
Minggu yang ditunggu oleh Lisa pun tiba dengan cerianya, pagi hari sebelum adzan shubuh berkumandang Lisa sudah terbangun, tidak seperti biasanya ia bangun sangat awal pagi ini.
Lisa keluar kamar dengan berlari menuju kamar sang papa,.
"Papa, ayo bangun siap-siap."
Gio menggeliatkan badannya, tidurnya terusik oleh putrinya sendiri.
"Sayang, masih jam berpaa ini?"
"Jam empat pah.", Mulutnya mengatakan empat namun jarinya menunjukkan angka lima membuat Gio gemas dengan tingkah putrinya itu,
"Itu lima sayang."
"Eh iya kelebihan pa hehe."
Setelah berhasil membangunkan papanya, Lisa kekuar dari kamar Gio, namun seketika ia teringat sesuatu dan berbalik lagi kedalam kamar.
"Ih papa kok bubuk lagi si." Menarik-narik tangan Gio agar segera bangun dari tidur nyenyaknya.
"Ah iya ini bangun kok, Lisa balik lagi?"
"Lisa mau pinjam hp papa."
Lisa meminta tolong pada Gio untuk menghubungi Fira, memastikan Fira tidak lupa akan rencana hari ini.
Fira yang baru saja terbangun pun merasa terganggu karena getaran dari ponselnya itu.
"Ya hallo."
"Kak Fira." Teriakan Lisa membuat Fira terkejut, ia pun melihat ke arah ponselnya, memastikan siapa yang menghubunginya, tenyata Lisa mengubunginya lewat ponsel milik Gio.
"Lisa, kok pagi-pagi udah nelpon, ada apa sayang?"
"Kak Fira nggak lupa kan."
"Enggak sayang, ini kakak udah bangun ,oaam." Fira menjawab diakhiri dengan uapan yang sempat ia tahan namun akhirnya lolos juga.
"Ih kakak masih ngantuk, Lisa mau liat kakak, kakak ayo pideocall."
"Ha, oh videocall, ada papanya lisa nggak disamping Lisa."Tanya Fira untuk memastikan keadaan dan suasana, karena ia terlalu mager untuk memakai hijabnya.
__ADS_1
"Enggak papa lagi mandi."Setelah mendengar jawaban dari Lisa, Fira pun mengalihkan panggilan suara ke panggilan video.
Terlihatlah Fira dengan rambut panjangnya khas orang bangun tidur, namun kenaturalannya tetap terpancar dari wajah Fira.
"Kak Fira cantik."
"Lisa mau gombalin kakak ya?"
"Enggak kok bener, Lisa baru kali ini liat kak Fira nggak pake hijab."
Mereka terhanyut dalam obrolan-obrolan kecil di pagi hari.
"Lisa, papa udah mandi giliran Lisa mandi ya." Tiba-tiba Gio keluar dari kamar mandi dan mendekat ke arah Lisa yang tenagh melangsungkan panggilan video dari Gio, Gio yang tidak tau pun reflek menoleh ke arah ponselnya, Fira dan Gio keduanya sama-smaa tekejut, namun yang lebih terkejut disini Fira, karena Gio melihat rambutnya dan penampilannya yang amburadul khas orang bangun tidur.
"Aaaa." Fira langsung mentup sambungan panggilan video yang tengah berlangsung.
"Cantik.", Gumamnya pelan tapi masih bisa terdengar oleh telinga Lisa.
"Ih papa, nggak boleh liat-liat dong, kan kakaknya jadi malu itu."
"Kan papa nggak tau, salah siapa Lisa nggak kasih tau papa."Gio menjawab dengan santainya tanpa merasa sedikitpun bersalah.
Setelah kejadian memalukan barusan, Fira bergegas ke kamar mandi untuk wudhu bersiap-siap menunaikan ibadah sholat shbuh.
"Uhh sayang, pagi-pagi udah bangun."Fira menciumi pipi gembul Rasyid yang umurnya hampir menginjak satu tahun itu.
Lisa pun menggendong Rasyid masuk ke dalam kamarnya, meletakkan Rasyid di atas karpet yang berada di dekat jendela
"Sebentar ya, tante mau beresin kamar dulu."
"Iyaa iyaa." Ocehan bocah kecil itu selalu membuat Fira gemas dan tak tahan untuk tidak menciumi seluruh wajah imutnya.
"Sayang ya ampun, merangkaknya jauh banget sampai kamar tante."
"Iya tu kak, tadi di depan pintu kamar."
"Sini gendong sama ayah, tantenya mau siap-siap."
Rasyid kecil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak mau, ia masih asik bermain di atas karpet dengan beberapa boneka Fira disana.
"Nggak papa kak, lagian Rasyidnya anteng gitu."
__ADS_1
"Yasudah kalau nggak mau, ayah sama bunda mau jalan-jalan berdua."
Seketika matanya berbinar dan senyuman mengembang dibibirnya, tangannya terulur tanda minta digendong oleh sang ayah.
"Huh pinter banget si anak ayah, giliran disogok aja mau, kaya siapa ya." Rama mengedarkaan pandangannya mengarah ke Fira, sikap Rasyid mengingatkan pada Fira kecil dulu.
"Daaa sayang, ante mau mandi." Fira berlalu ke kamar mandi setelah mencium kedua pipi ponakannya itu, ia terlalu malas menanggapi ucapan Rama barusan, karena Fira tau jika ditangapi maka tidak akan ada ujungnya dan bisa-bisa membuat dirinya telat bersiap.
"Uhh semangatnya, ante mau liburan sama keluarga kecil sayang." Rama berbicara pada Rasyid, bayi kecil itu seakan mengerti apa yang dikatakan ayahnya, ia pun ikut tersenyum bahkan tertawa menanggapi ucapan ayahnya tanpa ia ketahui apa itu artinya.
Setelah selesai bersiap, Fira keluar dari kamarnya untuk memakan sarapannya, sesuai janjinya Fira akan dijemput oleh Gio di depan rumahnya, Fira juga bilang supaya Gio dan Lisa tidak usah turun dari mobil, Fira akan menunggu mereka di depan pintu gerbang untuk menghemat waktu, sebenarnya bukan itu alasan utama Fira melakukan hal tersebut, tentu saja hal ini Fira lakukan untuk meminimalisir ovehan demi ocehan sang burung beo yang bernama Rama itu, ia pasti akan meledeknya habis-habisan jika Gio dan Lisa singgah terlebih dahulu dirumahnya.
"Mau bawa camilan nggak Ra?"
"Enggak usah ma, nanti beli di jalan aja." Tangannya masih memegang botol air minum yang akan ia isi dengan air putih rebusan, Fira tidak bisa minum dengan air minum mineral, ia hanya bisa minum dengan air putih rebusan, karena sekalinya ia minum air mineral pasti flu akan segera melanda dirinya.
"Fira keluar ya ma, biar nanti sekalian langsung pergi."
"Iya hati-hati."
"Ehh kok calon mantu mama nggak disuruh mampir Ra?" Teriakan Rama setelah tidak melihat sosok bayangan Fira yang telah berlalu menuju ke luar.
"Rama." Teguran sang mama hanya ditanggapi cengiran oleh Rama.
"Sini, Rasyid sama oma sini, kamu makan dulu sana Ram."
"Eh iya ma, titip bentar ya ma, Dindanya lagi nyuci."
Sepuluh menit berdiri di depan pintu gerbang, membuat betisnya sedikit kaku, Fira pun merogoh tasnya untuk mengambil sebuah benda kotak untuk menghubungi Gio.
Sebelum telepon tersambung, sebuah mobil bewarna silver berhenti tepat di depannya.
"Kakak, ayo masuk." Ajak Lisa, kepalanya nongol lewat kaca mobil yang sedikit diturunkan.
"Kaka, di belakang ya."
"Kakak di depan sama Lisa."Suah memasang wajah cemberut tanda harus disetujui permintaannya.
"Ok baiklah tuan putri." Fira masuk ke dalam mobil dan dengan memangku Lisa di pangkuannya.
"Pagi Ra."
__ADS_1
"Eh, pagi pak dokter."
Fira menjawab sapaan Gio dengan sedikit cangung, pasalnya ia masih malu mengingat kejadian tadi pagi, semoga saja Gio tidak mengingat-ingat akan hal itu