Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Canggung


__ADS_3

"Assalamu'alaikum." Salam Lisa dengan suara keras sampai membangunkan Gio yang sedang tertidur karena kelelahan.


"Wa'alaikumsalam."


Gio yang terkejut mendengar suara keras oun membuka matanya dengan cepat dan bergegas menuju pintu depan, namun sebelum sampai di pintu depan dia tersandung dan tersungkur tepat di depan pintu. Dan saat itulah Lisa membuka pintu melihat papanya yang sedang tersungkur di lantai.


"Papa, kok tidur di lantai?" Tanya Lisa dengan polosnya.


"Ha, eh enggak." Jawab Gio gugup sambil tertawa menahan sakit.


"Ya ampun Gio, kamu kenapa kok tiduran di lantai sih, nanti kamu sakit. Kaya anak kecil aja tiduran di lantai."


'Ya ampun malunya. kenapa juga oake ada acara jatuh tersjngkur.' Kata Gio dalam hatinya.


"Enggak ma, eh ini kok pulang nggak ngabarin Gio dulu?" Tanya Gio karena tadi gio sudah berpesan pada mamanya supaya mengabari Gio jika sudah siap pulang.


"Siapa bilang nggak ngasih kabar ke kamu, coba cek aja ponsel kamu." Oma menjawab dengan sedikit dibumbui dengan nada kesal, namun ia juga memaklumi anaknya itu, ia tau Gio pasti masih lelah.


"Iya ih papa, dari tadi diteleponin oma nggak diangkat-angkat, sampai berkali-kali tau nggak pa." Lisa ikut menambahkan apa yang dikatakan oma.


Gio pun bergegas mencari ponselnya dan mengecek kebenarannya,


"Hehehe. Maaf ya, tadi ketiduran jadi nggak denger kalau ada telepon masuk, maafin papa ya sayang." kata Gio sambil menggaruk-garuk kepalanya kemudian mengelus kepala putri cantiknua itu.


"Nggak papa, kamu juga pasti capek."


"Oh iya pa, katanya ada kejutan buat Lisa, mana?" Lisa yang sudah tak sabar menarik-narik baju papanya.


"Mau kejutan? Ayo papa tunjukin."


Gio menunjukan semua barang-barang yang Gio beli buat Lisa.


"Gio Gio, masa iya kamu beliin barang sebanyak ini buat Lisa. Lagian Lisa itu masih di taman kanak-kanak jadi nggak perlu sebanyak ini, masyaallah kamu ini." Oma yang melihat banyaknya barang belanjaan Giopun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir, apa yang ada di pikiran anaknya itu.


"Soalnya Gio nggak tau apa aja yang diperluin." Jawab Gio sambil tertawa.


"Jadi ya apa yang Gio liat Gio beli."


"Nggak papa kok oma, kan malah bagus kalau banyak, jadi bisa disumbangin ke panti asuhan, iya kan Pa?" Jawab Lisa diikuti senyum kecilnya yang menawan.


Perkataan Lisa itu membuat Gio dan Omanya merasa bangga pada Lisa, karena anak seumuran Lisa sudah bisa berfikir dan bersikap dermawan terhadap sesama.


"Oh iya pa, besok berangkatnya dianter sama mama cantik ya." Liisa sambil memegang tangan Gio dan matanya menatap kearah mata papanya.

__ADS_1


'Mama cantik? Apa yang dimaksud Lisa itu Fira?' Lagi-lagi Gio berbicara dalam hatinya.


"Oh jadi gitu, Lisa nggak mau nih dianterin papa?" Gio mulai menggoda putri kecilnya itu, ia juga memasang wajah tersenyum menyeringai.


"Mau dong, tapi sama mama cantik juga."


"Boleh ya, papa baik deh, pleasee." Lisa mengatupkan kedua tangannya dan memasang wajah seimut mungkin.


Gio sebenarnya ingin menolak, namun melihat tatapan memohon putrinya, ia jadi tak tega, Gio pun terpaksa mengiyakan permintaan Lisa.


"Pokoknya kalau nggak sama mama cantik, Lisa nggak mau sekolah." Karena Gio terlalu lama menjawab membuat Lisa berpikir jika papanya itu tidak menuruti keinginanya, iapun menjadi sedikit merajuk.


"Iya boleh kok sayang."Gio mencubit pipi Lisa.


"Sudah dong jangan ngambek gitu, itu bibirnya tambah monyong lo."Gio menggelitiki putrinya dengan gemas membuat Lisa tidak tahan untuk tidak tertawa dengan terus menggeliat kegelian.


"Ampun Pah geli Pah."


Hari sekolah Lisa


Sesuai dengan janjinya pada Lisa, Gio dan Lisa pun menuju rumah Fira sebelum pergi ke sekolah.


"Assalamu'alaikum." Ucap salam dari Gio.


"Ra, itu kayaknya Lisa deh, kamu ajakin masuk dulu gih buat sarapan." Dinda mendengar suara ocehan Lisa yang tidak sabaran karena pintu tidak kunjung terbuka.


Fira yang sudah bersiap dengan gamis serta pashminanya pun bergegas akan membuka pintu.


"Iya kak, Fira kedepan dulu."


Fira menarik handle pintu dengan cepat dan sudah nampak di depannya seorang laki-laki yang berdiri di samping Lisa. Walau mereka pernah bertemu sebelumnya namun pertemuan tersebut meninggalkan kesan yang tak begitu baik bagi Fira, karena salah paham yang membuatnya memarahi laki-laki itu dan berujung malu hingga saat ini.


"Eh Lisa, ayo masuk sama kakak, kita sarapan dulu." Fira berusaha menggandeng Lisa menuju ke dalam untuk menghindari kesan buruk yang pernah di buatnya, ia terlalu malu jika harus bertatapan dengan papanya Lisa.


"Eh mama cantik." Teriak Lisa dengan keras


Karena Fira terlalu ceroboh membuatnya dalam posisi yang semakin canggung.


Dan setelah ini, malu lagi yang akan diraskaan oleh Sarira Natasya.


"Fuhhh, akhirnya di dalam lagi."


Fira merasa sedikit lega, namun Fira tak menyadarinya, hingga Fira melihat ekspresi seisi rumah saat melihat Fira.

__ADS_1


Fira melihat Dinda yang terdiam kaget, mamanya yang hanya tersenyum melihatnya, dan yang paling mengganggu Fira adalah kak Rama yang tertawa jahil saat melihat Fira.


"Cepet juga ya Ra kamu dapat gantinya." Kata kak Rama sambil tertawa.


Fira tak paham dengan apa yang kak Rama maksud, kemudian Dinda memberikan arah agar mengikuti arah bola mata Dinda, Fira yang paham segera menoleh ke belakang. Dan alangkah terkejutnya ia saat tau siapa yang ia gandeng sedari tadi.


"Maaf-maaf" Fira pun segera melepas genggamannya dan refleks menjauh untuk memberi jarak dengan Gio. Fira merasa sangat malu, dan semakin canggung. Terlihat juga Lisa yang masih tertawa disamping ayahnya itu.


"Nak Gio duduk dulu ikut sarapan." Titah mamanya Fira pada Gio.


"Nggak usah tante, Gio udah sarapan tadi di rumah."Gio menolak ajakan mama dengan halus nan lembut.


"Kalau gitu duduk dulu sambil nunggu Fira makan." Tambah Rama yang masih sedikit tertawa mengingat kejadian barusan.


"Oh iya makasih."


Fira masih merona karena malu dan tak dapat konsentrasi pada makanannya.


"Oh iya Gi, nanti titip Fira ya." Perkataan Rama membuat Fira semakin merasa tak enak.


"Tenang Ram, nanti aku anterin sampai kantor dengan selamat."


Fira sebenarnya heran, kenapa mereka seolah akrab satu sama lain. Tetapi karena rasa malunya ia enggan untuk memikirkan itu iapun menutup mulutnya yang sebenarnya ingin tahu ada hubungan apa dengan keduanya.


"Nanti kamu sibuk? Apa ada praktek?" Tanya kak Rama pada Gio dengan nada yang sedikit dibuat serius.


"Yah seperti biasa, kan kamu juga tau. Apalagi kemarin dia drop lagi, jadi harus aku pantau terus."


Percakapan keduanya membuat Fira makin penasaran.


"Mah, Fira udahan ya makannya."


"Ya udah kalau gitu kamu siap-siap gih, kasihan Lisa nanti telat." Dinda melirik ke arah jam yang sudah semakin siang.


"Iya mbak, Fira mau ambil tas dulu."


Beberapa saat kemudian.


"Ayo lisa, kita berangkat." Fira meraih tangan Lisa kemudian menggandengnya, kali ini Fira melihat ke arah tangan Lisa ia tidak mau jika kejadian memalukan terulang lagi.


"Awas nanti salah gandeng lagi." Goda Rama sambil tertawa dan membuat yang lain ikut tertawa .


Padahal Fira sudah berusaha untuk melupakan kejadian memalukan tadi, namun sang kakak malah terus-terusan mengingatkannya akan hal itu.

__ADS_1


Mereka pun berangkat mengantarkan Lisa ke sekolahnya. Lisa terlihat sangat senang, bukan karena hari ini adalah pertama ia ke sekolah, namun karena ia dapat merasakan keluarga yang utuh dengan kehadiran Fira sebagai pengganti bundanya.


__ADS_2