Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Aditya


__ADS_3

Setelah menunaikan sholat Sunnah aku turun ke dapur, tanpa sengaja aku melihat ponsel Nana berdering.


"Dasar bocah, ponsel ditinggal-tinggal sembarangan."


Saat ku angkat panggilannya, ternyata Suara Fira disana.


Sebelum mengangkat aku tak sempat melihat siapa yang menghubungi Nana.


Pagi-pagi mendengar suaranya, hati ini merasa sangat tenang, jantung pun berdebar-debar.


Dibalik kepolosannya, ternyata Fira orang ya agak cerewet jika dengan sahabatnya, belum sempat ku menjawabnya ia sudah berbicara panjang lebar, aku sedikit tertawa ketika mendengar ocehannya.


Kemantapan hatiku untuk melepaskannya mengikhlaskannya walaupun hati ini terasa sakit.


Tanpa sepengetahuanku, ternyata kedua orang tuaku ingin memperkenalkan seorang gadis padaku, ya itu adalah anak dari teman lama papa.


Awalanya kukira ini semacam perjodohan tapi ternyata tidak, Papa bilang aku bisa mendekatinya dulu mencari tau tentangnya, jika cocok boleh lanjut jika tidak semua tergantung padaku.


Aku mulai memikirkannya, aku rasa ini salah satu cara agar aku bisa mengikhlaskan Fira, Membiarkannya bahagia dengan orang yang ia cinta, walaupun aku tak tau siapa dia, tapi aku berharap Fira bisa bahagia dengannya.


Mungkin ini terlihat seperti pelampiasan, tapi aku adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab, aku tidak akan menyakiti hati perempuan, karena aku sangat menghormati perempuan.


Nana tidak tau tentang rencana orang tuaku ini, aku meminta mama dan papa untuk menyembunyikannya dulu dari Nana.


~


Hari sudah menjelang pagi, matahari mulai naik ke atas permukaan, mengeluarkan cahaya yang begitu mempesona, ayam dan burung saling bersautan mengeluarkan suaranya, hembusan angin yang menerpa daun dengan embun-embunnya membuat suasana terasa sangat asri walaupun ditengah perkotaan.


"Mau kemana Dit?" Tanya mama pada Adit.


"Mau keluar bentar ma, ngumpul sama sahabat Adit." Jawab Adit menjelaskan.


"Kenapa ma, apa mama mau nitip sesuatu?"


"Tidak Dit, mama cuman mau tanya gimana dengan gadis itu, anak temen papa?"


"Adit belum mencari tau tentangnya ma, tapi Adit akan usahakan mencari tau secepatnya."


Adit adalah anak yang sangat berbakti pada orang tuanya, ia tidak pernah sekalipun membangkang, walaupun hidupnya kurang akan kasih sayang kedua orang tuanya, tapi ia sangat memahami keadaan, iapun tumbuh sebagai laki-laki yang penuh akan tanggung jawab.


"Mama sama papa nggak maksa kamu Dit, tapi kalau kamu mau kamu bisa mencobanya."


"Iya ma, Adit paham, Adit pergi dulu ya ma "


"Hati-hati nak."


Adit pergi menuju Resto miliknya, ya disanalah tempat ia akan berkumpul dengan sahabatnya, sekali menyelam minum air, ia bisa berkumpul dengan temannya sekaligus ia juga bisa memantau karyawan di restonya.

__ADS_1


Bimo, Robi, dan Rangga sudah berada di dalam resto, mereka sengaja datang cepat karena ingin menghabiskan banyak makanan, terbukti ketika Adit sampai sudah ada beberapa makanan yang habis ludes mereka makan.


"Doyan si doyan, tapi nggak bikin resto gue bangkrut dong." Ujar Adit.


"Halah ini nggak seberapa sama pemasukan harian kamu Dit. Itung-itung sedekah."


"Terserah kalian sajalah."


"Jadi gimana ni, rencana kita liburan. Lo udah bener-benr sembuh kan Dit."


"Apa gue terlihat masih sakit?"


"Jelas sembuh cepet lah, secara calon istri siang malam jagain."


"Hahah, calon istri apaan jadian aja belum."


"Wah gimana ini, kita semua udah punya pasangan Dit, tinggal Lo yang belum."


"Iya nih Dit, kan rencana liburan nanti mau ajak pasangan masing-masing, masa kamu ajak Nana Dit, nggak seru lah."


"Gampang lah, gue sendiri juga bisa."


"Ngomong-ngomong, gue mau dikenalin sama perempuan, anak temen papa ."


"Safira gimana?"


Jika masalah rebutan perempuan, kayaknya selama ini belum pernah, mereka semua saling terbuka jadi ya nggak ada yang namanya rebutan perempuan. Semoga kedepannya persahabatan mereka tetap seperti itu, syukur jika lebih baik lagi.


"Safira, kayaknya aku mau ikhlasin dia deh, susah banget dapatin hatinya, aku pernah menjadi seperti Aisyah yang menyimpan cinta dalam diam, pernah juga menjadi seperti Khadijah yang menyatakan cintanya secara terang-terangan, tapi apalah dayaku yang tetap menjadi Aditya, yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Hahahaha."


Perkataan Adit sontak membuat mereka semua tertawa, sungguh kocak perkataan Adit bagi mereka, mereka juga heran mengapa Adit menjadi sebucin itu.


"Bucin banget kamu Dit."


"Hahahah, enggak papalah sekali-kali."


"Jadi bener Dit, mau lepasin dia?"


"Dia terlalu baik, nggak tega jadinya, biarlah dia bahagia, cinta tak harus memiliki."


"Memang kita harus pesen obat buat Adit, apa perlu kita bawa ke rumah sakit jiwa sekalian?"


"Hari ini nggak ada gratis-gratisan."


"Ehh jangan gitu dong, kita semua kan bercanda."


Tiba-tiba dari arah belakang ada seorang pelayan yang menghampiri mereka berempat.

__ADS_1


"Maaf pak Adit mengganggu waktu bapak, di kasir ada sedikit insiden."


"Ok, kamu duluan saya akan nyusul."


Setelah mendapat jawaban dari Adit, pelayan itu kembali ke bagian pekerjaannya.


"Gue tinggal dulu, bentar." Pamit Adit pada sahabatnya.


Di depan kasir


"Ada apa ini?"


"Ini pak, mbak-mbak ini udah makan tapi giliran mau bayar bilangnya dia habis kecopetan dan baru nyadar ketika akan bayar, modus itu pak."


Perempuan yang sedang dibicarakan tidak terima, ia mulai angkat bicara.


"Apa mas ini pemilik resto ini?"


"Ya, saya pemilik resto ini."


"Gini ya pak, eh mas ajalah anda terlalu tua jika dipanggil pak, mas saya ini bukan modus, saya benar-benar nggak sadar kalau dompet beserta hp saya dicuri."


"Gitu ya mbak, apa mbak ada bukti?"


"Gimana mau buktiin mas, orang saya aja nggak tau kapan dicurinya ."


"Pak, mbak ini mau jamin pake alamat rumahnya, tapi kan kita nggak tau alamat itu bener apa nggak?"


"Ya Allah saya benar-benar tidak berbohong,sumpah demi Allah."


"Jangan bawa-bawa nama Allah."


"Lalu saya harus gimana."


Sebenarnya Adit tidak tega dengan perempuan itu, ia juga percaya jika perempuan itu benar-benar kecopetan, tapi entah mengapa sifat jailnya datang secara tiba-tiba.


"Baiklah mbak, anda tidak akan dikenakan untuk bayar apa yang mbak makan tadi."


"Tapi pak," Sela petugas kasir tidak terima yang dengan cepat diisyaratkan untuk diam oleh Adit.


"Tapi Mbak, harus mencuci semua perabotan dan piring-piring kotor yang ada dalam restoran ini, sehari penuh."


"Astaga maaf ya mas,saya bukan pelayan yang bisa untuk disuruh-suruh, saya pinjam ponsel mas, saya akan menghubungi papa saya."


Adit menyerahkan ponselnya pada perempuan itu, tapi mungkin nasib baik sedang menjauhi perempuan cantik itu, semua panggilan tidak ada yang tersambung.


"Baiklah saya akan mencuci piring disini, tapi sampai jam 3, karena habis itu saya ada kelas."

__ADS_1


"Hmm, ok saya terima tawaran kamu."


__ADS_2