
Hari ini adalah hari terakhir Adit di Jakarta, karena esok ia harus terbang ke Kalimantan mengurus masalah pekerjaan disana.
Adit tengah sibuk dengan file-file di ruang kantornya, ponselnya sedari tadi ia letakkan di meja sofa tanpa ia sentuh, seharian ini ia juga tidak bertukar kabar dengan Fira.
Seorang laki-laki yang tak lain asisten pribadi Adit masuk tanpa mengetok pintu.
"Gimana Al, semuanya beres?"
"Beres Dit, kita tinggal berangkat besok."
"Ok, tiket kamu siapkan, saya tau beres."
"Siap pak Adit"
Mereka masih berkutat dengan file-file yang menumpuk, menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan tiga hari harus selesai dalam sehari ini.
"Ini apa-apaan, kenapa kaya gini." Teriak Adit sedikit frustasi.
"Kenapa Dit?"
"Panggil Pak Samsul kesini."
Sebelum ini, semua karyawan belum pernah melihat Adit marah-marah di kantor, mungkin karena bawaan pikiran ia sedikit emosi hari ini.
"Saya tidak mau tau pak, saya mau beres hari ini, selesaikan hari ini."
"Tapi pak, kemaren sudah saya cek dan tidak ada kesalahan."
"Kerjakan ulang atau ambil gaji terakhir anda."
Sementara di luar kantor, seorang gadis tengah celingak-celinguk kesana kemari memastikan bahwa ia datang pada alamat yang tepat.
"Ini bener kan kantornya mas Adit."
Fira masuk ke dalam kantor menuju meja resepsionis.
"Permisi mbak."
"Selamat siang mba, ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau bertemu dengan Mas Adit."
"Maksud mbak pak Adit?"
"Iya maksud saya pak Adit. Apa dia ada?"
"Sebelumnya apa mbak sudah bikin janji?"
"Belum."
Fira disuruh menunggu terlebih dahulu, sementara pegawai tersebut menghubungi sekretaris Adit.
Setelah mendapat persetujuan dari Adit, Fira langsung ditunjukkan ke ruangan Adit, Adit tidak tahu jika Fira tamu yang dimaksud sekretarisnya tadi, yang Adit tau seseorang yang mengetok pintu tak lain karyawannya yang dipanggil karena membuat kesalahan.
Tok tok tok
"Masuk."Ucap Adit tanpa menoleh ke arah pintu.
Fira masuk dengan hati-hati, berjalan mendekat ke arah kursi yang ada di depan meja pak Adit.
"Masih banyak kesalahan dalam laporan ini?" Masih belum menoleh ke arah Fira, tangannya masih setia membolak balikan map-map file laporan.
"Kerjakan ulang atau buat surat pengunduran diri."
__ADS_1
"...." Tidak ada jawaban dari Adit.
"Kamu itu tidak dengar atau tidak bisa bicara?" Adit membentak seseorang yang dikira karyawannya itu.
"Maaf pak" Blasss pandanganya langsung dialihkan ke sumber suara, betapa kagetnya dia karena Fira jadi berkunjung siang ini.
"Fira,"
"Hmm, kenapa pak? Mau bentak lagi? atau perlu saya buat surat pengunduran diri?"
"Saya hebat ya pak, belum mendaftar kerja aja udah disuruh buat surat pengunduran diri, dan mana gaji saya pak? Mungkin pesangonnya juga ada pak?" Oceh Fira yang sedikit kesal dengan Adit.
"Maaf Yang, mas nggak tau kalau itu kamu."
"Hmm, keburu marah-marah si, kenapa si mas marah-marah gitu, kalau Fira jadi karyawannya mas, udah langsung buat surat undur diri tanpa diminta, nggak kuat punya atasan kaya mas."
"Fira, Kok nggak ngabari kalau mau kesini."
"Coba liat deh pak, sudah berapa kali anaknya menghubungi bapak." Fira tau Adit sedang banyak pikiran, ia mencoba mencairkan suasana saat ini.
"Coba sekali lagi panggil saya apa?"
"Bapak."
"Fira!!!"
"Iya-iya bercanda mas, habisnya aku masuk nggak disambut malah dibentak."
"Maaf Yang, lagi banyak kerjaan ini."
"Yasudah Ra pulang aja." Fira beranjak bangun dari duduknya, namun tangannya ditahan oleh Adit.
Ceklek
Ucap Aldo yang amat sangat terkejut melihat bosnya sedang bersama seorang perempuan,ditambah tangan Adit yang sedang menggenggam tangan perempuan, sungguh kejadian yang sangat langka ia lihat.
Adit memberi kode pada Aldo untuk segera pergi dari sana, Aldo yang mengerti kode dari sang atasan segera memutar tubuhnya kembali keluar.
"Tunggu."
Seketika langkahnya terhenti, karena seseorang menahannya.
"Kak Aldo."Fira memeluk Aldo dengan erat, ia amat rindu dengan sosok Aldo, Adit yang bingung dengan kejadian didepannya melangkah mendekat.
"Fira? Ya Allah Ra kamu beda banget, kamu udah gede sekarang."
"Ekhem."
"Maaf pak, saya permisi."
"Jangan pergi dulu kak, Fira masih kangen."
Adit memelototkan matanya serasa tidak terima dengan ucapan Fira.
"Mas, ini kak Aldo kakak sepupu Fira dulu kami juga satu sekolah."
"Benarkah?"
"Iya pak, Fira sepupu saya."
Setelah dijelaskan apa hubunganFira dan Aldo, Adit tidak jadi mengusir Aldo untuk keluar.
"Ya Allah jadi kalian itu sepasang kekasih?"
__ADS_1
"Kak Aldo jangan bikin Fira malu dong."
"Kenapa malu Yang,memang gitu kenyataannya kan, oiya Al saya nggak nyangka kamu adalah calon kakak ipar saya."
"Mulai sekarang kamu nggak bisa semena-mena sama saya pak Adit." Tatapan Aldo menyeringai ke arah Adit.
"ohh tentu saja bisa, disini saya masih atasan kamu."
Kehadiran Fira membuat pikiran Adit sedikit mereda, emosinya pun sudah tidak terlihat lagi dikedua matanya.
"Ra sering-sering temui kekasihmu, jika saja kau tidak datang mungkin dia masih marah-marah "
"Kau tau Ra, hampir semua karyawan kena semprot sama dia hari ini, padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti itu."
"Kakak benar, tadi Fira juga sempat dibentak karena dikira karyawannya."
"Ya Allah Ra, kalau saran kakak tinggalin aja kekasihmu."Ucap Aldo berbisik tapi masih terdengar jelas ditelinga Adit.
"Jangan jadi kompor Al."
"Hahaha, maaf pak saya bercanda."
Mereka makan siang bersama di ruangan Adit, awalanya Adit menolak makan bersama Aldo tapi karena Fira memohon jadi terpaksa ia mengiyakannya.
Adit sangat menikmati makan siangnya ini yang sudah mundur beberapa jam ini. Setelah selesai makan, Fira membereskan kembali tempat makan uang sudah kosong itu.
"Kak Aldo asistennya mas Adit?"
"Iya dia bawahanku dan dia harus nurut apapun perintahku." Jawab Adit menyeringai.
"Mas nggak boleh semena-mena sama kak Aldo lho, Fira nggak mauk ya kalau mas bentak-bentak mas Aldo kaya mas bentak Fira tadi."
"Gimana pak? Kekasihmu berada di pihakku. Hahaha."
"Hmm." Hanya deheman yang terlontar dari mulut Adit.
"Mas Aldo ikut ke Kalimantan?"
"Ikut lah Ra, secara kakakmu ini jadi bawahan kekasihmu."
Fira membisikkan sesuatu pada telinga Aldo, membuat Adit menatapnya curiga.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Bukan apa-apa kok mas, Udah jam segini Ra pulang ya dan kak Aldo inget jangan kasih tau atasanmu ini."
"Baiklah bu calon Bu bos."
"Mas antar Ra, Al selesaikan pekerjaanku dan inget satu hal, kau hutang penjelasan padaku."
"Antar sampai depan aja mas, Ra udah pesan taksi."
"Hati-hati Yang, kalau udah sampai kabari mas ya."
"Pasti, mas hati-hati ya, maaf Fira nggak bisa nganter ke bandara besok, Fira ada kelas."
"Nggak papa, lebih bagus seperti itu malah, mas nggak mau liat air matamu lagi."
Belum kering lisan Adit berbicara, air mata sudah lolos di pelupuk mata Fira.
"Tuh kan nangis lagi, sini mas peluk."
Adit memeluk Fira dengan erat seakan mereka akan terpisah lama, eh memang begitu kenyataannya mereka akan terpisah selam beberapa bulan, bahasa kekiniannya LDR gitu.
__ADS_1