Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Permintaan Lama


__ADS_3

Mungkin ini memang bukan jalanku, jika ia tak bisa menerima diriku dalam hidupnya, aku akan ikhlas setidaknya ia bisa bahagia walaupun bukan denganku.


Ya Allah jika memang di bukan jodohku maka ikhlaskan lah hamba untuk melepaskannya, hamba cuman ingin liat ia bahagia, cinta tak harus memiliki.


Aamiin


Pagi ini Adit terbangun dari tidurnya, karena merasa tidak ngantuk lagi, ia memutuskan untuk menunaikan sholat Sunnah sepertiga malam, ia memang jarang melakukannya, tetapi disaat ada kesempatan seperti ini ia tidak akan menyia-nyiakannya.


Adit merasa jalannya untuk mendapatkan Safira sudah sampai diujung, ia tidak akan lagi mengejar-ngejar cinta Safira, ya mungkin dia lelah dan memilih untuk mengikhlaskan Safira, membiarkan Safira bahagia dengan orang yang dicintainya, cinta memang tak harus memiliki, melihat orang yang kita cintai bahagia mungkin itulah arti cinta sebenarnya.


Sementara di sisi lain, Fira susah sekali untuk memejamkan matanya, berulang kali ia beralih posisi tapi tetap saja matanya enggan untuk terpejam, setiap ia mencoba memejamkan matanya ia kembali terbangun, melihat jam nyatanya jarum jam pun bergerak sangat lambat. Jam 1 Jam 2 Jam 3 Ia sama sekali belum bisa memejamkan matanya, pikirannya terus terngiang-ngiang dengan perkataan Rama, haruskah ia mencoba untuk menerima kak Adit.


Fira beranjak ke kamar mandi mengambil wudhu untuk mengerjakan sholat sepertiga malam, iapun berdoa dengan khusyu'nya, tak lupa ia memohon petunjuk dengan sang maha kuasa, apakah jalan yang akan ia tempuh benar atau salah.


Setelah menyelesaikan doanya, Fira beranjak pergi ke dapur, ia baru ingat kalau hari ini hari Senin, sudah lama sekali ia tidak mengerjakan puasa Sunnah Senin Kamis, dulu waktu ia duduk di bangku SMA Rayhan selalu mengajaknya menunaikan puasa Sunnah, dengan senang hati Fira mengikuti ajakan Rayhan.


Lagi-lagi Rayhan yang ada di pikiran Fira, ya memanglah Cinta pertama sulit untuk dilupakan, apalagi kita memiliki kenangan yang berkesan dengan dirinya, sunggu butuh perjuangan dan niat yang besar untuk melupakan semua itu, sekali kita mencoba melupakan semakin jelas kenangan itu kembali ke pikiran kita, kalau sudah kaya gini jadi serba salah.


'Baiklah, tak ada salahnya aku berpuasa, lagian hutang puasa ku dibulan ramadhan kemaren belum lunas.'


Fira membuka lemari es, mencari bahan makanan yang bisa untuk dimasak dan dimakan oleh dirinya, kebetulan sekali stok udang masih terlihat banyak disana, ia mengambil beberapa buah udang.


Niat Fira ingin membuat udang crispy masakan simple kesukaannya. Fira menggoreng udang dengan sangat hati-hati, takut membuat suara berisik yang akan mengganggu tidur orang rumah, tapi nyatanya suara percikan minyak terdengar hingga ke kamar Rama, ya maklum rumah Fira adalah rumah minimalis, jarak antara kamar dan dapur pun tidak terlalu jauh.


Rama keluar dari kamarnya dan mendapati Fira sedang menggoreng sesuatu, sebenarnya bukan aktifitas menggoreng yang terlihat, ia tengah memperhatikan Fira yang melamun entah memikirkan apa.


'Kak Adit, jika aku memberi kesempatan padamu apakah kamu akan menerimanya, tapi aku belum yakin bahwa akan benar-benar menerimamu, sementara di hati dan pikiranku terus-terusan ada dia.'


"Ra." Panggil Rama mengagetkan Fira


"Astaghfirullah kakak, ngapain si ngagetin aja."


"Salah mu sendiri pagi-pagi melamun, tu udangnya udah mateng."


Fira mengangkat gorengan udangnya dan meletakan di piring, mengambil nasi lalu duduk di meja makan.


"Kamu sahur apa lapar Ra."


"Sahur kayaknya."


"Nggak jelas banget kamu Ra."


"Hmm."


"Gimana Ra dengan ucapan Kaka tadi malam."

__ADS_1


"Entahlah kak, gara-gara mikirin itu Fira jadi susah tidur."


"Oiya Ra, kamu kan bentar lagi magang kan, terus mau bolak balik pake taksi online perginya?"


"Entahlah kak, belum kepikiran sampai kesitu "


"Ra, kamu ingat nggak dulu kamu pernah minta sesuatu sama kakak."


"Sesuatu? Apa si kak Fira nggak inget apa-apa."


"Dasar, masih muda udah mulai pikun."


"Jangan mulai deh kak, Fira lagi males debat."


"Yah nggak asik kamu Ra, biasanya paling semangat kalau ribut sama kakakmu yang tampan ini."


"Hmm, kalau nggak ada urusan balik kamar sanalah kak, jangan mancing-mancing Fira."


"Ok ok santai dek, Kaka jadi takut."


"Dulu kamu pernah bilang, kak Rama besok kalau kak Rama udah jadi dokter kan gajinya gede Fira minta mobil ya kak."


Dalam hati Fira berkata,


'Ucapan yang tidak serius ditanggapi oleh Kak Rama, aku aja udah lupa.'


"Nah sekarang Kakak mau mujudin permintaan itu."


"Benarkah kak." Mata sayunya dengan sekejap menjadi berbinar-binar.


"Apa muka kakak keliatan bercanda."


Benarkah, sebentar lagi aku akan punya mobil, eh tapi kak Rama kan bentar lagi mau punya anak, kebutuhannya pasti akan banyak.


"Kayaknya Fira nggak mau mobil deh kak."


"Kok berubah gitu, tadi senang banget sekarang kok jadi nolak."


"Kakak pasti butuh uang buat lahirannya mbak Dinda, terus buat keperluan dedek bayi juga kan, lagian Fira juga nggak bisa nyetir kan jadi percuma kalau Fira punya mobil."


"Wah Wah Wah Firanya kakak udah gede ternyata, pikirannya juga udah dewasa. Ini nggak ada kaitannya sama keperluan keluarga mas kok dek, waktu gaji kakak udah lumayan kakak sengaja nyisihin uang buat beli mobil."


"Fira kan nggak bisa nyetir jadi mubazir nantinya."


"Kamu harus terima pokoknya, ini nazar kakak, dan sekarang tabungannya udah cukup buat beli mobil, jadi tugas kamu sekarang adalah belajar nyetir dulu, pake mobil Kakak juga nggak papa."

__ADS_1


"Kakak yang ngajarin?"


"Nggak, kakak sibuk. Sama Adit aja sana sekalian pendekatan."


"Kakak apaan si, kak Adit terus yang dibahas."


"Cie mukanya merah, kayaknya udah dapet sinyal-sinyal gitu deh."


Muka Fira menjadi merah ketika Rama menggodanya, entalahlah apa karena malu atau hal lainnya, Fira sendiri tidak menyadarinya.


"Ok baiklah, Fira akan belajar nyetir setelah Fira bisa nyetir, mobil harus udah ada Lo."


"Tadi senang terus nolak sekarang malah nawar, dasar sok jual mahal kamu."


"Hehehe, kakak bisa aja."


"Yasudah terusin makannya, kakak mau lanjut bubuk ganteng lagi."


"Ganteng apaan, buluk iya."


"Awas ya kamu, kamu selamat sekarang karena kakak ngantuk banget."


'Hmm, Nana. Nana pasti bisa mengajariku, secara dia udah mahir naik mobilnya, pasti dia juga nggak keberatan ngajarin aku. Ok Nana aku membutuhkanmu.'


Fira tak mau buang-buang waktu, ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi Nana.


Telepon tersambung lalu diangkat oleh penerima.


"Hallo Na, kamu udah bangun tumben jam segini bangun, eh tapi lupakan, ada yang mau aku omongin nih Na, Nana."


"Ya ."


Suara diseberang sana bukan suara Nana melainkan suara kak Adit.


"Kak Adit?"


"Nana belum bangun Ra."


"Maaf kak, Fira ganggu kakak."


"Nggak kok Na, kebetulan ponsel Nana ada di depan tv, pas kakak lewat ponselnya berdering."


Setelah minta maaf dan mengakhiri teleponnya, hati Fira merasakan sesuatu yang beda, ada getaran entah itu getaran apa.


'Apa aku mulai ada rasa sama kak Adit?'

__ADS_1


'Masa secepat itu si?'


__ADS_2