Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Pengertian


__ADS_3

Lagi-lagi sesuai permintaan Lisa, Fira pun tidak punya pilihan lain selain mngiyakan, ia juga tidak akan pernah tega dengan malaikat kecil itu.


Mandi, berpakaian, dandan secukupnya sudah ia lakukan, ia tinggal menggunakan hijabnya, menutupi auratnya dan memancarkan kecantikan alaminya walaupun sudah dipoles dengan bedak namun ia tidak suka dengan dandanan yang terlalu menor ia hanya berdandan yang senatural mungkin.


"Nak, makan dulu, jadi anter Lisa kan."


Terdengar teriakan mama dari arah meja makan, Fira tidak menjawab namun kakinya mulai melangkah keluar untuk sarapan.


"Loh, belum siap to." Rambut Fira masih tergerai dengan indahnya, ia belum memakai hijabnya karena rambut dalam keadaan sedikti basah.


"Iya ma, masih basah."


Sarapan pun sudah ia lewati tanpa menunggu anggota keluarga lainnya, ia tidak mau sampai Gio dan Lisa menunggunya terlalu lama.


Getaran pada ponseknya sedikit mengusik Fira, ia merogoh kedalam tas dan mencari barang yang berbentuk kotak itu, tanpa melihat siapa yang menelpon Fira langsung mengangkatnya.


"Ya, Hallo."


"Fira, saya boleh minta tolong sama kamu, kamu jemput Lisa bisa kan, tolong antarkan dia ke sekolah karena saya ada urusan yang tidak bisa ditinggal."


"Eh dok, tapi."


"Sampaikan saja maaf padanya, jika saya langsung menghubunginya dia pasti akan sedih, jadi tolong bantu saya, dan maaf saya merepotkanmu lagi, Tuuut."


Belum Fia mengatakan apa-apa, Gio sudah bebricara panjang kali lebar dan lebih parahnya lagi memutuskan telepon secara sepihak.


Fira masuk ke kamar kakaknya, telihat disana Rama sedang bersiap-siap memakai kemejanya,


"Kak, Fira pakai mobil kakak ya."


"Lo, kan dijemout sama...."


"Dia nggak bisa, Fira harus nganterin Lisa sendiri."


Terlihat Rama menganguk-anggukan kepalanya, ia juga seorang dokter ia paham urusan mendadak apa yang sampai membuat Gio tidak bisa meninggalkannya itu.


"Eh tunggu, itu kunci mobil kakak yang dirumah sakit Ra, kamu pake yang baru aja, nanti kak Rama pesan taksi online."


"Oh ok kak, makasih ya. Daaa mbak Dinda daaa Rasyid." Fira melambaikan tangannya pada Dinda yang tengah menggendong Rasyid lalu ia bergegas berjalan keluar.


Fira mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumahnya, ya Fira memang sudah mahir mengendarai mobil, namun ia masih suka malas jika harus menyetir sendiri.


Tiba-tiba saja stimulus otaknya bekerja, ia baru sadar kemana dia akan melaju jika tak tau yang harus dituju.


"Astaghfirullah, bodoh banget si kamu Ra." Ia bermonolog dengan dirinya sendiri.


Tanpa menunggu waktu lama, iapun mengirim pesan ke omanya Lisa untuk sharelock rumahnya, ia juga mengatakan jika nanti akan menjelaskan alasan Fira menjemput Lisa dirumah.


Sesampainya dirumah Lisa, Fira bergegas turun dan mengetuk pintu rumah.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam masuk Ra, Lisanya lagi mandi."


"Sudah sarapan?"


"Sudah tan."


Fira menjelaskan alasan mengapa dirinya datang dan akan mengantarkan Lisa tanpa Gio, omanya lisa pun hanya mengangguk-angguk paham dengan keadaan Gio.


"Kamu duduk dulu Ra, tante mau bantu Lisa bersiap, tante juga belum menyiapkan bekalnya."


"Kalau gitu, Fira yang bantuin Lia bersiap tan, tante nyiapin bekalnya Lisa, biar nggak kesiangan."


"Bener kamu, kamu tau kan walaupun Lisa masih TK namun jam masuknya sudah seperti anak sd saja."


Mereka pun membagi tugas masing-masing, setelah mengantarkan Fira kekamar Lisa, oma bergegas keluar dan menuju ke dapur.


Krek


Pintu kamar mandi terbuka dan terlihatlah sosok mungil yang masih mengenakan handuk pink bergambarkan kartun kesukaannya, ia terpenjarat kaget melihat Fira duduk di ranjangnya.


"Kakak." Fira menoleh dan tersenyum kearah Lisa.


"Hai sayang, sini kakak bantuin bersiap."


"Kakak kok udah disini, papa udah jemput kakak?"


"Lisa pakai baju dulu yuk, nanti biar bisa sarapan."


Lisa berjalan ke arah lemarinya, mengambil baju yang di gantung di depan lemarinya.


"Kakak "


"Ya?"


"Kakak balik sama tutup mata."


Fira pun paham dengan permintaan Lisa, ia menurut saja supaya tidak memakan waktu terlalu lama.


"Sudah."


Fira berbalik dan tersenyum melihat penampilan Lisa, ia mendekat dan mensejajarkan tingginya dengan Lisa.


"Kakak rapihin boleh?" Lisapun mengangguk tanda setuju.


Kni Lisa sudah berpakaian rapi, tinggal rambutnya yang belum tersisir.


"Mau kakak kepang?"

__ADS_1


"Mau kak, kepang satu aja ya kaka."


"Ok cantik.".


Fira pun menyisir dan mengepang rambut Lisa dengan sangat telaten ia seakan seperti ibunya Lisa, ibu yang tengah membantu putrinya bersiap.


Lisa yang meraskaan kehangatan dari Fira pun tersenyum ke arah foto sang bunda dan papanya.


"Bunda, kenalin ini kak Fira, kak Fira baik kan bunda?."


"Bunda?" Kening Fira berkerut, ia sempat berpikir yang aneh-aneh sampai akhirnya ia melihat arah mata Lisa menatap, ia menghela nafas lega setelah mengetahui kebenarnnya, teryata Lisa hanya bebricara dengan foto bundanya.


"Iya bunda, itu bundanya Lisa kak."


"Cantik." Satu Kata yang telontar dari mulut Fira.


Semuanya telah siap, tinggal sarapan, mereka keluar dari kamar dan menuju meja makan.


Lisa makan dengan lahap, mungkin ia merasa lapar. Fir hanya memandanngi gadis kecil itu makanzsesekali ia tersenyum, ia ridks menyangka diumurnya yang masih rebrilang cukup muda sudah bisa mengurus anak seusisa lisa.


"Kakak, kok natapanya gitu?"


"Eh enggak papa kok, Lisa lucu."


"Setelah makan, Lisa berangkat sama kak Fira ya, papa lagi ada urusan."


Wajah cerinya langsung berubah menjadi murung, ia terlihat begitu sendu saat ini.


"Papa bohong, papa ngggak nepatin janjinya."


"Sayang, nggak gitu, papa Lisa ada urusan mendadak, kan Lisa anak baik Lisa harus bantu papa dong jangan malah sedih gini, nanti papa jadi kepikrian." Suara lembut Fira yang mencoba menenangkan Lisa.


"Lisa hari ini sama kakak dulu aja ya,."


"Tapi."


"Nanti pulangnya kakak juga yang jemput deh, Lisa pulangnya agak sorean kan, nanti setelah pulang kita jalan-jalan bentar beli es krim gimana?"


Es krim, sesuatu yang digemari kebanyakan nak kecil.


"Janji?"


"Janji sayang, yuk berangkat nanti kita telat."


Nak, lihatlah betapa baiknya perempuan itu mengurus putrimu, bahkan ia menyanyangi putrimu dengan tulus, mama hanya berdoa semoga kamu bisa ikhlas jika nanti Gio bersanding dengannya, itu harapan mama nak, mama hanya ingin melihat suami dan putrimu bahagia.


Oma Lisa berdoa dalam hatinya, berharap harapannya akan terkabul.


Fira dan Lisa berpamitan pada oma, mereka bergegas menuju ke sekolah Lisa. Sepanjang perjalanan Lisa menceritakan tentang papanya, ia juga sedikit merasa kesal pada papanya untuk hari ini, karena ini bukan untuk pertama kali baginya, papanya itu juga sering ingkar janji, ya namanya anak-anak belum bisa memahami sepenuh hati bagaimana kesibukan yang dialami oleh orang tuanya, Fira pun hanya menjawab dengan hal yang logis, ia mencoba memberikan pengertian pada Lisa bahwa papanya tidak mungkin sengaja melakukan ini, apalagi sampai membuat Lisa sedih.

__ADS_1


__ADS_2