
Kini Adit sudah berada di bandara, setelah mendengarkan cerita dari Damar hatinya menjadi tak tenang, ia terus memikirkan keadaan Fira, pasti hatinya tengah sakit.
Ponselnya sedari kemaren juga tidak aktif, bodohnya Adit tidak segera mencari tahu dimana Fira berada, ia malah tenang-tenang saja.
Ia juga sempat menyalahkan Damar karena tidak berterus terang langsung pada dirinya.
"Arghhhh."
"Bodoh banget si gue."
Pesawat telah mendarat di Jakarta, Adit segera menghubungi bawahannya untuk mengirimkan mobil, ia belum mengabari orang rumah jika dirinya pulang, satu tujuannya yaitu kerumah Fira, apapun yang terjadi dia akan terima, Adit sudah bisa membayangkan betapa marahnya kak Rama pada Adit.
"Kenapa lama sekali?" Adit berteriak pada bawahannya karena ia terlalu lama menunggu, padahal baru sepuluh menit dirinya menunggu namun rasanya seperti satu jam.
"Ambil ini, kamu kembali ke kantor naik taksi." Adit memberikan tiga lembar uang seratus ribuan pada bawahannya.
Setelah kunci mobil berada di tangannya, Adit segera masuk dan melajukan mobilnya menuju rumah sang kekasih.
Sikap ramah Adit mendadak hilang seketika, ia sudah tidak bisa berpikir jernih saat ini.
Gesekan ban mobil Adit dengan halaman rumah Fira telah terdengar, itu tandanya mobil Adit sudah mendarat di depan rumah Fira.
Adit mengetok pintu dengan tidak sabaran, ia sudah tidak bisa lagi menunggu.
Pintu rumah Fira mulai terbuka, semburat senyum Adit merekah, ia mengira Fira yang membukakan pintu, namun nyatanya bukan Fira melainkan kak Rama yang berada di depannya.
"Assalamu'alaikum"
Bruk
"Kurang ajar kamu, berani-beraninya kamu nyakitin hati Fira huh."
Baru saja Adit selesai mengucapkan salam, ia sudah mendapatkan ganjaran dari sang calon kakak, dua pukulan mendarat tepat di wajah Adit.
Adit tidak membalasnya, ia berusaha untuk bangkit, namun kagi-lagi tangan Rama melayang menambah rasa sakit di wajah Adit.
"Mana janjimu untuk membahagiakan Fira hah."
Dalam kondisi ini, Adit sadar jika dirinya salah, ia juga paham bagaimana perasaan kak Rama.
"Kamu apakan Fira hah, seharian mengurung diri di kamar setelah pulang dari kalimantan."
Rama menahan emosinya lagi, ia tidak mau terbawa suasana, ia harus bisa mengontrol dirinya.
"Maaf kak."
"Apa katamu? Jadi benar Fira seperit itu gara-gara kamu." Rama kembali melayangkan pukulannya hingga membuat Adit benar-benar jatuh tersungkur lemah tak berdaya, Adit berusaha menahan rasa sakit yang menyerang sekujur tubuhnya.
Rama menarik kerah baju Adit, pukulan demi pukulan ia hantarkan pada sang mantan calon adik iparnya itu.
"Kurang ajar kamu. Kelewatan."
Bugg Bugg Bugg
__ADS_1
Adit benar-benar sudah tidak punya kekuatan kagi, diserang tanpa menyerang bukankah jati dirinya, sebenarnya ia bisa mengelak dari pukulan Rama ,namun ia pasrah menyerahkan tubuhnya menjadi sasaran emosi Rama, ia sangat mengerti perasaan Rama, dan Adit juga menerima pukulan Rama dengan ikhlas, ia rasakan ini sebagai penyesalan karena telah menyakiti hati Fira, walaupun itu tidak sengaja tetap saja disini Adit yang patut disalahkan.
Ketika Rama akan melayangkan pukulannya lagi,
"Kakak berhenti."
Fira datang menahan kakaknya agar tidak melayangkan pukulan pada Adit. Rama melepaskan cengekeraman pada kerah baju Adit yang membuat Adit terjatuh dengan tiba-tiba.
Adit berusaha menahan rasa sakitnya, berungkali ia mengerjap-ngerjapkan matanya.
Rama masuk ke dalam rumah disusul dengan Dinda, walau bagaimanapun ia tidak mau terlihat brutal di depan anak dan istrinya, padahal emosinya masih berada di ubun-ubun.
Fira berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Adit.
"Maaf." Suara Adit terdengar parau namun Fira masih bisa mendengarnya.
"Fira masuk."
Teriakan Rama begitu menggema di telinga Adit dan juga Fira.
"Fira kakak bilang masuk."
Ultimatum kedua terdengar lagi dari mulut Rama.
Fira beranjak akan berdiri, namun tangannya ditahan oleh Adit. Sebenarnya Fira tidak tega melihat kondisi Adit yang seperti itu, walaupun berulang kali adit menyakiti hatinya, namun Fira tetap tidak tega, bagaimanapun Adit masih berstatus sebagai kekasihnya.
Fira tetaplah Fira, perempuan tulus yang memeiliki kelembutan hati.
"Mas Adit pulang ya."
"Tapi Ra."
"Safira." Teriakan Rama terdengar untuk ketiga kalinya.
Fira menoleh ke arah Adit, matanya mengisyararkan agarr Adit segera pergi dari sini.
"Mas mau menjelaskan sesuatu Ra."
"Jangan sekarang mas, mas sebaiknya pulang dulu."
Rama yang menunggu Fira tak kunjung masuk merasa geram, Rama kembali keluar rumah, Fira yang melihat kakaknya keluar menjadi takut kejadian barusan terulang lagi.
"Apa kamu tidak dengan Fira menyuruhmu pergi."
Rama hampir saja melayangkan pukulannya kembali.
Dengan cepat Fira menghalangi tubuh Adit agar tidak mendapatkan pukulan dari sang kakak lagi, untungnya Rama masih bisa mengendalikan tangannya sehingga pukulannya tidak mendarat pada Fira.
"Jangan kak, Fira mohon."
"Kamu masih membelanya?"
"Biarkan mas Adit pulang kak."
__ADS_1
Fira kembali menoleh ke arah Adit yang sudah babak belur.
"Pulanglah, kumohon!." Dengan suara pelan Fira memohon pada Adit, bahkan suaranya parau diiringi dengan air mata yang turun, tangan Adit terayun ke arah wajah Fira, berniat menyeka air mata sang kekasih, namun dengan cepat Rama menepisnya.
"Jangan berani menyentuh Fira."
Dengan berat hati, Adit meninggalkan rumah Fira, langkahnya masih gontai bahkan untuk berjalan menuju mobil terlihat tertatih-tatih.
"Masuk Ra." Suara Rama begitu menggema di telinga Fira.
Mata Fira masih meperhatikan Adit yang kesusahan berjalan menuju mobil.
"Kakak bilang masuk."
Fira berjalan mengikuti langkah kakaknya. Siap-siap Fira akan dihujani berbagai pertanyaan dari Rama.
Dinda yang paham dengan keadaan, langsung mengajak suami beserta adik iparnya untuk makan.
Dinda paham akan perasaan Fira saatini, terlihat dari raut wajahnya Fira saat ini.
Sementara disisi lain, Adit melajukan mobilnya menuju apartemen sahabatnya, ia tidak mungkin pulang kerumah dengan keadaan babak belur seperti itu, ia juga butuh istirahat sekarang, pikirannya benar-benar kacau, rasa sakit di wajahnya bahkan tidak terasa apapun, yang ia pikirkan dan rasakan saat ini adalah bagaimana caranya ia bisa menjelaskan kesalahpahaman diantara dirinya dan Fira.
- - - -
"Kakak tampan." Teriak Lisa pada pasien ayahnya yang sudah sering datang berkunjung kerumah.
"Hallo cantik, apa kabar?"
"Hmm Lisa bosan kak, ayah lagi pergi jauh."
"Uluh-uluh, kesayangan kakak jangan sedih dong, besok kakak ajak main deh."
Mata Lisa langsung berbinar-binar mendengar ajakan dari kakak tampan.
"Benarkah kak? Janji nggak boong?"
"Janji sayang."
"Yeee, kak kalau Lisa ajak mama cantik bokleh nggak?"
"Mama cantik? mama cantik siapa?"
"Calon mamanya Lisa dong kak."
"Kakak ngikut Lisa aja, kalau Lisa pingin ngajak mama cantik silahkan, asalkan cantiknya kakak nggak murung terus."
"Sudah-sudah, tamunya disuruh masuk dong Lisa, masa malah diajak ngobrol depan pintu."
"Eh tante, assalamu'alaikum tan." Menyalami oma dengan khidmat.
"Wa'alaikumsalam, bagimana kondisimu, kenapa nambah kurus."
"Heheh, masih gini-gini aja tan, belum menemukan tamatan hati." Jawabnya dengan gurauan.
__ADS_1