Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Bimbang


__ADS_3

Setelah pengawal suruhan Adit datang, Fira seger melajukan mobilnya menuju rumah Adit dengan dikawal oleh orang suruhan Adit, benar-benar seperti pejabat keadaan Fira sekarang ini, jika saja bukan karena Adit mungkin Fira akan mengusir para pengawal itu.


Mobil berhenti tepat di depan rumah Adit, Fira segera turun meninggalkan para pengawal yang masih setia di dalam mobil untuk mengantar Fira pulang nantinya, tentu saja itu akal-akalannya Adit yang terlalu amat mengkhawatirkan Fira.


"Assalamu'alaikum."


Pintu terbuka dan munculah sosok sahabat yang akhir-akhir ini sudah jarang bertemu apalagi berpelukan untuk sekedar melepas rindu.


Keduanya saling memeluk untuk mengurangi rasa rindu diantara masing-masing.


"Uhh kangen Ra, kok kamu makin kurus si Ra."


"Sama aku juga kangen kamu Na, kamu tu yang makin gede."


Mereka masih saling berpelukan, keduanya enggan untuk cepat-cepat mengakhiri adegan romantis itu sampai terdengar suara seseorang..


"Tamunya diajak masuk Na,"


Nana pun melepas pelukannya dari Fira, mereka masuk ke dalam rumah dengan jalan beriringan.


"Assalamu'alaikum Tante om."


Fira mencium tangan kedua orang tua Nana sekaligus orang tua Adit juga.


Gadis cantik, sopan, lembut, masa si dia melakukan hal itu, eh tapi kan lain diluar lain didalam.


"Kok baru sampai nak?" Tanya lembut sang mama pada Fira.


"Iya tan, tadi ada sedikit gangguan di jalan."


Semuanya berjalan menuju ruang makan, karena memang ini seharusnya waktu makan malam, Mama Adit pun dengan setia menggandeng tangan Fira menuju meja makan.


"Duh, yang mencoba pendekatan sama calon mantu, dari tadi digandeng terus." Goda sang papa pada istrinya.


"Iya dong pa, kita kan perlu saling kenal ya nak."


Dia hanya mengangguk sambil mensejajarkan langkahnya dengan sang calon ibu mertua.


"Panggilannya jangan om dan Tante dong Ra, panggil mama dan papa aja." Sahur Nana yang sudah duduk manis di kursi.


"Iya nak, mulai biasakan manggilnya ganti."


"Saran tante manggilnya tetep gini aja ya, besok kalau udah resmi baru bisa manggil mama sama papa."


"Iya Fira ngikut Tante aja, mana baiknya lagian Fira juga masih kaku kalau manggilnya ganti."


Sebenarnya Fira mulai merasa ada yang beda dari mamanya Adit, entahlah terkadang lirikannya terhadap Fira seperti sosok orang yang dibenci, tapi Fira tidak begitu memikirkannya, pikir Fira mungkin hanya firasat saja.


"Eh tamunya udah sampai ya,maaf Tan om, Nayla kelamaan di toilet."


"Nggak papa sayang,ayo duduk sini."


Fira tau siapa Nayla, kehadiran Nayla membuat hati Fira merasakan sedikit rasa sakit,entahlah karena apa, ditambah sang calon ibu mertua memanggil Nayla dengan panggilan kasih sayang.

__ADS_1


"Nak kok melamun, kalian udah saling kenal kan."


"Udah dong om, kita udah kenal waktu itu, iya kan Ra."


Fira masih termenung memikirkan perasaanya yang tak karuan, sampai senggolan tangan Nana mengejutkannya.


"Eh iya Om, kita udah saling kenal."


Setelah selesai makan malam,Fira membantu mama untuk mencuci piring,sedangkan Nana, Nayla,dan papa sudah bernajka menuju ke ruang keluarga.


Sok cari perhatian banget si tu Fira.


Ini Nayla yang salah nilai, apa dia cuman mau nutupin kesalahannya si.


"Mama jago masak ya, masakan mama enak." Fira mulai bicara untuk memecah keheningan diantara keduanya.


"Enggak juga kok nak, mama denger dari Adit kamu juga jago masak ya."


"Mas Adit berlebihan ma, Fira cuman bisa maska tapi belum jago."


"Ah kamu tu, benar kata Nana, kamu itu terlalu merendahkan diri kamu sendiri."


Termasuk berduaan dengan lelaki lain, salah apa anakku, hingga kau khianati, serendah itukah dirimu.


"Udah yuk, kita ikut mereka."


Fira mengikuti langkah kaki calon mertuanya itu, mereka menghampiri yang lainnya di ruang keluarga.


"Sini nak duduk sini dekat papa."


"Kamu kenapa Ra?" Tanya sang papa yang melihat mata Fira surga berkaca-kaca hendak menangis, Nana yang tau keadaan Fira, menawan pertanyaan papa.


"Kamu rindu ayah ya Ra."


Fira mengangguk dan air mata pun menetes dengan sendirinya.


Papa Adit adlaha seorang lelaki yang punya kelembutan hati luar biasa, selain sikap wibawanya ia juga mmepunya sifat yang gampang tersentuh jika melihat orang lain bersedih,


"Anggap saja papa itu ayahmu nak, sudah jangan sedih, calon mantu papa nggak boleh nangis nanti cantiknya hilang.


Fira yang mendapatkan elusan dikepalanya menjadi lebih tenang dan nyaman, ia kembali merasakan sentuhan seorang ayah, walaupun sentuhan itu bukan dari sang ayah kandung melainkan dari calon ayahnya nanti.


"Makasih pa."


"Sudah-sudah jangan menangis nanti kalau Calon suamimu tau bisa ngamuk dia sama papa, dikira papa nyakitin calon istrinya."


Benar-benar perempuan sok cari perhatian, nggak sama Tante nggak sama om sama aja, huh.


Kini mereka berlima tengah bersendau gurau di ruang keluarga, sebenarnya tidak semuanya ikutandil dalamcandaan itu, yang ikut hanya papanya Nana,Nana,dan Firasedangkan Nayaka dan mamanya Nana hanya menajdi pendengar setia sampai akhirnya...


"Huh."


"Ada apa ma?" Tanya Nana setelah mendengar dengusan dari mamanya itu.

__ADS_1


"Eh nggak papa kok, kalian terusin ngobrolnya ,mama ada urusan bentar sama Nayla,ayo Nay."


Ada apa dengan Tante, apa Tante nggak suka ya sama kedatanganku.


Sikapnya dari tadi aneh banget, apalagi lirikannya kayak orang sinis gitu, astaghfirullah Fira jangan suudzon


"Woi jangan nglamun ntar kesambet."


"Apaan si Na."


"Kalian itu kalau diliat kaya kembar ya, bedanya Fira yang lebih cantik."


"Papa jahat."


Setelah puas mengabdikan waktu bersmaa Nana dan papanya, Fira pamit untuk pulang.


Pengawal suruhan Adit masih setia menunggu Fira di mobilnya, Firapun pulang kerumah dengan keadaaan seperti tadi, dikawal ketat oleh bodyguard-bodyguard yang tidak begitu menyeramkan itu.


"Mama apa-apaan si, dari tadi sikapnya kaya gitu sama Fira, kaya nggak suka gitu."


"Maksud papa?"


"Mama itu pura-pura nggak sadar apa gimana."


"Sudah cukup, aku nggak mau kalian ribut hanya karena masalah kecil." Ucap Nana menengahi.


Sementara di lain sisi, seorang gadis cantik dengan piayama panjangnya sedang berbaring termenung diatas kasurnya, ia sampai melupakan kewajibannya untuk menghubungi sang kekasihnya.


Drtt Drtt


"Hallo, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam ya ukhti, udah sampai dari tadi nggak ngabar-ngabarin mas."


"Capek ya? Emangnya dirumah mas disuruh apa disuruh maraton ya?"


"Hahaha, ya enggaklah mas, yakalik disuruh marathon."


"Kalian berempat ngapain aja dirumah, sampai nggak ada niatan untuk menghubungi mas selama kamu disana."


"Bukan berempat tapi berlima."


"Owh ada bibi ya?"


"Nayla."


"Owh Nayla juga diundang. Pasti seru ya acaranya sampai lupain mas." Adit tidak kaget jika Nayla juga diundang karena selama ini hubungan Nayla dan keluarganya cukup baik-baik aja.


"Mas, nggak kaget gitu? Ada Nayla dirumah."


"Kenapa harus kaget? Kalau ada acara makan-makan biasanya pasti mama ngundang Nayla, Nayla tu pinter masak, dari masakan sederhana sampai yang rumit semuanya di bisa"


"Oh."

__ADS_1


Memang benar, terkadang lelaki tidak bisa membaca raut wajah perempuan yang sedang kesal, bahkan dengan tidak tau dirinya ia mengatakan kelebihan perempuan lain di depan kekasihnya.


__ADS_2