Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Keluarga Harmonis


__ADS_3

Perjalanan ke sekolah terasa sedikit canggung, Fira masih nerasa tidak enak dan menahan malu akan kejadian tadi pagi, sedangkan Gio bingung harus memulai percakapan dari mana, jadi mereka berdua memutuskan untuk saling diam, namun terkadang Fira ataupun Gio menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut si kecil Lisa.


Hanya suara Lisa yang mendominasi disini.


Fira duduk di kursi samping kemudi, sedangkan Lisa duduk di pangkuan Fira, sebelum naik ke mobil terjadi juga acara tawar menawar, Lisa yang tidak mau duduk didepan sendiri, Lalu Lisa yang minta fira duduk didepan dan Lisa duduk di pangkuan Fira, karena tidak mau ambil pusing akhirnya Fira menuruti keinginan Lisa.


Lisa terus bergerak kekanan dan kekiri karena ia merasa bahagia, ia merasa seperti memiliki keluarga utuh.


Fira yang menahan berat tubuh Lisa sedikit meringis karena pergerakan Lisa.


"Lisa sayang, jangan usil kasihan kak Fira tu jadi nggak nyaman duduknya." Gio yang melihat ekspresi Firapun mulai angkat suara.


Di sekolah Lisa


"Yey udah sampai udah sampai." Lisa bersorah riang gembira.


"Ayo pa kita masuk." Lisa menarik tangan Gio dan Fira.


"Ayo sayang." Jjawab Gio membalas ajakan Lisa sambil membawakan tas dan bekal milik Lisa.


Melihat semua ini Fira semakin merasa tak enak atas hal yang pernah terjadi dulu.


"Kakak nganter sampai sini aja ya Lisa cantik." Fira belum bergerak dari tempatnya berdiri.


"Nggak mau, maunya dianter sampai dalam." Lisa masih berusaha menarik tangan Fira.


Fira yang tak tega akhirnya mengalah untuk yang kesekian kalinya.


"Baiklah, ayo kak Fira anter sampai dalam."


"Asik, ayo masuk."


Sesampainya mereka di koridor


"Halo cantik, siapa namanya?" Tanya ibu guru.


"Lisa." Jawab Lisa seraya tangannya ia ulurkan untuk mencium tangan ibu gurunya.


"Wah namanya cantik, secantik orangnya."


Lisa yang mendapatkan pujian hanya tersenyum sambil memandangi wajah Fira dan Gio.


"Ini pasti orang tua Lisa ya, jarang-jarang lo ada orang tua yang sempat nganterin anaknya ke sekolah, biasanya cuma ayah kalau nggak ibunya aja, Lisa beruntung memiliki orang tua seperti kalian berdua."

__ADS_1


Fira hanya terdiam mendengar kata guru itu, iya tak tau bagaimana harus menyangkalnya. Terlebih lagi ia takut membuat Lisa sedih.


"Wah pantesan Lisa cantik ya, ayah ibunya juga ganteng dan cantik." Apapun yang keluar dari mulut ibu guru itu tidak lepas dari kata-kata pujian.


Gio dan Fira hanya terdiam tak mampu berkata bahkan hanya sepatah kata pun.


"Iya dong bu guru, mama Lisa cantik kan." Lisa memeluk erat kaki Fira.


"Iyasayang cantik kaya Lisa, kalau gitu bapak sama ibu langsung aja ke ruang kepompong ya."


"Siap bu guru, ayo pa ma kita keruang kelas Lisa."


Sementara itu, Gio dan Fira masih saja terdiam. Mereka bingung harus bagaimana, Gio yang merasa tak enak pada Fira pun akhirnya memutuskan untuk memberikan pengertian pada anaknya.


"Lisa sayang, lain kali nggak boleh kaya gitu ya, Lisa manggilnya jangan mama lagi, kan nggak enak jadinya sama kak Fira."Gio mensejajarkan tingginya sama seperti Lisa, iapun mengatakan hal itu dengan lembut, tangannya mengelus-elus rambut putrinya yang berbalut bando bewarna pink muda itu.


Wajah ceria yang sejak tadi tergambar pada Lisa hilang seketika, wajahnya menajdi murung dan sendu, seperti akan ada hujan yang datang, matanya pun sudah mulai berkaca-kaca.


Sebenarnya Gio tak tega melihat putrinya murung, namun ia juga tak dapat membiarkan sikap putrinya itu terus menerus karena suatu saat Lisa juga harus mengerti keadaannya.


"Anak papa jang sedih gitu to, tapi manggilnya kakak aja ya."


Fira yang melihat itu ikut merasa tak tega pada Lisa, dia tau bagaimana rasanya. Karena Fira juga harus ditinggal oleh ayahnya, dan Lisa yang tumbuh tanpa ada sosok seorang ibu bahkan tak pernah melihat langsung ibunya itu.


"Lisa nggak papa kok kalau mau manggil mama, tapi jangan murung lagi ya, ok cantik." Fira menggendong tubuh Lisa, ia menciumi pipi gembil Lisa.


Sebenarnya Gio juga tak tega melihat putrinya sedih, namun Gio hanya takut Lisa berharap lebih dengan Fira.


"Maaf ya, ini salah papa."


Lisa merasa lebih tenang dan perlahan kembali ceria lagi. Meski bukan bundanya, namun Lisa bisa kembali merasakan keluarga yang utuh.


"Lisa boleh kok manggil mama, jadi nggak perlu dipikirin omongannya papa Lisa, Lisa boleh cubit papa kalau bikin Lisa sedih." kata Fira pada Lisa untuk membuat Lisa kembali ceria. Lisa merasa sedikit tidak enak mengatakan itu pada Lisa ia juga tidak melihat kearah Gio.


Gio yang mendengar ucapan Fira pada anaknya menjadi tersenyum, entah tersenyum karena hal apa, yang jelas Gio merasa sikap Fira saat ini sangat lucu.


"Makasih mama cantik." Kini giliran lisa yang menciumi pipi Fira.


Dari kejauhan guru Lisa yang melihat kejadian itu merasa senang karena anak muridnya memiliki keluarga yang harmonis.


"Memang keluarga yang sangat harmonis."


Setelah mengantar Lisa, kini gantian Gio mengantar Fira ke tempat kerjanya, walau canggung bagi mereka namun bagaimana lagi. Gio sudah terlanjur janji pada Rama

__ADS_1


"Makasih." Ucap Gio tiba-tiba, matanya masih fokus kedepan menatap jalan.


"Buat?"


"Buat semuanya." Jawab Gio tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.


Hal ini masih terasa canggung bagi Fira.


"Makasih udah bikin Lisa bahagia, aku nggak pernah lihat Lisa sebahagia itu."Kini pandnaga Gio menatap ke arah Fira, Gio memberikan senyuman pada Fira.


Ini jadi kali pertama Fira melihat senyum Gio yang setulus itu, dibayangan Fira, Gio adalah sosok yang dingin dan selalu sibuk dengan pekerjaannya.


"Tidak masalah, Jika Lisa senang Fira juga ikut senang."


"Meski bukan apa-apa bagi kamu, tapi bagi saya itu adalah segalanya."


"Dan maaf soal tadi, jadi makin banyak kesalah pahaman yang terjadi."


"Nggak papa, dulu aku juga salah paham sama pak Dokter, dan itu membuat saya malu sendiri." Jawab Fira sambil menunjukkan deretan giginya.


"Kamu beneran nggak papa?"


"Nggak papa kenapa?"


"Karena Lisa manggil kamu mama."


"Nggak papa, kasihan Lisa. Pasti dia merindukan sosok ibunya."


Gio melihat Firra menitikkan air matanya.


"Kamu nggak papa, kalau ada yang mengganggu tentang hal ini kamu bisa langsung bilang ke saya." Gio menyodorkan sapu tangan pada Fira.


"Fira nggak papa kok, oh iya depan berhenti." Pinta Fira sambil mengusap air matanya


Mereka pun sampai di depan kantor tempat Fira bekerja.


"Makasih udah nganterin, ini sapu tangannya besok Fira balikin kalau udah di cuci."


"Nggak perlu makasih, saya yang harusnya bilang gitu. Kalau soal sapu tangan kamu simpan aja, itu pemberian Lisa, kurasa Lisa nggak akan keberatan kalau aku kasih ke kamu."


Fira menganggukan kepalanya dan tak lupa mengucapkan terimakasih.


"Akhirnya bisa berangkat kerja lagi setelah sekian lama."

__ADS_1


Fira pun langsung masuk ke dalam kantornya dan duduk dikursinya. Sudah lama ia tak berangkat bekerja, ia sangat merindukan suasana sibuknya perkantoran.


"Ku kira kamu nggak bakal berangkat lagi Ra." Fira yang merasa familiar dengan suara itupun menoleh ke belakang.


__ADS_2