
"Ngomong-ngomong Ra, makanan kesukaan Fira apa?"
"Makanan kesukaan? Fira ma semuanya suka kak."
"Ya Allah Ra, rakus banget kamu."
"Itu namanya bukan rakus, tapi nggak pilih-pilih, hehehe."
"Ya sebelas dua belas lah, beda tipis."
"Kalau kakak suka apa?"
"Kakak suka kamu. Hahahah."
"Aish kakak ini, ditanya malah bercanda."
"Hahah, maaf-maaf kakak sukanya sup ayam."
"Berbanding terbalik sama Fira, Fira kalau ayam nggak terlalu suka si kak, sukanya sama udang."
"Oh jadi makanan kesukaan kamu udang."
"Bisa dibilang gitu si kak."
Obrolan di mobil membuat perjalanan mereka serasa sangat cepat, kini mobil kak Adit telah terparkir di depan gedung tempat acara pernikahan mantannya.
Adit keluar dari mobil terlebih dahulu, membukakan pintu untuk Fira.
"Eh Ra itu ambilin kadonya sekalian."
"Ok kak."
Mereka berjalan sejajar masuk kedalam gedung. Siapapun yang melihatnya akan mengira mereka adalah pasangan.
"Ra pegang lengan kakak ya, kali ini aja."
Fira melakukan apa yang Adit pinta.
Dalam hati Adit tersenyum penuh kemenangan, rencana membawa pasangan ke pernikahan mantan berhasil.
"Hai Aditya." Sapa salah satu lelaki yang tak jauh dari mereka.
"Hai bro apa kabar?"
"Kabar baik, wah udah move on ni kenalin dong sama pasanganmu."
"Oiya hampir lupa, Dimas ini Safira, dan Ra ini Dimas temanku."
Fira menganggukkan kepala sembari tersenyum pada Dimas.
"Wah seleramu berbanding terbalik dengan dulu ya."
"Haha bisa aja kamu, hijrah dong."
"Nggak nyangka ya selama tiga tahun di SMA ternyata kamu jagain jodoh orang. Hahahaha "
"Jahat banget kamu Mas, aku kesana dulu Mas."
"Ok baiklah, jagain Fira bro nanti bisa dilirik sana sini."
__ADS_1
Fira hanya diam dengan tangan yang setia memegang lengan Adit, ia tidak nimbrung obrolan Adit dan Dimas.
"Kak Adit nggak mau ketemu sama pengantinnya?"
"Nanti aja Ra, tu liat antriannya panjang kaya ular."
"Kita duduk dulu disana Ra."
Fira mengikuti kemanapun langkah kaki Adit, ya ini adalah pertama kalinya bagi Fira pergi ke pernikahan bersama seorang laki-laki.
"Kak Adit ambil makanan dulu ya, kamu tunggu disini."
"Ih kak Adit tega ya, Fira nggak mau sendiri."
"Sebentar kok Ra, nanti kalau kamu ikut kak Adit kita nggak kebagian kursi lagi, tu liat banyak yang berdiri kan."
"Ok lah, jangan lama-lama Lo kak."
"Siap komandan."
Sementara diujung depan di atas panggung sana sepasang mata terus memandangi dua orang yang sedang bercengkrama, sedari Adit masuk ke gedung pernikahan, sang pengantin perempuan terus memandanginya, antara rasa senang dan sedih jadi satu, seseorang yang dulunya sangat dekat dengannya namun sekarang sudah bisa melupakannya dan bersama perempuan lain.
Fitri namanya, ya Fitri juga tak menyadari dirinya juga tak jauh berbeda dengan Adit, ia sekarang sudah bersanding dengan suaminya, ya walaupun pernikahan ini atas dasar perjodohan.
"Hai aku Rara, sahabat Adit waktu SMA."
"Fira kak."
Jawab Fira sembari menerima uluran tangan dari Rara sahabatnya Adit.
"Kamu sama Adit keliatan serasi banget ya, sudah lama sama Adit."
Fira tidak menjawab pertanyaan Rara, namun pertanyaan itu dipotong oleh Adit.
"Kabar baik, sombong banget kamu Dit nggak pernah mau ikut reunian."
"Ya kamu tau aku sibuk ngurus resto "
"Iya-iya percaya yang udah jadi pak manager."
"Hahaha, bisa aja kamu, eh kamu udah kenalan sama Fira."
"Sudah, manis banget dia dit. Sholehah lagi. Nggak nyangka dia mau sama kamu yang ugal-ugalan."
"Bisa aja kamu."
"Udah nyalamin pengantinnya Dit?"
"Belum, masih antri tu."
"Yakin kuat Dit, secara kenangan kamu sama dia beuhhh nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata." Bisik Rara disamping telinga Adit.
Lagi-lagi Fira hanya menjadi pendengar setia saat Adit ngobrol dengan teman lamanya itu. Ia terlihat biasa aja ketika membahas mantan Adit, ya secara hati Fira masih tertutup rapat.
Rara pergi meninggalkan Adit dan Fira, menyapa teman-temannya yang lain.
Acara pernikahan kali ini menurut Fira semacam digabungin sama reuni, banyak banget kenalan kak Adit.
"Kak capek." Rintih Fira pada Adit.
__ADS_1
"Bentar lagi kita pulang, nyalamin pengantin dulu ya."
"Yakin kak kuat?" Goda Fira pada Adit.
"Hahaha, kuat nggak kuat harus dikuatkan dong kan kakak udah punya kamu."
"Dasar kak Adit, gombalannya nggak pernah habis."
Adit dan Fira sudah tidak lagi canggung, waktu dirumah sakit Adit sudah meminta Fira untuk tidak lagi memikirkan perasaan Adit padanya, dia tidak akan memaksa Fira ataupun memohon pada Fira, yang Adit mau hubungan pertemanan Fira dan Adit tidak terasa canggung lagi.
Adit dan Fira berjalan beriringan menuju ke atas panggung, mereka berdua mengantri pada antrian yang akan menyalami pengantin.
Kini giliran Adit dan Fira yang menyalami pengantin setelah antri cukup lama.
"Selamat ya, semoga sakinah Mawadah warrahmah." Doa Adit sambil menyalami Fitri.
Fitri merasakan ada getaran ketika kulit tangannya bersentuhan dengan kulit tangan Adit
"Terimakasih Dit." Balasnya.
"Selamat ya, jaga teman lamaku." Ucap Adit pada pengantin laki-laki"
"Pasti bro." Suami Fitri menanggapi Adit dengan santai karena ia tak tau hubungan Adit dan Fitri sebelum ini.
Fira yang dibelakang Adit juga melakukan hal yang sama menyalami pengantin dan memberikan sebuah doa semoga langgeng.
Adit menggandeng tangan Fira, tangan keduanya bersentuhan, mereka berjalan meninggalkan gedung pernikahan itu menuju tempat parkir mobil.
Tiba-tiba mata Fira membulat sempurna ketika melihat sepasang orang tengah jalan mendekati dirinya.
'Ya Allah mati aku, kenapa kak Rama disini.'
Ketika jarak mereka semakin dekat, Rama menyadari bahwa seorang perempuan di depannya adalah adek kandungnya.
"Safira Natasya?"
Safira hanya menunduk bersembunyi dibelakang tubuh tegap Adit dengan tangan masih digenggam oleh Adit.
"i -iya kak." Jawab Fira terbata.
"Kakaknya Fira, maaf kak saya mengajak Fira ke sini belum ijin sama kakak."
Rama tidak menggubris ucapan Adit, tatapannya masih tertuju pada Fira.
'Rupanya kamu mulai kucing-kucingan sama kakak Ra'
"Maaf kak."
Ketika Rama akan mengatakan sesuatu, Dinda memegang tangannya mengisyaratkan untuk meredam amarah.
Sementara Rama masih memandangi tangan Fira yang bergandengan dengan Adit, hal itu reflek membuat Fira melepaskan genggaman tangannya.
"Tolong antar Fira pulang." Ucap Rama pada Adit dengan ekspresi datar.
"Kami kedalam dulu Ra, hati-hati dijalan Ra." Itu suara Dinda yang berpamitan pada Fira dan Adit.
Batin Fira mengatakan selamat karena kak Rama tidak jadi memarahinya di depan Adit, bisa-bisa nanti Adit merasa bersalah.
"Maaf ya kak, kak Rama sebenernya enggak gitu kok, mungkin dia kaget liat aku sama kak Adit."
__ADS_1
"Kakak yang minta maaf Ra, ayo kakak anter pulang."
'Kau hutang penjelasan padaku Safira' Batin Rama dalam hati.