
Mendapatkan pekerjaan kantoran adalah impianku dari dulu, kini usaha itu tidak sia-sia, semangatku dalam belajar untuk mengejar cita-cita telah sampai pintu gerbang, ini bukan akhir justru ini adalah awal untuk melangkah terus kedepan.
Tak henti-hentinya kumengucap syukur pada Allah subhanahu wata'ala yang telah memberikan nikmat rejeki padaku.
Ayah, lihatlah putri kecilmu ini, kini ia tidak sekecil dulu ayah, ia sudah besar dan sudah bekerja, ayah pasti bangga pada Ra, dulu ayah bilang Ra harus semangat dalam mengejar cita-cita Ra, ayah Ra rindu ayah, Ra rindu peluk ayah, Ra berdoa semoga Ayah bahagia disana, Ayah mungkin kebahagiaan ayah sekarang bukanlah kesuksesan anak-anak ayah, ayah sudah tak membutuhkannya lagi kan, yang ayah butuhkan adalah doa dari buah hati ayah, ayah Fira janji besok sepulang kerja Ra akan ke makam ayah, maafkan Ra ayah, Ra sudah jarang berkunjung ke Ayah, tapi Ra selalu mendoakan ayah kok, Ayah tau hari ini Fira sangat bahagia, terimaksih Ayah telah menghadirkan Ra kedunia ini. Menikmati indahnya dunia yang hanya sementara ini, maafkan Ra ayah dulu pernah tenggelam dalam kesedihan saat ditinggal ayah, Ayah Ra sayang ayah, rasanya pelukan itu baru kemaren Ra rasakan, tapi sekarang Ra sudah tak bisa merasakan dekapan ayah, tak bisa merasakan kemarahan ayah saat Fira bandel, Ayah Ra rindu.
Ayah kukirimkan doa, moga engkau tenang di alam sana.
Aamiin
Tak terasa curhatan ku pada sang maha kuasa berujung pada air mata, air mata rindu, rindu akan sosok ayah.
Setelah selesai, kuletakkan kembali sajadah dan mukena ke tempat asalnya.
Seketika itu juga aku teringat pada mas Adit,
'Ya Allah aku lupa tidak menghubunginya.'
"Assalamu'alaikum mas."
"Wa'alaikumsalam, masih ingat mas Ra?"
Bukannya tersindir akan ucapan Adit, Fira meneteskan air matanya kembali karena masih teringat sosok ayahnya.
"Loh Ra, kok nangis, mas hanya bercanda."
"Enggak mas, bukan salah mas kok, Ra hanya rindu."
"Aciee rindu, rindu mas ya?"
Sebenarnya Adit sudah bersiap-siap akan bersikap cuek dan jutek pada kekasihnya itu yang melupakan dirinya seharian ini, tapi melihat kekasihnya menangis hati kecilnya yang sedari tadi menggerutu berubah menjadi cair dan sakit, melihatnya menangis, sungguh Adit tak tega, apalagi ia sedang berjauhan saat ini, menggapai tubuhnya untuk dipeluk pun tak bisa.
"Ra rindu Ayah." Masih dengan suara paraunya ditambah air mata yang setia menemani.
"Dulu ayah bilang, besok kalau Ra udah kerja kantoran ayah orang pertama yang akan mencium kedua pipi Fira, Ayah akan bawa Ra ke Ancol, kita main pasir disana, nggak usah ajak mama sama Rama."
Adit diam mendengarkan apa yang Fira katakan.
"Terus ayah juga bilang, Kalau Ra udah besar Ra nggak boleh nangis, dan waktu itu Ra janji sama ayah nggak akan nangis apapun keadaannya asal ayah terus sama Ra, tapi kini keadaannya nggak kaya gitu, Ra nggak bisa nepatin janji Ra, hari ini Ra menangis karena Rindu ayah, Ayahhh." Fira masih enggan untuk membuka matanya, ia memejamkan matanya mengeluarkan semua isi hatinya, Adit yang melihat dan mendengar kekasihnya itu ikut menitikkan air mata, walaupun ia tidak berada di posisi yang sama tapi ia bisa merasakan apa yang Fira rasakan.
__ADS_1
"Ayah pasti bahagia disana, tapi Ayah akan sedih jika kamu terus menangis seperti itu, doakanlah ayahmu Ra, ayahmu butuh doa."
Fira mengangguk dan tersenyum ke arah Adit, menghapus halus air matanya itu.
"Lihatlah matamu sembab seperti itu, jangan menangis jangan buat mas merasa bersalah Ra."
"Kenapa?"
"Saat Ra seperti ini, mas nggak ada disampingmu, jangankan untuk memberimu semangat, memelukmu saja mas nggak bisa Ra."
"Dasar, peluk-peluk apaan nggak ada kaya gitu."
"Hmm, nggak ada ya, dulu siapa ya yang peluk erat mas pas mas mau terbang kesini."
"Ih diem nggak usah dibahas, itu Ra khilaf."
"Khilaf apaan, khilaf kok lama."
"Mas diem ih."
Fira sudah kembali tersenyum karena godaan Adit, Adit pun menjadi tenang karena kekasihnya itu sedikit terhibur.
"Jika lagi ada masalah ceritakan pada mas Ra, mas akan jadi tempatmu berkeluh kesah."
Perkataan Adit serasa jadi Boomerang baginya.
"Maksudmu?"
"Hmm, Ra tau kok mas juga lagi banyak masalah kan, keliatan dari mata mas semalam, mas juga belum menjadikan Ra sebagai tempat cerita mas."
"Bukan itu maksud mas Ra, mas hanya nggak mau Ra ikut pusing mikirin pekerjaan mas."
"Udah ah, ganti topik."
"Huh dasar mas ya, ibarat main catur udah skak mat terus mundur gitu aja."
"Hahaha, kamu ini dari mana belajar bahasa kaya gitu."
"Dari mana ya, dari mas mungkin."
__ADS_1
"Masa si yang, kayaknya mas nggak pernah ngajarin kaya gitu tauk."
"Ra, Mauk denger masmu nyanyi nggak?"
"Emang mas bisa nyanyi? Yang Ra tau mas bisanya nari."
"Nari? Mas laki-laki utuh Ra."
"Hahahah, galak amat si, maksutnya Ra itu jari mas yang nari kesana kemari diatas keyboard."
"Kamu belum tau si, keahlian mas yang baru."
"Oo ow, Ra tau ini pasti diajarin kak Aldo ya."
"Yah ketahuan deh, iya ni mas suruh main gitar sambil nyanyi katanya biar nggak ngamuk-ngamuk di kantor."
"Kak Aldo emang ter teh best lah."
Begitulah percakapan antara kedua insan yang seharian tidak saling mengasih kabar, yang satu sudah mulai sibuk dengan kerjaannya, yang satu mulai ada rasa curiga, namun rasa itu sirna setelah komunikasi mereka saat ini, entahlah Adit tiba-tiba amnesia untuk menanyakan persoalan siang tadi, ia juga tidak membesar-besarkan masalah tadi siang untuk saat ini, tidak tau jika besok akan seperti apa jadinya.
Dan malam ini adalah malam pertama Ra dinyanyikan oleh Adit, entahlah sebuah lagu apa, remang-remang yang Fira dengar.
Adit meminta Fira untuk beranjak berisitirahat tanpa mematikan panggilan videonya, Fira yang awalnya menolakpun akhirnya menurut, ya siapa si yang bisa menentang bos kebesaran kepala itu, yah kebesaran kepala karena pd nya minta ampun.
Saat ini Ra tertidur dengan memakai hijabnya, ia tidak mungkin mempertontonkan rambutnya pada Adit.
Fira mulai memejamkan matanya karena suara nyanyian Adit, bukan karena merdunya tapi karena acak adulnya membuat Fira sedikit pusing tapi enggan berkomentar takut sang pujaan hati sedih.
Adit terus saja melantunkan lagunya itu, lagu yang diajarkan Aldo serta petikan gitar yang masih tak karuan jika didengar oleh telinga manusia normal, mungkin jika telinga anak TK mereka akan jingkrak-jingkrak kegirangan.
Di gelap malam aku mulai tenggelam
Saat kau peluk erat tubuhku sayang.
Tunggu Aku pulang
Aku pasti datang
Menemuimu tersayang
__ADS_1
Hanya sebait itu yang bisa Fira dengar dengan baik, Fira mulai memejamkan matanya karena lelah menangis dan lelah berceloteh dengan Adit, serta lelah mendengarkan suara Adit yang acak adul seperti kaleng keinjak truk.
Tidurlah, tubuhmu lelah butuh istirahat, Selamat malam Safira Natasya.