Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Rasa Bersalah


__ADS_3

Cinta memang tidak salah, Waktu dan tempatnya yang kadang tak tau aturan, Datang tanpa diundang, Pergi pun tanpa pamitan ,Ya begitulah Cinta, Siapapun orangnya pasti tau apa itu Cinta.


Rasa bersalah Safira pada Adit terus bertambah seiring bertambahnya perhatian yang Adit berikan pada Safira. Safira tau semua itu Adit lakukan untuk membuktikan bahwa ia benar-benar mencintai Safira, tapi apa mau dibuat, nasi sudah berubah jadi bubur, hatinya, hati Safira masih tertutup terkunci dengan sangat rapat, satu nama belum bisa keluar dari kuncian pintu hatinya.


Berlebihan? Mungkin bagi beberapa orang itu berlebihan, Safira bodoh, Safira tak punya akal. Sudah jelas-jelas dia telah mengkhianatinya didepan dirinya sendiri, kenapa tidak dilupakan saja? kenapa tak cari orang lain saja?Masih banyak diluar sana yang pastinya mau dengan Safira.


Tapi bukan itu yang ada di pikiran Safira, Cintanya terlalu besar, rasa sayangnya terlalu dalam, kagumnya terlalu amat, terlalu hiperbola memang, tapi itulah kenyataannya, entah kenapa hatinya terus membisikinya bahwa Rayhan jodohnya, Rayhan akan kembali padanya, bersabarlah sedikit lagi.


Bagaimana dengan Adit? Sebenernya Adit sebelas dua belas dengan Fira. Fira yang teramat mencintai Rayhan tapi Rayhan telah mengkhianatinya dan mencintai orang lain bahkan melamar orang lain di depan mata kepalanya sendiri. Tidak berbeda jauh dengan Adit, Adit mencintai Fira tapi Fira mencintai Rayhan.


Kisah cinta mereka layaknya sebuah permainan karet berantai. Siapa yang akan memutuskannya nanti, hanya Allah yang tau.


Pagi ini Fira mulai belajar untuk tidak kembali tidur setelah sholat shubuh, ia sudah terjun bebas ke dapur mamanya dengan celemek melekat di tubuh mungilnya. Rambutnya dikucir ekor kuda agar tidak gerah.


"Subhanallah, anak mama kesambet apa. Pagi buta udah di dapur." Ucap Mama mengagetkan Fira.


"Mama ma Fira nggak kesambet tauk. Fira udah bikin sarapan ma, nasi goreng sama telur dadar. Taraaaa."


"Wah dari baunya kayaknya enak, cepat panggil kakak-kakakmu." Ucap mama memasukkan nasi goreng ke dalam wadah makan.


"Mamah mau sarapan di toko?"


"Iya banyak orderan hari ini, nanti jam duaan kamu nyusul mama ya, jagain kasir."


"Siap Bu bos." Ucap Fira mencium tangan mamanya, kemudian segera memanggil kak Rama beserta istrinya yang masih di kamar.


Tok Tok Tok


"Kak belum bangun ya." Teriak Fira dari luar kamar.


"Ada apa? masuk aja kakak udah bangun nggak kebo kaya kamu." Ucap Rama yang disusul terbukanya pintu kamar dan munculah sesosok adeknya itu.


"Enak aja aku ke... Astaghfirullah kalau mau berduaan jangan biarin Fira masuk dong kak."


"Liat Ra, kakakmu manja banget, mbak nggak bisa bangun dari tadi ditahan kakakmu." Adu Dinda pada Fira.


Pasalnya sehabis sholat shubuh tadi, Rama meminta tidur di pangkuan Dinda dan mengelus-elus perut Dinda yang sudah keliatan semakin besar, usia kandungannya sudah masuk 8 bulan.

__ADS_1


Dinda pun menurut tapi alhasil dia jadi tidak bisa masak untuk sarapan pagi.


Fira mendekat ke arah Rama dan menjewer telinga Rama yang membuat Dinda pegal, terlihat jelas dari muka Dinda, dia terlihat menahan rasa pegalnya.


"Apaan to dek?"


"Ih kasihan mbak Dinda tu liat mukanya udah nahan pegel karena ulah kakak."


Rama yang baru menyadari itu akhirnya bangkit dari rebahannya.


"Maaf ya Din, mana yang pegel sini mas pijitin."


"Ih kalian tu, nggak sadar apa disini ada jomblo fi Sabilillah."


Dinda dan Rama terkekeh mendengar Fira yang mengatakan dirinya sendiri sebagai jomblo fi sabilillah.


Fira ikut naik ke atas kasur besar itu, mendudukkan dirinya di sebelah Dinda dan mulai mengelus perutnya.


"Ya Allah de, Tante kasihan sama kamu,harus dapat ayah kayak gitu."


Fira yang kepo dengan kisah cinta kakaknya pun akhirnya lupa dengan niat awal ia memanggil kedua kakaknya untuk sarapan.


"Kak ayo ceritakan gimana kalian bisa ketemu dan akhirnya menikah." Pinta Fira heboh.


Fira yang notabennya sebagai adek dari Rama belum mengetahui bagaimana perjalanan kisah cinta Dinda dengan Rama.


Mari kita bernostalgia ke peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu.


"Tidak untuk sekarang, sekarang kita semua harus sarapan." Ucap Rama tegas karena ia tak mau harus seharian menceritakan kisah masa lalunya kepada Fira dan menyebabkan ia tidak sarapan, kalau Rama sendiri yang tidak sarapan itu tidak terlalu bermasalah, yang ia khawatirkan adalah istri dan calon anaknya.


"Mas, Dinda belum masak tauk, gara-gara mas ih." Ucap Dinda kesal.


"Hahaha, kasihan kena semprot sang istri tercinta." Goda Fira pada Rama.


"Jangan marah dong, kita delivery aja."


"Nggak perlu delivery kak, Fira udah masak."

__ADS_1


"Nah itu adek iparmu pengertian sama kita tumben sekali."


"Eitsss, tunggu dulu!"


Ucapan Fira menghentikan pergerakan kaki Rama dan Dinda yang sudah diambang pintu.


"Apalagi masyaallah."


"Kakak harus bayar dong, nggak gratis gitu."


"Dasar, matanya ijo. Duit mulu."


"Ehh jangan suuzon dompet Fira masih tebal karena baru dapat bulanan dari mama, yang Fira mau kakak harus menceritakan masa lalu kakak pada Fira, Fira sudah terlanjur kepo. Please."


Karena tak mau ambil pusing dan mengulur-ulur waktu Rama pun mengiyakan permintaan konyol adeknya itu.


Fira tersenyum penuh kemenangan, akhirnya keingintahuannya akan terungkap setelah sekian lama, pasalnya Fira sangat tau kalau dulu itu kakaknya playboy, pacarnya pun banyak, tapi kenapa bisa dapat istri sesholehah Dinda, patut dipertanyakan, Apa yang membuat Dinda luluh pada Rama.


Kini mereka bertiga tengah menyantap sarapannya, masakan Fira tidak kalah enak dengan masakan mama karena sedari SMA dulu Fira sudah diajari cara memasak, cara buat kue dan sudah terbiasa berkutat dengan alat dapur, hanya saja rasa malasnya yang jadi alasan kenapa Fira jarang didapur pada pagi hari.


"Kak, Gimana rasanya jika seorang laki-laki sudah berjuang mati-matian untuk mendapatkan hati seorang perempuan, tapi perempuan itu tidak bisa membalas perasaan nya?" Tanya Fira pada kak Rama yang membuat Rama dan Dinda kaget, Dinda juga sempat tersedak, dan dengan segera Rama membantu Istrinya untuk minum.


"Ada laki-laki yang lagi ngejar-ngejar kamu?" Tanya Rama penuh selidik.


"Ih bukan Fira kak, kan Fira cuman nanya, tadi Fira habis baca novel ceritanya tu....."


Belum sempat Fira melanjutkan ucapannya sudah dipotong oleh Rama.


"Bilang aja ceritamu dek, pake ngarang habis baca novel lagi."


Sebelum Fira kembali mengelak Rama segera menyambung ucapannya.


"Laki-laki kalau udah cinta dan sayang sama seseorang, ia akan berusaha semaksimal mungkin buat mendapatkan hati seorang perempuan, apapun akan ia lakukan untuk perempuan itu, bukan karena diperbudak cinta, tapi adanya hanya sebuah rasa sayang, cinta, dan kagum. Rasa sakit atas perjuangannya akan terbayar lunas saat ia berhasil mendapatkan hati dari sang pujaan hatinya"


Fira mengedipkan kedua matanya tak percaya Rama bisa sebijak itu, tak jauh berbeda dengan Dinda, Dinda pun merasa kagum pada suaminya.


Disisi lain, pikirannya kembali merasa bersalah pada kak Adit, teganya dia mencampakkan Adit yang dengan tulusnya mencintai serta menyayangi Fira.

__ADS_1


__ADS_2