Dentingan Waktu

Dentingan Waktu
Air Mata


__ADS_3

Sesampainya dirumah Fira, Fira langsung turun dari mobil. Perasaannya saat ini sedang dilandasi dengan rasa takut dan cemas, Adit yang mengerti bagaimana perasaan Fira turun menyusul Fira.


"Kalau kak Rama salah paham kamu bisa memintaku untuk memberikan penjelasan padanya."


"Tenanglah kak, kak Rama nggak akan berbuat yang tidak-tidak padaku "


"Pokoknya kalau butuh bantuan hubungi kakak."


"Baiklah kak Adit yang cerewet."


"Kaka pamit pulang dulu, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab Fira dengan dibumbui senyuman untuk membalas senyuman kak Adit.


Fira masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju ke kamar mandi. Berganti pakaian dengan pakaian santai lalu berjalan ke arah meja makan untuk mengisi perutnya yang kembali lapar.


Duh apa yang akan kukatakan pada kak Rama~Batin Fira


Fira kembali melanjutkan makannya, selang beberapa menit deru mesin mobil terdengar berhenti di depan rumah, itu pasti mobil kak Rama.


Tebakannya betul, masuklah Rama dan Dinda dari luar rumah.


"Kak." Sapa Fira pada kedua kakaknya.


"Hmm." Rama hanya berdehem tak membalas ucapan Fira dan berlalu masuk ke kamar.


Dinda menghampiri Fira dan duduk di sebelahnya.


"Sabar, kakakmu sedang lelah."


"Iya mbak Fira tau, tapi mbak Fira takut."


"Tenanglah adek ipar semua akan baik-baik saja." Hibur Dinda pada adek iparnya itu sebenarnya Dinda juga takut jika suaminya nanti meluapkan emosinya pada Fira, Dinda tau betul gimana Rama saat marah.


Dinda beranjak bangun untuk menyusul Rama di kamar.


Sesampainya di kamar, Dinda mendapati Rama yang sudah mandi dan berpakaian santai layaknya anak muda, tampang kedokterannya pun tak terlihat jika ia sedang memakai kaos santai seperti itu.


"Adek mandi dulu sana, mas mau bicara sama Fira."


"Mas,..." Panggil Dinda lembut.


"Ya, apa kamu lagi pingin sesuatu? Biar mas belikan."


"Enggak mas, Dinda cuman mau bilang jangan terlalu emosi ya."

__ADS_1


Rama mengangguk dengan senyuman semanis mungkin, ia tidak mau Dinda menjadi cemas.


Rama masuk kedalam kamar Fira, karena melihat Fira sudah tak berada di meja makan lagi.


"Kak." ucap Fira ketika menyadari kak Rama masuk tanpa mengetuk pintu.


"Kakak kecewa sama kamu, siapa yang ngajarin kaya gitu, pergi sama laki-laki ijin nggak sama mama, nggak bilang apa-apa juga sama kakak, mulai bangkang ya." Ucapan Rama seakan menyayat hati Fira, baru pertama kalinya Rama berbicara seperti itu.


"Maaf kak." Menundukkan wajahnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Dari kapan kalian pacaran?"


"Fira dan kak Adit nggak pacaran kok kak."


"Jangan bohong!."


"Fira jujur kak, hiks hiks hiks." Fira yang tak kuat dikerasi akhirnya pun menangis.


"Fira nggak bohong kak, kita memang nggak ada apa-apa."


"Nggak ada apa-apa? Terus tadi pergi keundangan berdua maksudnya apa? Sudah kepergok genggaman tangan juga. Masih mengelak kamu, mau main kucing-kucingan sama kakakmu!." Bentak Rama yang membuat Fira semakin menangis.


"Kak, maaf. Fira jujur nggak ada apa-apa sama kak Adit, memang kak Adit ada rasa sama Fira tapi Fira belum bisa menerimanya kak. Percayalah."


"Kenapa kamu tidak menerimanya Ra," Ucapan Rama berubah menjadi sangat lembut berbanding terbalik dengan kejadian beberapa detik yang lalu.


"Maksud kakak?"


"Maaf kakak tadi nggak sengaja bentak kamu, kakak cuman mau kamu jujur aja dan Kaka percaya sama kamu."


"Saat tadi kakak melihatmu bersama siapa itu namanya."


"Kak Adit."


"Ya Adit, hati kakak rasanya lega sekali Ra, kakak pikir kamu sudah bisa berdamai dengan masalalumu Ra, tapi ternyata tebakan kakak salah, kamu masih saja terbelenggu sama masa lalumu itu."


"Apakah Adit orang yang mengejar-ngejar mu?"


Fira mengangguk.


"Kalau kamu belum bisa menerimanya kenapa hal seperti tadi bisa terjadi?"


"Itu karena......."


Fira menceritakan kejadian kecelakaan Adit, dari awal sampai akhir, benar-benar detail, dia juga menceritakan alasan Fira mau menemani Adit ke undangan tadi.

__ADS_1


"Cobalah buka hatimu untuknya Ra, dia tulus padamu."


"Fira belum bisa kak, Fira belum bisa melupakan dia."


Kini tangisannya pecah, ia menghamburkan tubuhnya pada Rama, Rama membalas mendekap tubuh adeknya itu, air matanya tumpah begitu saja di baju Rama.


Rama tidak tega melihat Fira seperti itu, ia juga tidak bisa memaksa Fira, itu bisa berakibat fatal.


"Kakak tau itu Ra, kakak nggak maksa Fira, cobalah buka dikit demi sedikit hatimu padanya."


"Siapa tau ini cara Tuhan mengirimkan jodoh untukmu Ra." Ucapan Rama terdengar sangat halus ditelinga Fira.


Dinda berjalan masuk menghampiri suaminya yang tengah memeluk Fira, bukannya ia mau ikut campur, tapi ia juga sudah tak bisa menahan tangisannya. Ia begitu terharu pada hubungan kakak adek suaminya itu, ia juga iba pada adek iparnya, Dinda pernah mendengar sekilas cerita tentang Fira dengan mantannya dari Rama.


Dinda ikut memeluk Rama dari samping, Rama yang merasa ada orang lain memeluknya, mencari tau siapa pelakunya.


Siapa lagi kalau bukan sang istri, Rama tersenyum kemudian tangan satunya memeluk Dinda, Dinda dan Fira menangis dalam dekapan Rama. Bagaimana dengan Rama, sebenarnya ia juga ingin menitikkan air mata, tapi ya gengsi dong sama adeknya itu.


Adegan hangat itu berakhir karena deringan ponsel Fira di saku celana trainingnya, Rama melepaskan dekapannya pada Fira, tangan satunya masih setia mendekap tubuh besar istrinya.


"Siapa Ra?" Tanya Rama pada Fira.


Fira membuka ponselnya ternyata kak Adit yang menghubunginya.


"Kak Adit." Mendengar nama Adit disebut Rama mengembangkan senyumnya.


"Pikirkan yang kakak ucapkan tadi, kakak percaya sama dia Ra." Ucap Rama mengelus pucuk kepala Fira yang tidak tertutup kerudung itu, Rama mengajak istrinya untuk keluar dari kamar Fira, memberikan ruang untuk Fira berbicara dengan Adit.


"Hallo, kenapa lama sekali angkatnya Ra."


"Maaf kak, barusan ada urusan."


"Kenapa suaramu Ra, apa kamu menangis? Apa kakakmu memarahimu?"


"Enggak kok kak, ini lagi ngiris bawang merah jadinya nangis."


Adit tau jika Fira tengah berbohong tapi ia tak mau mengusik lebih lanjut masalah Fira, ia tau Fira belum mau membagikan masalah padanya.


"Tega banget bawangnya Ra, kak Adit aja nggak bisa liat kamu nangis masa bawang tega buat kamu nangis." Senjata paling ampuh Adit saat menghibur Fira.


"Kak Adit ma ada-ada aja." Ucap Fira dengan mengembangkan senyumnya sedikit tertawa.


Sebenarnya sedari tadi Rama belum benar-benar pergi meninggalkan ruangan itu, ia mengintip Fira yang sedang berbicara dengan Adit. Hatinya tenang senyumanya mengembang ketika melihat Fira bisa tertawa hanya karena Adit


"Hmm, akhirnya orang itu datang dalam kehidupan Fira, semoga ia benar-benar tulus."

__ADS_1


Ucap Adit lirih tapi masih terdengar oleh Dinda.


"Aamiin."


__ADS_2