
Keesokan harinya, setelah Fira memantapkan dan meyakinkan hatinya untuk mengambil keputusan tentang hubungannya dengan Adit, ia segera mengubungi Adit lewat telepon.
Getaran ponsel membangunkan Adit dari tidurnya, sebenarnya ia masih enggan untuk membuka matanya, setelah kejadian yang terjadi kemarin malam dan luka-luka yang masih berbekas dibadannya membuat tubuhnya terasa sakit dan nyeri.
"Halo, siapa?" Jawab Adit dengan mata yang masih terpejam.
"Mas, bisa kita ketemu?" Suara lembut yang terdengar sontak membuat Addit terkejut, suara itu membuat Adit merasa kembali semangat dan bergegas membuka matanya lebar-lebar.
"Fira.., sayang ya Allah akhirnya kamu - - - -" Belum selesai Adit mengutarakan kata-katanya,
"Fira tunggu ditaman biasa jam Delapan"
Fira segera menutup teleponnya walaupun belum mendengar jawaban dari Adit, tapi Fira yakin jika Adit pasti datang.
"Ra, Fira. Halo Yang." Adit memanggil-manggil nama Fira, ia ingin berbicara dengan Fira, namun sayangnya Fira sudah menutup telepon secara sepihak.
Tidak ingin berlama-lama, Adit bergegas bersiap untuk bertemu dengan Fira, dalam hatinya, dia sangat senang dapat bertemu dengan Fira, namun ia juga merasa takut jika Fira tak bisa memaafkannya, sangat berat bagi Adit untuk menerima kenyataan jika fira memilih untuk menyerah padanya apalagi kata-kata kak Rama kemarin, bagaimana jika Rama tidak memberikan kesempatan kedua untuk Adit.
- - - -
"Ra, kamu yakin buat ngakhirin ini semua?" Tanya Dinda pada Fira.
"Aduh sayang, jangan ditarik-tarik dong kerudungnya aunty." Jarum jam sudah menunjukan pukul setengah delapan, namun Fira masih asik menggendong Rasyid yang semakin kesini semakin gembul.
"Insyaallah Fira yakin mbak." Jawab Fira yang diiringi senyum manisnya.
"Coba kamu fikirin lagi deh Ra, jangan sampai nanti kamu menyesali keputusan kamu hari ini." Dinda kembali meyakinkan Fira dengan keputusan yang akan Fira ambil.
"Udahlah Bun, kamu jangan memihak sama si Adit terus, jangan mentang-mentang keluarga Adit banyak bantu keluarga kamu terus kamu jadi mihak sama Adit terus." Kata Rama yang mencoba untuk menghentikan istrinya membujuk Fira.
"Bukan gitu mas, tapi Dinda cuma nggak mau nanti Fira."
Belum selesai Dinda berkata, Rama sudah memotong kata-katanya,
"Apa kamu bakal nglakuin hal yang sama kalau mas yang kaya gitu ke kamu? Meski itu cuma salah paham. Apa kamu bakal setenang itu menerimanya?" Dinda tidak berucap lagi, percuma saja ia kembali mengutarakan kata-katanya jika hasilnya sama aja, Dinda sudah paham sifat suaminya itu.
"Ra, kamu lakuin apa yang terbaik menurut kamu, yang penting hati kamu bisa lebih tenang."
"Iya kak, kak Rama juga jangan gitu sama mbak Dinda, jangan kebawa emosi juga, Ini masalah Fira, Fira nggak mau lo gara-gara Fira kalian ribut."
"Enggak kok Ra, kamu kaya nggak tau abangmu aja, Mbak juga nggak kenapa-kenapa."
"Maaf ya Din, mas kebawa emosi tadi."
__ADS_1
"Nggak papa kok mas."
Rama tersenyum karena Dinda tidak terlalu mempermaslahkan kata-katanya saat dia emosi tadi.
"Nggak papa ya sayang ya, asalkan ayahmu nanti bubuk diluar, nggak boleh bubuk sama bunda sama Rasyid ya."
"Yah jangan gitu dong Bun."
"Hahah, kalian tu keluarga penuh drama tau nggak."
Fira menyerahkan Rasyid ke gendongan Dinda.
"Fira pergi sekarang ya."
Di tempat lain
"Ayo oma, ih kakak ganteng ayo." Hari ini Lisa, oma dan juga kakak ganteng akan pergi ke suatu tempat, Lisa menagih janjinya kemaren yang akan mengajak Lisa main.
"Siao tuan putri, ayo kita berangkat."
"Oma ayo, ini kakak ganteng udah siap."
"Ya ampun ini cucu oma udah nggak sabar ya."
"Lisa mau ke makamnya bunda dulu, terus jalan-jalan ke taman, kakak ganteng mau nemenin Lisa sama oma kan."
"Siap tuan putri, kemana pun lisa pergi, pasti kakak temenin."
Fira tiba di taman lebih awal daripada Adit, ia duduk menyandar di bangku taman dengan berusaha menata hatinya, meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keputusan yang terbaik baginya maupun bagi Adit.
Tak lama kemudian Adit datang membuyarkan lamunan Fira.
"Ra, maaf ya mas agak lama." Adit duduk tepat di sebelah Fira, yang membuat Fira reflek menggeser duduknya sedikit lebih jauh.
"Nggak papa mas, Fira juga baru sampai"
"Ini mas bawakan donat Ra, masih jadi makanan kesukaan kamu kan." Adit mencoba mencairkan suasana, ia tau keadaan pasti akan sedikit canggung seperti ini, makanya sebelum pergi ke taman ia menyempatkan diri untuk membeli beberapa buah donat, makanan kesukaan Fira.
"Makasih mas, harusnya nggak perlu repot-repot, Fira hanya mau ngomong- - -."
"Husst." Adit meletakkan jari telunjuknya tepat di bibir Fira, mengisyaratkan bahwa Fira tidak boleh melanjutkan perkataannya.
"Sekarang bukan Waktu kamu buat ngomong, ini adalah waktu mas Adit buat ngejeelasin semuanya."
__ADS_1
"Waktunya salah paham diantara kita berkahir."
"Maaf mas, Fira nggak mau denger penjelasan apapun dari mas Adit, Fira juga udah mengambil keputusan."
"Keputusan apa Ra? Keputusan kalau kamu mau mengakhiri hubungan ini?" Adit menyeka ucapan Fira dengan lembut, walaupun hatinya bergejolak menahan emosi namun ia juga tidak boleh terlarut dalam suasana, ia harus pandai-pandai mengontrol emosinya.
"Menurut Fira itu yang terbaik buat kita berdua mas, mungkin kita belum berjodoh mas, sudahlah mas kiat jalani aja urusan kita masing-masing, Fira udah terlalu sakit untuk melanjutkan hubungan ini."
"Tapi kamu udah salah paham Ra. Yang kemaren kamu liat nggak seperti yang kamu pikirkan." Adit mencoba mengenggam tangan Fira namun dengan cepat Fira kembali menepisnya.
"Ok jika memang yang kemaren salah paham, lalu dengan yang sebelum-sebelumnya, mas Adit sakit nggak kasih kabar ke Fira, itu apa namanya kalau diantara kita sudah mulai tidak ada keterbukaan mas."
"Terus Mama datang sama Nayla, bahkan mama juga nggak ngasih kabar ke aku kalau mau kesana mau ngejenguk mas Adit, mama malah memilih ngajak Nayla buat kesana. Lalu Nayla tinggal seatap sama mas, mas juga nggak kasih tau Fira apa itu mas, apa sekarang Fira salah kalau rasa percaya Fira ke mas semakin larut dan semakin hilang."
"Waktu itu ada mama, kita ngak berdua di apartemen Ra"
"Iya waktu ada mama, lalu kemaren pas Fira dateng kenyataannya nggak ada mama kan, kalian tinggal berdua saja kan."
"Ada pembantu Ra."
"Pembantunya nggak bisa dilihat mata Fira?Cukup mas Fira bukan anak kecil yang mudah untuk dikelabuhi."
"Nah pas mama mau pulang, pembantu mas itu ijin buat cuti makanya mama nyuruh Nayla buat tinggal dulu ngrawat mas Ra."
"Dan disitulah Fira paham mas, Mama lebih memilih Nayla dari Fira, cara mama bersikap pada Fira dan Nayla itu beda, bukannya Fira nggak suka sama mamanya mas Adit tapi ya itulah kenyataannya mas."
"Sudahlah mas, kita di jalan masing-masing aja, Fira fokus ke kehidupan Fira, mas juga bisa fokus pada kehidupan mas."
"Nggak, mas nggak mau, kamu jangan berpikir sepihak seperti itu Ra, kalau soal mama yang ngajak Nayla mas sama sekali nggak tau menau tentang itu."
"Udah ya mas, Fira udah capek, kita udahin hubungan ini." Fira melepas cincin di jarinya, mengembalikan cincin pemberian Adit kepada sang pemilik asal.
"Fira kembalikan ini ke mas Adit, bukan Fira yang berhak memakainya, kelak istri mas yang berhak memakainya."
"Terimakasih, Terimakasih karena telah berhasil membuka pintu hati Fira yang sempat terkunci rapat, walaupun pada akhirnya harus seperti ini."
"Terimakasih telah memberikan kebahagiaan pada Fira selama beberapa bulan ini."
Air mata yang sedari ia tahan akhirnya lolos juga.
"Kamu nangis Ra? Mas tau apa yang kamu katakan barusan bukan dari hati kamu kan Ra, kamu masih cinta sama mas kan Ra,kamu masih sayang kan Ra, ayo jawab Ra bilang iya Ra."
Walau bagaimanapun, kenangan Fira dan Adit begitu banyak dan memenuhi isi pikiran Fira, Fira masih tebayang-bayang kenangan indah bersama yang pernah mereka ciptakan. Fira juga tidak menyangka kalau akhirnya harus seperti ini.
__ADS_1
"Ayo Ra, tarik kata-katamu tadi. Mas nggak mau kita pisah Ra." Kini posisi Adit berlutut tepat di hadapan Fira.