
Kaki melangkah menuju cahaya, menerjang sunyi berdiam tanpa arti.
Meski berat hati ini berpisah, dan hanya berteman mimpi.
Kata tanpa arti, khayalan tanpa henti, hanya turuti kata hati, awal semua mulai berarti.
Tak terasa ternyata malam telah berganti pagi, semalam aku tertidur, rasanya malu sekali, semoga aku tidak terlihat aneh saat tertidur, pasti tadi malam mas Adit liatin aku.
'Hari ini ada sesuatu yang aneh, biasanya mas Adit jadi orang pertama yang ngucapin selamat pagi, tapi kenapa masih belum ada pesan dari mas Adit ya.' Gumam Fira didalam hatinya.
"Ya sudahlah, mungkin mas Adit lagi sibuk jadi nggak ngirim pesan ke aku."
Fira langsung bersiap-siap untuk berangkat kerja. Disisi lain,
"Nayla kamu udah siap nak?" Tanya Mama Adit dengan nada tergesa-gesa.
"Udah Tan, Nayla udah siap."
"Ma, Nana ikut ya." Ucap Nana sambil menyiapkan barang-barang mamanya.
"Kamu dirumah aja, nanti nggak ada yang nemenin papa."
"Tapi Nana juga khawatir sama keadaannya mas Adit ma."
"Nana tenang aja, kak Nayla sama Tante yang bakal ngrawat kak Aditnya Nana."
Dengan nada pasrah dan muka yang agak kesal karena harus Nayla yang nemenin mamanya buat ngerawat Adit yang jatuh sakit karena kesibukannya.
"Ya udah, tapi nanti langsung kabarin Nana ya Ma."
"Iya Nana sayang, mama berangkat ya, udah keburu waktu."
Karena sangking khawatirnya akan kondisi kakaknya, Nana lupa untuk memberi kabar ini ke Fira.
Disisi lain Fira yang tak mengetahui kabar tentang Adit yang tengah sakit hanya bisa menduga kalau Adit sedang sibuk.
"Fira, makan siang bareng yuk." Ajak Rania.
"Cuma berdua kak?" Tanya Fira.
"Enggak kok, kita rame-rame, ada Irsyad sama bu Kamila, kamu ikut ya." Bujuk Rania
"Iya deh, tapi traktir ya." Sambil tersenyum menggoda Rania.
__ADS_1
"Iya deh, tapi kapan-kapan gantian ya."
"Iya deh iya"
Mereka berempat menuju ke tempat makan di dekat kantor mereka, tapi karena dompet Rania tertinggal di kantor, ia pun meminta bu Kamila untuk menemaninya.
"Ya ampun, dompetku tertinggal di kantor, aku ambil dompet dulu ya." Ucap Rania
"Ibu temenin ya." Kata bu Kamila mengajukan diri untuk menemani.
"Aku juga ikut ya." Kata Fira menimpali.
"Nggak usah ra, kamu duluan aja, cuma sebentar kok, pesenin dulu ya makanan yang biasanya." Kata Rania sambil melangkah pergi menuju kantor bersama bu Kamila
Sebenarnya Fira merasa tak nyaman jika hanya berdua dengan Irsyad.
Dan diseberang jalan sudah ada sebuah kamera yang seakan mengabadikan momen mereka berdua. Keduanya sama-sama tidak menyadari hal itu.
Dan di tempat Adit berada, mamanya dan Nayla sudah tiba di tempat Adit dirawat.
"Adit..."
"Ma, kok bisa ada di sini, Nayla juga."
"Ya ampun ma, Adit cuma demam sedikit kok."
"Sakit tetep aja sakit, pokoknya mama mau jagain kamu disini, Fira udah kamu kasih kabar?" Tanya mama adit.
"Sudah ma, Adit udah bilang ke Fira."
Sebenarnya Adit tidak memberi tahu Fira akan hal ini, Adit hanya tidak mau kalau Fira khawatir, jadi Adit berbohong sama mamanya supaya tidak memberi tahu Fira. Namun hal ini semakin membuat mamanya Adit penuh prasangka.
"Kok Fira nggak kesini nemenin kamu sih." Ucap mama Adit dengan nada agak marah.
"Udahlah tante, mungkin Firanya lagi sibuk." Kata Nayla mencoba nenangin mamanya adit.
"Iya ma, lagian kan jauh jadi kasihan Fira kalau harus kesini." Adit ikut menimpali kata-kata Nayla.
"Ya tetep aja dit, dia kan udah mau jadi calon istri kamu, harusnya dia lebih perduli sama kamu." Ucap mama Adit dengan nada marah.
"Udah ya ma, Adit masih lemes mau istirahat, jangan bahas ini lagi."
Mamanya Adit pun hanya bisa diam dan berprasangka kepada Fira, Nayla pun juga merasa hal yang sama, awal kerenggangan ini pun makin terasa.
__ADS_1
Mamanya adit dan nayla menemani Adit yang sedang istirahat dikamar rawatnya, ya meskipun Adit hanya pura-pura tertidur agar mamanya tidak lagi bahas tentang Fira yang tidak datang buat ngrawat adit. Tiba-tiba Nayla mendapat email yang berisikan foto-foto Fira yang sedang berjalan berdua dengan seorang laki-laki. Dan mamanya adit yang melihat foto itu tidak bisa lagi meredam kemarahannya.
"Apa-apaan sih si Fira ini, udah tau Adit lagi sakit tapi malah asik berduaan sama laki-laki lain kaya gini." Uap mamanya Adit yang seakan tak dapat menerima kelakuan Fira.
"Sabar ya tan, mungkin ini udah jadi petunjuk kalau Fira itu bukan perempuan yang cocok buat Adit." Ucap Nayla yang seakan ikut menjelakan Fira.
"Kamu benar nak, dan tante harap kamu yang bakal jadi pendampingnya Adit, karena tante tau kamu itu perempuan yang baik, nggak kaya si Fira."
"Tante bisa aja, udah tan jangan marah-marah lagi, nanti Adit kebangun gara-gara kita berisik." ucap Nayla yang mencoba meredakan amarah mama Adit.
Tanpa mereka sadari, sebenarnya Adit mendengar semua yang mereka katakan, tapi Adit sedikit tidak percaya dengan semua itu, Adit mencoba untuk percaya namun disisi lain, Adit juga merasa ragu dengan Fira
Ditempat yang berbeda, Fira yang sedang diperjalanan pulang teringat akan masa kecilnya, saat kecil ayahnya sering mengajak Fira ketaman bermain, ia pun ke taman bermain tanpa menyadari kalau saat itu hujan sebentar lagi akan turun.
Ditempat itu, Fira mengingat semua masa-masa indahnya bersama ayahnya.
"Ayah, fira rindu sama ayah." Kata Fira yang penuh kesedihan dan meneteskan air matanya.
Tetes air mata terjatuh diikuti dengan tetes hujan yang seakan ikut bersedih.
Fira seakan enggan untuk pergi dari tempat itu, namun ia teringat akan pesan Adit agar menjaga kesehatannya, dan Fira pun bergegas menuju mobilnya untuk segera pulang agar tidak membuat Adit khawatir.
Saat menuju mobil, Fira mendengar suara anak kecil yang sedang menangis, Fira mencari asal suara itu, dan dia menemukan bahwa anak kecil itu adalah Lisa, anak kecil yang sering ke toko roti mamanya.
Fira menghamoiri Lisa.
"Lisa, kok ada disini sendirian?" Tanya fira dengan nada khawatir
"Lisa takut kak." Jawab lisa sambil menangis.
"Ya sudah, ikut kerumah kakak aja ya."
Lisa hanya mengangguk dan ikut fira kerumahnya.
Sesampainya dirumah Fira,ternyata Lisa tertidur di dalam mobil, dengan kelembutannya Fira membopong tubuh mungil anak itu kedalam rumahnya.
Beberapa menit kemudian, Lisa mulai membuka matanya, bibirnya tersenyum saat melihat Fira ada disampingnya.
"Lisa udah bangun, gimana bubuknya nyenyak?"
Lisa menganggukkan kepalanya.
"Udah sore, Lisa mandi yuk sama kakak."
__ADS_1
Mereka berlalu menuju ke kamar Fira untuk memandikan gadis kecil itu, Fira dengan telatennya mengurusi Lisa seakan Lisa adalah anaknya sendiri, memang dasarnya Fira sangat senang dengan anak-anak.