
Jika diri ini belum berhak menjadi tempat berbagi keluh kesahmu setidaknya diri ini bisa meringankan beban di pikiranmu.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tetapi Fira dan Adit masih asik berkomunikasi lewat video call, mereka tak henti-hentinya mengenang kenangan mereka bersama, walaupun kebersamaan mereka terhitung belum cukup lama, tapi kenangan itu memiliki hal yang sangat bermakna bagi keduanya.
Tak lupa Fira menceritakan tentang baby Rasyid yang semakin aktif itu, Fira bercerita dengan nada yang menggebu-gebu membuat Adit tak tahan untuk menggodanya,
'Sepertinya kamu sudah pantas Ra'
Fira tidak menanggapi ucapan Adit, ia tetap melanjutkan ceritanya hingga tuntas, jika mengenai tentang Rasyid, semangat Fira seperti berkobar 45, rasa sayangnya pada Rasyid melebihi rasa sayangnya pada dirinya, entahlah ia teramat menyukai anak kecil sampai-sampai terkadang ia harus ribut dengan ayahnya Rasyid karena berebut menggendong.
"Sudah laporanmu mengenai anakmu itu?"
"Apaan si mas, itu ponakan Fira bukan anak Fira."
"Bercanda Ra, habisnya kamu semangat banget kalau cerita tentang Rasyid."
"Mas satu apartemen dengan kak Aldo?"
Tanya Fira untuk mengganti topik.
"Iya, tapi beda kamar."
"Owh."
"Kenapa?"
"Cuman nanya tok."
"Mas besok Fira mau lamar kerja."
"Kamu mau kerja Ra?"
"Yaiyalah mas, kan ijazah udah keluar tinggal digunain buat nyari kerja, mas lupa ya Fira udah diwisuda tapi tanpa seorang pendamping."
"Nyindir ya neng, maafin mas ya disaat hari pentingmu mas nggak bisa hadir."
"Heheh, nggak papa kok mas Fira juga nggak bermaksud nyindir."
"Mau lamar kerja dimana? Di kantor papa aja Ra, nanti mas hubungi bawahan mas."
"Enggak ah mas, Fira mau cari kerja sesuai kemampuan Fira, nggak mau asal masuk gitu aja."
Setelah melalui perdebatan panjang akhirnya Adit mengalah mengijinkan Fira untuk mendaftar di kantor yang direkomendasikan oleh pihak kampus, Adit sebenarnya tidak ingin jika terjadi sesuatu pada Fira, dengan Fira masuk ke kantor Adit itu akan memudahkan Adit untuk memantau Fira dari kejauhan, tapi Fira memilih jalannya sendiri, katanya ia ingin mandiri dan bekerja keras.
Keesokan harinya, Fira tengah bersiap-siap mengenakan pakaian formal untuk melamar pekerjaan.
Fira mendatangi sebuah perusahaan yang direkomendasikan dari kampusnya, ia masuk ke dalam kantor.
"Mbak lulusan dari kampus A ya mbak? Sudah ditunggu oleh Bu Vivi diruanganya, mari saya antar."
"Ah iya mbak, terimaksih."
"Jadi apa Anda setuju dengan kesepakatan ini dengan gajinya dengan persyaratanya."
__ADS_1
"Saya setuju Bu."
Setelah menandatangi kontrak pekerjaan, Fira dipersilahkan untuk ke ruangannya.
Ia disambut ramah oleh teman-teman se divisinya.
"Selamat bergabung dengan kami. Perkenalkan nama saya Rania."
"Nama saya Safira." Mereka saling berjabat tangan.
"Irsyad."
"Kamila"
"Mohon bimbingannya, saya pasti banyak membutuhkan bantuan dari kalian semua."
"Tenang saja, santai disini kita akan belajar sama-sama."Ujar Rania yang diangguki oleh Irsyad dan Bu Kamila.
Hari pertama di kantor cukup mengesankan bagi Fira, mendapatkan teman baru dan sangat ramah dengan Fira menjadikan Fira betah di hari pertama. Sangking asiknya Fira lupa mengabari kekasihnya itu.
"Mbak Rania, ini gimana ya Fira belum ngeh sama tugas yang ini."
"Bentar ya Ra, mbak lagi nyelesain ini kurang dikit lagi."
"Mana coba saya bantu Ra."Irsyad berjalan menuju meja Fira, ia berdiri tepat di belakang Fira, membungkukkan sedikit badannya agar dapat membaca jelas layar komputer.
Jarak diantara keduanya sangat dekat.
"Makasih kak." Ucap Fira setelah Irsyad kembali berdiri tegak.
"Jangan panggil kak, panggil Irsyad aja kita sebaya kok."
Tanpa Fira sadari kedekatannya dengan Irsyad diabadikan oleh kamera milik seseorang, entah apa tujuannya membidik kamera tepat pada kegiatan mereka berdua yang hampir tidak ada jarak.
Ponsel Adit bergetar tanda ada pesan masuk, Adit tidak segera membukanya karena posisi ia sekarang tengah rapat bersama jajaran direksi.
"Baiklah, rapat kali ini sampai disini dulu, kita lanjutkan besok, siapkan presentasi dari tiap-tiap divisi, semuanya harus laporan."
Adit menutup rapat dengan doa.
Adit keluar dari ruang rapat dan berjalan menuju ruangannya dengan diikuti Aldo dibelakangnya.
Adit merebahkan dirinya di sofa dan membuka ponselnya yang sedari tadi belum ia pegang.
Terdapat satu pesan masuk disana.
Bagaimana jika orang yang kau sayangi sedang bermesraan dengan orang lain
Dibawah pesanannya terdapat gambar Fira dan seorang laki-laki dengan jarak yang amat
dekat.
Kira-kira seperti itulah isi dari pesan dari nomer tidak dikenal.
__ADS_1
Adit yang sedang dalam kondisi kacau semakin kacau mendapat pesan dari orang yang tak dikenal itu, emosinya kembali naik.
Adit mencoba menghubungi Fira, namun hasilnya nihil, ponsel Fira tidak aktif.
'Apa itu Rayhan? Tapi nggak mungkin itu Rayhan.'
'Tapi sepertinya itu di kantor, apa mungkin itu teman kantornya Fira?'
"Al, cari tau dimana Fira kerja dan cari tau ini nomor siapa."
"Fira?"
Aldo mengernyitkan dahinya ketika melihat layar ponsel Adit yang terdapat foto Fira dengan seseorang.
"Jangan banyak nanya, selesaikan pekerjaanku."
Bagi Fira hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan, mendapatkan pekerjaan sekaligus teman baru dan pengamalan baru.
Ia harus bersyukur karena banyak diluar sana lulusan sarjana yang sudah untuk mendapatkan pekerjaannya sedangkan ia sekali lamar langsung diterima walaupun dengan jabatan yang tidak terlalu tinggi.
Bagi Fira jabatan tidak berpengaruh, ia bisa naik jabatan jika hasil kerjanya bagus, itu yang ada di pikiran Fira sekarang.
"Ciee aunty yang lagi seneng dapet kerja sampai baby Rasyid di acuhin." Dinda meletakkan Rasyid di pangkuan yang membuat Fira otomatis mendekapnya.
"Uluh-uluh, Rasyid rindu aunti ya, sini-sini cium."
NYESS
"Yah mbak, Fira dapat bonus."
Baju Fira basah kena ompol baby Rasyid, si pelaku malah ketawa-ketawa tidak jelas.
"Rasyid sengaja ya, mau ngerjain aunti, aunti udah ganti padahal loh."
"Itu yang namanya kangen berat Ra."
Fira menanggapi ucapan Dinda dengan senyuman, ia beranjak menggantikan popok Rasyid dan menidurkan Rasyid di box bayi sementara dirinya berganti pakaian lagi.
"Mbak masak dulu ya, kamu jagain Rasyid aja terima jadi nanti."
"Ok mbak."
Sampai hari menjelang Maghrib Fira tak kunjung menghubungi Adit karena memang ia benar-benar lupa, ditambah baru sampai rumah sudah bertemu kangen dengan Rasyid membuatnya terlena oleh kegemaran ponakannya itu.
Sedangkan Adit disana mulai curiga dengan sikap Fira ini, ia tidak akan menghubungi Fira terlebih dahulu sebelum Fira yang mulai, ia hanya mengetes seberapa jujurnya Fira pada dirinya.
"Apa sudah ada kabar tentang Fira Al?"
"Lagi proses Dit, kenapa kamu tidak menghubunginya biasanya jam segini asik telponan."
"Mungkin dia sibuk."
Sesibuk apa dirimu Yang, sampai kasih kabar saja tak sempat, aku percaya kamu, tapi entahlah rasanya aku benar-benar curiga.
__ADS_1