Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Separah Itukah...


__ADS_3

Mereka bertiga telah sampai di taman dimana banyak sekali orang-orang bahkan keluarga yang bermain di taman tersebut, mereka semua menghabiskan weekend bersama di taman. Seperti yang dikakukan okeh Fira, Gio dan juga Lisa.


"Kak, Ternyata ramai ya?"


Lisa nampak heran melihat banyak sekali orang yang berlalu lalang di taman.


"Ini kan minggu sayang, jadi semuanya pada libur."


Lisa hanya manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari Fira.


"Kalian cari tempat duduk dulu ya, papa mau beli sesuatu dulu."


"Ok pa."


Gio berlalu pergi meninggalkan taman untuk membeli beberapa camilan, tadi rencanya ia akan membeli camilan sekalian berangkat, namun ia lupa dan baru saja mengingatnya.


Fira dan Lisa berjalan mendekat ke arah bangku taman yang lumayan panjang, cukuplah untuk duduk bertiga.


"Kakak, aku main disitu ya." Tunjuk Lisa pada ayunan yang berada tidak jauh darinya.


"Sendiri berani?"


"Berani dong kak, itu ada banyak temen disitu."


Fira melepaskan Lisa ke tempat bermain, namun ia tetap mengawasinya.


"Fira." Tiba-tiba saja Fira dikejutkan oleh kedatangan Rania di taman itu.


"Eh, kamu ngagetin aja."


Rania hanya tersenyum cengengesan. Ia mulai menjatuhkan bobot tubuhnya tepat di samping Fira.


"Btw sendiri kamu?"


"Eh ya nggak dong, sama Irsyad."


Fira hanya ber oh ria menanggapi ucapan Rania, sampai di menyadari sesuatu.


"Ih kalian tu, makin lengket aja, tapi kok ngomong-ngomong kalian belum traktir aku."


"Hahaha, dasar tukang makan tapi nggak gemuk-gemuk."


"Siapa yang tukang makan tapi nggak gemuk-gemuk?" Mereka berdua kaget karena tiba-tiba ada suara yang mengulangi ucapan Rania, namun kali ini suara seorang laki-laki.


"Eh pak dokter."


"Kamu kenal sama dia Ra?"


Gio dan Irsyad menghampiri mereka, kebetulan tadi saat membeli makanan mereka bertemu dan sempat berkenalan untuk sekedar basa basi.


Mereka berlima pun akhirnya menikmati weekend bersama di taman dengan diselingi canda dan tawa.


Hari semakin sore, namun tak membuat suasana taman menjadi sepi, ada yang pergi ada juga yang datang, seperti apa ya?

__ADS_1


Seperti seseorang, kadang ada yang datang dan kadang juga ada yang pergi.


"Sepertinya Lisa kelelahan."


"Iya dok, tadi Lisa mainnya nggak mau berhenti."


"Kamu nggak papa mangku Lisa kaya gitu, emang enggak berat."


"Enggaklah dok, dokter tenang aja."


Mereka dalam perjalanan pulang, namun sebelum mengantar Fira, Gio singgah terlebih dahulu dirumah untuk menidurkan putrinya itu, Gio harus kerumah sakit untuk memantau perkembangan pasien istimewanya hari ini.


"Nggak papa kan kita kerumah dulu."


Fira hanya menjawab dengan anggukan, Fira sedang fokus menatap Lisa yang tertidur dipangkuannya, Lisa teridur dengan memeluk erat tubuh Fira.


Gio memperhatikan pandangan Fira yang tak lepas dari Lisa itu, ia seperti merasakan kehadiran istrinya disisinya.


Janji pernikahan yang kau ucapkan dulu, janji setia yang selalu kaucap dulu, itu hanya berlaku waktu aku masih hidup, sekarang dunia kita berbeda, berbahagialah, menikahlah dengan perempuan yang menyayangi mu dan juga menyayangi buah hati kita.


Melihat kasih sayang yang Fira berikan pada Lisa mengingatkan Gio pada mimpinya semalam, semalam ia bermimpi bertemu dengan mendiang istrinya, Gio merasakan mimpi semalam seperti nyata, bahkan ia merasakan kembali hal yang sangat disukai istrinya dulu, yaitu mengusap-usap pipinya sebelum Gio tertidur.


"Dok, lampunya hijau."


"Eh iya ", Gio yang tersadar dari lamunannya pun kembali menjalankan mobilnya menuju kerumahnya terlebih dahulu.


Setelah mengantarkan Lisa dan juga Fira pulang, Gio bergegas melajukan mobilnya ke rumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit, Gio masih terngiang-ngiang akan mimpinya, Gio tau Fira adalah seseorang yang sangat menyayangi anaknya, namun Gio tidak bisa egois, Fira seorang peremouan muda sudah seharusnya ia juga mendapatkan lekaki yang masih lajang bukan seperti dirinya yang sudah berstatus sebagi duda dan memiliki anak.


Suara Rayhan yang sudah tebangun dari tidurnya membuyarkan lamunan Gio.


"Eh sudah bangun kamu."


"Memangnya kamu kira aku mati?"


"Hee, bercandanya jangan gitu."


"Ray, menurutmu jika aku menikah lagi dengan seorang perempuan."


"Aku setuju."


"Hee diemlah, biarkan aku menyelesaikan ucapanku dulu."


"Hahaha, silahkan pak dokter silahkan."


"Jujur ni Ray, aku nggak tau harus berbagi sama siapa lagi "


Gio menceritakan mimpinya semalam pada Rayhan, dari awal sampai akhir, Gio tidak meninggalkan sepenggal kisahpun tentang mimpinya.


"Hmm, bentar-bentar, tolong ambilkan gelas itu."


Gio menurut saja, mengambilkan gelas untuk Rayhan, padahal sebenarnya ia tengah dierintah oleh Rayhan, namun Gio bersikap bodo amat, setelah menrima gelas dari Gio, Rayhan segera meminumnya karena tenggorokannya terasa keirng.

__ADS_1


"Biar lancar ngomongnya. Hahaha."


"Terserah kamu lah Ray."


"Menurutku ada bagusnya juga si kalau kamu menikah lagi, terkadang aku kasihan sama Lisa, umurnya masih segitu tapi dia belum pernah merasakan kasih sayang dari bundanya, ya walaupun aku tau jika mamamu merawat Lisa dengan penuh kasih sayang, tapi namanya kasih sayang seorang oma dengan seorang bunda itu pasti berbeda lah Gi, aku juga pernah merasakannya dulu, tapi aku lebih beruntung dari Lisa, walaupun mamaku dulu sudah meninggal waktu melahirkanku namun aku sudah mendapatkan penggantinya, ya walaupun hanya ibu sambung."


"Walaupun aku menikah dengan seorang perempuan yang masih single Ray, apa aku tidak terlalu egois untuk itu?"


"Kenapa egois kalau dianya juga sama-smaa mau?"


"Eh apa dianya jangan-jangan nggak mau sama kamu yang udah tua,beranak satu, bulukan, hahahha."


"Ngawur kamu, tua apanya aku sama kamu sebelas dua belas ya, malah gantengan aku Ray."


"Dokter beranak satu pdnya masih selangit."


"Assalamu'alaikum, eh ada apa ini kayaknya lagi asik."


"Om" "Papa"


Gio berdiri menyalami tangan papanya Rayhan.


"Udah lama kamu Gi."


"Belum om, baru aja."


"Udah makan kamu?" Tanyanya pada Rayhan yang tengah membuka-buka aplikasi di ponselnya.


"Sudah pa."


"Oh ya Gi, gimana perkembangan kesehatan anak bandel ini."


"Ya Allah pa, Rayhan enggak bandel pa."


"Kalau dilihat-lihat si perkembangannya cukup bagus om, tapi kalau enggak segera ditindak lanjutin, takutnya efek belakangnya om."


"Dengar kan kamu Ray, sampai kapan kamu mau terus bejruang dengan obat-obatan, kamu bisa keluar negeri, disana banyak dokter-dokter profesional."


"Pa."


Gio merasa prihatin dengan kondis Rayhan saat ini apalagi melihat papanya Rayhan sampai menitikkan air mata.


"Papa hanya nggak mau kamu juga pergi ninggalin papa nak, papa hanya punya kamu sekarang."


"Pa Rayhan akan sembuh, Rayhan baik-baik aja, papa percaya sama Rayhan."


"Apa perlu papa panggilkan mantan terindahmu biar kamu mau dibawa keluar negeri Ray." Entah ada angin apa tiba-tiba papanya Rayhan menyebut sesuatu yang membuat kenangan lama Rayhan dengan Fira terbuka lagi.


Fira, apa kabar, sudah lama rasanya kita tak jumpa


Rasa Rindu, rindu yang sudah ia pendam selama bertahun-tahun kembali menyeruak di dalam hatinya, ya mantan terindah, tentu saja Fira.


"Separah itukah penyakit kamu Ray?"

__ADS_1


Seseorang berhijab tak sengaja mendengarkan percakapan antara ketiga orang yang ada dikamar ruangan rawat Rayhan. Air matanyapun tak segan menetes, ia berlalu pergi menjauh dari sana.


__ADS_2