semua berhak Lo dapatin Mar, secara kan Lo anak paling pintar di sekolah yayasan papa."


Saat sekolah SMP Adit dan Damar teman sekaligus sahabat yang sangat dekat, tak jarang Adit mengajak Damar kerumahnya hingga kedua orang tua Adit mengenal Damar, Adit jugaselimut menceritakan kondisi ekonomi Damar pada orang tuanya, mendengar cerita Adit, kedua orang tuanya mempunyai keinginan untuk membantu menyekolahkan Damar, Kebetulan Damar juga daftar SMA yang tak lain adalah SMA milih papanya Adit, dan disitulah papanya Adit mulai berperan dalam oendidikan Damar.


"Oiya Dit, gue juga udah lama nggak pernah ketemu om sama tante."


"Mereka sibuk Mar, waktu buat gue aja kadang-kadang."


"Gue paham kok Dit."


Saat mereka tengah asik mengobrol tentang masa lalunya tiba-tiba datanglah Fira dengan muka bersungut-sungut.


Ketika ia akan mulai mengomeli Adit yang pergi tanpa pamitan, matanya melihat seseorang yang sudah lama sekali tak ia jumpai.


"Mas Damar?"

__ADS_1


"Hai Ra, apa kabar?"


"Ih mas Damar makin ganteng aja si, udah lama nggak jumpa."


"Kamu juga makin cantik Ra, makin dewasa."


"Mas Damar bisa aja."


Mereka mengobrol selayaknya hanya mereka berdua yang ada disana,mengacuhkan Adit tanpa sengaja.


"Ekhem."


"Eh iya ada Adit, maaf Dit maklum udah lama nggak ketemu."


"Mesra banget manggilnya si, mas mas."


"Hahah, nggak berubah sikap Lo dari dulu Dit, Fira manggil gue mas karena perintah mbak Dinda, tau nggak Dit dulu Fira manggil gue Damar aja nggak pake embel-embel apa-apa, tentu saja kakaknya marah dengannya karena dia tidak menghormatiku yang lebih tua darinya."


"Kan waktu itu fira kira mas Damar seumuran sama Fira."


"Iya emang Ra, mas Damarmu ini walaupun udah berumur masih keliatan muda."


"Idih PDnya."


"Ngomong-ngomong kok kalian udah kenal?"


Adit menceritakan masa lalunya dengan Damar, Fira pun menjadi pendengar setia, sesekali mereka menceritakan hal-hal konyol yang mereka lakukan sewaktu masa SMP yang berhasil membuat Fira tertawa.


"Sabar-sabar Dit, Besok kalau udah nikah dek Fira bakalan manggil mas Adit dengan panggilan mas kok. Hahahah."


Damar terus menggoda Adit dengan usilnya.


"Ekhem siapa yang mau nikah?"


"Ehh kakak, bukan siapa-siapa kok kak, itu as Damar sama kak Adit ngobrolnya ngelantur-ngelantur."Jawab Fira sedikit gugup.


Kini kehidupan keluarga Rama menjadi lebih bewarna, seorang istri dan malaikat kecil sudah melengkapi kehidupannya.


Kegiatannya setiap hari setelah bangun tidur yaitu menimang-nimang anaknya sebelum berangkat kerja sewaktu bundanya tengah memasak.


Tak jarang Rama harus ganti pakaian lagi karena diompoli oleh sang buah hati, hal itu tidak membuat Rama kesal ataupun marah, ia malah bahagia bisa merasakan peran seorang ayah sedari anaknya masih kecil.


Tengah malam pun Rama selalu terjaga saat Rasyid menangis, ia akan menemani sang istri yang menimang-nimang anaknya, terkadang Rama menyuruh Dinda kembali tidur dan Rama yang mengambil alih Rasyid.


Jika tangis Rasyid tidak cepat reda, Fira akan langsung turun tangan, semenjak kehadiran Rasyid telinga Fira menjadi bertambah peka dan Indra pendengarannya yang dulunya mulai bermasalah menjadi kuat lagi, ia akan selalu bangun jika mendengar tangisan Rasyid.


Dan ajaibnya Rasyid langsung terdiam jika digendong Fira, Rasyid sangat dekat dengan Fira. Sehari saja tidak melihat wajah auntinya itu ia akan menangis tidak jelas, pernah suatu ketika Fira harus menginap dirumah temannya karena suatu hal terpaksa harus pulang karena Rasyid tidak tertidur sampai tengah malam dan terus saja menangis.


Fira menghubungi Adit karena tidak berani pulang tengah malam sendirian.


"Hallo mas"

__ADS_1


Sekarang Fira memanggil Adit dengan embel-embel mas seperti yang ia lakukan pada Damar karena waktu itu Adit benar-benar merajuk dan cemburu dengan Damar, akhirnya Fira jadi menuruti kemauan Adit.


"Hallo, ada apa Yang tengah malam telpon."


"Mas boleh minta tolong nggak?"


"Minta tolong apa Yang?"


"Jemput Fira dirumah Rena ya mas, Rasyid nangis terus nggak mau diem kalau belum digendong sama Fira."


"Ok mas otw."


Adit segera mengambil kunci mobil dan berlalu kerumah Rena, setelah itu Adit mengantar Fira kerumahnya tepat pukul satu malam.


"Mas yakin nggak mampir dulu?"


"Enggak deh Ra, udah malam nggak enak."


"Makasih ya mas, maaf jadi ngrepotin mas."


"Apa sih Yang, nggak ada yang direpotkan kok, masuk gih kasihan anakmu itu. Sudah kangen sama mamanya. Hahaha." Ucap Adit sambil mengelus rambut Fira lalu dengan cepat mencubit hidung mancung Fira.


"Mas Adit ih, itu bukan anak Fira itu anak mbak Dinda."


"Iya-iya mas bercanda, yaudah sana masuk, mas pulang ya."


Setelah memastikan Fira benar-benar masuk ke dalam rumah, Adit menjalankan mobilnya menuju rumahnya.


Bagi Adit apapun akan ia lakukan untuk Fira, tengah malam sekalipun akan ia lakukan, Ia tidak akan membiarkan orang yang ia sayang harus pulang sendirian di tengah malam. Adit benar-benar mencintai dan menyayangi Fira.


"Assalamu'alaikum, aunti pulang sayang."


Fira mengambil alih Rasyid yang berada di gendongan Rama, dan seketika tangisnya langsung reda.


"Uhh ponakan Aunti kangen banget ya sama aunti."


"Ya Allah dek, akhirnya diem nangisnya." Ucap Dinda menghela nafasnya.


"Rasyid sayang nggak boleh cengeng ya, kasihan tu bunda kan jadi capek." Ujar Fira sambil menimang-nimang Rasyid, umurnya sudah memasuki 3 bulan, pipinya sangat gembul membuat siapapun gemas untuk tidak mencubitnya.


"Malam ini Rasyid tidur sama kita aja Ram, kamu sama Dinda biar bisa istirahat." Ucap Mama yang melihat raut wajah Dinda sangat kelelahan.


"Apa nggak ngrepoti mama nanti."Tanya Dinda sopan.


"Nggaklah mbak, mbak istirahat aja sama ayahnya Rasyid, biar Rasyid sama Fira."


"Makasih Ma, maaf Dinda jadi suka ngrepotin."Malam memeluk tubuh menantunya itu dengan kasih sayang,ia tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu jika anaknya terus-terusan rewel.


"Dada sayangnya bunda, jangan rewel sama aunti ya."Dinda mengajak ngobrol Rasyid yang dijawab dengan tawanya Rasyid.


"Sampai jumpa besok jagoannya ayah, malam ini biar Bunda istirahat ya." Rama mencium anaknya dengan gemas.

__ADS_1


__ADS_2