
Keesokan harinya, Nana bergegas menuju rumah Fira untuk memastikan keadaan Fira.
"Assalamu'alaikum." Ucap Nana sambil mengetok pintu rumah Fira.
"Wa'alaikumsalam, eh Nana ayo masuk Na."
Dinda membukakan pintu dan menyuruh Nana masuk.
Ya pagi tadi Dinda diantar pulang oleh Rama agar bisa istirahat dirumah mengetahui kondisi Dinda juga sedang hamil besar, kini mama yang menjaga Fira dirumah sakit.
"Mbak, Fira di kamar ya?" Tanya Nana pada Dinda.
"Eh kamu belum tau ya, Fira dirawat di rumah sakit."
"Apa kak? Dirawat? Tapi kok tadi malam kak Adit nggak bilang."
"Fira dibawa ke rumah sakit pas tengah malam, kondisinya makin drop."
"Kalau begitu, Nana mau jenguk Fira aja kak, di ruangan apa Fira dirawat kak?"
"Eh nggak mau minum dulu? Di ruangan kenanga nomer 7."
"Enggak deh kak, Nana pamit ya Kak."
"Tunggu Na, kakak titip pakaian ganti buat Fira nggak apa-apa kan?"
Setelah berpamitan, Nana segera melajukan mobilnya kerumah sakit.
Beberapa menit kemudian, Nana telah sampai di depan pintu kamar rawat Fira.
"Safira." Nana masuk ke dalam ruangan tersebut tanpa mengetok pintu karena pintu sudah terbuka.
"Eh Nana, sama siapa kesini." Tanya mamanya Fira.
"Sendiri tan, gimana tan kondisi Fira?"
"Udah lebih baik kok, tante tinggal keluar dulu ya."
Kini tinggallah Fira dan Nana yang berada di ruangan itu, Nana mendekat ke arah Fira dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Cepet cerita padaku kenapa bisa sampai kaya gini."
"Apa-apaan kamu, datang-datang udah kaya gitu."
"Kenapa kemaren hujan-hujanan di jalan?"
"Em itu aku lagi pingin aja."
"Bohong Ra, kamu mau membohongiku cari
alasan yang logis."
__ADS_1
"Ha?"
"Kamu lupa, kamu pernah bilang kalau kamu tidak begitu suka hujan-hujanan?"
Fira akhirnya menceritakan semuanya pada Nana, karena selama ini hanya Nana yang tau masalah Fira, bahkan Firapun tidak menceritakan hal ini pada keluarganya.
"Kurang ajar kak Adit, tenang Ra akan kuberi pelajaran dia."
"Nggak usah Na, bukan Kaka Adit yang salah kok."
"Tapi tetep aja Ra."
"Udah nggak papa, kalau kak Adit bisa bahagia dengan perempuan itu, aku bisa apa?"
"Apa kamu udah mulai mencintai kakaku Ra?"
Fira sedikit berfikir untuk menjawab pertanyaan dari Nana,
"Mungkin."
"Sudah kuduga." Nana menatap Fira dengan tatapan menyeringai.
Setelah makan siang dan minum obat, Fira kembali tertidur, Nana masih setia menunggu Fira didalam kamar, sementara mamanya Fira ijin ke toko sebentar dan menitipkan Fira pada Nana.
Fira sudah terlelap ke alam mimpinya, Nana berdiri mengambil ponsel yang berada di tas, menghubungi seseorang.
Tuuut Tuuut Tuuut
Telepon berdering, tetapi seseorang yang dihubungi Nana tidak kunjung mengangkatnya.
"Ya Hallo, ada apa Na?"
Nana beranjak keluar kamar rawat Fira, takutnya Fira terganggu dengan suara Nana.
"Kakak dimana?"
"Kakak di cafe Na sama Nayla."
Nana sangat geram mendengar jawaban dari kak Adit, kisah Adit dan Fira benar-benar membuat dirinya pusing, padahal Nana bukan tokoh utama disini.
"Kakak tunggu disana, Nana mau nyusul Kakak."
Nana langsung memutuskan sambungan teleponnnya.
Nana beranjak pergi keluar dari rumah sakit, sementara Fira sudah ditemani oleh mamanya.
Setengah jam kemudian Nana sampai di cafe yang dimaksud Adit.
Ia turun dari mobil dan masuk mencari keberadaan kakaknya itu, Nana mengedarkan pandangannya hingga akhirnya melihat dua orang yang duduk di pojokan dengan sendau gurau.
Entah mengapa emosi Nana sudah naik ke level tertinggi, dengan langkah cepat tapi pasti Nana menghampiri Adit,
__ADS_1
Plaakkk
Tamparan yang amat keras jatuh tepat di pipi kanan Adit, siapa pelakunya? So pasti Nana pelakunya. Hari ini Nana sudah tersulut emosi, panggilan Mak lampir yang Fira berikan cocok untuk keadaan Nana saat ini.
"Apa-apaan kamu Na?"
"Kakak yang apa-apaan? Kakak benar-benar nggak punya hati."
Saat akan melayangkan tamparan yang kedua tangan Nana dicekal oleh Nayla.
"Kalian bisa bicarakan baik-baik, disini banyak orang kak." Ujar Nayla dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling pengunjung.
Nana tidak peduli dengan ucapan Nayla, ia juga tidak peduli pada pengunjung lain yang memandang.
"Apa kakak tau, kakaklah penyebab Fira terbaring di rumah sakit sekarang, dan inikah balasan kakak, Fira di rumah sakit sementara Kaka bersenang-senang dengan orang lain. Kakak bahagia diatas penderitaan orang lain? Kakak mau balas dendam dengan Fira, nggak gini caranya kak." Ucap Nana yang sudah tersulut emosi.
"Apa maksudmu Na?" Jawab Adit yang mulai geram.
"Asalkan kakak tahu, Fira tengah berusaha membuka sedikit demi sedikit hatinya untuk kakak, ia mulai mencoba berdamai dengan masa lalunya dengan membuka lembaran baru tapi bukan bahagia yang ia rasakan ia malah semakin sakit melihat kakak yang terus-terusan berduaan dengan Nayla."
"Sekarang Kakak pilih, Nayla atau Fira. Disaat hati Fira luluh teganya kakak berpaling darinya. Apa kakak ingin memainkan perasaan Fira hah?"
Setelah mengucapkan itu, Nana kembali pergi menahan rasa malunya karena tengah menjadi bahan tontonan di cafe tersebut.
Adit mengejar Nana untuk meminta penjelasan, saat kakinya melangkah tangannya dipegang oleh Nayla.
"Bayar pesanan kita Nay, kamu bisa naik taksi online kan, maaf kakak pergi dulu." Ucap Adit dengan menyodorkan lima lembar uang seratus ribuan.
Adit segera melajukan mobilnya mengejar Nana didepannya, Nana melajukan mobilnya ke arah jalan pulang ke rumah.
Adit akan menanyakan semuanya pada Nana, apa maksud ucapan Nana tadi.
Adit segera masuk ke dalam rumah dan mengejar Nana, tangan Nana berhasil ditangkap oleh Adit.
"Jelaskan pada kakak, apa maksud semuanya."
Nana mengacuhkan permintaan Adit, ia berusaha menepis tangan kak Adit.
"Jelaskan Na, jangan buat semuanya tambah rumit." Teriak Adit yang berhasil membuat Nana ketakutan.
Nana akhirnya menjelaskan apa yang terjadi, sedari Fira mulai jujur pada Nana tentang perasaannya sampai penyebab Fira sampai terbaring dirumah sakit.
Awalnya Adit tidak percaya dengan ucapan Nana, namun setelah Nana memutar rekaman suara Fira saat di jalan menuju Danau, Aditpun percaya, ia benar-benar merasa bersalah, Adit memang tidak bermaksud mempermainkan hati Fira hanya saja Adit tidak akan memaksa Fira dengan perasaannya, kalau saja ia tau hal ini sejak awal tidak akan mungkin Adit tega melukai hati Fira.
"Terimakasih Na telah menyadarkan kakak."
Adit memeluk Nana dengan erat, meredakan ketakutan Nana karena bentakannya tadi.
"Maafkan kak Adit, tadi kak Adit khilaf membentakmu."
Nana melepaskan pelukan Adit, memandang Adit dengan senyuman.
__ADS_1
"Kakak nggak mau jenguk Fira?"
"Nanti kakak kesana."