Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Sakitnya Patah Hati


__ADS_3

Senja yang lalu membawa ceria, kini membelut membawa duka.


Malam yang penuh megah kilaunya, kini hampa tanpa setitikpun cahaya.


Dan pagi yang tadinya awal kisah bahagia, kini hanya awal dari semua hancurnya rasa.


Ketika semua berlalu dan hanya membawa pilu.


Semua yang tadinya membawa mimpi,


Harus menerima pahitnya rasa ini.


Mungkin ini yang yang sedang terjadi pada Adit, kisah bahagianya harus berakhir dan tak tau kapan kan kembali memulai kisahnya lagi. Meski tegar ia menerimanya, namun luka dihatinya kan tetap ada. Meski ia bahagia, pasti terasa sakit pada dirinya. Jalan hidup tak akan ada yang tau, mungkin bisa saja sesingkat hela nafas, namun ada kalanya kan menjadi panjang melebihi jangkauan mimpi kita. Tak ada satu orang pun yang tau, dan hanya waktu yang kan menuntunmu.


Setelah pertemuannya dengan Fira yang ternyata akhir dari kisah cintanya untuk saat ini, Adit memutuskan untuk pulang, namun masih enggan untuk pulang ke rumahnya. Adit masih memilih untuk tinggal di tempat temannya sekaligus menenangkan hatinya.


Sesampainya Adit di tempat temannya, ia langsung menuju ke kamar dan merebahkan badannya. Ia hanya dapat menghela nafas panjang dan menatap langit-langit. Ia memandangi dan terus memandang. Hingga tiba-tiba.


DRRRTTTTT....(Getar ponsel Adit yang mengagetkannya)


Adit pun menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak di sampingnya.


"Huftt...." Adit hanya menghela nafasnya, Adit masih merasa enggan melihat ponselnya. Namun ia harus melihat ponselnya karena takut akan ada hal penting yang harus ia tangani.


Dan hal yang mengejutkan baginya, karena Adit mendapat pesan dari orang yang tak kan pernah Adit duga sebelumnya


Assalamu'alaikum mas Adit


Adit tersenyum dan kembali ceria karena nama dari pengirim pesan tersebut tak lain adalah Fira sang pujaan hati.


Wa'alaikumsalam Ra


Mas Adit udah makan


Belum Ra


Kok belum sih, sana makan dulu


Suapin to, he he he


Boleh-boleh, sini

__ADS_1


Pesan itu membuat Adit bangkit dari keterpurukannya, namun sayang itu hanya berlaku sementara karena ini sudah waktunya Adit untuk bangun dari mimpinya.


"Astaghfirullah."


Adit tak sadar bahwa dirinya tadi tertidur, dan yang membuatnya lebih kaget adalah semua bahagianya hanya ada dalam mimpinya. Namun karena Adit masih tak mengira itu semua mimpi, ia pun bergegas mengambil ponselnya, dan benar saja. Tak ada satupun pesan masuk dari Fira dan membuat adit kembali terpuruk.


'Andai mas bisa selamanya bermimpi tentang kamu Ra, mungkin mas bakal rela untuk tertidur selamanya'. Ucap Adit di dalam hatinya, Adit masih tak percaya pada kenyataan yang harus dihadapinya. Ia masih merasa bahwa semua yang dikatakan Fira hanyalah sebatas mimpi.


Adit pun bangun dari tempat tidur dan berdiri menatap ke luar jendela. Dan hanya ada kenangan bersama Fira yang terlintas dihadapannya, entah Adit yang terlalu mencintai Fira, atau memang Adit tak lagi memiliki kesadarannya.


Adit pun ke kamar mandi dan membasuh mukanya, Adit memandang kaca yang ada di hadapannya dan memandang cerminan dirinya.


'Kenapa aku bisa sampai seperti ini. Tak pernah terbayang merasakan sakitnya patah hati sampai sedalam ini. Kenapa ini tak sama seperti saat dulu putus dengan Fitri. Kenapa ini lebih memilukan.' Adit masih bercengkrama dalam hatinya.


Adit mengambil jaketnya dan kembali pergi, entah kemana ia akan pergi. Ia hanya pergi mengikuti keinginan kakinya tuk terus melangkah pergi. Pandangan yang seakan tak ada lagi tujuan. Hingga kakinya terhenti di dekat sebuah bangku taman yang usang. Adit pun kemudian duduk di bagku itu dan menatap ke arah sebuah keluarga kecil yang sedang menikmati hari bahagia mereka.


"Andai sekarang kita masih bersama, akankah kita bisa seperti mereka Ra."


Adit yang melihat keluarga itu amat bahagia meski hanya taman biasa dan tak terlihat mewah seperti taman kota lainnya, namun mereka terlihat lebih bahagia karena dapat menghabiskan waktu bersama. Adit benar-benar berharap bisa bersama lagi dengan Fira, dan memiliki keluarga kecil yang bahagia seperti mereka.


Adit mengalihkan pandangannya dan melihat sekitar, dan yang ia dapati tak jauh berbeda, keluarga yang sedang menghabiskan waktu bersama ataupun pasangan kekasih yang sedang berjalan-jalan bersama dan beberapa penjual makanan.


Adit pun kemudian mengeluarkan ponselnya


"Hufft, kenapasih bukan kamu yang nanyain aku Ra." Lagi-lagi kata Adit pada dirinya sendiri.


Adit tak menanggapi pesan dari Nayla dan membuka galeri di ponselnya.


Adit hanya melihat foto kebersamaannya dengan Fira dan berharap masih bisa bersama meski entah berapa lama mereka kan dapat bersama kembali.


Adit kemudian menghapus semua foto-foto mereka, Adit menghapus semua foto dari saat mereka belum memiliki sebuah hubungan, sampai foto-foto yang Adit ambil secara diam-diam saat Fira tak memperhatikan. Namun ada kebimbangan besar dihatinya.


"Hapus"


"Jangan"


"Hapus"


"Jangan"


Adit menggaruk-garuk kepalanya karena bingung, dan akhirnya Adit pun memutuskan untuk menghapusnya, ya meski ia tak menghapusnya secara permanen karena Adit masih berharap dapat kembali ada kisah setelah semua perpisahan ini.

__ADS_1


Adit pun kembali merenung, dan hanya melihat sekeliling lalu kembali merenung. Sekarang di hati Adit seakan kembali hampa.


Adit menundukan kepalanya dan teringat semua perjuangannya untuk dapat bersama Fira, dari saat ia memendam perasaannya, hingga ia mengutarakan dan membuktikan cintanya.


Semua perjuangan akan sia-sia jika kita tak menjaga apa yang kita perjuangkan setelah mendapatkannya.


Ku menangis melepaskan, kepergian dirimu dari sisi hidupku.


Tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkan Adit.


Adit pun mengangkat kepalanya, mencari tau sumber suara itu,


Harus selalu kau tahu


Lagu yang masih berkumandang membuat suasana semakin memilukan hati Adit.


Adit pun menyadari sesuatu, dan menolehkan pandangannya ke sumber suara.


"Eh" Adit yang terkejut karena tepat di depan pandangannya ada seseorang yang menaik turunkan alisnya seakan mengisyaratkan sesuatu dikuti senyum khasnya.


*Akulah hati yang telah kau sakiti


Jreng..jrengg..jrenggggggg*.


Suara gitar mengakhiri lagu itu dan Adit hanya dapat melongo melihatnya, tak lupa sepasang alis yang masih turun naik mengisyaratkan kode.


"Ini mas." Adit yang mulai paham pun segeera mengambil uang dari sakunya dan memberikan kepada pengamen.


"Makasih mas." Ucap pengamen yang sedari tadi menunggu bayarannya dan pergi meninggalkan Adit yang masih melongo karena rasa canggung yang dibuat pengamen itu. Adit masih menatap arah pengamen itu pergi dan mengusap matanya


"Duh jadi lupa kan tadi sampai mana." Adit bermonolog sendiri.


Adit kembali merenung dan melanjutkan kesedihannya setelah semua kejadian itu.


Adit kembali menundukan kepalanya, dan teringat kata-kata Fira sebelumnya. Kata-kata yang mengakhiri hubungan mereka, Adit masih tak percaya bahwa hal itu nyata.


Adit kembali dalam keadaan terpuruknya karena mengingat semua kejadian itu dan berharap dapat menghentikan semuanya.


"Ku menangis melepaskan, kepergian dirimu dari sisi hidupku." Lagi-lagi nyanyian yang seakan-akan mengutarakan perasaan Adit terdengar lagi.


"Eh" Adit kembali terkejut dan menolehkan pandangan pada asal suara itu.

__ADS_1


Dan nampak tak jauh dari tempat Adit duduk, sepasang alis yang naik turun kembali mengisyaratkan sesuatu diikuti senyum khas seorang pengamen yang sedang menghibur pengunjung taman lainnya.


"Ah, udahlah balik aja." Adit pun bangkit dari tempat duduknya dan bergegas kembali ke apartemen temannya.


__ADS_2