Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Berbahagialah


__ADS_3

"Ma, Fira berangkat ya." Pamit Fira sambil mengambil tasnya yang ada di sofa.


"Iya hati-hati, oh iya katanya kamu mau nganter Lisa."


"Iya ma, nanti Fira kabarin omanya Lisa terus nunggu diluar." Fira berlalu menuju pintu.


"Ya udah kalau gitu, hati-hati nak."


"Iya ma, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Alangkah terkejutnya Fira saat mendengar jawaban salam itu, karena bukannya mama yang menjawab melainkan Lisa yang sudah menantinya dengan tersenyum manis.


"Eh Lisa udah di sini, kok nggak masuk dulu?" Lisa yang sedikit terkejut beelrusaha menetralkan detak jantungnya secara perlahan.


"Tadinya sih mau masuk, tapi ni papa nggak ngijinin, katanya nunggu di sini aja." Jari telunjjuk Lisa menunjuk ke arah Gio.


Fira pun melihat ke arah Gio hingga pandangan mata mereka bertemu, baru tiga detik mata mereka bertemu Gio segera mengakihkan pandangannya menghindari tatapan Fira.


"Lisa udah makan?" Tangan Fira terulur untuk merapikan baju Lisa yang sedikit berantakan.


"Udah, tadi dirumah dimasakin papa, enak lokak, kapan-kapan kakak bisa cobain, iya kan pah?" Lisa memuji papanya di depan Fira, Lisa hanya ingin memberi tahu Fira bahwa papanya adalah papa yang hebat, Gio yang dipuji anaknya didepan Fira pun hanya bisa tersenyum canggung.


"Iya sayang."


Fira melihat ke arah jam tangan yang melingkar di tangannya.


"Udah siang, yuk berangkat." Fira menggandeng tangan Lisa.


"Punten." Tiba-tiba saja Rama keluar dari dalam rumah menghampiri mereka bertiga.


"Eh ada Gio, kok nggak masuk. Salaman dulu itu sama camer."


"Kak Rama." Mata Fira menatap tajam ke arah Rama, tangannya tak tinggal diam.


"Aw aw, aduh sakit Ra ampun. Gi, Gi tolong Gi ini pacarnya lo dibilangin biar nggak jahat sama orang." Rama yang mendapatkan serangan mendadak dari Fira pun sedikit merasa sakit, namun ia tahan dengan tawanya.


"Oh kanjeng gusti Rama minta dibantu? Boleh boleh boleh." Bukannya membantu, Gio malah ikut-ikutan mencubit lengan Rama, ia bahkan memutar jarinya agar cubitannya sedikit terasa


"Aw, sakittt, udah-udah ampun. Lisa cantik bantuin kakak ya." Rama yang mendapatkan serangan dari Fira dan Gio pun memutuskan untuk meminta bantuan pada si kecil Lisa.


Lisa yang mendengar permintaan Rama berfikir sejenak.


"Ok Lisa bantuin." Lisa mencontoh apa yang dilakukan papa dan Fira, ia juga ikut andil mencubit Rama.

__ADS_1


Dan terjadilah adegan cubit-cubitan diantara mereka.


Mamanya Fira yang tak sengaja melihat kejadian itu dari jendela hanya bisa tertawa sekaligus merasa bahagia karena melihat Fira begitu bahagia.


"Ma, mama liat apa. Kok ketawa sendiri liat ke luar?" Dinda merasa asa yang aneh pada merruanya itu.


"Itu lo coba kamu liat." Mama menunjuk ke arah luar jendela.


"Ya ampun mereka itu selalu deh."


Secara tidak disadari, sekarang Dinda pun merasa bahwa perpisahan Fira dan Adit bukanlah sesuatu yang buruk bagi Fira, Dinda juga merasa kini Fira bisa mulai bangkit dan melupakan hal buruk yang pernah di alaminya.


"Din, gimana menurut kamu?"


"Gimana apanya ya ma?"


"Itu lo Gio."


Terlihat Dinda menghela nafasnya sambil tersenyum kemudian menanggapi pertanayaan dari mertuanya itu.


"Kalau menurut Dinda, sekarang Fira keliatan lebih ceria setelah kejadian itu. Apalagi kalau Dinda liat Fira sama Lisa sudah kaya ibu dan anak yang tak terpisahkan."


"Walau mungkin Fira tak memiliki rasa ke Gio, tapi Dinda rasa itu bukan hal yang buruk ma, rasa akan ada karena terbiasa."


"Mama juga sependapat sama kamu, kehadiran Lisa membuat Fira bangkit dari keterpurukannya."


"Oh iya Din, gimana menurut kamu kalau kita bantu Gio sama Fira biar bisa lebih dekat lagi"


"Bagus juga sih ma, tapi gimana caranya buat mereka dekat tanpa kita maksain Fira? Soalnya Fira kayaknya masih ada rasa sama Adit, dan mungkin sebaliknya."


"Kita nggak perlu terlalu ikut campur soal hubungan mereka, biar itu Fira yang mutusin. Kita bantu aja buat Fira nemuin kebahagiaannya saat ini, karena mama nggak mau liat Fira terpuruk lagi."


"Iya ma, Dinda setuju. Tapi gimana caranya?"


"Gampang, kan ada Lisa."


"Iya juga ya, bener kata mama. Minta tolong aja ke tante ma, biar Lisa sering-sering main ke sini, nah itu kan juga membuka kesempatan buat Gio kesini ma."


"Iya nanti mama minta tolong ke omanya Lisa"


"Udah-udah ok ampun."


"Rasain, makanya nggak usah usil."


"Iya-iya ampun, kamu juga sih Gi. Malah bantuin Fira bukannya nolong temennya."

__ADS_1


Gio tak menanggapi ucapan Rama dan memalingkah wajahnya, sementara itu Lisa belum bisa berhenti tertawa.


"Wah ini ni, si cantik juga tadi nggak bantuin kakak ganteng ini." Rama mencubit pipi Lisa gemas.


"Habisnya kakak lucu."


"Iya dong, selain ganteng, kakak ini kan juga lucu."


"Ih pd nya." Sanggah Fira tak terima.


"Biarin, sirik aja. Mentang-mentang nggak ada yang pernah bilang kamu lucu."


"Ada kata siapa nggak ada, yuk Lisa kita berangkat aja. Daripada lama-lama sama om ini."


"Om apaan, kakak ini bukan om."Rama yang dipanggil om pun berteriak tak terima.


"Udah sana buruan ke rumah sakit. Banyak pasien yang antri mau berobat sama om." Gio pun ikut menambahkan.


"Eh eh eh, kakak bukan om. Lagian lo aja belum berangkat."


"Habis anter mereka juga berangkat." Balas Gio.


"Ayo pa, nanti Lisa telat." Teriak Lisa dari dalam mobil.


"Iya sayang."


Gio melangkah menuju mobil, namun tiba-tiba Rama menepuk pundak Gio.


"Gi, titip ya."


"Iya tenang aja, Fira aman sama gue."


"Pa ayo buruan ini telat lo." Teriak Lisa yang kembali terdengar.


"Iya sayang, ini om nya ngajakin ngobrol."


"Woy, kakak woy bukan om."


Sebenarnya Rama merasa senang pagi ini, karena ia bisa melihat adiknya bahagia. Rama senang dengan kehadiran Lisa dan Gio di dekat Fira, walau entah ada rasa atau tidak diantara mereka. Tapi Rama tau, Fira pasti bisa tertawa kalau ada mereka. Apalagi Gio adalah sosok yang sangat baik dimata Rama, ia percaya setidaknya Gio tak akan berbuat kesalahan yang sama seperti Adit. Karena Rama tahu benar bagaimana sifat Gio, dia bukan tipe orang yang mudah memberi hatinya pada perempuan, tapi kalau dia udah suka sama satu orang, dia adalah orang paling setia yang pernah Rama kenal.


Bertahun-tahun istrinya meninggalkan ia dan anaknya, tapi belum ada sosok yang mampu mengganti tempatnya. Rama juga tahu kalau Gio juga tak mencari seseorang yang hanya dicintai dan mencintainya sebagai pengganti almarhumah, namun juga mencari yang dapat mencintai Lisa.


"Semoga kamu sama Fira beneran berjodoh ya Gi, aku yakin kamu pasti bisa bahagiain Fira sepenuhnya." Kata Rama dalam hatinya sambil menatap mobil Gio yang perlahan pergi.


Berbahagialah Ra, sudah cukup kakakmu ini melihat air mata mu.

__ADS_1


__ADS_2