Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Musibah


__ADS_3

"Hallo Ra, dirumah nggak?"


"Enggak, kenapa tumben nanya gitu?"


"Ada sesuatu yang pingin aku obrolin sama kamu."


"Ya ampun nenek lampir, tinggal ngomong aku masih bisa denger kok."


"Ini penting Ra, nggak bisa diomongin lewat telepon."


"Jangan buat aku kepo deh."


"Ra, kamu di toko kan, aku kesana jemput kamu, sekalian aku pamit sama mama mau bawa kamu ke suatu tempat."


"Sejak kapan nenek lampir berubah jadi peramal, kamu tau dari siapa aku di toko."


"Kau meremehkan ku Ra, lima belas menit lagi aku terjun ke tokomu."


Telepon diputuskan sepihak,


"Huh, kebiasaan." Gerutu Fira kesal.


Dan benar saja, lima belas menit setelah Nana memutuskan sambungan teleponnya ia datang dengan mobil milik kak Adit.


'Nana Mak lampir, rencana apalagi yang akan ia buat dengan kak adit.'


Fira mengira Nana datang dengan kak Adit, namun prasangkanya segera hilang saat ia melihat Nana turun dari pintu mobil depan sendirian.


Setelah Nana meminta ijin pada mamanya Fira, mereka pun pergi menggunakan mobil kak Adit.


Nana fokus menyetir, sedangkan Fira sibuk memainkan ponselnya bermain game masak-masakan layaknya anak kecil.


"Huh." Nana memukul stir kesal ketika ada motor mendadak nyebrang.


Ini baru pertama kalinya Fira melihat Nana bersikap seperti itu, kayak Mak lampir nyata, sebelum ini Fira belum pernah melihat Nana sekesal ini.


"Kenapa kamu nggak mau peka si Ra." suara Nana mengagetkan Fira.


Mereka telah sampai di sebuah cafe, Fira yang bingung ada apa semakin terkejut mendengar ucapan Nana.


"Ada apa Na?" Tanya Fira lembut karena ia tahu mood Nana sedang tidak bagus.


Nana tidak menjawab pertanyaan sahabatnya itu, ia keluar menuju ke arah cafe, Fira hanya mengikutinya dari arah belakang.

__ADS_1


"Baca Ra." Perintah Nana menyodorkan sebuah surat saat mereka duduk di kursi cafe.


Tak lupa Nana memesan dua minuman untuk dirinya dan Fira.


Fira yang belum tau ada apa, hanya menurut membuka lipatan kertas yang Nana berikan.


Jejak langkah sebagai penanda


Hembus angin pembawa berita dan sebuah cahaya menjadi penunjuknya.


Terpisah jauh tanpa harapan, namun berasa mimpi dan keinginan.


Hanya mampu berharap kan tiba waktunya, namun tak bisa apa-apa.


Aku hanya sebutir debu jalan yang hanya bisa berhamburan, aku hanya bisa bergerak kesana kemari, menjadi saksi saat hal yang ku nanti terjadi.


Aku hanya sebuah kegelapan yang ada hanya untuk memberitahukan apa itu kebenaran.


Aku hanya bayang, yang ada agar kamu dapat merasakan cahaya.


Dan Aku hanya malam, tempat mu untuk terlelap dan menanti datangnya siang.


Aku hanya si pendamping, yang ada untuk membuatmu bahagia tanpa perlu kamu tahu aku ada, dan tanpa perlu kamu menganggapku berharga.


Tak perduli sepahit apa, ketika kamu bahagia, hilang semua gundah yang ada, karena kamu hal paling berharga.


"Kak Adit Na?"


"Siapa lagi Ra?" Jawab Nana dengan moodnya yang sedang naik turun.


"Maaf." Satu kata yang terucap dari mulut Nana.


"Aku tau kak Adit begitu tulus Na, tapi kamu juga harus memahami ku Na. Aku belum bisa berdamai dengan masa laluku. Aku juga tak tau mengapa jalan hidupku seperti ini, aku tau aku jahat Na, kebaikan dan ketulusan kak Adit tak bisa kubalas, bukan berarti aku kejam Na."


Nana yang melihat Fira menangis terisakpun menjadi tak tega, emosinya memang sedang naik sedari tadi, tapi ia tetap sahabat Fira, tidak ada sahabat yang tega melihat sahabatnya sendiri terpuruk. Nana mendekat dan memeluk Fira.


"Maaf Ra, tadi pagi aku nggak sengaja Nemu surat itu di meja makan, hari ini kak Adit ingin membuatkanmu donat lagi, tapi karena bahan-bahan habis Kak Adit memutuskan untuk pergi ke supermarket sendirian menggunakan mobilku, dan saat diperjalanan kak Adit kak Adit........ Kak Adit Ra. hiks hiks hiks."


Sekarang bukan Fira yang menangis melainkan Nana yang menangis terisak. Nana tidak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Kak Adit kenapa Na?" Ucap Fira yang menjadi panik.


"Kak Adit kecelakaan Ra. sekarang keadaannya kritis dan belum sadar sampai saat ini."

__ADS_1


Jderrr


Bagai disambar petir, ada apa ini, mengapa semesta begitu tega membuat orang yang tulus mencintainya harus celaka gara-gara dirinya, kak Adit. Ya Allah.


"Kamu gimana si Na, kenapa kamu bawa aku kesini. Ayo kita ke rumah sakit."


"Ra, kumohon Ra."


"Na bukan saatnya bahas hal itu, kak Adit, kak Adit ayo kita ke kak Adit Na."


Karena melihat kondisi tubuh Nana yang melemah Fira memutuskan untuk menitipkan mobil Kak Adit di depan cafe, sedangkan ia bersama Nana sudah berada di dalam taksi online.


"Ra, kak Adit akan baik-baik saja kan Ra." Ucap Nana dengan tatapan kosong, Fira yang berada dalam situasi saat inipun menjadi merasa iba dan tak tau harus berbuat apa.


"Kak Adit kuat, kak Adit pasti bisa melewati ini Na."


"Hanya kak Adit yang begitu sayang padaku Ra, rasa sayangnya melebihi rasa sayang kedua orangtuaku kepadaku Ra."


Setelah menempuh perjalanan yang dirasa sangat panjang itu akhirnya mereka sampai di depan kamar ICU.


Mereka bisa melihat dengan jelas keadaan Adit saat ini, terbaring lemah dengan beberapa selang tertempel ditubuhnya, Fira lemas begitupun dengan Nana, keduanya saling merangkul memberi kekuatan untuk tetap kuat menghadapi ini semua, Nana dan Fira luruh ke lantai, keduanya seperti anak kecil yang menangis karena tak dibelikan mainan, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mendekat ke mereka.


"Keluarga pasien atas Nama Aditya?" Tanya seorang dokter pada keduanya.


"Saya dok." Jawab Nana menghapus kasar air matanya.


"Pasien mengalami pendarahan yang sangat parah, ia kehilangan banyak darah, namun kami kehabisan stok darah yang sama dengan pasien saat ini."


Ya Allah apalagi ini.


"Golongan darah kak Adit B kan dok?"


"Benar nak, golongannya B, apakah saudara bergolongan darah yang sama?"


Nana menggeleng, golongan darah kak Adit sama dengan ayahnya berbeda dengan Nana.


"Golongan darah saya B dok, ambil darah saya dok." Ucap Fira mengagetkan keduanya.


"Syukurlah, mari ikut saya ke ruang pemeriksaan, sebelumnya saudara harus dicek terlebih dahulu."


"Ra, terimakasih." Ucap Nana memeluk sahabatnya.


"Tunggu disini Na, jangan menangis lagi."

__ADS_1


Kini kantong yang berisi darah milik Fira sudah mengalir lancar ke dalam tubuh Adit. Dokter juga membawakan kabar gembira, bahwa kak Adit berangsur-angsur mulai membaik. Adit sudah melewati masa kritisnya.


Mungkin batinnya bisa merasakan, seseorang yang ia cinta datang melihatnya, bahkan darahnya sudah menyatu dengan tubuhnya. Cinta ya mungkin karena rasa cinta yang teramat besar.


__ADS_2