
Lembayung senja menampakkan diri dengan begitu indahnya hingga mampu membuat siapapun yang memandangnya akan terpikat.
Satu tahun sudah umur baby boy Rasyid yang tak lain anak dari Rama dan Dinda, hari ini keluarga mama Ratih sedikit sibuk dengan kegiatannya masing-masing, acara ulang tahun cucu pertamanya itu akan diadakan kecil-kecilan, awalnya Dinda sudah meminta kedua orang tuanya untuk berkunjung namun karena ada satu dan beberapa hal yang membuat keduanya tidak jadi berkunjung. Ada guratan rasa sedih terpancar di hati Dinda, pasalnya sudah setahun juga ia belum kembali bertemu secara langsung dengan kedua orang tuanya, bahkan baby Rasyid hanya mengenal uti dan akungnya lewat video call yang mereka lakukan secara rutin tiap minggunya.
“Selamat ulang tahun sayang.” Fira yang baru bangun tidur mengecupi pipi Rasyid dengan gemasnya, bahkan ia sampai membuat Rasyid tidak nyaman, rambut panjangnya yang tergerai sampai harus mengenai mata bocah berusia satu tahun itu.
“Antee rambutnya itu.”
Mama yang lewat depan tv pun tak sanggup untuk tak berkomentar. Setelah mendapat peringatan dari sang mama, fira pun menggulung rambutnya menjadi satu.
“Syid auun.” Ucap Rasyid dengan suara gemasnya.
“Masa aunty cuman kasih selamat aja, minta kado dong jagoan.”
Sang ayah mulai mencuci otak anaknya dengan senyum menyeringai, tangannya terulur untuk mengajak Rasyid bangun. Ia membawa anaknya kedalam kamarnya meninggalkan Fira yang juga bergegas ke kamar untuk mandi bersiap-siap ke kantor.
Hari ini Fira pergi ke kantor dengan menggunakan mobilnya, sebenarnya Fira ingin membeli motor guna mempercepat proses keberangkatannya pulang pergi ke kantor, lalu lintas yang padat kadang membuat fira jenuh akan kemacetan yang ditimbulkan. Gaji yang selama ini ia tabung sebenarnya sudah cukup untuk membeli sebuah motor, namun ia masih begitu ragu untuk membeli motor, pasalnya tentu saja akan menguras sebagian besar dari tabungannya ditambah ia juga belum terlalu biasa menggunakan motor, ia pernah belajar dengan Rania dan beberapa kali juga mengendarai motor Rania jika keduanya makan siang diluar kantor mencari suasana baru.
“Ran, istirahat nanti pinjam motor boleh, mau ke suatu tempat.”
__ADS_1
“Tinggal pake aja. Nih kuncinya, nanti siang aku ijin makan siang bareng Irsyad yahh.”
“Astaga kenapa pake ijin, sok atuhh masa iya aku ngelarang.”
Berkutat dengan pekerjaannya, berfokus-fokus ria membuatnya lupa tidak mengecek ponselnya sedari tadi, kini ponselnya dalam mode silent dan seseorang di belahan kantor lain tengah mencoba menghubunginya beberapa kali. Hingga jam makan siang tiba, Fira baru membuka ponselnya dengan dahi berkerut.
Siapa gerangan yang menghubunginya dengan beberapa kali panggilan tak terjawab, nomernya tak memiliki profil dan juga bio nama.
Kemudian ia membuka room chat, dan benar saja nomer yang sama juga mengirimi ia beberapa pesan, Fira membuka chat tersebut sambil berjalan menuju mushola untuk sholat.
Setelah membuka chat dari orang yang melakukan panggilan sampai sepuluh kali, Fira kemudian mengirimi chat Rania, memberi tahu bahwa ia tidak jadi meminjam motornya karena akan dijemput temannya.
Setelah selesai menunaikan ibadah sholat dhuhur, Fira bergegas keluar kantor dan menuju parkiran menemui seseorang yang beberapa bulan ini tidak terlihat batang hidungnya.
Setelah ia yakin itu mobilnya, Fira mengetuk pintu bagian samping kemudi, kemudian membuka pintu mobil, masuk dengan elegan namun tiba-tiba orang yang ada dibalik kemudi itu menariknya cepat sehingga Fira sang pemilik tubuh terkejut dan badannya secara reflek mengikuti tarikan gadis berkacamata dan berkerudung disebelahnya.
“Kangen.” Satu kata tapi penuh makna.
Itu adalah Nana adik dari mantan calon tunangannya sekaligus sahabat Fira. Pelukannya yang erat dan lama membuat Fira sedikit kesusahan untuk mengambil nafas, pasalnya tubuh Nana semakin berisi dan berbalik lagi dengan tubuh Fira yang semakin mengurus itu.
__ADS_1
“Sama, apa kabar. Lepas dong kamu ih aku sesak ini.”
Setelah kabar berakhirnya hubungan Fira dan Adit hubungan keduanya agak merenggang, bukan karena itu alasan yang pasti, namun karena keduanya sibuk dengan urusan masing-masing ditambah Fira yang kurang ajarnya mengganti nomer tetapi tidak mengabari Nana membuat komunikasi antara keduanya sedikit bahkan banyak terjeda. Setelah melepaskan pelukannya dan membetulkan letak posisi kacamatanya, kini mereka berdua malah tertawa setelah kedua matanya saling bertemu.
“Kamu kok makin cantik aja sii tapi sayang.”
“Udahlah, kamu tu emang paling pinter muji namun berakhir menjatuhkan.”
“Hahaha, saya jadi kurus dan tirus gitu, betewe kita makan siang dulu apa langsung tancap gas ke toko mainan.”
“Ke toko dulu ya, habis itu kan putar balik kita makan di deket sini aja biar ngga telat balik kantornya.”
Hari ini Nana menghubungi Fira karena rasa rindu terhadap sahabat lamanya sudah tak terbendung lagi, ia sudah mengingatkan pada dirinya sendiri untuk tidak kelepasan membahas sang kakak apalagi membawa nama sang kakak tercinta ketika bertemu Fira nanti, sebenarnya Nana sudah mendapatkan nomer Fira beberapa hari yang lalu dari mama Ratih, Nana sengaja berkunjung ke toko kue mama Ratih karena kebetulan ia melewatinya selepas dari urusan kerjanya. Namun karena akhir-akhir ini ia sedikit sibuk, apalagi ditambah dengan bertambahnya restaurant milik Adit yang membuka cabang di beberapa tempat membuat Nana sedikit kualahan untuk menangani urusan keuangannya.
Selesai memilih mainan untuk keponakan tercintanya Fira dan Nana bergegas ke kasir, ketika mereka berdua berjalan melewati rak-rak boneka, Fira mendadak berhenti dan memegang boneka bewarna coklat agak muda dan mengambilnya, ia teringat seseorang dan berniat untuk memberikan boneka tersebut padanya, yaa siapa lagi jika bukan Lisa si gadis manis yang berhasil menghibur hari-harinya setelah putus dari Adit. Hmm akhirnya nama itu terlintas lagi di pikiran Fira, sebenarnya sejak pertama berjumpa dengan Nana, Fira sedikit merasakan sesek di dalam hatinya ketika memngingat Nana yang tak lain adik dari mantannya itu.
Mengikhlaskan memang susah aplagi melupakan itu butuh waktu.
Kening Nana berkerut, bertanya tanpa mengeluarkan kata untuk siapa. Fira hanya tersenyum menjawab kekepoan yang ada di benak sahabatnya itu, menarik tangan Nana untuk menuju kasir, setelah di total Fira mengeluarkan dompet dan hendak membayar, namun karena tersenggol dengan tangan Nana yang juga akan membayar barang belanjaannya di kasir sebelahnya membuat dompet Fira terjatuh, Fira segera mengambilnya dan setelah acara transaksi jual beli itu berakhir dengan lancar mereka berdua kembali ke mobil untuk mengurusi masalah perut yang mulai tidak karuan memberontak.
__ADS_1
“Ingat kamu bilang sama Rasyid kalau itu kado tari tante Nana yang paling cantik.”
“Paling cantik dari hongkong, udah yuk gass kita makan, udah laper banget ditambah waktu kita engga lama.”