
Sesuai janjinya, sepulang kerja Rama langsung mengajak Dinda dan Rasyid untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari yang mulai menipis, sejak kelahiran Rasyid, Dinda jarang sekali keluar rumah apalagi pergi belanja.
Hari ini Rama sengaja mengajak Dinda keluar untuk sekedar refreshing, walaupun tujuan mereka hanya ke supermarket terdekat.
Sesampainya mereka di supermarket, Rama mengambil alih Rasyid dari gendongan istrinya, Rama menggendong baby Rasyid seperti kanguru menggendong anaknya.
Rama juga mengambil troli sebagai tempat Dinda meletakkan belanjaannya.
Mereka menghabiskan waktu hanya untuk belanja, setelah semuanya terbeli mereka memutuskan untuk segera pulang kerumah, namun tiba-tiba Rama teringat akan suatu hal.
"Eh Din, kayaknya aku harus kembali ke rumah sakit deh, ada sesuatu yang ketinggalan."
"Anterin kita pulang dulu ya Yah, kasihan Rasyid kalau harus ikut kerumah sakit."
"Bener juga, mana mau maghrib, ok kita pulang dulu."
Setelah mengantarkan istri dan anaknya pulang, Rama kembali ke rumah sakit karena ada sesuatu yang tertinggal disana, Rama tidak membawa serta anak dan istrinya kerumah sakit karena adzan maghrib akan segera berkumandang.
Berkas yang tertinggal sudah ada di tangannya, Rama pun bergegas untuk pulang, namun saat di parkiran ia baru menyadari bahwa ban mobilnya bocor dan tanpa sengaja ia bertemu dengan Gio, mereka pun mengobrol, berbincang-bincng ringan.
"Eh Gi, kamu nggak pulang?" Tanya Rama
kepada Gio yang baru turun dari mobilnya.
"Enggak Ram, hari ini nggak pulang." Gio menutup pintu mobilnya .
"Lembur lagi?" Rama bertanya kembali.
"Yah bisa dibilang begitulah."
"Sering amat lembur, sering-seringlah pulang kerumah ngumpul sama keluarga." Rama mulai menasehati.
"Ya kan besok juga bakal ngumpul kok. Cuma masalah waktu aja."
"Kamu itu emang pinter kalau ngeles."
"Itu juga kan kamu yang ngajarin, la kamu kenapa juga belum pulang?" Tanya Gio membalas pertanyaan dari Rama.
"Ya maunya sih gitu, tapi mau gimana lagi, harus nunggu taksi dulu."Rama terlihat sedikit lesu, pasalnya ia ingin segera pulang namun harus terhambat oleh ban bocor.
"Kenapa? Bosen sama mobilnya? Besok beli lagi, aku temenin." Ledek Gio disertai dengan tatapan menyeringai.
"Ngledek aja lu, ini ban mobilnya kan lo gigit, jadi bocor." Rama tak mau kalah, ia membalas ledekan dari Gio.
"Enak kali mulut kau."
"Ya udah ayo aku anter aja. Dari pada kaya orang hilang." Timpal Gio sambil membuka pintu mobilnya.
"Beneran nih? Bener cuma mau nganterin apa mau ketemu Fira?" Kata-kata Rama yang penuh ledekan.
"Udah nggak usah mulai, mau dianterin apa enggak nih? Kalau mau nunggu taksi sih silahkan aja, mungkin beberapa jam lagi juga ada yang lewat."
"Mau lah, ngapain nunggu taksi lama-lama, orang supir pribadinya udah siap nganter pulang."
"Terserah anda bos ku."
__ADS_1
Saat mereka diperjalanan, Rama bertanya beberapa hal pada Gio,
"Oh iya Gi, sebenernya siapa sih yang kamu rawat itu, kayaknya penting banget buat kamu." Sepertinya virus kekepoan Fira menular pada Rama.
"Iya Ram, orang itu emang penting buat aku, bahkan bagi keluargaku." Gio masih fokus menyetir mobilnya.
"Dia keluargamu?"
"Bukan, tapi dia udah kaya keluargaku, dia udah seperti adek buatku."
Jawaban Gio membuat Rama semakin penasaran.
"Maksudnya?" Rama kembali bertanya
Gio pun menceritakan semua masa lalunya.
"Dia itu penyelamat keluargaku Ram."Gio menjeda sebentar ucapannya, namun Rama malah memotong kembali.
"Apasih maksudnya, kebiasaan kalau cerita setengah-setengah."
Akhirnya Gio pun menjelaskan semuanya,
"Dia itu yang udah nyelamatin mama aku Ram, kalau dulu aku nggak ketemu sama dia, aku udah nggak sanggup lagi buat bayangin apa yang bakal terjadi sama mama aku. Kalau bukan karena papanya dan dia, aku nggak mungkin bisa jadi seperti sekarang." Gio menjelaskan semuanya pada Rama, karena baginya Rama adalah teman seperjuangannya.
Tanpa disadari mereka pun sampai di depan rumah Rama.
"Ayo turun dulu, kita makan bareng" ajak Rama.
"Enggak usah, titip salam aja buat tante."Gio menolak ajakan Rama dengan halus, selain ia terburu-buru ia juga tidak enak kalau harus makan dirumah Rama.
"Oh iya, salamin ke dia. Tolong pukulin kakaknya buat aku." Gio juga tak mau kalah dari Rama.
Ya begitulah mereka rekan kerja namun kelakuannya masih seperti anak-anak.
"Serius amat sih, ayo makan malam bareng. Yang lainnya juga nggak bakal keberatan kok, udah ayo buruan." Ajakan Rama yang terdengar sedikit memaksa.
Akhirnya Gio pun menurut dan ikut masuk ke dalam,
"Assalamu'alaikum" ucap Gio dan Rama berbarengan.
Tak lama kemudian
"Wa'alaikumsalam." Jawab mama sambil membukakan pintu.
"Eh ada nak Gio, ayo masuk-masuk kita makan bareng sekalian." Ajak mama.
"Iya tante makasih."
Rama dan Gio pun masuk, sesampainya di ruang makan. Sudah nampak Dinda dan Fira yang ada di sana, suasana pun kembali canggung bagi Fira dan Gio.
"Eh ada Gio juga ya." Dinda mulai angkat bicara.
Mereka telah duduk di tempat-masing, mama yang melihat posisi duduk saat ini pun mulai bergumam,
Kaya keluarga lengkap, serasa punya dua menantu.
__ADS_1
"Iya ini, tadi maksain ikut mas pulang. Katanya kangen seseorang." Rama memanglah Rama, begitulah sikapnya, ia tidak akan tinggal diam dengan situasi saat ini.
"Ukhuk." Gio dan Fira pun terbatuk bersamaan karena kaget dengan kata-kata dari Rama.
Gio pun langsung menatap tajam ke arah Rama, tatapannya seakan mencebik ke arah mata Rama.
"Beneran nak Gio, wah pasti kangen sama Fira ya." Mama yang tak mau kalah pun menambahkan sedikit godaan pada Fira.
"Mama apaan sih." Fira merasa malu dalam kondisi ini, ia juga merasa tidak enak jika terus dipojokin.
"Enggak tante enggak, tadi cuma nganterin Rama." Gio membantah kata-kata dari Rama juga mamanya.
"Udah, jangan malu-malu lah, akuin aja. Mumpung ada di depannya langsung ini lo." Rama oun tertawa disertai cengirannya.
"Ram." Kata Gio sambil menatap tajam kearah
Rama, sedangkan yang dituju tersus menerus tertawa.
"Iya-iya, ini tadi Gio cuma nganterin Rama aja kok ma, tadi ban mobil Rama bocor. Jadi dianterin sama Gio." Jelas Rama.
"Oh begitu ternyata, ya udah ayo dimakan. Nak Gio juga makan yang banyak."
"Iya tante." Gio mulai mengambil makanan yang ada didepannya.
"Oh iya, nak Gio gimana kabarnya mama?"Tanya mama di sela-sela acara makan.
"Alhamdulillah mama sehat kok tante."
"Alhamdulillah kalau gitu, lumayan lama juga tante nggak ketemu sama mamanya Gio."
"Besok kapan-kapan bisa kerumah tante, biar mama juga ada temennya."
"Boleh itu, besok sekalian tante ajak Fira main ke sana." Mama menoleh ke arah Fira yang masih fokus makan.
"Ukhuk-ukhuk" Fira tersedak saat tengah mengunyah makanannya karena mendengar perkataan mamanya.
"Kamu nggak papa Ra?"
"Nggak papa kok kak Dinda."
"Oh iya tante makasih buat makanannya, tapi Gio harus balik lagi ke rumah sakit."
"Udah malam gini masih kerja?" Tanya mamanya Rama.
"Iya tante, ada urusan yang harus Gio selesain."
"Ya udah kamu hati-hati di jalannya ya."
"Ra itu anterin nak Gio ke depan." Perintah mama pada Fira.
"Kok Fira ma." Kata Fira reflek karena kaget.
"Enggak usah tante, Gio bisa sendriri kok. Permisi semuanya, Assalamu'laikum"
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Gio pun keluar dan bergegas kembali menuju ke rumah sakit.