Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Semoga


__ADS_3

"Mas Adit makan ya, Nayla suapin."


Adit menerima suapan dari Nayla, ia tidak menolaknya karena ia sudah menganggap Nayla seperti Nana, keluarganya dan juga keluarga Nayla juga sangat dekat bahkan akrab.


"Giliran kamu yang makan, kayaknya tadi mama udah beli makanan di atas meja."


Nayla berlalu kearah sofa dan menikmati makanannya, setelah selesai makan Nayla beranjak bangun ke kamar mandi.


Adit yang menyadari suasana sudah aman, segera membuka ponsel Nayla yang terletak disamping lengannya, mungkin gadis itu lupa meninggalkan ponselnya.


Adit membuka chat paling atas, alangkah terkejutnya ia melihat beberapa foto Fira dengan lelaki lain, ia pun membaca isi chat dari seseorang yang bernama Sari itu.


Lihat Nay, kok kaya kenal sama si ceweknya ya, bukannya itu kakak tingkat yang dekat dengan kak Adit Nay? Kok dia sleingkuh si.


Seperti itu isi chat dari temannya Nayla yang bernama Sari itu,


Hus, jangan suudzon nggak baik tauk, mungkin itu hanya temannya.


Balasan dari Nayla yang membuat Adit kagum padanya.


Adit buru-buru menutup ponsel milik Nayla lagi, sebelum yang punya tau.


Ternyata Nayla benar-benar gadis yang baik, ia tak pernah berprasangka buruk pada siapapun, tapi kenapa hatiku jadi nggak enak gini ya, Fira juga dari tadi nggak ada inisiatif hubungi aku, apa dia terlalu asik berduaan dengan teman lelakinya itu, huh.


"Mas Adit kenapa?"


"Eh kamu Nay, nggak papa kok hanya nggak bisa tidur aja."


"Jadi bisa dikatakan kak Adit bosan ya?"


"Enggak juga si."


"Ih tinggal jawab iya aja gitu lho, Nayla ada permainan seru."


"Kamu mengajakku main tebak-tebakan kaya anak SD Nay?"


"Ih siapa bilang. Lebih seru dari itu."


Mereka bermain layaknya anak kecil dengan diiringi gelak tawa, sampai-sampai mamanya Adit begitu penasaran apa yang terjadi.


"Seru banget kayaknya Dit?"


"Eh iya ni ma, Nayla ada-ada aja ngajak Adit main kayak anak kecil."


"Bagus dong Dit, kamu kan juga harus banyak terhibur biar nggak terlalu stress mikirin pekerjaan, apalagi pacar kamu tu nggak ada peduli sama kamu, pacarnya kayak gini, nggak ada inisiatif buat jenguk kamu."

__ADS_1


"Udah dong ma, Fira kan kerja, lagian Fira belum pernah berpergian jauh, mana tega Adit mengijinkan dia kesini."


"Ya tapi kan, setidaknya dia harus....."


"Tante maaf, bukannya Nayla ingin ikut campur, sebaiknya mas Adit jangan dibikin banyak pikiran dulu."


"Benar juga kamu Nay, ini lho Dit cari calon istri yang kaya gini."


"Ma."


"Udah-udah, waktunya kamu istirahat. Kata Dokter besok kamu udah boleh pulang."


Sementara Disisi lain


"Papa papa, kak Fira cantik kan pa?"


"Iya cantik, tapi lebih cantikan putri papa." Jawab Gio dengan mencubit pipi anaknya dengan gemas.


"Iya dong, kita sama-sama cantik kan pa?" Sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Uhh sejak kapan anak papa jadi genit gini hmm."


"Pa, mama bakal sedih nggak ya kalau Lisa ingin punya mama baru."


Gio sempat tak percaya anaknya mengatakan hal itu, padahal dari kemaren putri cantiknya itu selalu menolak jika ditanya masalah mama baru, apalagi saat ia bertemu dengan Diana, orang yang dekat dengan Gio, Lisa benar-benar tidak semangat dan malah menjadi pendiam.


Tak bisa dipungkiri anak sekecil itu sudah ditinggal pergi oleh mamanya untuk selama-lamanya, pelukan dari mamanya pun tak pernah ia rasakan, istri dari Gio meninggal setelah melahirkan.


Dan mulai saat itu juga, Gio tidak pernah dekat dengan perempuan, hanya Dianalah yang masih dekat dengan dia, Diana adalah adik kandung dari mendiang istrinya, memang dulu mama mertuanya pernah menyarankan agar Gio menikahi Diana, tapi Gio menolaknya dengan halus, ia juga tau Diana bukanlah Riana, sifatnya sangat berbeda, bahkan sangat berbanding terbalik. Gio juga tau, Diana hanya berpura-pura baik pada Lisa jika di depan Gio, jika dibekangnay entahlah.


Sepulangnya Lisa dengan papanya, Fira kembali ke kamar untuk menghubungi Adit sang kekasih, ia baru sadar seharian ini tidak bertukar kabar, Fira mencoba menghubungi Adit tapi tak kunjung dapat balasan, Fira oikir Adit kelelahan makanya ia tidur cepat malam ini.


Mas, maaf ya Fira baru buka hp, maaf juga Fira lupa nggak kasih kabar ke mas hari ini, selamat tidur mas Adit.


Setelah mengirim pesan ke Adit, Fira mulai merebahkan dirinya dan tak butuh waktu lama kedua matanya mulai terpejam masuk ke alam mimpi.


Keesekoan harinya, Adit telah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit, sekarang ia beserta mama dan Nayla telah sampai di apartemen milik Adit.


Tuuut tuuut tuuut


"Hallo, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam mas Adit?"


"Sehari nggak komunikasi, udah lupa sama suara mas?"

__ADS_1


"Eh enggak gitu mas, Fira baru bangun jadi nggak liat siapa yang nelfon."


"Baru bangun? Semalam bergadang apa ada acara?"


"Enggak kok, cuman......"


Fira menceritakan kejadiannya bersama Lisa tempo hari yang lalu.


Setelah berkomunikasi via telpon dengan Adit, entah mengapa hati Fira terasa mengganjal, ada sesuatu yang menurut Fira sedikit aneh, sikap Adit berbeda dari sebelumnya.


Namun pikiran itu segera ditepis oleh Fira, mungkin saja karena rasa lelah Fira yang membuat moodnya jadi berantakan, iya mungkin itu, ia tidak boleh berprasangka buruk terhadap Adit, Fira percaya Adit tak akan berbuat macam-macam dengan hubungannya ini, Fira juga yakin Adit tulus mencintai Fira.


Semoga rasa kecewa tak kembali hadir di kehidupan Fira, semoga memang benar Adit adalah seseorang yang telah dikirimkan oleh semesta untuk dirinya, semoga saja.


"Udah hampir enam bulan kalian LDR, apa nggak kangen gitu Ra?"


"Kangen si mbak, tapi ya gimana, Fira juga nggak bisa buat apa-apa."


Kini Fira dan Dinda tengah berada di taman belakang rumah, mengobrol santai dengan Rasyid berada di pangkuan Fira.


"Selama kamu kerja kan kamu belum ambil cuti Ra. Kenapa kamu nggak ambil cuti beberapa hari terus kamu susulin Adit kesana?"


"Ke Kalimantan maksudnya mbak?"


"Ya iyalah Ra, masa ke hongkong."


"Gimana ya mbak, pingin si tapi Fira belum pernah berpergian jauh."


"Bener juga katamu, pasti abangmu juga nggak akan mengijinkanmu."


"Nah itu mbak tau, gimana suami mbak."


"Udah mau petang, udah yuk masuk kasihan Rasyid kedinginan."


Mereka berdua masuk kedalam rumah beriringan, dan langkahnya bersamaan dengan langkah Rama yang masuk ke dalam rumah.


"Udah pulang mas?" Tanya Dinda sambil mencium telapak tangan suaminya.


"Udah,mas langsung mandi ya gerah banget, oiya tadi mas beli ayam, dibuat jadi ayam geprek Yang."


"Asik, kita makan ayam geprek, Kali ini mbak Dinda yang masak ya mbak, biar Fira urus Rasyid."


"Ok siap."


"Mau-maunya kamu disuruh anak ingusan Din, kalau aku si ogah."

__ADS_1


"Kak Rama." Ucap Fira mendengus kesal karena dikatain oleh abang tercintanya.


__ADS_2