
Pagi-pagi Fira sudah sampai di kampus, niatnya berangkat pagi untuk meminjam buku di perpus sebelum kelas pertama dimulai, karena untuk kelas pertama nanti membutuhkan buku referensi dari perpus.
Setelah mendapatkan bukunya, Fira berjalan menuju ke arah kantin, di tengah perjalanan Fira berhenti karena mendengar percakapan antara dua mahasiswa di sebelahnya.
"Wah Kak Adit ternyata udah punya gebetan ya, liat cantik banget orangnya." Kata salah satu mahasiswi.
"Iya ya, eh itu bukannya si Nayla anak semester satu ya." Jawab temannya.
"Mungkin si, udahlah jangan urusi urusan orang."
Mendengar percakapan antar mahasiswa tersebut hati Fira menjadi sakit, entah sakit gegara apa. Iapun menoleh ke arah dimana Mahasiswa yang membicarakan Adit itu.
Dan alangkah terkejutnya Fira, yang ia lihat adalah Adit dengan seorang perempuan yang ia temui waktu itu, ya waktu di mall mereka sempat kenalan, kalau tidak salah namanya Nayla.
Ya Allah kenapa rasanya sakit, bukannya aku menginginkan kak Adit bahagia.
Fira dengan cepat menghapus air mata yang lolos dari matanya, ia meneruskan langkahnya menuju kantin, Fira memesan nasi goreng dan jus mangga.
Ya sedari dulu Fira sangat suka dengan jus mangga, alasannya yaitu karena dia tidak suka semua jus kecuali jus mangga, jadi menurut Fira minuman yang Fira sukai adalah jus mangga.
Fira memakan nasi goreng dengan lahap karena ia belum sempat sarapan tadi.
Lagi-lagi hatinya kembali merasakan sakit, ketika melihat dua insan yang tengah menikmati makanannya dengan diselingi canda tawa.
Adit dan Nayla, tengah menikmati makanan di kantin dengan diselingi canda tawa, tanpa mereka sadari, seseorang tengah memandang dengan perasaan pilu.
Secepat itu kak, secepat itukah kamu melupakanku, jika memang ini akhirnya kenapa tidak dari dulu saja kau bersama Nayla, kenapa harus singgah dulu menoreh luka di hati ini.
Fira terus memandangi Adit dengan Nayla, mata Adit mengedarkan pandangannya ke samping kanan dan kiri, hingga akhirnya matanya bertemu pandang dengan mata Fira, keduanya saling menatap sejenak, lalu dengan cepat Fira memalingkan wajahnya.
Bukan Fira namanya jika tidak menangis disaat hatinya sakit, air matanya kembali lolos dan dengan cepat Fira menghapusnya kasar.
Fira kuat, Fira nggak boleh cengeng
Fira menyemangati dirinya sendiri lalu berlalu pergi meninggalkan kantin, bukan meninggalkan kantin sebenarnya Fira pergi untuk menghindari pandangan matanya pada dua insan yang berada di meja paling ujung.
Hari ini Fira tidak terlalu bersemangat saat mengikuti kelas, pikirannya tengah terbang kemana-mana, hatinya masih merasakan sakit, Fira pun bingung dengan dirinya, beberapa hari ini ia tak lagi memikirkan Rayhan tapi dirinya selalu memikirkan sakit yang kak Adit torehkan di hatinya.
__ADS_1
Nana sahabatnyapun hari ini ijin tidak masuk karena sedang terserang flu, ya Nana emang sedikit manja dan lebay, flu saja membuat dirinya untuk ijin dari kelas hari ini, dasar memang Nana.
Mata kuliah terakhirpun sudah ia selesaikan, ia bergegas keluar dari ruangan dan menuju ke taman, sebelum keluar dari kampus Fira berniat memesan taksi online terlebih dahulu, tapi mungkin nasib buruk sedang melanda dirinya, ponselnya tertinggal saat tadi pagi ia terburu-buru berangkat ke kampus.
Terpaksa hari ini Fira naik angkutan umum, itupun jika ada, sudah satu jam lamanya, tetapi angkutan umum tidak kunjung datang.
Perasaan yang sedang melanda Fira membuat dirinya tak sadar melangkahkan kakinya menjauh dari arena kampus, nasibnya hari ini begitu malang.
Fira terus melangkah dengan pandangan kosong, ia berjalan menyusuri jalan raya, jiwanya ada tapi raganya entah kemana, itulah Fira saat ini terlihat seperti orang linglung.
Bahkan alampun mendukung suasana hati Fira, mendung datang membawa kabar bahwa hujan akan segera turun.
Tak lama kemudian rintik demi rintik hujan pun turun, Fira masih saja melangkahkan kakinya dengan pandangan kosong, air hujan yang perlahan membasahi tubuhnya pun tidak ia rasakan, benar-benar miris keadaannya saat ini.
Fira berhenti melangkah, tubuhnya tergelongsor kebawah, ia menangis dalam diam, tangisan yang terus disertai dengan tetesan air hujan.
"Safira"
"Safira"
"Apa yang kamu lakukan Ra."
Fira setia dengan diamnya, diam dan terus meneteskan air matanya.Tiba-tiba tubuh Fira bergetar dan sontak seseorang yang tak lain Adit itu panik, ia mendekap erat tubuh Fira dan menggendongnya masuk ke dalam mobil.
Adit segera melajukan mobilnya kerumah Fira, bukannya ia bodoh tidak membawa Fira ke rumah sakit, tapi ia tau dirumah kakaknya juga seorang dokter, ia pasti akan mendapatkan pertolongan secepatnya jika dibawa kerumah, lagian jarak posisi saat ini ke rumah Fira tidak terlalu jauh.
Di sepanjang perjalanan Fira terus meracau, Adit memegang kening Fira, ia tau Fira demam tinggi makanya ia meracau, dan racauannya itu tidak bisa ditangkap jelas oleh Adit.
Setelah sampai di depan rumah, Adit membopong tubuh Fira, mengetok pintu dengan dengan tidak hormat.
Pintu terbuka dan
"Ada apa ni, Fira kenapa?" Tanya Rama yang ikutan panik.
Adit tidak menjawab pertanyaan Rama, ia melenggang masuk dan menurunkan tubuh Fira di atas sofa.
"Kak, cepat periksa Fira." Tanpa bertanya kembali Rama segera memeriksa keadaan Fira.
__ADS_1
"Demamnya tinggi, ada apa dengannya?"
Adit menceritakan kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu, Adit tidak menceritakan secara detail karena ia sendiri juga tidak tau seperti apa kejadian sebenarnya.
Setelah diperiksa Fira dipindahkan ke kamarnya, mama menggantikan pakaian Fira yang sudah basah kuyup, mengelus lembut rambut putrinya berharap semuanya baik-baik saja.
Sementara Adit, ia masih di ruang tamu, pakaiannya sudah berubah, saat ini ia memakai pakaian santai milik Rama, sebenernya Adit ingin langsung pulang, tapi dilarang oleh mamanya Fira, karena diluar hujan semakin deras.
Adit pun menurut, ia juga sebenarnya mencemaskan keadaan Fira yang tak kunjung membuka matanya.
"Tenanglah, dia baik-baik saja, sebentar lagi juga akan sadar." Ucap Rama yang tau Adit begitu mencemaskan Fira.
Adit menganggukkan kepala menjawab ucapan Rama.
"Rama, Fira sudah bangun." Teriak mama dari dalam kamar Fira.
Rama dan adit bergegas menuju kamar Fira, namun saat di depan pintu Adit menghentikan langkahnya, Rama pun berhenti menatap Adit.
"Ayo masuk?"
Setelah mendapat ijin dari Rama, Adit pun ikut masuk ke kamar Fira.
"Gimana keadaanmu apa ada yang sakit?" Tanya Rama.
Fira tidak langsung menjawab pertanyaan Rama, pandangannya tertuju pada Adit.
"Kak Adit." Ucap Fira lirih.
"Apa sudah baikan? Kenapa tadi main hujan?"
Fira kembali mengingat-ingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.
"Maaf sudah membuat kalian semua khawatir, tadi Fira hanya ingin bermain hujan, tapi tubuh Fira nggak kuat dengan dinginnya air hujan." Jawab Fira bohong.
"Kalau nggak kuat jangan sok kuat." Kini Rama yang menjawab ucapan penjelasan Fira.
Fira bukan sok kuat kak, tapi Fira rapuh dan akhirnya tumbang.
__ADS_1