Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Bolehkah Aku Egois?


__ADS_3

Pertemuan Adit dan Nayla berjalan dengan lancar, walaupun awalnya mereka seperti tidak akur, tetapi setelah saling setuju akan kesepakatan yang dibuat mereka berdua, mereka menjadi sedikit akrab dan menceritakan tentang dirinya masing-masing. Sesuai permintaan kedua orang tuanya, saling mengenal satu sama lain.


Setelah bercerita panjang lebar keduanya pun akhirnya saling mengerti, papanya Adit dan papanya Nayla tidak ada niatan untuk menjodohkan anaknya, mereka hanya ingin memperkenalkan saja, jika sekiranya cocok itu adalah kabar bahagianya jika tidak ya setidaknya mereka bisa menjadi teman yang nantinya mungkin bisa menjadi relasi bisnis.


Keluarga Adit dan Nayla, tidak memaksakan kehendak pada anak-anaknya, mereka tau ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi yang saling menjodohkan putra dan putri mereka. Pemikiran mereka sudah kekinian.


Menurut Adit, Nayla orangnya sederhana, tidak sombong, dan cantik. Itu bukan berarti dia jatuh cinta pada pandangan pertama.


'Tidak rugi juga aku mengenal mas Adit.'


Nayla sebenarnya tidak enak jika memanggil Adit dengan panggilan kamu, secara umur mereka terpaut empat tahun, Nayla adalah seseorang yang sangat menghormati orang yang lebih tua, tapi untuk saat ini ia masih gengsi memanggil Adit dengan embel-embel mas.


"Tadi kan kamu udah mau nurutin kemaunku selama tiga hari ini, dan besok aku minta kamu buat nemenin aku ke mall."


"Baik tuan putri."


"Tapi ngomong-ngomong apa cowok kamu tidak marah?"


Nayla sudah menceritakan tentang hubungannya dengan Yusuf, Yusuf sudah menjalin hubungan dengan Nayla selama 6 bulan, tapi Nayla tidak menceritakan hal itu pada papanya, hubungan Nayla dan Yusuf pun tidak ada kepastian, mereka hanya mengutarakan isi hati masing-masing tanpa adanya ikatan.


"Enggaklah, aku sama Yusuf nggak pernah keluar, ketemu paling cuma dikampus."


Ya sesuai kesepakatan tadi Adit akan menuruti Nayla selama tiga hari ini, menemani pergi ke mall bukanlah perkara yang sulit.


Kebetulan atau karena ketidaksengajaan, Nayla juga berada di cafe yang sama dengan Adit. Nayla melihat Adit bersama perempuan cantik, ia pun mengucek-ngucek matanya untuk memastikan, tapi pandangannya terhalang oleh orang yang berlalu lalang, ketika ia ingin melihatnya lagi, Adit sudah tidak ada.


'Apa itu tadi kak Adit ya?Eh tapi kayaknya aku salah lihat deh.'


Setelah selesai mengerjakan tugas, Fira beranjak pulang kerumah menggunakan taksi online.


"Assalamu'alaikum Fira pulang."


"Wa'alaikumsalam,"


Fira mencium tangan kakak iparnya sebagai wujud menghormati orang yang lebih tua.


"Kak Rama udah pulang mbak?"


"Hmm belum, kakakmu super duper sibuk."


"Hahah, gitu ya resiko punya suami seorang dokter."


Fira berlalu meninggalkan Dinda, ia masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Keesekokan paginya, setelah sholat shubuh Fira tidak tidur lagi, ia menuju ke dapur untuk membuatkan sarapan, perintah dari kak Rama semalam benar-benar ia turuti. Fira diberi tugas untuk menyiapkan makanan setiap pagi di hari weekend, karena pada hari libur mama selalu pergi awal ke toko tidak sempat menyiapkan sarapan, sedangkan Dinda sudah susah untuk bergerak leluasa.


Setelah menyantap sarapan yang Fira buat, mereka bertiga duduk di taman belakang rumah, menikmati udara pagi yang sejuk.


"Mas kita belum sempat beli keperluan dedek bayi Lo."


"Oiya kok mas hampir lupa ya."


"Ayo mbak kita belanja sekarang, mumpung Fira nggak ada acara juga."


"Gimana mas?"


"Mas ma ayo-ayo aja."


"Ayo Ra kita siap-siap."


"Siap-siap apa mbak? Siap-siap mengosongi dompet kak Rama, ayooo."


Dinda dan Fira berjalan dengan diselingi canda dan tawa, sedangkan Rama yang melihatnya hanya geleng-geleng melihat keakraban saudara ipar itu.


Rama dan Dinda sudah masuk ke dalam mobil menunggu sang tuan putri yang belum selesai berdandan.


"Lama banget si Ra, mau belanja apa mau kondangan."


"Hehe maaf kak, tiba-tiba dapat panggilan alam."


Fira memberikan bantal yang kak Rama minta, Rama menaruh bantal di pangkuan Dinda, untuk melindungi perut Dinda dari benturan.


"Ya Allah, Sweet banget si pak dokter." Itu Fira yang ngomong, ia begitu tertegun melihat pemandangan di depannya, seolah-olah ia sedang menonton bioskop yang pemerannya adalah kakak-kakanya sendiri.


"Jomblo nggak boleh syirik, diam aja."


Setelah tiga puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai ke mall terdekat, mereka berjalan menuju arah baby shop, Fira begitu antusias memilih berbagai perlengkapan, hampir semuanya Fira yang nentuin, bahkan barang yang belum akan digunakan dalam waktu dekatpun dibeli oleh Fira, jika Rama melarang Fira akan bilang.


"Kalau kak Rama nggak mau bayarin biar Fira aja yang bayar pake uang mama."


Alhasil Rama menuruti adeknya yang super duper ribet itu, Dinda yang menyaksikan hanya tersenyum senang, bayinya belum lahir tapi sudah diperhatikan sebegitunya oleh calon tantenya.


Setelah lelah berbelanja, mereka bertiga menuju Restaurant untuk mengisi perut yang sudah minta makan siang.


Lagi-lagi Fira melihat sosok kak Adit bersama perempuan, ia mengucek-ngucek matanya untuk memastikan, seketika sosok kak Adit terlihat jelas di mata Fira, Fira sampai tak berkedip melihat kak Adit tertawa lepas bersama perempuan itu.


'Kak Adit, secepat itu kamu menyerah untukku '

__ADS_1


Fira aneh, kemaren-kemaren ia bilang dengan dirinya kalau kak Adit berhak bahagia berhak mendapatkan yang lebih baik darinya, tapi kenapa pas melihat kak Adit bahagia dengan perempuan lain ia malah cemburu, jelas-jelas ia selalu menolak kak Adit.


Tapi kali ini Fira ingin egois Fira nggak bisa liat kak Adit bahagia dengan perempuan lain, disaat dirinya ingin berusaha membuka hati untuk Adit , Adit malah sudah menemukan perempuan lain, apa ini karma untuknya?


'Ya Allah salahkah jika kali ini aku egois.'


Fira ingin sekali menitikkan air mata setelah bayangan Adit tidak terlihat lagi,


"Mbak, Fira ke toilet dulu ya."


"Iya, hati-hati."


Fira berlalu menuju toilet, air matanya lolos seketika, Fira menghapusnya dengan kasar.


Fira berdiam diri di dalam toilet, setelah merasa lebih baik, Fira memutuskan untuk kembali menemui kedua kakaknya.


Betapa terkejutnya ia saat melihat Adit di depan matanya, Adit dan perempuan itu.


"Safira?"


Fira hanya tersenyum mendengar kak Adit menyapanya.


Fira menoleh ke arah Nayla, tanpa berpikir panjang Adit akhirnya memperkenalkan perempuan itu.


"Eh iya, Safira ini Nayla, dan Nayla ini Safira."


Nayla berinisiatif mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Safira.


"Kok matamu sembab Ra, habis nangis?"


"Enggak kak, tadi nggak sengaja kelilipan, oh iya kak Fira duluan kasihan kak Rama nungguin."


Tanpa jawaban dari Adit, Fira berlalu meninggalkan mereka berdua, bahkan saat Adit memanggil namanya Fira tidak kuat untuk berbalik badan, ia tak kuasa melihat pemandangan itu.


"Siapa itu mas? Teman mas Adit?"


Ya sekarang Nayla sudah memanggil Adit dengan embel-embel mas, karena Sedari kecil Mahal diajarkan untuk memanggil seseorang yang lebih tua dengan embel-embel mas, maklum ibunya berasal dari Jawa.


"Itu yang aku ceritakan kemaren."


"Cantik." Satu Kata yang terlontar dari bibir Nayla.


"Mas tadi tu aku juga nggak sengaja liat dia Lo, dia liatin kita. Apa dia cemburu liat mas sama Nayla."

__ADS_1


"Kamu ada-ada aja Nay, dia tu nggak ada rasa sama mas, malahan mas yang selalu mengejar-ngejarnya."


"Duh curhat lagi, Hahaha."


__ADS_2