
"Dit, kamu kenapa sih, kok kaya lagi banyak pikiran, kan sekarang kantor udah mulai stabil lagi." Damar berucap dengan entengnya.
"Kepo aja lo, dasar jomblo." Adit menjawab pertanyaan Damar dengan sedikit candaan.
Kemudian Fira yang kembali dengan hati yang tak utuh lagi hanya duduk tak mengucapkan sepatah kata pun.
"Kamu lama amat Ra dikamar mandinya." Tanya Damar pada Fira yang baru menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa sebelah Damar.
"Apa sih, kepo aja."
"Hmm..., nggak yang laki-laki nggak yang perempuan sama aja, cuma diem eh pas ditanyain jawabannya kepo-kepo mulu." Ucap Damar sambil merebahkan badannya ke kepala sofa
"Ini mas damar minumnya." Nayla darang dari arah dapur dengan membawa minum dan camilannya.
"Wah, makasih ya Nay, jadi enak."
"Sama-sama."
Suasana pun kembali hening, seakan tak ada hal yang akan mereka perbincangkan saat ini. Hanya terdengar suara Damar mengunyah camilan yang baru saja dibawakan oleh Nayla.
"Oh iya Ra, habis ini kak damar anterin cari hotel ya."
"Iya kak, makasih."Jawab Fira seadanya, karena hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, ia terlalu enggan untuk menanggapi ucapan Damar, ia hanya butuh memejamkan mata untuk segera beristirahat berharap kejadian hari ini hanyalah mimpi buruk yang datang.
"Nggak perlu Mar, nanti mas Adit aja yang anter." Kata Adit.
"Nggak usah mas, nggak papa Fira sama kak Damar aja."
"Nggak boleh, sama mas aja, pokoknya mas yang anter." Sela Adi tegas.
Sebenarnya Fira merasa senang, Adit mau menemaninya mencari hotel, namun dalam hatinya tetap ada perasaan sakit yang mendalam.
Sedangkan Adit, Adit hanya ingin menjelaskan apa yang terjadi pada Fira, Adit takut jika Fira salah paham terhada dirinya, ditambah sikap Fira yang berubah menjadi pendiam setelah bertemu Nayla, padahal sepanjang perjalanan pulang ke apartemen tadi Fira tak berhenti mengoceh.
"Ya udah deh Ra, kamu sama Adit aja, dari pada aku disuruh lembur gara-gara nemenin kamu cari hotel."
"Nayla mau ke dapur dulu."
__ADS_1
"Ya udah ayo Yang mas anter."
Yang? apaan sayang-sayang, inikah yang namanya sayang, menyembunyikan sesuatu sebesar ini pada Fira, tega kamu mas.
Baru saja mereka beranjak dari tempat, terdengar suara barang yang jatuh dari dapur, mereka bertiga bergegas menuju ke dapur, dan terlihat Nayla yang sudah tergeletak disana.
"Nay, ya ampun Nay, bangun Nay."
"Bawa kerumah sakit aja Dit." Damar mulai bersuara.
"Mas adit bawa aja Nayla kerumah sakit, biar kak damar yang nganter Fira"
"Kamu nggak papa Yang?" Tanya adit
"Nggak papa kok." Ucap Fira sambil berusaha agar tetap tersenyum.
Adit pun bergegas mengantar Nayla kerumah sakit, nampak kekhawatiran diwajah Adit, dan tanpa Adit disadari hal itu menambah rentetan luka dihati kekasihnya.
- - -
Gio yang kebetulan banyak kerjaan hanya bisa tawar menawar pada sang putri untuk menunggu sampai waktu kerja usai.
"Enggak mau ayah maunya sekarang."
Begitulah kata-kata yang terus mencuat dari mulut gadis kecil nan cantik itu.
Gio yang sedang bekerja pun menjadi sedikit terganggu dengan ocehan Lisa.
"Ok kita pergi sekarang, tapi ayah nggak bisa lama-lama ya, habis dari sana Lisa ayah antar pulang, ayah mau lanjut kerja lagi."
" Yeeee, makasih ayah." Lisa mendekat dan mencium kedua pipi Gio, senyum Gio pun mengembang atas perlakuan manis putrinya.
Dalam perjalanan menuju ke makam, Lisa terus-terusan mengoceh, ia sudah menyiapkan apa saja yang akan ia sampaikan pada sang ibunda, hal itu membuat hati Gio meringis merasakan sakit, antara kasihan dan terharu pada Lisa.
Walaupun begitu, Lisa tidak menunjukkan wajah sedihnya hari ini, ia begitu kuat untuk menemui bundanya, itu semua tak lepas dari ide sang oma tadi malam.
"Lisa, Lisa pingin punya bunda baru ya?"
__ADS_1
"Bukan bunda baru oma, bunda Lisa cuman satu dan nggak bisa tergantikan sama siapa-siapa."
Mendengar jawaban Lisa, oma tidak kembali lagi bertanya mengenai hal itu, ia mejadi pesimis untuk membujuk Lisa agar sang ayah mau menikah lagi.
"Tapi Lisa mau panggilnya mama, jangan bunda oma, nanti bunda sedih, bunda ngira Lisa nggak sayang sama bunda, nanti bunda kira Lisa mau nggantiin posisi bunda disini." Sambil menunjuk ke arah hatinya.
Gadis kecil nan lugu itu memang sangat mencintai bundanya, walaupun ia belum sempat melihat wajah sang ibunda secara langsung namun ikatan batin keduanya yang membuat Lisa teramat menyayangi bundanya, bahkan sering kali ia berucap jika bundanya ada disekitarnya, memeluknya bahkan membelainya dengan kasih sayang sebelum Lisa memejamkan mata untuk tidur.
Secercah harapan muncul di benak wanita paruh baya itu, iapun mempunyai ide untuk rencananya.
"Udah lama ya kita nggak ke makam bunda. Gimana kalau besok kita kesana, kita doain bunda di sana."
"Sama ayah ya oma?"
"Lisa sama ayah kesana, nanti disana Lisa curhat sama bunda apa yang Lisa mau, tapi Lisa bujuk ayah dulu ya, ayah harus mau anter Lisa."
Sesampainya mereka di makam, Lisa dengan semangat menghampiri makam bundanya, ia menaburkan bunga dan membersihkan gundukan tanah yang berada di depannya.
"Bunda-bunda, gimana kabar bunda? Bunda sehat-sehat aja kan disana, kalau Lisa sama ayah baik-baik aja. Jadi bunda disana nggak perlu khawatirin kita, bunda yang tenang ya di sana."
Gio meneteskan air mata mendengar kata-kata Lisa, dia tak tega menerima kenyataan bahwa anak sekecil ini harus menanggung semua kenyataan pahit, kenyataan bahwa istrinya yang telah pergi meninggalkan mereka, terbayang masa-masa indah yang mereka lalui bersama, awal pertemuan mereka, kedekatan mereka, semua hal indah yang telah mereka jalani, sebenarnya Gio adalah orang yang paling terpukul atas kepergian sang istri, namun ia harus tetap tabah untuk menjaga buah hati mereka.
"Oh iya bunda, bunda nggak keberatan kan kalau Lisa punya mama. Lisa sayang sama bunda, bunda bakal jadi bunda satu-satunya buat Lisa, jadi bunda jangan khawatir kalau Lisa bakal lupain bunda, tenang aja bunda, nanti Lisa juga bakal selalu ingetin ayah buat nggak lupa sama bunda, ayah juga sayang lo sama bunda. Ayah nggak pernah sekalipun deket sama perempuan, karena Lisa tau, dihati ayah tetap ada bunda. Jadi bunda nggak boleh khawatir, ayah pasti bakal sayang terus sama bunda."
Mendengar kata-kata itu, Gio memeluk Lisa, dia tak mampu lagi membendung air matanya.
'Andai aja kamu masih disini, kamu pasti kan bahagia, kamu memiliki anak yang cantik dan pintar seperti dirimu, andai aja aku bisa gantiin posisi kamu, aku mau kamu yang ada disini bersama Lisa.'
"Pa, papa kok nangis, papa nangis gara-gara telat kerja ya, maaf ya pa, gara-gara Lisa ngajak papa kesini papa jadi telat."
"Enggak kok, papa cuma kena debu barusan, ya udah ayo kita pulang sekarang, biar bunda bisa istirahat lagi."
"Ayo pa, eh tunggu sebentar. Oh ya bunda, Lisa udah ada calon buat ayah, namanya kak Fira, dia itu pinter, baik, cantik, terus perhatian sama Lisa. Kira-kira kalau Lisa minta ayah buat sama kak Fira, bunda bakal benci nggak sama Lisa. Kalau itu buat bunda benci sama Lisa, Lisa nggak papa kok nggak punya mama baru, yang penting Lisa nggak dibenci sama bunda."
Semakin mendengar kata-kata polos putrinya, Gio semakin merasa sedih akan hal itu.
"Enggak kok sayang, bunda nggak bakal pernah benci sama Lisa, karena Lisa adalah orang yang paling berharga buat bunda, dan Lisa juga bakal jadi yang paling bunda sama ayah sayang selamanya." kata Gio sambil menggendong putri kecilnya.
__ADS_1