
Aku terbangun dari tidurku, entah mengapa rasanya ada yang beda.
Aku merasa sedikit kecewa.
Hanya mama dan mbak Dinda yang menemaniku, Nana? Sudah tak terlihat batang hidungnya.
Orang yang kuharap kan datang dan menjengukku tak kunjung datang.
Mungkinkah dia sudah tak peduli denganku?
Atau mungkin dia sudah bahagia dengan yang lain?
Ah entahlah, memikirkannya malah membuat hati ini kembali merasakan sakit.
Kadang aku bingung mengapa jalan hidupku seakan-akan dipermainkan oleh laki-laki, kenapa mereka selalu memainkan perasaanku, apakah mereka tak tau, bahwa perempuan adalah makhluk yang sangat perasa.
Jangankan disakiti, didiamkan diacuhkan saja membuatnya sedih berlipat-lipat, apalagi sampai hati yang tersakiti. Uhhbtahukah kamu, sakit rasanya tauk.
Mulai dari Rayhan, ah kenapa ia kembali lagi di pikiranku, kemudian Kak Adit mengapa dia setega itu.
Sudahlah mungkin ini pertanda kalau aku belum menemukan cinta sejati.
Sesaat kemudian bunda menghampiriku.
"Sudah bangun? Mau makan buah?" Tanyanya lembut padaku.
Terimakasih ya Allah, walaupun engkau telah mengambil Ayah terlebih dahulu dariku, tetapi disini kau memberikan mama yang sangat sayang padaku.
"Ma, Fira mau sholat." Jawabku masih dengan suara lemah.
"Udah kuat?" Tanya Kak Rama yang datang tiba-tiba.
Aku menganggukkan kepalaku.
"Mau wudhu apa tayamum aja?" Tanya balik kak Rama.
"Wudhu aja kak, pegangin ke kamar mandinya."
Kak Rama mulai mengambil botol infus yang ada di tiangnya, satu tangannya memapah tubuhku, menopang agar tidak terjatuh.
Setelah selesai wudhu, Mama membantuku memakai mukena, Karena kondisi tubuhku yang masih lemah, kak Rama menyarankan untuk sholat sambil berbaring atau jika kuat sambil duduk.
Aku memilih Sholat dengan duduk, sedikit-sedikit aku masih kuat.
Setelah selesai sholat, tubuhku terasa lebih segar, tidak gerah dan lemas seperti tadi.
__ADS_1
"Ma, bawa kerudung Fira nggak?"
"Ada nggak ya Din, mama kemaren lupa bawa." Tanya mama pada mbak Dinda yang mulai membongkar isi tas perlengkapan ku.
"Ada ni, tapi bukan kerudung instan dek, kebawanya yang segi empat malah."
"Nggak papa mbak, minta tolong bantuin pakai mbak."
Mbak Dinda berjalan ke arahku dengan membawa kerudung beserta penitinya.
Mbak Dinda mulai merapikan rambutku yang sudah acak-acakan tak karuan, menyisirnya dengan pelan-pelan, ah rasanya seperti punya kakak perempuan kandung.
Setelah selesai dengan sisir, Mbak Dinda mulai memakaikan kerudung di kepalaku.
"Coba hadap sini dek?" Pinta mbak Dinda padaku.
Akupun menurut dengan apa yang dikatakan mbak Dinda.
Dengan hati-hatinya mbak Dinda menusukkan jarum pentul dibawah daguku, sepertinya mbak Dinda agak kesulitan. Beberapa menit kemudian kerudung sudah menempel di kepalaku, menutupi rambutku yang sedari kemaren terlihat oleh siapapun yang masuk ke kamar ini. Untung saja dia belum datang, Astaga kenapa aku terus mengahrapakan kedatangannya, sudahlah aku tidak boleh berharap lebih, membiarkan dia bahagia dengan orang lain mungkin lebih baik.
"Mbak kok tangan yang diinfus kaya kaku gini si." Tanyaku pada mbak Dinda.
"Itu karena nggak kamu gerakin Ra." Jawab seseorang.
Aku terkejut mendengar suaranya, suara yang sangat familiar bagiku, kuedarkan pandanganku ke arah pintu, sungguh terkejutnya aku, Kak Adit datang, orang yang sedari tadi kuharap kan akhirnya datang juga.
"Assalamu'alaikum." Salam kak Adit yang kemudian dijawab oleh semua orang, kak Adit mencium tangan mama dan mbak Dinda, kak Rama sudah pergi setelah membantuku tadi.
Seakan paham akan keadaan, mbak Dinda mengajak mama untuk keluar.
"Ma temani Dinda ke kantin yuk."
Mama yang agak bingung pun akhirnya mengiyakan ajakan Dinda, dan berlalu pergi keluar bersama Dinda.
Canggung, satu kata yang bisa menggambarkan keadaaan saat ini, hanya ada aku dan Kak Adit yang ada di ruangan ini, diantara kamipun belum ada yang membuka percakapan, hening tanpa suara.
"Maafin kak Adit Ra." Ucap kak Adit lirih, jujur aku tidak begitu mendengar Suaranya karena sedari tadi aku memikirkan harus melakukan apa untuk memecah keheningan ini.
"Apa kak?"
"Gimana keadaanmu?" Tanyanya kembali, tapi aku yakin tadi itu bukan pertanyaan itu yang ditanyakan kak Adit .
"Sudah lebih baik kak." Jawabku dengan tersenyum.
Aku sangat lega, kak Adit datang disaat kondisiku sudah tidak acak-acakan seperti tadi, ih kalau saja dia melihat keadaanku yang tadi mungkin dia akan ilfiil padaku.
__ADS_1
Kami menghabiskan waktu untuk mengobrol, obrolan yang lebih tertuju pada candaan, mungkin kak Adit berniat menghiburku, dia juga tidak menyinggung tentang perasaan, yang membuatku mulai bertanya-tanya kembali, apakah kak Adit sudah tidak memiliki perasaan padaku.
Kak Adit juga memberitahuku bahwa beberapa hari lagi dia akan wisuda, kak Adit bilang jika aku sudah kuat aku harus datang menghadiri wisudanya.
Dalam batinku, aku harus kuat dan segera sembuh agar bisa mengakhiri wisuda kak Adit.
"Kamu kapan pulang Ra, betah banget kayaknya disini?"
"Ih ya enggaklah kak, maunya si aku pulang tapi kak Rama belum mengijinkan."
"Gimana kalau kita kabur aja Ra. Hahahah "
"Kak Adit mau dimarahin kak Rama?"
"Enggaklah Ra, kakak juga bercanda."
Setelah sekian lama,akhirnya aku melihatnya tersenyum bahkan tertawa riang di hadapanku.
Disela-sela obrolan kami, seseorang mengetuk pintu dan masuklah perawat membawa meja dorong dengan suntikan dan obat-obatan.
"Permisi, disuntik dulu ya." Perawat itu mulai membuka kapas alkohol dan dioles-oleskan ke selang infus yang berada di tanganku.
Aku sedikit memejamkan mataku, menahan rasa takut.
Mungkin kak Adit paham dengan ketakutan ku, ia memegang tanganku yang tidak terpasang infus, reflek kugenggam tangannya untuk menahan sakit.
Ya suntikannya memang tidak sakit karena lewat selang infus, tapi saat obatnya mulai masuk ke tubuhku rasanya amat sakit.
"Sudah mbak."
Ucap perawat tersebut yang mulai memberesi peralatannya, tanpa kusadari tanganku masih mengenggam erat tangan kak Adit.
"Mungkin masnya penyemangat bagi mbaknya, kemaren-kemaren pas mau disuntik pasti tangannya ditarik ulur terus sama mbaknya kayak benang layangan. Giliran ada masnya, mbaknya jadi lebih tenang, apalagi genggamannya nggak dilepas-lepas." Ucap Perawat itu sambil tersenyum melirik tanganku yang satunya, ya itu adalah perawat yang sedari kemaren menyuntikkan obat, uh rasanya malu sekali, apalagi sampai kepergok sama perawat muda itu.
Mungkin umur kami tidak terpaut jauh, dia masih telihat sangat muda.
Aku melepas genggaman tanganku pada tangan kak Adit setelah mendapat sindirian itu.
"Oh ya mas, ini obat untuk nona Fira diminum setelah makan ya." Ucap perawat itu menyodorkan mangkuk kecil yang berisi obat yang ahrus aku minum.
"Terimakasih sus." Ucap kak Adit, perawat itupun berlaku pergi meninggalkan kami berdua.
"Maaf kak yang tadi, Fira reflek genggam tangan kak Adit karena takut."
"Sudahlah, kakak senang kalau kehadiran kakak membuatmu tenang." Ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Sungguh senyumannya sangat manis bagiku, hanya melihat senyumannya saja membuatku lupa akan sakit hati yang kurasakan karena ulahnya. Habisnya senyumnya manis kaya kembang gula. Sudah dong kak senyumnya, nanti aku meleleh.
Dasar aku.