Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Rencana Nayla


__ADS_3

"Fira."Mama datang menghampiri Fira yang tengah duduk di dekat jendela kamarnya.


Fira yang merasa terkejut langsung menghapus air matanya, menyembunyikan kesedihannya dari sang mama.


"Mama nggak ke toko?" Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya.


Mama mengelus lembut kepala Fira yang tidak tertutup hijab itu, Ia membiarkan rambutnya tergerai.


"Masih cuti kerja?"


"Eh anu iya ma, harusnya sekarang udah masuk, tapi Fira masih capek jadi nambah sehari deh." Ucapnya dengan disertai cengiran khasnya.


"Kamu tau nak, mama itu mama kamu, mama yang ngelahirin kamu, mama yang membesarkanmu dari kecil sampai sebesar ini."


"Walaupun kamu lebih dekat dengan ayahmu, namun ikatan batin antara ibu dan anak tak bisa dikalahkan nak."


"Mama tau, Fira lagi ada masalah, berbagilah pada mama jika itu bisa mengurangi bebanmu."


"Fira nggak papa mama, Fira hanya capek kok ma. Mama aja tu yang terlalu sayang sama Fira jadi khawatir berlebih." Fira mencium kedua pipi mama Ratih.


Mama tidak lagi menjawab elakan dari sang anak, ia memilih mendekap putrinya kedalam pelukannya, sepintar-pintarnya kita menyembunyikan sesuatu, ibu akan tetap paham dengan konsisi kita.


"Mama tau nak, kamu sedang ada masalah. Tanpa kamu menceritakan pada mama, raut wajahmu sudah menggambarkan semuanya."


"Ma." Suara Fira mulai parau, kekuatan untuk membendung kesedihan di hadapan sang mama runtuh tiba-tiba, air matapun sudah tak bisa ia bendung.


"Menangislah nak, lepaskan bebanmu, jangan dipendam."


"Ma." pecah sudah tangisnya, air mata yang sehari ia tahan mulai membanjiri baju sang mama.


Mama hanya bisa mendekap putrinya dengan erat, memberikan setitik kekuatan dan kelembutannya pada sang putri, mengelus rambutnya agar perasaan Fira sedikit tenang.


"Ma, Fira rindu ayah." Sudah Ratih duga, Fira tengah dirundung masalah, Ratih belum membuka mulutnya untuk bersuara menjawab permintaan Fira, ia masih mendekap sang putri dengan eratnya.


"Nanti sore kita kesana, kita jenguk ayah ya."


Fira mengangguk tanda setuju.


Setelah dirasa sedikit tenang, Fira melepaskan pelukan sang mama. Tak lupa ia menampilakan semburat senyum di bibirnya.


"Jangan tampilkan senyum palsumu itu, kakak dan mama tak akan terkecoh."


Rama berjalan mendekat ke arah Fira, melebarkan kedua tangannya siap untuk memeluk sang adik.


"Kakak."


Giliran Rama yang mendekap tubuh sang adik, posisi Rama yang berdiri dan Fira yang tetap duduk, membuat Fira mengeratkan pelukannya pada pinggang sang kakak.


Rama sudah menduga, keadaan Fira pasti sedang tidak baik-baik saja, sudah terlihat ekpresi wajah Fira sedari pulang dari Kalimantan.


Bukan Rama namanya jika ia tidak mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, ia sudah mewancarai adek iparnya dengan berbagai pertanyaan, namun Damar tetap bungkam, ia tidak menceritakan apapun pada Rama.


"Apa kamu tidak merindukan Rasyid?"


Fira melepaskan pelukannya, ia mendongak melihat wajah sang kakak.

__ADS_1


"Ajak Rasyid dan bundanya ke taman, ayahnya harus kerja mencari nafkah." Rama menarik hidung Fira gemas.


Fira yang sudah mulai tenang, memunculkan sikap jahilnya kembali.


"Ada uang abangku sayang."


"Gitu dong senyum beneran, ini pencairnya." Rama memberikan tiga lembar uang seratus ribuan.


"Kakak kurang."


"Kamu mau buat kakakmu bangkrut."


Sang mama hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra putrinya itu.


Ditempat lain,


"Mar, kasih tau Fira dimana." Adit menajatuhkan bobot tubuhnya di sofa.


"Buat apa aku ngasih tau kamu, dia udah terlanjur kecewa sama kamu."


"Kecewa?" Adit mulai berpikir, apa iya Fira masih mempermasahkan tentang Nayla.


"Hmm" Hanya deheman yang Damar lontarkan.


"Fira masih marah gara-gara aku sama Nayla tinggal seapartemen?"


"Nggak cuman itu. **** banget sih lo Dit, inget makanan yang kemarin?"


"Oh yang kamu beli nggak ikhlas itu." Jawab Adit sekenanya yang makin membuat Damar kesal.


"Makanan yang kemarin, itu Fira yang beli buat Lo."


"Jadi itu dari Fira, terus kenapa nggak ngasih langsung?"


"Diam dulu." Potong Damar dengan sedikit emosi, kemudian menarik nafas dalam dan mulai menjelaskan lagi.


"Kemarin aku udah berhasil bujuk Fira buat dengerin penjelasan kamu, dan Fira sengaja beli makanan itu buat kamu, tapi lagi-lagi kamu mengecewakannya."


"Mengecewakan?" Tanya Adit kembali.


"Kamu lupa apa pura-pura lupa, kemaren kamu nglakuin apa?"


"Kamu nggak inget pas sama Nayla ?" Tanya Damar kembali.


"Jadi dia liat aku sama Nayla pelukan?"


"Ya Allah, sayang kamu salah paham lagi."


Desah Adit frustasi.


Adit meninggalkan Damar yang masih duduk di sofa.


"Mau kemana kamu."


"Pulang, Fira pasti ke Jakarta, gue mau susulin dia."

__ADS_1


"Gue nggak bakalan ngijinin lo buat nyakitin dia lagi, biarkan dia disana dia butuh ketenangan, kedatangan Lo bisa jadi buat dia makin sakit."


Adit dan Damar tidak menyadari bahwa sedari tadi Nayla mendengar semua percakapan mereka.


Dibalik pintu kamarnya Nayla tersenyum puas mendengar apa yang terjadi pada Fira karena semua itu adalah rencana nya kemarin


flashback


"Nay, Adit ada di apartemen ?" Tanya Damar pada Nayla melalui panggilan suara.


"Iya mas Adit di apartemen baru aja pulang, ada apa ya kak?" Jawab Nayla dengan nada suara lembut.


"Ok, tanks Nay."


"Eh tunggu-tunggu jangan ditutup dulu, ada apa kak Damar nanyain mas Adit?" Tanya Nayla penuh penasaran.


"Aslinya ngak mau cerita, tapi denger suara lembutmu kak Damar jadi luluh."


Damar adalah tipe orang yang suka bercanda, dia juga tidak terlalu serius dengan semua ucapannya barusan.


"Sebentar lagi Fira bakal kesana, nanti kamu bantuin aja biar Adit sama Fira baikan."


Baikan? Bantuin? Siap kak Damar Nayla akan bantu dengan sepenuh hati Nayla.


Terlihat tawa licik yang menghiasi wajah Nayla. Nayla sudah merencanakan sebuah ide untuk membuat hubungan Fira dan Adit makin renggang.


*Pasti akan berhasil


Siapa suruh bersaing sama Nayla, emangnya dia nggak tau siapa aku*.


"Mas Adit."


"Iya nay ada apa?"


Nayla mendekat pada Adit yang tengah duduk di sofa.


"Maaf ya mas, gara-gara Nayla mas Adit jadi marahan sama Mbak Fira."


"Itu bukan salah kamu, udah nggak usah mellow gitu."


"Tapi mas, ini salah Nayla." Nayla mulai mengeluarkan jurusnya, air mata palsu mulai turun membasahi pipinya.


"Loh, Nay, kok nangis, ini bukan salah kamu, udah jangan nangis." Kata adit sambil menegang pundak Nayla.


Mas Adit ini nggak ada romantis-romantisnya sama sekali, masa nggak ada inisiatif buat nyeka air mataku si.


Nayla yang melihat kedatangan Fira melalui jendela apartemen memeluk Adit dengan erat.


"Nay kamu kenapa?"


Tangis Nayla terdengar makin sendu.


"Maaf ya mas Adit."


Yes, berhasil, hebat kamu Nay.

__ADS_1


Adit tidak sadar akan kedatangan Fira yang menyaksikan semuanya, Adit tidak sadar betapa sakitnya hati Fira menyaksikan kejadian itu.


__ADS_2