
Dua minggu setelah Adit melihat Fira dengan lelaki lain, kini Adit terlihat sudah bisa mengikhaskan Fira, ia tidak mau egois, jika Fira bahagia dengan orang lain, Adit akan berusaha untuk berkorban.
Adit keluar dari kamar menuju ke meja makan, wajahnya terlihat segar karena basahan air masih menempel apik di sebagian wajahnya, ya Adit baru saja mandi untuk menyegarkan tubuh serta pikirannya.
"Duh seger banget ni keliatannya."
Suara Nana mengalihkan perhatian Adit, Nana tengah tiduran di sofa sambil menatap layar televisi yang entah sedang mempertontonkan apa untuk pemirsanya.
"Hmm." Hanya deheman yang keluar dari mulut Adit, ia tak banyak bicara karena hanya satu tujuannya ke dapur, perutnya meronta-ronta sejak tadi, ia lapar.
"Na."Teriakan dari Adit membuat Nana memutar bola matanya malas, Nana tau setelah ini pasti ada sesuatu yang menbuat dirinya lelah.
"Masak Na, kakak lapar ." Tepat sasaran dugaan Nana.
"Ih kakak, salah siapa tadi nggak ikut makan, sekarang udah nggak ada makanan ribut."
Nana pun beranjak dari tidurnya untuk menghampiri kakaknya di dapur.
"Kak, pergilah ke resto, Nana mapes masak."
Senggah Nana, dirinya sekarang hanya ingin bermalas-malasan.
"Bilang aja nggak mau, anak perempuan segitu besarnya males masak."
"Bodo amat."
Nana pergi meninggalkan Adit seorang diri di dapur, ia terlalu malas menanggapi ucapan kakaknya itu.
Dengan terpaksa Adit mulai membuat makanan untuk ia makan, kebetulan mama sedang tidak ada dirumah, sedangkan bibi mungkin sedang ke pasar atau hari ini cuti.
''Alhamdulillah, akhirnya kenyang."
Adit kemba,li masuk ke dalam kamarnya, pandangannya tertuju pada bingkai foto yang berada di atas meja kecil samping ranjang, ia berjalan mendekat dan mengangkat bingkai itu, dilihatnya fotonya dengan Fira, keduanya sedang tertawa lepas tanpa beban, seketika Adit teringat bayangan Fira dengan lelaki lain, iapun menyimpan bingkai foto tersebut di laci paling bawah yang sulit dijangkau oleh dirinya.
"Lepaskan, ikhlaskan Dit."
Adit mengambil laptopnya lalu keluar menuju ruang kerja yang dulu milik papanya.
Hallo Mar, gimana keadaan ok?
Terdengar suara Adit di ponsel sedang berbincang-bincang dengan Damar yang masih ada di Kalimantan.
Beres semua Dit
Adit benafas lega, selama beberapa hari ini ia memang tidak terlalu fokus pada tanggung jawabnya, untunglah Damar bisa diandalkan dan dapat dipercaya selama ini. Kini ia bisa kembali fokus mengurus kantor yang berada di Jakarta.
Nay, ke ruang kerja sekarang
__ADS_1
Baru saja telepon tersambung, Adit sudah menyambar langsung berbicara pada Nana yang masih kesal dengan tingkah kakaknya itu
Krek
"Ada apa si kak? satu jam aja nggak ngrecokin bisa nggak si?"
Mukanya terlihat jutek dan kesal.
"Ginana kantor?"
"Kakak nggak percaya sama Nana, tanya aja sama papa, perkembangan kantor setelah Nana ikut andil."
"Wah ternyata adik kesayangan kakak usah pinter nggak manja lagi."
"Huh kakak baru nyadar."
Nana merebahkan dirinya di sofa yang berada di dekat jendela, ia memejamkan matanya sejenak, sebelum kakaknya menelpon Nana tengah tertidur, makanya hawa mengantuk masih melanda Nana.
Adit masih membolak balikkan dokumen demi dokumen, memantau perkembangan kantor selama dirinya tengah kacau kemaren.
"Hmm, bagus juga hasil kerjamu Na.", Dirasa tak ada tanggapan, Adit menoleh ke arah sofa, ia tersenyum kecut melihat Nana tertidur disana."
"Masih aja kebo."
Setelah kantor beres, Adit beralih menatap laporan keuangan resto, sejak dirinya terbang ke kalimantan, keuangan resto ia percayakan pada manajer yang baru saja direkrut.
Adit masih membolak balikan lembar demi lembaran laporan keuangan resto.
Ada satu hal yang membuat dirinya bingung, mengapa pendapatan bisa meningkat drastis seperti ini, ia sempat dibuat tercengang oleh laporan keuangan tersebut, sampai akhirnya Adit memutuskan untuk menemui manajer baru restonya itu.
Adit berlalu keluar rumah dan segera melajukan mobilnya menuju resto, saat dirinya turun dari mobil ia melihat sosok yang sangat ia kenali, awalnya ia ragu untuk sekedar menyapa namun rasa ragunya ia buang jauh-jauh.
"Tante." Ucap Adit sembari mencium tangan perempuan baruh baya yang tak lain mama dari mantan kekasihnya itu.
"Eh Adit ya, udah lama nggak ketemu."
"Gimana kabar tante, ngomong-ngomong tante ngapain di depan resto sendirian?"
"Kabar tante baik, tadinya tante mau ketemuan sama temen tante disini tapi tiba-tiba dia nggak jadi dateng, makanya tante nunggu taksi lewat lagi."
Walaupun Mamanya Fira tau tentang berakhirnya hubungan Adit dengan Fira, namun mama Fira tetap bersikap baik pada Adit, bagaimanapun itu masalah antara adit dan Fira, mama tidak berhak mencampurinya.
"Kalau gitu Adit temanin makan di dalam dulu tan, tante pastii belum jadi masuk kan."
Mereka berdua masuk ke dalam resto, Adit memasankan beberapa makanan untuk sang mantan calon ibu mertunya itu.
"Sekarang udah jarang main kerumah Dit, setelah balik dari kalimantan."
__ADS_1
"Eh itu tan, tante taulah gimana Fira sama adit sekarang."
Mama menganguk-anggukan kepalanya tanda mengerti posisi Adit.
"Tan, sebenarnya apa yang Fira liat tidak seperti apa yang terjaid tan."
Adit pun nenceritakan masalah Adit dan Fira beberapa pekan yang lalu.
"Biarlah wakru yang menjawabnya nak, Jika memang kalian berjodoh pasti bakalan ada jalan untuk bersatu lagi, kesalahpahaman memang rawan dalam hubungan jarak jauh nak, yang sabar ya."
"Tidak maslah tan, Adit juga sudah belajar ikhlas dengan ini, dan maaf tan Adit terlalu sering buat anak tante nangis."
"Mama sebagai orang tuanya Fira juga merasakan sakit kala Fira disakiti oleh kamu Nak, namun mama sendiri sadar jika kalian sudah sama-sama dewasa bukan anak-anak lagi."
Setelah mendengar penjelaan Adit, mama sempat kaget, namun ia tidak bisa berbuat banyak, ia pun tak ada niatan untuk membujuk Fira, mama yakin jika mereka berjodoh pasti ada jalannya sendiri.
"Ngomong-ngomong kamu sering makan disini dit? kok pelayannya pada kenal sama kamu "
"Eh kalau itu sebenarnya, ini resto milik Adit tan."
"Subhanlaah, kamu masih muda udah hebat aja Dit."
"Nggak gitu juga tan, alhamdulillah untuk tambah-tambah pemasukan tan."
"Tante tunggu disini sebentar.",
Adit berlalu meninggalkan mamanya Fira, tak lama kemudian ia kembali dengan menenteng dua kantung kresek yang berisi makanan.
"Tante Adit anter aja ya, kalau nunggu taksi di jam segini susah tan."
Adit masih menghormati mamanya Fira, Adit berbuat seperti itu ikhlas tidak mengharapkan sedikitpun pujian ataupun modus-modusan supaya bisa kembali lagi dengan Fira, ia sudah ikhlas, walaupun masih dalam tahap proses.
"Nggak ngrepotin nak?"
"Enggak sama sekali tan, mari tan."
Adit melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan, mereka berdua banyak mengobrol didalam mobil, banyak yang mama Fira tau tentang Adit yang selama ini mama belum tau, mama Fira juga sedikiit lega karena kabar perselingkuhan adit ternyata hanyalah kesalah pahaman semata.
"Tan, adit nggak mampir ya tan."
"Kenapa?"
"Nggk papa tan, masih ada urusan yang harus Adit selesaikan, oh iya tan ini ada makanan dari resto untuk orang dirumah."
"Ya ampun makasih ya Dit, jadi ngrepotin kamu terus ni tante, kalau gitu hati-hati dijalan."
Setelah mama Fira turun, Adit kembali melajukan mobilnya, sebenarnya bukannya Adit tak mau singgah ataupun mampir, namun ia sedang dalam porses belajar mengikhlaskan dan meluoakan Fira, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menemui atau bertemu dengan Fira, selain itu ia juga tau jika kakaknya Fira, Rama masih belum bisa memaafkan dirinya, iapun oaham akan hal itu, dan untuk menghindari keributan makanya ia memutuskan untuk langsung pergi.
__ADS_1