Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Sebuah Kotak


__ADS_3

Tahukah kamu bahwa antara benci dan cinta itu hanya sebatas sekat yang sangat dekat, jangan terlalu mencintai karena bisa jadi kita akan membencinya dan jangan terlalu membenci karena tidak menutup kemungkinann kita bisa mencintainya.


Lama kelamaan memandang foto Fira, ada perasaan marah yang menghadang tubuh Adit, emosinya tiba-tiba naik, ia merasa dikhianati oleh Fira, Fira sendiri yang mengatakan bahwa dirinya harus berjuang tapi mengapa malah Fira mengkhianatinya, ia seakan menjilat ludahnya sendiri.


Adit membanting ponselnya di kasur, ia kecewa dengan keadaaan saat ini, mengapa cintanya harus berakhir.


Adit menghapus kasar air matanya, ya saat itu Adit meneteskan air matanya, entah bagaimana guratan cinta dalam hatinya perlahan menjadi rasa benci pada Fira, Adit benci dengan sikap dan kelakuan Fira, tega-teganya perempuan itu memainkan hatinya. Apa maunya.


Adit yang sangat kecewa sekarang seakan menutup hatinya, dan tak lagi sama. Dia tak lagi jadi adit yang ramah dan ceria. Sekarang ia nampak begitu tegas dan dingin.


"Adit." Suara keras mamanya memanggil Adit yang masih menyendiri di kamarnya, namun


Adit tak memperdulikan panggilan itu, ia masih merasa lelah dengan semua yang ia alami. Ia butuh ketenangan dalam kesendirian.


"Adit, makan dulu." panggilan mamanya untuk yang kedua kalinya, Adit yang tak mau tambah pusing pun menuju ruang makan. Adit berjalan mendekat ke arah dimana semuanya tengah berkumpul, Adit menampakan wajah datarnya, tidak sedih namun juga tidak terlihat bahagia. Hanya segelintir senyum yang tercetak pada bibirnya saat orang tuanya bertanya untuk memuaskan rasa penasaran mereka.


"Kak Adit lama banget sih, dipanggil dari tadi juga." Nana mengomel karena cacing dalam perutnya sudah meminta makan sedari tadi meronta-ronta menunggu sang kakak datang untuk ikut bergabung makan.


Adit tak memperdulikan ucapan adiknya itu dan langsung duduk.


"Udah-udah jangan ribut, ayo sekarang makan." Karena tidak mau terjadi keributan, sang papa pun menengahi dengan memulai acara makan tersebut.


Adit mengambil nasi dan lauk yang ada di depannya, entah mengapa selera makannya hilang, ia hanya memandangi makanan yang ada di depannya tanpa berniat mencicipinya walaupun sesuap.


"Dit, kok nggak dimakan?" Melihat tingkah Adit yang semakin aneh, membuat mama tak tahan untuk tidak bersuara.


"Iya mas Adit. Harus makan yang banyak, apalagi dari tadi belum makan." Adit menoleh ke arah Nayla sebentar, ia baru sadar jika disini ada Nayla.


Adit pun hanya tersenyum, karena tidak mau mendengar pertanyaan dari orang-orang Adit pun mau tidak mau harus menyuapkan beberapa sendok makanan ke mulutnya.


"Adit udah selesai makannya, Adit mau balik ke kamar." Adit meninggalkan meja makan, ia bahkan tidak menghabiskan makanan yang cuma beberapa sendok.


"Huhff, kenapa dengan kakakmu Na?"


"Enggak tau tu pa, dari tadi kayaknya suram banget, aneh pulang dari Kalimantan bukannya seneng malah uring-uringan kaya gitu."


"Ini pasti gara-gara Fira." Ucap mamanya Adit yang membuat papa menoleh ke arahnya, kerutan di dahinya beransur mulai timbul.


"Gara-gara Fira? Memangnya ada apa dengan mereka?"


"Biasa om, dalam hubungan pasti ada pasang surutnya, mungkin lagi ada sedikit masalah diantara keduanya." Nayla menjelaskan dengan suara lembut.


Ting..tonggg


"Siapa yang bertamu jam segini?" Untuk kedua kalinya dahi papa menimbulkan kerutan demi kerutan lagi.


"Biar Nana aja yang bukain." Nana beranjak dari duduknya, mencuci tangannya terlebih dahulu lalu menuju ke arah pintu.

__ADS_1


Nana membuka pintu dan alangkah terkejutnya ia karena tak mendapati seorangpun di depan pintu.


"Maaf cari siapa?" Nana menengok ke arah samping kanan kiri pintu, tidak terlihat sesorang pun disana.


"Loh kok nggak ada orang. Ini kotak apa?"


Matanya menemukan sebuah kotak yang tergelatak tidak jauh dari pintu, ia mengambil kotak tersebut dan kembali masuk ke dalam rumah.


"Siapa Na?"


"Nggak tau Pa, tadi nggak ada orang. Nana cuma nemuin kotak ini." Nana memperlihatkan kotak yang ia temukan itu.


"Kotak apa itu, kok aneh tiba-tiba ada kotak di depan pintu."


"Coba sini Na, mama liat." Kotak yang awalnya ditangan Nana kini berpindah ke tangan mama, Mamanya Adit pun membuka kotak itu dengan hati-hati.


"Apa-apaan ini?" Nada suaranya meninggi, yang membuat semua orang semakin penasaran dengan apa yang ada dalam isi kotak tersebut.


"Ada apa tante?"


"Kenapa Ma?"


"Coba sini Papa lihat."


Ketiga orang yang disana pun saling bersautan bertanya pada sang pembuka kotak.


"Pantas saja Adit jadi seperti itu, ternyata ini sebabnya." Ucap mamanya Adit dengan sangat kesal, ia tak menyangka bahwa Fira akan bersikap seperti ini, apa ini artinya Fira mengkhianati Adit?


Papanya Adit pun masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya, namun ia merasa janggal akan kejadian ini, seakan ada yang sengaja menjatuhkan Fira. Papanya adit pun memutuskan menyuruh semua orang untuk beristirahat agar keributan itu tak bertambah.


"Udah-udah, Nana sama Nayla istirahat ya, ini udah malam."


"Tapi Pa."


"Nggak tapi-tapian, Nay tolong temani Nana ke kamar."


"Iya om."


"Ayo Na." kata Nayla sambil menggandeng tangan Nana.


Nana tidak percaya dengan apa yang ada dalam kotak itu, ia juga merasa ada yang janggal dengan semua ini.


Siapa orang yang mau merendahkan Fira?


Apa tujuannya mengirimkan foto itu kemari


Apa selama ini Fira punya musuh

__ADS_1


Atau itu hanya foto editan


Berbagai pertanyaan muncul di benak Nana, Nana menggeleng-gelengkan kepalanya karena bingung dengan semua ini.


"Nay, Fira nggak mungkin kaya gitu kan? Kamu tau Fira kan Nay, Fira orang baik, fira nggak mungkin mengkhianati kak Adit."


"Sudah ya kak, kita nggak tau yang sebenarnya, Nayla juga tau kok kalau kak fira orang baik."


"Nah kan Nay, ini pasti ada yang nggak suka sama Fira atau dendam dengan Fira, aku nggak habis pikir siapa si yang ngirim foto itu kemari, apa coba motivasinya."


Setelah Nayla membawa Nana ke kamar, mamanya Adit pun mulai lagi dengan masalah Fira .


"Lihat itu, apa-apaan maksudnya."


"Kenapa sih marah-marah, semuanya bisa diselesain dengan kepala dingin ma."


"Iya dingin, sampai membeku sekalian. Lihat aja kelakuan Fira, kemarin dia marah ke Adit cuma gara-gara Nayla numpang di apartemennya, apalagi itu kan mama yang nyuruh karena takut Adit kenapa-kenapa kalau nggak ada yang jagain. Lah sekarang dia malah romantis-romantisan sama laki-laki lain, sampai dikasih cincin segala, pantes aja Adit jadi kaya gitu."


"Udah, mungkin aja ini cuma salah paham." Papa mencoba meredakan amarah sang istri.


"Salah paham apanya, apa kamu nggak lihat gimana Adit tadi?" Semburat amarah masih terlihat pada bola mata mama.


Papanya Adit memang merasa kalau Adit sekarang dalam kondisi yang mengkhawatirkan, ia takut anaknya akan berubah, tapi tak bisa dipungkiri bahwa ia benar-benar merasa ada yang aneh dengan foto itu.


"Itu bisa kita bahas besok lagi, ini udah malam. Kita istirahat dulu."


"Huhff, terserah papa." Mama pergi menuju kamarnya.


Keesokan harinya


"Pagi Pa, Ma, Nay." sapa Nana sambil duduk di meja makan.


"Pagi Nana." Sahut Nayla dengan ramahnya.


"Na, coba kamu panggilin kakak kamu, udah jam segini belum keluar."


"Udah Nana panggil tadi, tapi katanya nanti nyusul suruh makan dulu aja."


"Nanti kamu anterin aja makanan kalau Adit belum keluar dari kamarnya." Perintah papa Adit kepada istrinya.


Baru selesai papanya berkata, Adit keluar dari kamarnya dan langsung berpamitan untuk ke kantornya.


"Pa Ma, Adit berangkat." Adit mencium kedua tangan orang tuanya itu.


"Sarapan dulu Dit, nanti kamu lemes kalau nggak sarapan."


"Enggak ma, Adit nanti beli aja di deket kantor." Adit segera pergi meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


Adit merasa tak nyaman, dia ingin sendiri, ingin sebuah ketenangan. Namun karena pekerjaannya ia harus tetap datang ke kantornya.


__ADS_2