Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Pra Perpisahan


__ADS_3

Hubunganku dan mas Adit semakin dekat, pernah suatu ketika mas Adit ingin melamarku secara resmi tapi dengan halus aku kembali menolaknya, aku katakan padanya bahwa aku masih belum siap untuk ke jenjang yang lebih serius.


Aku ingin menyelesaikan sekolahku terlebih dahulu, bekerja dan bisa menikmati uang dari hasil kerjaan ku sendiri. Beruntungnya aku, Mas Adit mengerti dan memahami alasanku.


Hari ini, mas Adit berniat mengajakku makan malam di salah satu cafe, setelah mendapatkan ijin dari mama dan kak Rama aku segera bersiap-siap untuk pergi.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam eh ada nak Adit, silahkan masuk nak."


"Makasih Tan."


"Duduk dulu Dit, ditunggu Firanya ya maklum lama kalau dandan."


"Apaan si ma, Fira nggak lama kok." Fira datang dari arah kamarnya dengan mengerutkan bibirnya mendengar perkataan mama.


"Ma Fira langsung pergi ya."


"Iya hati-hati, jangan pulang larut ya Dit."


"Baik Tan, Adit pamit." Adit dan Fira mencium tangan mama dan berlalu meninggalkan rumah.


"Mau kemana kita mas?"


"Makan dulu ya."


Adit melajukan mobilnya menuju tempat makan, mereka memesan menu yang sama, Adit memandangi Fira dengan lekat, entah mengapa rasanya nanti bakalan rindu dengan sosok dirinya. Setelah selesai menyantap makanan Adit mengajak Fira ke taman.


Mereka menghabiskan waktu dengan berkeliling taman naik odong-odong, semacam mobil tapi jalannya harus dikayuh.


"Aduh mas kaki Fira capek, pegel tauk."


"Yaudah kita udahan ya mainnya."


Mereka duduk di bangku tengah taman.


"Ra, mas Adit dua hari lagi pergi ke Kalimantan."


"Ha? Mau ngapain mas?"


"Mas ditugaskan ngurus kantor yang ada disana, lagi ada masalah dan papa mempercayakan masalah itu pada mas."


"Owh." Fira tidak tau harus berkata apa, sebenarnya ia tidak mau ditinggal jauh dengan Adit, tapi ia juga bukan siapa-siapa yang bisa melarang-larang Adit.


"Cuman owh?"


"Terus Fira harus bilang apa?"


"Mas disana paling nggak 3 bulan Yang."


"Selama itu, Fira kira satu mingguan mas."


"Ini masalahnya besar, itu baru kemungkinan tiga bulan selesai kalau belum kelar juga paling sampai setengah tahun mas disana Yang."


"Terus Fira?"

__ADS_1


"Makanya sebelum mas pergi, mas Ingin melarmu dahulu, setidaknya aku sudah mengikatmu Ra."


"Tapi mas."


"Iya mas tau, Fira belum siap kan, mas juga nggak akan kembali memaksa Fira kok."


"Makasih mas."


"Kamu selesaikan dulu sekolahmu, setelah lulus kamu tidak boleh nolak untuk kulamar ok?"


"Baiklah, tapi Fira nggak mau cepet-cepet nikah ya mas. Fira pingin kerja dulu."


"Iya nggak papa."


Seketika suasana menjadi hening diantara keduanya.


Apa kak Adit kecewa padaku ya, tapi katanya dia paham akan keadaanku, tapi kenapa dia malah diam aja


"Mas Adit."


"Ya?"Adit menoleh ke arah Fira, ia melihat Fira meneteskan air matanya.


"Kenapa nangis Yang?"Adit mengusap lembut air mata Fira dengan tangannya.


"Mas Adit kecewa sama Fira ya?"


"Ha? Enggaklah Yang, mas Adit tau Fira belum siap dan itu tidak menjadi Masalah buat mas."


"Sudah jangan menangis, nggak boleh ada air mata."


"Kita masih bisa video call kan? Kita masih bisa menjaga hubungan kita dengan terus berkomunikasi."


"Sudah to, jangan nangis."


Fira memeluk Adit dari arah samping, entah mengapa rasanya Fira jadi berani memeluk Adit seperyi itu.


"Anget banget Yang."


"Diem ih mas, lima menit aja kaya gini."


Setelah puas memeluk Adit, Fira melepaskan pelukannya.


"Pulang yuk."


"Beli jajan dulu buat yang dirumah ya."


Ajak Adit pada Fira.


"Yaudah kita beli martabak aja mas tu disana."


Setelah membeli dua bungkus martabak, Adit mengantarkan Fira pulang kerumahnya, Adit mengantar Fira sampai ke dalam rumah, ia pun pamit pada mamanya Fira dan kak Rama mengenai keberangkatannya ke Kalimantan.


"Jaga diri disana Dit, jangan telat makan, mama cuman bisa mendoakan yang terbaik."


"Makasih Tan, Adit titip Fira selama Adit disana Tan."


"Dititipin di penitipan anak aja Dit."Canda kak Rama untuk memecah keheningan.

__ADS_1


"Kakak." Fira memonyongkan bibirnya pada Rama, hal itu sontak membuat semuanya tertawa.


"Kenapa kalian nggak lamaran aja dulu sebagai pengikat, kan Adit perginya lama." Dinda buka suara tanpa menoleh ke arah manapun, matanya masih asik memandangi bayi Rasyid yang tertidur pulas di pangkuannya, tanpa ia sadari semua mata tertuju pada dirinya.


"Kenapa? Apa Dinda ada salah ngomong? Maaf ma." Dinda takut perkataannya itu membuat mama mertuanya marah padanya, walaupun selama ini ia belum pernah ada masalah dengan mamanya tapi ia selalu menjaga omongannya agar tidak menyinggung hati mertuanya.


"Kamu nggak salah Din, justru mama setuju sama ucapanmu, gimana Ram?"


"Rama ma ok ok aja, tinggal Fira nya."


Fira tak kunjung buka suara,


"Sebenarnya Adit udah ada niat baik nglamar Fira sebelum pergi ke Kalimantan, tapi Fira masih mau fokus sekolahnya dulu, Adit memakluminya kok kak, tunggu Firanya siap aja."


"Ya Allah Ra, makhluk kaya gitu kamu sia-siakan, gimana kalau nyantel sama cewek Kalimantan nantinya."


"Ihh kak Rama, apa-apaan si."


"Jika itu kesepakatan kalian mama ma nurut aja gimana baiknya, yang penting harus bisa sama-sama jaga perasaan ya, hubungan jarak jauh tu rawan, bukannya mamah nakut-nakutin cuman mama mau kasih saran aja, komunikasi itu nomer satu."


"Kalau ada salah paham segera di selesaikan, kalau ada masalah diomongin baik-baik, jangan mudah percaya dengan kabar burung dari mulut orang, dan jangan menutupi apapun satu sama lain."


Mereka semua mendengarkan wejangan mama dengan sangat cermat, mereka juga mengucapkan terimakasih atas wejangan-wejangan yang mama berikan.


"Karena sudah larut Adit pamit sekarang ya Tan, kak."


"Ra, antar Adit ke depan."


Fira mengantar Adit sampai ke depan rumah.


"Apa besok kamu masih ada waktu mas?"


"Besok? Mas sibuk di kantor cabang Yang, ada apa?"


"Nggak papa kok."


"Dibalik kata nggak papanya perempuan pasti ada apa-apa."


"Mulai deh gombalnya."


"Kenapa? mumpung mas masih disini."


"Besok Ra ke kantor mas ya, Ra bawain makan siang."


"Dengan senang hati, mas tunggu di kantor."


"Boleh mas?"


"Kenapa tidak boleh, tentu saja boleh."


Setelah mobil Adit melenggang pergi membelah jalanan, Fira masuk ke dalam rumah.


"Udah nggak usah mellow gitu, mau dilamar nggak mau giliran ditinggal sedih." Ucap Rama menggoda Fira.


"Mas udah to jangan godain adeknya terus."


Dinda tau sebagai perempuan bagaimana perasaan yang tengah Fira rasakan.

__ADS_1


"Uhh Rasyid bangun ya, sini aunti culik kamu biar ayahmu nangis."


Fira mengambil alih Rasyid yang berada di gendongan Dinda.


__ADS_2