
'Jadi inikah maksud dari semua keputusanmu Ra, aku benar-benar tertipu oleh senyuman mu, aku bodoh.'
Hati siapa yang akan terima jika sudah dibohongi apalagi diberi harapan palsu, itulah yang terjadi dengan Adit, setelah ia melihat bukti-bukti lewat foto, sekarang ia melihat bukti secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.
Mau mengelak sudah tidak bisa, ia sudah menyaksikan sendiri kajadian di depan matanya.
Hatinya sakit, sungguh sakit, namun ia berusaha untuk tenang tidak terbawa emosi.
'Mungkin memang ini jawabannya, aku salah, semesta bukan mengirim dirimu untuku Ra, namun memberikan tempat singgah untukmu di hatiku, berbahagialah jika dengannya kamu bisa bahagia, maafkan aku yang telah berulang kali menyakitimu, berbahagialah mantan kekasih.'
Ya itulah yang saat ini dipikiran Adit, Adit menyerah dengan keadaan, bukan menyerah tepatnya ia hanya ingin berdamai dengan keadaan, mengesampingkan emosinya, ia tidak mau sampai terbawa emosi, walau bagaimanapun ia dan Fira sudah putus dan sudah menjadi mantan kekasih, ya mungkin Fira sempat memberikan kesemp tan bagi dirinya, namun Fira sendiri yang mengingkarinya, Adit tidak mau menyalahkan Fira, yang saat ini ia ingin lakukan hanyalah satu berdamai dengan keadaan, mungkin jalan itulah satu-satunya yang tepat.
Adit kembali menuju mobilnya, kali ini ia sedikit lebih tenang, emosinya pun ia buang jauh-jauh, ia sudah dewasa dan harus bisa mengambil sikap yang tepat.
Adit melajukan mobilnya kembali menuju ke kantornya, meninggalkan sang mantan kekasih yang tengah duduk berdua dengan laki-laki lain.
"Jadi gimana Ra, apa rencana ini akan berhasil." Irsyad mengakhiri penjelasannya dengan pertanyaan untuk meyakinkan dirinya dengan jawaban dari Fira.
Irsyad sudah menjelaskan panjang kali lebar rencananya, Fira hanya menambahkan bebebera hal saja.
"Bagus, pasti berhasil, semangat." Ucapnya dengan mengacungkan dua jempol, tak lama kemudian Rania dan bu Kamila datang menghampiri mereka berdua.
'Cinta memang tak selamanya harus memiliki.'
Kira-kira seperti itulah bisikan hati yang tengah mengarungi relung jiwa Rania, bukannya ia tak senang namun hatinya juga merasa sedih melihat kedekatan Fira dengan Irsyad, walau bagaimanapun Rania telah memiliki rasa dengan Irsyad.
"Hei, Rania." Dua kata yang mencuat dari bibir bu Kamila mengejutkan Rania dari lamunannya.
"Eh iya?"
"Kamu itu ditanya malah melamun, Irsyad tanya tu kamu mau pesan apa."
Irsyad sudah dua kali menanyakan apa yang akan Rania makan, namun Rani malah makin hanyut dalam lamunannya sampai bu Kamila menyadarkannya.
"Eh, pesan ya, mie ayam aja deh." Karena gugup dan kaget, Rania asal menyebutkan menu yang ada di depannya itu.
Ketiga orang yang semeja dengan dirinya pun melongo melihat sikap aneh Rania.
__ADS_1
"Yang benr kamu pesan mie ayam?" Tanya Fira memastikan, karena yang Fira tau temannya itu paling anti dengan mie ayam.
"Tiba-tiba pingin aja." Jawabnya asal, ia tidak tau harus menjawab apa lagi. Pikirnya tak apalah sekali-kali mencicipi makanan yang bernama mie ayam itu
"Ok aku pesan dulu."
Irsyad beridir dari duduknya untuk memesan makanan, dan tak lama ia kembali dengan nampan yang berisi makanan pesanan rekan kerjanya itu.
Semua makanan sudah berada di depan meja pemesannya masing-masing, Rania yang baru tersadar akan kelalainnya pun menjadi resah sendiri, pasalnya memang benar ia tidak suka dengan mie ayam, melihatnya saja sudah membuat perutnya enek tidak nafsu makan.
Fira dan Bu Kamila sudah melahap makanan pesananan masing-masing, sedangkan Irsyad yang tau keresahan Rania pun tanpa aba-aba menukar mangkok mie ayam milik Rania dengan mangkok bakso pesanannya.
"Eh."
"Sudah makan saja, aku tau kamu tidak suka mie ayam kan." Rania yang kaget sekaligus teharu dengan perlakuan Irsyad pun hanya bisa diam, pipinya sedikit memerah namun tidak terlihat begitu jelas.
'Kenapa malah perhatian gini si.'
Mereka berempat telah menyelesaikan makan siangnya, mereka pun beranjak untuk meninggakkan tempat makan itu dan kembali ke ruangannya.
Sebelum masuk ruangan, Fira singgah dahulu ke toilet untuk sekedar merapikan kerudung dan make upnya.
Dinda yang menelepon, ia meminta tolong pAda Fira untuk membelikan beberapa keperluan Rasyid yang sudah mulai menipis.
'Pulang nanti mampir supermarket nih, duh udah lama rasanya nggak pernah belanja.'
Setalah selesai dengan urusannya, Fira kembali ke ruangannya.
"Ra, tolong kamu kerjakan laporan yang ini ya, tugasku numpuk."Pinta Irsyad pada Fira.
"Duh mas, maaf ni bukannya nggak mau, tapi laporan yang harus Fira kerjakan masih banyak, gimana kalau minta tolong mbak Rania aja mas."
Irsyad pun menoleh ke arah Rania yang sedang fokus menatap layar monitor sebenarnya ia tidak sedang fokus melainkan ia sedang mengalihkan perhatiannya sambil sesekali mendengarkan apa yang Irsyad dan Fira bicarakan.
"Ran, bisa minta tolong nggak?"
"Eh iya, minta tolong apa ya?"
__ADS_1
"Bantu selesain laporan ini ya, setengah jam lagi akan diminta oleh pak Wawan."
"Oh ok , kebetulan lagi nggak ada yang harus dikerjakan nih."
Rania dengan senang hati membantu pekerjaan milik Irsyad, entalahlah walaupun perasaannya mungkin tak terbalas tapi membantu meringankan beban orang yang ia suka sudah membuat ia bahagia, memanglah benar kata orang bahagia sesederhana itu.
Rania mengerjakan laporan dengan fokus dan jeli, ia tidak mau ada kesalahan dalam laporannya itu.
Setengah jam kemudian, benar saja dokumen atau laporan yang dikerjakan Rania sudah ditanyakan oleh pak Wawan lewat teleponnya.
"Ini udah beres." Setelah telepon dari pak Wawan selesai, Rania pun beranjak mendekat dan menyerahkan berkas kepada Irsyad.
"Ok thanks ya, nggak tau deh kalau nggak ada kamu Ran, aku pasti bakalan kena marah pak Wawan."
"Nggak masalah."
Irsyad berlalu keluar ruangan untuk menyerahkan laporan pada pak Wawan.
"Ekhem kayaknya ada yang bahagia ni."
"Ih kamu apaan si Ra."
'Justru aku iri sama kamu Ra, kamu bisa sedekat itu dengan Irsyad sedangkan aku, hm boro-boro, dari dulu gini-gini aja.'
Irsyad kembali lagi ke ruangan dengan langkah santai dan senyum sumringah.
"Duh bahagianya, laporan beres ya Syad."Tanya bu Kamila.
Rania yang mendengarnya pun tersenyum lega karena hasil kerjanya memuaskan, terlihat jelas dari raut wajah Irsyad saat ini.
"Kayaknya beres bu, belum di cek pak Wawannya baru kedatangan tamu "
Selang dua puluh menit, telepon di meja Irsyad berdering, pak Wawan yang kembali menghubungi Irsyad untuk kembali menemuinya.
Tak ada sepuluh menit Irsyad sudah kembali keruanganya dengan wajah yang berbeda seratus delapan puluh derajat daei wajah cerianya tadi, wajahnya terlihat frustasi entah apa yang terjadi, hal itu mengundang banyak pertanyaan di benak ketiga rekannya.
Irsyad mendudukkan tubuhnya di kursi, ia menyenderkan kepalanya, wajahnya ia tutup dengan tangan, ia terlihat sangat-sangat frustasi.
__ADS_1
"Kenapa?"Bu Rania mulai angkat bicara.
"Kacau bu, Irsyad kena SP dari pak Wawan."