
Pagi harinya, Adit tengah bersiap-siap menuju ke kantor meninggalkan Damar yang masih sibuk di kamar mandi.
Adit ingin segera mungkin sampai di kantornya, berharap Fira masih ingat dengan kesepakatannya kemaren, berkunjung kembali ke kantornya di pagi hari.
Kesepakatan itu dibuat sebelum insiden yang terjadi dalam apartemen Adit, semoga saja Fira masih menepati janjinya.
Sesampainya di kantor, Adit langsung bergegas menuju ruangannya, meninggalkan bisik-bisik karyawannya yang heran akan kedatangan Adit sepagi ini.
"Ra." Benar dugaan Adit, Fira telah sampai di ruangannya, mungkin hati Fira selembut sutra hingga kesalahan Adit yang tadi malam tidak ia ungkit.
Walaupun hatinya tengah sakit Fira masih bisa tersenyum menyambut kedatanagn Adit.
"Ra, ada yang mau mas...."
"Mas Adit belum makan kan, ini Fira bawain sarapan." Fira mulai membuka kotak makanan yang tadi sempat ia beli sebelum datang ke kantor Adit.
"Sebelum itu."
"Udah sarapan dulu mas, nanti keburu dingin."
Fira menyodorkan makanan ke hadapan Adit.
Setiap Adit akan membuka suara, Fira selalu memotongnya, itu tidak terjadi satu atau dua kali, mungkin ini cara Fira melampiasakn rasa kecewamya, Adit tidak bisa menyalahkan Fira walau bagaimanapun ini kesalahannya, ia harusnya beruntung Fira tidak mengungkit-ungkit kesalahannya itu, namun didiamkan seperti ini juga membuat Adit tidak tenang.
"Ra. Soal semalam."
"Oh iya mas, hari ini Fira mau ketemu sama teman lama di daerah sini."
Lagi dan lagi ucapan Adit dialihkan oleh Fira.
"Mas anter."
"Nggak usah, mas ada rapat kan."
Benar kata Fira, detik itu juga sekretaris Adit masuk dan memberikan informasi bahwa hari ini jadwal Adit sangat sibuk, dari pagi sampai sore.
"Kalau gitu Fira pamit ya mas, jangan lewatkan makan siang, Assalamu'alaikum."
Senyumnya tidak terlepas dari bibirnya, Fira selalu tersenyum hari ini, bahkan ia tak menampakkan rasa kecewa maupun sedihnya.
"Sayang." Mendengar Adit memanggilnya dengan panggilan sayang membuat hati Fira kembali merasakan sakit, mulai dari semalam Fira merasa panggilan sayang itu sudah tak ada artinya, bahkan Fira rasanya enggan mendengarnya lagi. Berbeda dengan sebelumnya, panggilan itu selalu membuat hati Fira berbunga-bunga.
Fira berhenti di tempat, namun tidak segera berbalik. Ia berusaha mengumpulkan kekuatannya terlebih dahulu, memasang wajah ceria dan tak lupa senyum manisnya.
"Ya?" Tepat saat dirinya berbalik Adit sudah berada di belakangnya, ia langsung menyambar tubuh Fira dan mendekapnya kedalam pelukannya.
"Maafkan mas Adit Ra, mas Adit akan terima jika Fira marah sama mas."
__ADS_1
Dalam dekapan Adit hati Fira kembali merasakan rasa sakit, ingin sekali ia melepaskan diri dari pelukan Adit, namun usahanya sia-sia, kekuatannya kalah besar dengan kekuatan Adit.
"Mas Adit lepas, Ada cctv disini."
"Ra."
"Mas, Ra udah ada janji sama temen Fira, Fira buru-buru, nanti Fira kesini lagi." Masih dengan senyumnya Fira pergi meninggalakn Adit yang masih memasang wajah frustasinya.
Fira keluar dari ruangan Adit menuju lift yang akan membawanya ke lantai bawah. Air mata yang sedari ia tahan, luluh seketika, entahlah hatinya terasa sakit, bahkan untuk mendengar penjelasann Adit saja ia tak tau akan kuat atau tidak.
Taksi online yang Fira pesan telah sampai di depan gedung kantor milik Adit, Fira pergi menuju ke taman untuk menenangkan diri bukan untuk bertemu temannya, ya Fira berdusta.
Dua puluh menit kemudian ia telah sampai di tempat tujuan.
"Rapat jam berapa pak?"
"Bentar lagi, kenapa jam segini baru sampai?"
"Mendadak mules Dit."
"Oh ya, Fira mana? Nggak jadi kesini?"
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, Fira pergi ke salah satu tempat makan di sekitar taman, walaupun hatinya sedang sedih perutnya harus tetap ia isi.
Karena kalau kata orang, makan ati aja nggak bakalan bikin kenyang.
Selang beberapa waktu, Damar datang menemui Fira. Karena sebelum itu, Damar sudah menanyakan posisi Fira sekarang, ia sudah diberi amanat okeh kakak iparnya untuk menjaga Fira selama di Kalimantan.
"Maksud mas Damar?"
"Adit belum menjelaskan apapun tentang keadaan saat ini kan, dia juga belum menjelaskan mengapa Nayla ada di apartemennya, jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Apa yang mata kita lihat belum tentu itu yang sebenarnya terjadi, Mas Damar nggak mau kamu salah ngambil langkah, kita juga sama-sama sudah dewasa, bukan anak-anak abg yang baru jatuh cinta."
"Terus menurut mas Damar Fira harus gimana? Fira udah terlanjur beli tiket buat Fira pulang"
"Ya ampun, gegabah banget kamu si Ra. Temui Adit, minta penjelasan padanya secara baik-baik."
"Mas Damar kenapa bisa sebijak ini, tadi malam saja seakan cuek sama masalah Fira."
"Hahaha, jadi aktingku berhasil ya, bukannya cuek Ra, mas hanya tidak mau terlalu ikut campur urusanmu dengan Adit, lagian aku juga tau kenapa Nayla bisa disana?"
"Ha?Mas Damar tau? Terus kenapa nggak kasih tau Fira?"
Akhirnya Damar menjelaskan apa yang sebenarnya tejardi, walaupun awalanya ia akan meberikan kesempatan pada Adit untuk menjelaskan sendiri, tapi keadaan mulutnya yang sudah keceplosan membuat si kepo Fira terus-teursan meminta penjelasan.
"Ternyata Fira salah paham sama mas Adit, duh jadi ngrasa bersalah gini kan, nyuekin mas Adit, maafin Ra ya mas."
"Sore nanti dateng ke apartemen, bawa makanan buat Adit, yang banyak sekalian."
__ADS_1
"Hmm mengambil kesempatan dalam kesempitan."
- - -
"Hai om, om datang lagi?"
"Kok manggilnya asih om si, kakak aja ya, kan kakak belum setua ayahnya Lisa."
"Ok baiklah, mulai saat ini Lisa panggilnya kak."
"Nah gitu dong, Coba sekarang Lisa tebak kakak bawa apa?
"Hmm apa ya?" Tangan mungilnya ia letakkan dikening seakan sedang berpikir.
"Taraa."
"Wah boneka om, eh kak makasih kak, Lisa suka bonekanya."
"Sama-sama sayang, ayah mana?" Kini Lisa sudah berada digendonganborang tersebut.
"Akhirnya datang lagi." Ucap Gio mengagetkan keduanya.
"Eh iya, selamat sore Dok."
"Jangan terlalu formal seperti itu."
"Lisa main dulu sama oma ya, ayah ada kerjaan sama omnya."
"Bukan om ayah, manggilnya kak, katanya kakak belum setua ayah." Gio yang merasa gemas, mencubit kedua pipi putrinya.
"Kapan kamu mau berobat lagi? Tubuhmu semakin kurus, kadar ketampananmu juga sudah mulai berkurnag." Dengan tatapan menyeringai dan senyum menggoda, pasien nya yang satu ini sangat unik, dia terlalu enggan untuk berobat, bahkan untuk meminum obat saja ia tidak mau, sungguh ini pr berat buat seorang dokter seperti Gio.
"Dokter bisa aja, lain kali lah dok, saya benar-benar sibuk. Carikan saja saya pasangan hidup, mungkin penyakit ini akan minggat dari tubuh saya."
"Yang benar saja kamu, mana ada teori kedokteran seperti itu."
"Ngomong-ngomong, apa ketampananmu belum bisa memikat para gadis diluar sana."
- - - -
Setelah mendapatkan pencerahan dari Damar, Fira merasa sedikit lega, ia berencana akan berkunjung ke apartemen Adit, dan meinta maaf karena sudah salah paham terhadapnya, walau bagaimanapun Fira masih mencintai kekasihnya itu.
Kadang hidup memang harus seperti itu, jalan kita tak akan selalu rata, kadang berlubang, kadang menurun, kadang menanjak, semuanya tergantung kita mampu melewatinya atau tidak.
Dengan perasaan senang, Fira singah ke sebuah restoran, memesan makanan kesukaan Adit.
Tepat pukul 5 sore Fira telah sampai Di depan apartemen Adit. Dan lagi-lagi, sebuah kejutan besar menghampiri Fira hari ini.
__ADS_1
Memang setelah badai datang akan ada kebahagiaan yang menyusul.
Namun tidak menutup kemungkinan badai susulan akan kembali datang dengan selang waktu yang tak lama.