Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Ambang Batas Perpisahan


__ADS_3

Seperti apa yang Adit janjikan, sekarang ia tengah berada dalam perjalanan menuju ke suatu tempat bersama sang kekasih hati.


"Mau kemana si mas, Fira capek tauk tadi banyak tugas."


"Ke suatu tempat, dijamin bakal buat kamu senang."


Fira tidak menananggapi ucapan Adit, ia terlalu lelah karena aktivitasnya seharian ini. Pulang dari kampus ia langsung dijemput oleh Adit dan entah mau dibawa kemana.


Setelah dirasa perjalanann tidak sampai-sampai, Fira kembali berdecak.


"Sebenernya mau dibawa kemana si mas?"


"Apanya? Hubungan kita?"


Dasar, ditanya bener-bener malah nyanyi.


"Mau dibawa kemana hubungan kitaaa."


Erik yang melihat ekpresi fira, mencoba untuk menggoda Fira.


"Eh eh ternyata bagus juga suaramu mas."


"Aiya dong, kamu mau request lagu apa yang?"


"Nggak jadi bagus, dipuji dikit aja sombong."


"Nggak niat mujinya ya?"


Perjalanan telah memakan waktu tiga puluh menit, namun mobil yang mereka kendarai masih belum berhenti, sang sopir masih memutar-mutar kemudinya, sedangkan disebelahnya seorang perempuan cantik tertidur karena terlalu lama dan lelah di perjalanan.


Ciittt.


Dencitan rem mobil terdengar begitu saja membuat mata Fira reflek mulai mengerjap- ngerjapkan matanya, mengumpulkan nyawanya agar bisa terkumpul semourna.


"Sudah sampai mas?"


Matanya mulai terbuka sempurna dan seketika ia takjub dengan pemandangan di depannya.


"Wahhh indah banget ya mas, mas tau dari mana ada tempat seindah ini."


"Ada yang jauh lebih indah dari ini Yang."


Fira masih belum bisa mengalihkan pandangannya, pemandangan matahari yang akan menenggelamkan dirinya untuk beristirahat dan bertukar tugas dengan sang rembulan nantinya, sinarnya begitu indah, warna jingganya sungguh menusuk relung hati siapapun yang melihatnya, terkagum-kagum akan ciptaan Allah swt.


"Mau tau nggak?"


Tanya Adit kembali karena tak kunjung mandapat jawaban dari mulut mungil kekasihnya.

__ADS_1


"Eh mas bilang apa?"


"Hmm, ada yang jauh lebih indah dari ini."


"Apa itu?"


"Matamu."


"Saat kulihat matamu, disitulah rasa cintaku terus jatuh, jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama, hanya melihat matamu saja membuat hati ini teduh, matamu menyejukkan setiap pandanganku."


"Gombal banget si mas."


"Bukan gombal sayang, berjanjilah kamu akan terus bersama mas apapun yang terjadi, tetaplah disampingku."


"Sekalipun kamu menduakanku?"


"Kok ngomong gitu si?"


"Hahah, enggak-enggak hanya bercanda kok."


"Bercanda apa curhat."


Fira langsung menghadiahkan cubitan kecil di lengan Adit, benar saja Fira bukan hanya bercanda melainkan itulah isi hati Fira, Adit yang sudah tau bagimana masa lalu Fira pun paham, ia juga tak segan-segan menggoda Fira untuk tidak terlalu berlarut pada masa lalu, walaupun Adit percaya, saat ini perasaan Fira sudah seutuhnya miliknya.


"Sekalian curhat si, hehehe."


"Nggak akan pernah kok, mas nggak akan pernah menduakanmu, bahkan rasanya mas nggak akan sanggup untuk membagi cinta untuk orang lain, percaya sama mas."


Masih ingatkah kamu mas, dulu dengan gamblangnya kamu bilang seperti itu, dulu dengan mudahnya kamu bilang percaya, kemana kata-kata itu kamu buang mas.


"Terkadang semakin kita dewasa masalah yang hadir akan semakin banyak, kadang kita tidak rela dan tidak terima dengan semua itu, kadang kita juga berpikir mengapa hidup sekejam ini, mengapa hidup ini tidak adil buat kita."


Fira menoleh ke arah sumber suara, ia rekejut karena kehadiran Dinda yang begitu tiba-tiba.


"Mbak sedari kapan?"


Dinda tidak menjawab pertanyaan Fira.


"Mungkin memang dia yang kamu inginkan, tapi kenapa semesta menjauhkan dia darimu? Mungkin Allah sedang menguji kisah cinta kalian berdua, menguji kesetiaan atau menguji ketabahanmu."


"Jangan gegabah, apa yang kita lihat belum tentu apa yang sebenarnya terjadi."


"Nggak taulah mbak, Fira capek pusing juga mikirin itu terus."


"Mikirnya pake kepala dingin dek, jangan gegabah sama jangan emosi, kaya abangmu." Dinda memelankan dua kata terakhirnya, ia takut suaminya diam-diam mendengarkan obrolan mereka berdua.


Ucapan Dinda sontak membuat Fira tertawa, ia sedikit terhibur dengan kedatangan Dinda.

__ADS_1


"Udah dingin kok mbak, mbak kayaknya Fira mau udahin hubungan ini."


"Dipikir mateng-mateng dulu, walaupun mbak nggak tau masalahnya tapi kan bisa aja kamu salah paham atau gimana Ra?"


"Fira udah mikir mateng-mateng, dan Fira udah yakin sama keputusan Fira sendiri."


"Mungkin enam bulan tanpa Fira mebuat mas Adit lupa akan Fira, ya namanya juga laki-laki mbak, kayaknya semuanya sama deh kaya gitu semua."


"Nah lo, nggak baik kalau mengecap seperti itu, enggak semua laki-laki sama, dan nggak tau kenapa mbak kok yakin Adit nggak mungkin nyakitin kamu Ra."


"Mbak Dinda nggak tau ceritanya, dan maaf Fira juga belum bisa membagi cerita Fira padamu mbak."


"Nggak papa kok, Mbak tau Fira pasti punya alasan tersendiri."


Fira kembali terdiam, ia merenung memikirkan bagaimana caranya mengakhiri hubungan ini, hubungan yang sudah diambang batas perpisahan, hubungan yang sedang pada masa terombang ambil oleh gelombang.


"Mikirin apa lagi kamu Ra? Udah malam masuklah nanti kamu sakit."


"Mbak aja duluan, Rasyid udah tidur?"


"Lagi main sama ayahnya."


"Mbak Fira pingin udahin hubungan ini, tapi baiknya ngomong langsung apa lewat chat?"


"Hmm." Terlihat kerutan demi kerutan pada dahi Dinda, menandakan perempuan beranak satu itu sedang memikirkan perkataan sekaligus pertanyaan Fira.


"Menurut mbak, diomongin langsung aja ra, biar sama-sama enak, kan dulu mulainya juga baik-baik jangan akhirnya malah kaya gitu dong, biar nggak ada masalah buat kedepannya."


"Gimana kalau dianya nolak mbak?"


"Kalau dia nolak berarti dia masih cinta dong sama kamu, sebenarnya masahnya apa si Ra, lama-lama mbak juga greget kepo juga tauk."


"Aishh ibu-ibu mau tau aja urusan anak muda."


"Ya sudahlah, apapun yang terbaik buat kamu, tapi inget pesan mbak ya, jangan buru-buru jangan pake emosi kaya abangmu." Dinda beranjak bangun dari kursi,


"Mbak"


"Terimakasih atas masukannya. Terimaksih sudah mau jadi saudara sekaligus teman Fira."


Fira memeluk Dinda dari arah belakang, dia patut berterimakasih pada sang kakak ipar yang telah memberi sedikit pencerahan.


"Kamu sudah mbak anggep kaya adek sendiri Ra, nggak ada yang namanya saudara ipar di antara kita, baik damar maupun kamu, kalian berdua sama-sama adek mbak, jadi jangan pernah sungkan untuk membagi ataupun bertanya pada mbak."


Dinda membalikkan tubuhnya, mendekap tubuh Fira dengan erat, menyalurkan kehangatan sesama saudara, menyalurkan kekuatan pada Fira, itulah yang hanya bisa Dinda lakukan untuk mengurangi beban adek iparnya.


Sementara dari sisi lain, dua netra tengah melihat kehangatan antara Dinda dan Fira, orang itu tak lain Rama, sebelum Dinda menghampiri Fira, Dinda telah membuat kesepakatan dengan suamianya, ia melarang suaminya ikut campur obrolan keduanya, ia juga tidak boleh menguping apa yang akan Dinda bicarakan, namun karena tingkat keingintahuannya yang sangat besar jadi dengan berbaagai cara Rama berhasil menangkap sedikit obrolan antara mereka berdua, ia sebenarnya tidak terima ketika Dinda seakan memihak pada Adit, ia juga mulai geram namun kesepakatan yang telah ia buat dengan sang istri tidak bisa ia ingkari begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2