
"Pokoknya aku nggak mau tau ma, aku harus dapat yang aku mau, apapun caranya akan aku lakuin."
"Mama setuju sama kamu nak, dia memang pantas dan cocok menjadi pendampingmu, tapi kamu nggak boleh melakukan hal-hal yang terlarang, kamu harus main sehat."
"Tidak ma, aku akan terus maju, demi mendapatkan cintanya. Apapun akan ku lakukan."
"Sadar sayang, jaga harga dirimu."
"Mama tenang saja, aku nggak akan menjatuhkan harga diriku sendiri."
"Baiklah, pokoknya mama nggak mau sampai kamu terkena masalah, inget itu pesen mama."
"Siap ma."
Ketika sambungan telepon akan terputus,
"Tunggu sayang, apa yang akan kamu lakukan padanya?"
"Mama tenanglah, apa yang akan aku lakukan pasti akan aku pikirkan matang-matang telrbih dahulu."
"Jangan gegabah nak, mamah mengkhawatirkanmu."
Sambungan telepon pun terputus.
Seseorang yang awalnya tidak menaruh rasa pada pertemuan pertama, namun karena seiringnya waktu dan kebersamaan membuat rasa itu tumbuh dengan sendirinya, kata pepatah jawa mengatakan witing tresno jalaran seko kulino, Cinta datang karena terbiasa, ya itulah yang dialami Nayla saat ini, ia jatuh cinta pada Adit, kelembutannya, kedermawaannya, wajahnya serta pembawaannya yang kalem membuat siapapun pasti akan menaruh rasa padanya.
Sementara di lain sisi, sepasang kekasih yang sedang melepas rindu berjalan beiringan keluar kantor dengan tangan yang masih mengenggam satu sama lain.
Sayup-sayup terdengar suara keheranan seseorang yang berada di depan ruangan Adit, ya dia mengira bahwa Fira adalah calon istrinya Damar, lalu mengapa sekarnag malah bermesraan dengan atasannya yang tak lain pak Adit.
Mereka masuk ke dalam mobil dengan Adit yang mengemudi.
"Kita mau kemana mas?" Tanya Fira pada Adit.
"Makan, setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Rahasia dong."
Adit melajukan mobilnya menuju sebuah restaurant terdekat dari kantornya. Mereka berdua turun dan masuk beriringan ke dalam restaurant.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, Fira mulai membuka suara.
"Kapan mas akan datang kerumahku?"
"Maksudnya?" Tanya Adit yang seakan belum mengerti maksud Fira, sementara matanya masih fokus ke arah ponsel mengecek email-email yang masuk.
"Ponselnya lebih menarik ya mas daripada Fira, huh."
__ADS_1
"Eh nggak gitu Yang, udah ini udah selesai kamu tadi ngomong apa?" Tanya Adit meletakkan ponselnya di atas meja.
"Hmm, harusnya Fira dirumah aja ya, percuma datang kesini eh yang dikangenin malah sibuk main ponsel mulu."
"Maaf, jangan marah ya." Adit mengelus tangan Fira lembut kemudian menggegam erat tangan sang kekasih dengan tangannya.
"Kalau cemberut terus, kok nambah cantik ya."
Adit memang bisa merubah suasana hati Fira, yang tadinya mendung menjadi cerah bagai sang surya yang tengah bersinar.
"Apaan si mas."
"Nah kan malah jadi malu-malu kucing."
"Fira nggak mau disamain kaya kucing lo mas."
"Kan sama-sama imutnya."
"Udah ah cukup."
Walaupun Adit terlihat sibuk, Adit tetap mendengarkan apa yang Fira ucapkan tadi, sebenarnya ia juga mengerti apa maksud pertanyaan Fira, niatnya hanya ingin mengetes dan mendengarkan penjelasan dari Fira lebih lanjut mengenai pertanyaannya itu.
"Bersabarlah, satu dua minggu lagi, proyek disini akan selesai, dan masalah demi masalah sudah berhasil mas atasi, tunggulah mas dirumah, mas pasti akan segera meresmikan hubungan kita ke jenjang yang lebih serius."
Perkataan Adit meluluhkan suasana hati Fira, ia menjadi damai dan tenang, Fira pikir Adit melupakan akan hal itu, ternyata tidak, bahkan ia sudah memikirkan matang-matang.
"Doakan saja, hanya itu yang kuminta darimu Ra."
Fira menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan, entahlah mulutnya menjadi kelu untuk berbicara.
"Mas,. "Sebenarnya Fira menyimpan sedikit unek-unek di dalam hatinya, ia merasa ada yang ingin ia tanyakan tapi ia ragu untuk bertanya.
"Ada apa?"
Belum sempat Fira menjawab pertanyaan Adit, pesanan mereka datang dan pelayan menyajikannya di meja mereka.
"Makanlah Ra, setelah itu kita akan ke suatu tempat."
----------
"Pa, kapan om ini akan bangun pa?"
"Doakan saja ya sayang, kita berdoa buat si om supaya cepat bangun dari tidurnya."
"Apa dia tidur larut malam pa? Sampai-sampai nggak bangun padahal matahari udah terbit pa."
Gadis mungil yang belum mengerti akan suatu keadaan terus berceloteh ria menanyakan apa saja yang ingin ia ketahui.
"Papa ayo bangunkan dia pa, kata oma nggak baik kalau udah siang masih bubuk."
__ADS_1
"Iya sayang, nanti omnya bangun kok."
"Pa?" Tiba-tiba tatapannya menjadi sendu yang membuat sang ayah merasa khawatir pada putrinya.
"Kenapa sayang, kok murung gitu."
"Apa om akan ikut mama ke surga pa? Apa om pasien papa?" Ternyata otaknya bekerja melebihi umurnya sekarang, ia mulai mencerna apa yang terjadi di sekitarnya.
"Enggak sayang, omnya cuman kelelahan kok."
"Apa mama dulu juga kelelahan waktu mengandung Lisa Pa sampai-sampai mama nggak bangun buat liat Lisa, sampai mama pergi ke surga, Lisa jahat ya pa." Sungguh miris kehidupannya, ternyata ia mempunyai beban pikiran di usianya yang masih sangat amat kecil, ia merasa bersalah akan meninggalnya sosok sang ibu.
Sang Ayah tercengang mendengar penuturan anak gadisnya, sungguh ia merasa prihatin melihat kondisi putrinya, terlahir kedunia dengan diiringi kematian sang ibunda.
Lisa masih menangis di dalam dekapan sang ayah, memeluk erat leher ayahnya seakan enggan untuk berpisah.
"Sudah ya, anak ayah pinter kan, Lisa harus semangat dong, inget pesan kakak cantik, Lisa nggak boleh nangis nanti cantiknya hilang."
Mendengar nama kakak cantik disebut membuat wajah Lisa berbinar-binar, pasalnya sudah lama sekali ia tak jumpa dengan kakak cantik.
"Kakak cantik? Ayo pa kita kesana, Lisa kangen."
"Besok ya sayang, besok kita kesana sekarang kita tungguin om ini dulu sampai sadar ya, kasihan nanti sendirian."
"Kan om udah besal pa?"
"Iya tapi omnya takut sendirian." Gurau Gio untuk mengalihkan pertanyaan yang terus menerus keluar dari mulut mungil gadis kecilnya.
"Mas kok telinga Fira berdengung ya, kayaknya ada yang lagi ngomongin Fira dibelakang deh."
"Apaan si yang, masih percaya gituan aja."
Mereka berdua kini telah bersiap untuk kembali ke kantor, Adit akan mengoreksi hasil pekerjaan Damar seharian penuh ini, memang tak adil bagi Damar, ia harus mengerjakan tugas bosnya sementara bosnya tengah bersenang-senang melepas kerinduan dengan kekasihnya, namun Damar tetaplah Damar, ia pasti akan menuruti apapun yang ditugaskan untuknya, lagian ini juga salah satu tugas dari papanya Adit, orang yang telah banyak berjasa baginya, orang yang mendukung finansial Damar dalam menempuh pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Orang yang telah mengantarkan Damar hingga posisinya sekarang, hingga kehidupannya menjadi terpenuhi.
Berterimaksihlah Damar pada sang papa Adit yang telah banyak berjasa baginya.
"Ra, mas carikan hotel ya nanti sehabis pulang dari kantor."
"Mas Damar?"
"Damar di apartemen mas, masih ada kamar sisa."
"Fira sendirian dong mas?"
"Apa kamu juga ikut ke apartemen mas Ra?"
"Nggak boleh dong mas."
"Kamu tenang aja, disana ada....."
__ADS_1
Ucapannya terputus, ia teringat bahwa Nayla masih berada di apartemennya, entah apa yang akan terjadi jika Fira mengetahui hal itu.
Akankah Fira kecewa dengan hal itu?