Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Kejadian Masa lalu


__ADS_3

Disaat yang bersamaan, Fira yang asik ngobrol dengan Lisa,


"Nak Rayhan ini beneran udah nggak papa, harusnya banyak-banyak istirahat, malah nemenin Lisa main, kasihan itu kesehatannya."


"Nggak papa kok tante, ini juga emang Rayhan yang pingin nemenin Lisa, jenuh juga kalau tiap hari cuma tiduran di rumah sakit."


"Apa lagi kalau dengerin anak tante ngomel." Tambahnya sambil berbisik pada omanya Lisa.


"Kamu itu, ya pantes si Gio ngomel. Kamu itu udah dianggap adek sendiri, jadi dia pasti khawatir sama kesehatan kamu."


"Tapi rayhan nggak mau nyusahin Gio terus tante. Dia sampai berulang kali kosongin jadwal prakteknya cuma buat nemenin Rayhan." Rayhan membayangkan bagaimana dirinya terus-terusan merepotkan Gio.


"Harusnya nak Rayhan nggak perlu mikir kaya gitu, gimanapun juga kalau bukan karena nak Rayhan mungkin Gio nggak bisa jadi Gio yang sekarang." Tutur oma yang membawa mereka pada kejadian masa lalu.


BEBERAPA TAHUN YANG LALU


"Pa, Rayhan pingin pulang. Bosen di rumah sakit terus." Keluh Rayhan yang sudah mulai bosen berbaring di brangkar rumah sakit.


"Hus, kamu itu masih sakit, jadi harus tetap dirawat sampai kamu bener-bener sembuh."


"Capek ini lo tiduran mulu, pingin cepet-cepet sekolah. Nggak sabar pingin belajar." Jawab Rayhan antusias.


"Kamu yakin? Bukannya nggak sabar ketemu sama siapa itu?" Selidik ayahnya Rayhan dengan tatapan menyelidik.


"Eh apaan sih, dua-duanya lah."


"Sudah jangan bandel, kamu lanjutin istirahatnya dulu, papa mau ke kantor sebentar. Kamu jangan macam-macam disini, awas aja kalau kabur kaya waktu itu." Ayah Rayhan memelototi anaknya agar menurut.


"Iya-iya"


Ayahnya Rayhanpun meninggalkan ruangan rawar Rayhan.


Dan senyum bahagia tergambar jelas di wajah Rayhan saat ini, ia merasa bebas tak terawasi.


"Akhirnya, bisa pergi juga." Rayhan turun dari tempat tidurnya dan mengambil jaket miliknya.


Rayhan memutuskan untuk pergi dari rumah sakit dan menemui Fira, karena dia sudah sangat merindukan kekasihnya itu, tapi saat ia sampai di koridor, ia berhenti sejenak.


"Sus, kenapa mama saya nggak langsung dirawat, saya udah bawa bpjs." Tanya seorang pemuda kepada suster, pemuda itu tak lain adalah Gio, anak dari pasien yang mengalami kendala dalam biaya.


"Maaf dek, tapi nggak bisa langsung ditanganin gitu aja."


"Kenapa sus, mama saya harus cepet-cepet ditanganin."


"Maaf banget tapi emang gitu peraturannya."


Gio teelihat kebingungan harus bagaimana lagi. Ia tak tau harus berbuat apa hingga ia melihat Rayhan yang ada di dekatnya.


"Tolong tunggu sebentar sus."


Gio pun menghampiri Rayhan dan mendekap tangannya.


"Maaf, bisa minta tolong sebentar"

__ADS_1


"Eh" Rayhan kaget karena tiba-tiba Gio memegang tangannya.


"Minta tolong? Minta tolong gimana?"


"Tolong jagain mama saya sebentar"


"Eh tapi.." Belum selesai Rayhan berucap,


"Makasih ya mas." Gio langsung pergi setelah mengucapkan terimakasih.


"Hadeh, baru mau ketemu Fira. Ya udah deh."


"Maaf sus, ini pasiennya kenapa ya?" Tanya Rayhan pada perawat yang masih menunggu didekat pasien.


"Oh itu, pasien itu kekurangan biaya dan hanya punya bpjs, jadi kami belum bisa nglakuin tindakan buat pasien."


"Oh gitu ya"


Setengah jam kemudian


Brak....(suara pintu yang lumayan keras)


"Ssssstttttt, jangan berisik." Pinta Rayhan kepada seorang pemuda yang membuka pintu itu. Siapa lagi kalau bukan Gio.


Gio kaget karena mendapati ibunya yang sudah mendapatkan penanganan,


"Maaf, kenapa mama saya sudah dirawat ya?"


"Terima kasih, makasih banget. Ini ambil tabungan saya buat ganti uang perawatan mama saya, kalau kurang nanti saya lunasin."


Rayhan merasa sedikit kasihan pada Gio, demi biaya pengobatan ibunya Gio sampai dipenuhi luka hanya untuk mengambil tabungannya. Rayhan tak sanggup membayangkan apa saja yang harus Gio lalui di sepanjang jalan tadi.


"Itu masalah gampang, kamu simpen aja dulu tabungannya. Mending kamu obatin dulu luka-luka kamu itu, oh iya kita belum kenalan. Namaku Rayhan." Kata Rayhan sambil menjabat tangan pemuda itu.


"Namaku Gio, sekali lagi makasih buat semuanya."


"Sudah jangan terlalu dipikirkan, sebagai manusia sudah jadi kewajiban kita untuk tolong menolong bukan."


Memang sebenarnya Rayhan itu sosok yang baik. Meski terlihat sedikit bandel.


Brakkkk


Tiba-tiba terdengar suara yang mengagetkan keduanya


"Rayhan" Suara khas bapak-bapak yang sedang memanggil anakknya.


"Papa, papa jangan marah dulu."


Gio yang melihat Rayhan bingung mau menjelaskan apa akhirnya angkat bicara,menjelaskan apa yang terjadi pada ayahnya Rayhan.


"Oh jadi gitu kejadiannya, maaf ya Gio tadi om nggak sengaja buka pintu keras-keras."


"Nggak papa kok om, Gio yang harusnya makasih. Kalau bukan karena Rayhan, Gio nggak tau lagi gimana keadaan mama saya."

__ADS_1


"Eh ngomong-ngomong kok kamu sampai bisa luka-luka kaya gitu? Habis Gelut?"


"Tadi nggak sengaja kesrempet mobil, he he he." Disaat seperti ini ,Gio masih sempat-sempatnya tertawa cengengesan.


"Kamu aneh juga ya, masa habis kesrempet masih sempet-sempetnya ketawa." Rayhan oun dibuat bingung dengan tingkah laku Gio, seseorang yang abru saja ia kenal.


"Ya mungkin emang badan luka parah, tapi kalau kebahagian terbesar dalam hidup ini masih bersinar, apalah arti luka." Kata gio sambil melihat ke arah mamanya yang kondisinya semakin stabil.


Ayah Rayhan merasa kagum dengan kata-kata Gio,


"Oh iya om, ini tabungan Gio buat ganti biaya pengobatan mamanya Gio." Gio menyodorkan tabungannya.


Ayah Rayhan menerima dan membuka buku tabungan Gio, ia sempat terkejut pada Gio, anak semuda itu bisa memiliki tabungan dengan jumlah yang lumayan besar.


"Kamu sekarang sekolah dimana?"


"Baru lulus SMA om, tapi sekarang masih belum kuliah, lagi istirahat satu tahun, lagi nyoba buat ngumpulin biayanya dulu."


Hal itu membuat ayahnya Rayhan penasaran, tabungan Gio seharusnya cukup kalau untuk masuk universitas,


"Kok istirahat satu tahun, om liat tabungan kamu udah lebih dari cukup lo, emangnya kamu mau ambil jurusan apa."


"Gio mau ambil kedokteran om, biar besok kalau mama sakit Gio bisa ngobatin mama."


"Wah sama dong, tapi aku masih kelas satu SMA jadi masih lama." Rayhan sangat antusias menimpali jawaban Gio karena mereka mempunyai keinginan yang sama yaitu menjadi dokter.


"Bedalah, kamu itu malas. Contoh dong ini nak Gio"


"Gio, ini tabungan kamu simpan dulu, soal biaya rumah sakit kamu nggak usah mikirin."


"Nggak usah om."Elak Gio tidak enak hati.


"Nggak papa, terus besok kalau ada waktu ikut om ya."


"Tapi?"


"Nggak pakai tapi-tapian, besok biar Rayhan yang nemenin mama kamu, Rayhan juga masih dirumah sakit, sekalian jadi hukuman buat dia karena mau kabur dari rumah sakit."


"Apa..., kan Rayhan juga pingin ikut."


"Udah kamu besok disini dulu."


"Kalau boleh tau besok mau kemana ya om?"Tanya Gio penasaran.


"Udah kamu ikut aja, kan disini ada Rayhan."


"Iya gi, kamu ikut papa aku aja, nanti aku yang jagain mama kamu." Rayhan tulus ingin menjaga mamanya Gio, lagian ia juga tidak bisa menolak permintaan ayahnya, ia juga tidak bisa kabur-kaburan lagi.


Gio merasa senang karena masih ada yang perduli pada mamanya, dia juga senang karena bisa bertemu dengan orang baik seperti Rayhan dan ayahnya.


"Ray kamu temenin nak Gio buat ngobatin lukanya dulu, nanti kalau mamanya Gio udah stabil kondisinya nanti ayah samain sama ruangan kamu, jadi kamu ada temen nya."


"Laksanakan ayahanda." Rayhan mengajak Gio keluar dari ruangan rawat mamanya.

__ADS_1


__ADS_2