
Fira membuka pintu apartemen Adit, ia sengaja tidak mengetuk pintu untuk memberi Adit kejutan. Namun siapa sangka, setelah Fira membuka pintu, dirinyalah yang terkejut akan pemandamgan di depannya.
Pandangan Fira meredup seakan tak sanggup melihat kejadian itu, Fira bergegas menutup pintu, dan ingin pergi sejauh mungkin. Namun kakinya tak mampu lagi melangkah, ia hanya mampu terduduk lemas.
Disisi lain, Damar yang baru sampai di depan apartemen Adit merasa bangga akan dirinya.
"Aku ini emang hebat ya."
"Kira-kira nanti Adit bakal ngasih aku hadiah apa ya kalau dia tau aku yang udah bujuk Fira supaya mau maafin dia." Tersenyum pada dirinya sendiri
Namun apa yang dipikirkan Damar tidak terjadi sebagaimana mestinya, dirinya terkejut dengan keadaan Fira saat ini.
"Ra, kamu kenapa Ra, kok kamu nangis didepan pintu."
Damar pun membangun kan Fira dan membuka pintu untuk mengajak Fira masuk.
"Udah Ra, ayo masuk, jangan nangis diluar kita bicarain di dalam." Ucap Damar sambil membuka pintu.
Tanpa Damar duga, dia seakan mendapat hadiah yang berlipat-lipat hari ini, dia melihat Fira menangis, dan sekarang dia harus melihat Adit berpelukan dengan Nayla yang membuat Damar benar-benar kecewa dengan sahabatnya.
"Adit. Ini orang bener-bener." Damar melangkah ke dalam, namun Fira menahan langkah Damar.
"Udah mas, Fira nggak papa." Elak Fira sambil menunjukan senyum nya.
Damar merasa kasihan pada Fira, ia tau kalau senyum Fira itu palsu.
"Fira titip makanan buat mas Adit. Ngasihnya nanti aja ya kalau mereka udah selesai." Fira memberikan bungkusan makanan ke Damar.
"Terus kamu mau kemana Ra, aku anter ke hotel ya"
"Nggak usah, Fira mau pulang." Jawab Fira sambil tersenyum.
"Jangan dulu Ra."
"Tiketnya udah ada, sayang kalau nggak jadi pulang hari ini."
"Bukan itu alasanmu kan."
"Maaf kak, Fira udah nggak bisa lagi. Maaf kalau emang sifat Fira kekanak-kanakan. Tapi Fira udah nggak sanggup lagi." Mata Fira menunjukkan bahwa dirinya tengah bersedih, air matapun turut menjadi saksi.
"Enggak ra, harusnya mas Damar yang minta maaf. Mas damar yang salah, mas Damar yang nggak bisa ngertiin keadaan Fira."
"Mas Damar juga udah kecewa sama Adit, entah sengaja atau enggak, tapi ini udah keterlaluan." Damar mulai geram dengan semua sifat sahabatnya itu.
"Mas anter ke bandara ya."
"Nggak usah kak, Fira bisa naik taksi."
Damar yang merasa tak tenang dengan keadaan Fira sebenarnya enggan mengijinkan Fira pulang sendiri, ditambah dengan kondisi saat ini, Damar paham hati Fira tidak sedang keadaan baik-baik saja.
"Adit, awas aja kamu. Walaupun kamu atasanku, nggak bakal aku bantuin kamu lagi buat minta maaf ke Fira." Kata Damar sambil menahan amarahnya.
Satu jam berlalu setelah kejadian itu.
"Damar kok jam segini belum pulang, Fira juga nggak ada kabar." Adit mencoba untuk menghubungi Fira, namun ponsel Fira tidak bisa dihubungi.
__ADS_1
"Kenapa nggak bisa dihubungi ya, apa aku coba cari Fira di hotel?"
Adit membuka pintu apartemennya, ia sedikit terkejut karena sosok Damar yang tiba-tiba sudah muncul di depan pintu.
"Baru selesai?" Damar melemparkan bungkus makanan pada Adit.
"Selesai apaan sih, tumben juga kamu beliin aku makanan."
Adit masih belum menyadari kesalahannya.
"Kok udah dingin, kalau beliin makanan yang masih baru dong."
"Itu salahmu sendiri." Jawab Damar dengan penuh emosi.
"Apasih, dari tadi sewot mulu."
"Lo pikir aja sendiri."
'Ni orang kenapa sih pulang-pulang kok emosi sendiri.'
"Oh ya Nay, ini tolong makanannya dihangatkan ya."
"Woy, mukamu kok kaya orang lagi marah sih, ada masalah apa emangnya?" Tanya Adit.
"Lo masih aja nggak paham?"
Disisi lain.
"Hai kakak cantik." Sapa anak kecil yang duduk sebelahan dengan Fira.
"Hai juga sayang." Balas Fira dengan senyumannya.
Fira sedikit tertawa dengan lelucon yang dilontarkan anak kecil tersebut, umur baru sebesar biji jagung udah paham kata sayang layaknya orang dewasa.
"Nah gitu dong, kakak kalau ketawa kan cantik jangan murung terus, kakak kenapa si?"
"Bisa aja kamu, kakak nggak papa kok." Jawab fira dengan sedikit terkejut, ternyata sedari tadi ia diawasi oleh anak kecil itu.
"Kakak lagi patah hati ya, soalnya dulu kakak aku juga kaya gitu." Ujarnya dengan sedikit berbisik di telinga Fira.
Fira pun tertawa dengan tingkah lucu anak kecil itu, tiba-tiba saja ia teringat pada Lisa.
"Kok kakak ketawa?"
"Hadeuh anak kecil satu ini, sedih salah ketawa salah."
"Kamu tau nggak si, kamu tu mengingatkan kakak sama seseorang."
"Seseorang siapa kak? Masih kecil apa udah gede."
"Seumuran denganmu, pinternya juga kaya kamu, bedanya dia cantik kamu tampan."
"Berarti boleh kenalin ke aku dong kak, siapa tau kita jodoh."
Fira pun kembali tertawa akan tingkah anak kecil itu, rasa sedihnya sedikit terobati.
__ADS_1
Anak kecil itu selalu mengajak Fira bercanda dan membuatnya bahagia, tak hanya Fira bahkan orang tuanya pun ikut tertawa mendengar kata-kata dari anaknya.
Sesampainya di bandara, Fira kembali termenung, karena tak ada lagi yang menghiburnya. Hingga...
"Mama cantik"
Suara kecil memanggilnya dengan sepasang tangan mungil memeluknya dari belakang.
Fira pun kaget dan langsung menoleh ke belakang, siapa sangka yang ia temui adalah Lisa. Fira merasa senang bisa bertemu Lisa , Fira pun membalas pelukan Lisa.
"Eh lisa, kok ada disini." Tangannya sudah gatal untuk tidak mencubit pipi lisa yang menggemaskan.
"Tadi Lisa habis nganterin ayah."
"Kok kamu sendirian?"
"Enggak kok, Lisa sama oma, tapi oma lagi ke kamar kecil. Terus Liisa liat mama cantik jadinya Lisa kesini deh."
Tak lama ada suara yang memanggil lisa dengan cukup keras.
"Lisa..., yaampun nak."
"Aduh Lisa, oma khawatir kamu kenapa-kenapa, kan tadi oma suruh Lisa buat nggak pergi-pergi sendiri."
"Maaf oma, habisnya tadi Lisa liat mama cantik, jadi Lisa kesini."
"Mama cantik? Mama cantik siapa?"
"Ini lo mama cantiknya Lisa."
"Eh, kok kamu bisa ada disini, siapa ya namanya, aduh tante lupa."
"Fira tante." Fira mengulurkan tangannya untuk mencium tangan omanya Lisa.
"Fira apa kabar, lama udah nggak ketemu ya, mumpung kita disini makan malam bareng tante sama Lisa yuk." Ajak oma.
"Nggak usah tante, nanti Fira makan malam dirumah aja."
Kruyuk..kruyukk
"Eh apa itu." Tanya Lisa dengan gamblangnya.
Pipi fira memerah karena malu. Benar saja seharian ini ia hanya sarapan dan makan siang, setelah itu perutnya belum kembali terisi oleh makanan satupun.
"Tuh kan, kamu pasti belum makan."
"Ih mama cantik, kata ayah kita itu nggak boleh telat makan. Nanti nggak disayang bunda lo kalau telat makan." Kata Lisa yang masih memeluk erat fira.
Fira pun tertawa mendengar kata-kata Lisa
"Tapi" belum selesai fira berkata
"Nggak ada tapi-tapian, pokoknya mama harus mau. Mama nggak kasihan sama Lisa, perut Lisa juga belum keisi makanan lhoo."
Fira melihat ke arah Lisa, Lisa pun menatap Fira dengan berbinar-binar membuat Fira tak tega untuk menolak
__ADS_1
"Ok deh, untuk Lisa seorang."
"Asik..." Teriak Lisa dengan penuh semangat.